Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Membalikkan Keadaan


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba. Di akhir pekan ini, setidaknya akan ada dua peristiwa besar yang akan dilalui oleh Anaya. Yang pertama tentu menyampaikan putusannya kepada Reyhan, dan juga malam harinya Anaya akan terbang ke Amerika Serikat. Sungguh, hari ini pun mungkin saja akan menjadi hari tersedih bagi Anaya. Akan tetapi, Anaya akan menghadapinya dan terus menguatkan dirinya untuk bersabar dan juga bertahan.


Rupanya kira-kira jam 10.00 pagi, sebuah mobil Range Rover berwarna hitam sudah terparkir di depan pintu rumah Anaya, dan tentu Anaya dan Ayah Tendean sudah tahu siapa pemilik mobil Range Rover itu. Ayah Tendean pun masuk ke dalam kamar Anaya untuk mencari putrinya itu, "Aya, Reyhan sudah datang," ucapnya.


"Baik Ayah ... kita akan selesaikan semuanya di sini," balas Anaya.


Anaya berdiri, dan dia sudah menggenggam amplop berwarna cokelat di sana, dan juga handphone di tangannya. Anaya berjalan terlihat tidak takut dengan Reyhan. Ayah Tendean pun seolah menghentikan langkah Anaya.


"Anaya, dengarkan Ayah ... jangan membuat keputusan dengan gegabah. Kalahkan Ayah, sungguh ... Ayah tidak apa-apa. Ayah akan mengalah untukmu karena Ayah tahu bahwa kebahagiaanmu sekarang ada bersama Citra," balas Ayah Tendean.


Terlihat Anaya yang menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah ... bagaimana Ayah nomor satu untuk Anaya. Di dunia ini yang Anaya miliki hanya Ayah. Hubungan kita tidak ditentukan oleh siapa pun, tetapi ditetapkan oleh Allah. Oleh karena itu, apa pun pilihannya tetap Anaya akan memilih Ayah," balasnya.


Mendengar apa yang disampaikan Anaya, hati Ayah Tendean pun terketuk. Untuk urusan skala prioritas di dalam hidup Anaya, Ayah Tendean tahu dan yakin bahwa dia akan menjadi nomor satu bagi Anaya. Akan tetapi, kali ini Ayah Tendean merasa Anaya harus memilih kebahagiaannya sendiri karena memang bersama Citralah Anaya bisa sembuh, bisa bangkit, bahkan bisa bahagia. Untuk semua itu, Ayah Tendean sangat rela untuk mengalah.


"Sebaiknya kita temui Reyhan dulu, Ayah," pinta Anaya.


Kemudian Anaya dan Ayah Tendean pun turun ke bawah dan kemudian Anaya membukakan pintu untuk Reyhan. Pria culas itu menatap Anaya dan Ayah Tendean secara bergantian dan kemudian menyapa keduanya bergantian.


"Pagi Ayah mertua ... pagi Ana," sapanya dengan senyuman yang mengembang.


Sementara Anaya dan Ayah Tendean hanya bersikap biasa saja. Terkhusus Anaya, yang sampai detik ini masih membiarkan Reyhan merasa menang dan berada di atas angin. Membiarkan pria itu menikmati kemenangannya yang semu itu.


"Gimana Ana, kamu sudah memutuskan? Siapa yang kamu pilih Ayahmu atau bayi si Duda itu? Lalu, putuskan juga kapan kamu mau meresmikan pernikahan kita sah secara negara?" tanya Reyhan.

__ADS_1


Terlihat Reyhan mengeluarkan handphonenya dan kemudian memperlihatkan foto Anaya yang dia ambil dengan sengaja. Tidak mengira bahwa foto itu akan menjadi senjata baginya untuk bisa menekan Anaya sekarang.


"Foto ini tersebar atau yang lainnya?" tanya Reyhan.


"Tunggu dulu, Rey ...."


Anaya mencegahnya dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari amplop cokelat yang dipegangnya. Kemudian, mengeluarkan sebuah foto kepada Reyhan.


"Kedudukan kita satu sama satu, Rey. Jangan mengira bahwa hanya kamu yang bisa menjatuhkan aku, karena aku pun bisa membalikkan keadaan ini. Lihatlah fotomu dengan para wanita di club malam ini. Bagaimana pun reputasimu sudah hancur, Rey. Juga, untuk izin pembukaan kantor barumu di kota S yang melanggar izin. Aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Jadi, sekarang lakukan pilihan, hapus semua foto itu dan talak aku atau aku akan melaporkan perusahaanmu itu," balas Anaya.


Sungguh, seakan Reyhan mendapatkan skakmat secara tidak terduga dari Anaya. Reyhan tidak menyangka bahwa Anaya bisa mendapatkan semuanya itu. Mungkinkah itu Anaya dapatkan kala bekerja di perusahaannya dulu?


"Sialan," balas Reyhan.


Kemudian Anaya pun menatap Ayahnya yang sudah memberikan anggukan secara samar kepada Anaya, "Aku sudah menentukan pilihan ... kali ini aku tidak akan memilih keduanya. Baik Ayahku maupun Citra. Aku akan memilih pilihan yang sudah kubuat untuk diriku sendiri, aku akan ke kuliah lagi ke Amerika," balas Anaya.


Sebenarnya, ini adalah pilihan yang Anaya ambil dalam beberapa hari terakhir. Dia ingin Ayahnya tidak kehilangan reputasinya sebagai Dokter Saraf terbaik di kota ini, dan untuk Citra memang Anaya akan meninggalkannya, hanya saja Anaya percaya bahwa Tama adalah Papa Tunggal yang hebat dan juga pasti bisa untuk mengasuh dan membesarkan Citra dengan baik.


"Hapus foto itu dan talak aku sekarang juga," balas Anaya yang begitu geram dengan Reyhan.


Dengan berat hati, Reyhan pun menghapus foto-foto itu di hadapan Anaya, kemudian Anaya tersenyum dalam hati ini. Gertakan yang dia lakukan pada Reyhan bisa mengubah keadaan sekarang ini. Kini, hanya tinggal menunggu waktu di kala Reyhan akan mengucapkan talak atasnya.


"Sudah aku hapus," balas Reyhan.

__ADS_1


"Sekarang talak aku ... bebaskan aku dari pernikahan ini," pinta Anaya.


Reyhan yang semula sudah menduga bahwa hari ini dirinya akan menang, rupanya sekarang dia dipukul telak oleh seorang Anaya. Pria itu pun menatap Anaya dan matanya yang tajam, "Aku menalakmu dan membebaskanmu dari semua ikatan pernikahan ini."


Reyhan sampai memejamkan matanya kala mengucapkan talak, sementara Anaya justru tersenyum. Ya, inilah yang Anaya inginkan. Terbebas dari jerat pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan. Terbebas dari jeratan Reyhan yang terus berusaha untuk memperdayanya. Sungguh, Anaya merasa sangat senang. Dengan membuat pilihan untuk dirinya sendiri, mengeluarkan bukti yang selama ini dia simpan, dan akhirnya kata talak yang selama dia dia harapkan pun dia dapatkan.


Aneh memang, ketika para wanita akan bersedih ketika sang suami mengucapkan talak. Anaya justru merasa lega karenanya. Semuanya benar-benar telah berakhir. Lagipula, pernikahannya hanya sebatas di bawah tangan, cukup talak dan akan meluruhkan semua tali dalam pernikahan itu.


"Sekarang silakan pergi dari sini. Ingat Rey, sekarang di antara kau dan aku tidak ada apa pun lagi. Semuanya sudah berakhir. Jika suatu hari, kamu berusaha untuk mengusikku, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan perusahaanmu itu," balas Anaya.


"Tunggu pembalasanku, Ana. Kali ini kamu boleh menang, tapi ingatlah ini hanya sementara, karena aku akan membalasmu. Jika, aku tidak mendapati namamu dalam pesawat penerbangan ke Amerika, maka aku akan membuat perhitungan denganmu," balas Reyhan.


Pria itu begitu geram dan kemudian pergi begitu saja dari rumah Anaya. Sementara Ayah Tendean pun segera merangkul Anaya. Tidak mengira dengan semua skenario yang dilakukan oleh anaknya itu.


"Anaya, jadi ... kamu sudah menyiapkan semua ini? Sejak kapan?" tanya Ayah Tendean.


"Dalam sepekan ini Ayah ... sebenarnya masalah di perusahaan Reyhan itu, Anaya dapatkan dari Tama. Biasa Yah, seorang IT bisa mendapatkan data seperti dengan mudah," balas Anaya dengan tersenyum.


"Syukurlah ... untunglah, hanya saja kamu harus pergi juga? Lagipula, kamu sudah mendapatkan talak juga," tanya Ayah Tendean.


"Iya Ayah ... untuk Ayah, Anaya yakin kuliah dua tahun bisa membuat Anaya menggapai mimpi menjadi Staf IT yang hebat dan menguasai berbagai skil di ilmu teknologi dan komunikasi. Sementara, untuk Citra ... Anaya yakin bahwa Tama adalah Papa yang hebat. Jikalau dulu, Ayah bisa membesarkan Anaya seorang diri, kini Anaya merasa Tama bisa membesarkan Citra seorang diri," balasnya dengan berurai air mata.


Ini sudah menjadi keputusan Anaya. Walaupun berat, tetapi Anaya harus melakukan semuanya karena jika tidak Reyhan bisa kembali dan mengancamnya kapan pun. Setidaknya Anaya sudah lega karena telah mendapatkan kata talak yang sudah dia tunggu sekian lama. Kini, waktunya bagi Anaya untuk mengejar hal lain di dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2