
Tidak terasa sudah hampir dua pekan berlalu. Rutinitas Anaya dan Tama pun masih seperti biasanya. Mereka bertemu di pagi hari sebelum Tama berangkat ke kantor dan juga di waktu petang, Tama akan mengantarkan Anaya untuk pulang ke rumahnya. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, meskipun bunga-bunga cinta di dalam hati tetap bermekaran. Namun, sebagaimana pesan Ayah Tendean kepadanya, Tama berusaha untuk menjaga diri, tidak akan berbuat lebih kepada Anaya sebelum janur kuning melengkung.
Sore hari ini, sebelum Anaya pulang ke rumahnya, rupanya Mama Rina menghampiri Anaya dan mengucapkan sesuatu kepada Anaya.
“Anaya, sampaikan kepada Ayah kamu yah. Akhir pekan ini Mama dan Papa akan main ke rumah kamu,” ucap Mama Rina.
“Oh, iya Ma … nanti Anaya sampaikan kepada Ayah. Jam berapa ya Ma?” tanya Anaya lagi.
“Mungkin jam 19.00, tidak usah repot-repot cuma kami saja kok yang datang,” balas Mama Rina.
Anaya menganggukkan kepalanya, memang surat-surat untuk mendaftarkan pernikahan sudah mulai diurus Tama. Hanya saja, sebagai orang yang tidak tahu prosedur pernikahan itu seperti apa, Anaya juga tidak tahu detail. Sebab, dulu pun pernikahannya hanya terjadi di bawah tangan saja.
“Baik Ma … ya sudah, Anaya pamit pulang ya Ma,” balasnya kepada Mama Rina.
“Iya … hati-hati yah. Diantar Tama kan?” tanya Mama Rina.
“Iya, nunggu Mas Tama masih di atas,” balas Anaya.
Memang Anaya sudah resmi memanggil Tama dengan sebutan ‘Mas’, hanya saja untuk mengucapkan itu di hadapan orang lain membuatnya merasa malu. Jadi, ada kalanya Anaya seolah menahan tawa kala menyebut nama Mas Tama.
Yang ditunggu pun rupanya segera turun dengan menggendong Citra. Terlihat Tama yang menyerahkan Citra kepada Mama Rina, kemudian dia berpamitan untuk mengantar Anaya sebentar. Sepanjang perjalanan mengantar Anaya tentu banyak obrolan atau cerita yang mereka bagikan bersama. Semoga saja hari-hari seperti ini akan berganti dengan hari bersama yang bisa dijalani setiap harinya.
***
Ketika akhir pekan tiba ….
__ADS_1
Kurang dari jam 19.00 malam, keluarga Tama benar-benar datang ke rumah Anaya. Keluarga Tama dengan mengenakan pakaian batik supaya terkesan sopan. Ada bingkisan pula berupa kue dan buah-buahan yang dibawa oleh Mama Rina dan Papa Budi. Ini menjadi kali kedua bagi orang tua itu untuk melamarkan calon pengantin untuk Tama. Di dalam hati keduanya, berharap bahwa ini adalah yang terakhir untuk Tama. Keduanya bisa menjalani hari untuk masa yang panjang.
“Permisi.” Papa Budi mengetuk pintu dan mengatakan salam permisi ketika berada di rumah Anaya.
Rupanya tidak berselang lama pun, Anaya sendiri yang membukakan pintu untuk keluarga Tama.
“Mari silakan masuk Mama dan Papa,” ucapnya.
Saat pandangan mata Anaya bertemu dengan Tama yang kala itu mengenakan kemeja batik dan menggendong Citra membuat Anaya tersenyum. Pun sama halnya dengan Tama yang juga mengamati Anaya yang kala itu mengenakan dress batik dengan motif senada. Memang keduanya sepakat membeli batik yang akan mereka pakai di hari ini, tidak lupa si kecil Citra juga memakai dress batik kecil yang lucu.
“Silakan masuk Mas,” sapa Anaya dengan tersenyum menatap calon pengantinnya itu.
“Makasih,” balas Tama.
“Perkenalkan saya Ayahnya Anaya,” sapa Ayah Tendean dengan sopan dan sembari menjabat tangan Mama Rina dan Papa Budi.
“Kami adalah orang tua Tama,” balas Papa Budi.
Kali pertama memang terasa canggung. Akan tetapi, Papa Budi segera menuju ke inti acara yaitu datang untuk melamar Anaya secara resmi. Ya, kedatangan orang tua Tama ke rumah Anaya adalah untuk meminta Anaya kepada orang tuanya untuk menjadi pendamping Tama.
“Jadi begini Pak Tendean, tujuan kami datang ke mari adalah untuk melamar Anaya. Beberapa waktu lalu, Tama meminta izin kepada kami untuk menikah lagi dan rupanya wanita yang dicintainya adalah Anaya. Jadi, izinkanlah kami datang untuk meminta dan menjadikan Anaya sebagai menantu, sekaligus anak perempuan bagi kami. Mendampingi Tama dan juga mengasihi Citra,” ucap Papa Budi.
Ayah Tendean pun menyambut baik lamaran yang datang bagi putrinya. “Saya sebagai Ayahnya Anaya juga berterima kasih karena Anaya sudah diterima dengan baik. Anaya sudah dijadikan anggota keluarga sendiri dan juga disayangi di sana. Saya tidak masalah asalkan Anaya juga bersedia. Bagaimana pun kebahagiaan Anaya itu yang terutama bagi saya,” balas Ayah Tendean.
“Nak Anaya, apakah kamu bersedia mendampingi Tama dan juga menjadi Mama untuk Citra?” tanya Papa Budi kepada Anaya.
__ADS_1
“Iya Pa … Anaya mau,” balas Anaya dengan menganggukkan kepalanya.
Kali ini Anaya merasakan bahwa pria yang baik akan memintanya dengan baik-baik juga. Tidak akan melakukan tindakan yang curang untuk mendapatkannya. Anaya bisa merasakan bahwa Tama dan keluarganya adalah orang-orang yang baik, hingga rasanya hatinya benar-benar terharu.
“Alhamdulillah,” sahut semua orang yang hadir di tempat itu.
“Tama, Ayah masih sama yah pesannya. Cintai dan bahagiakan Anaya. Ayah titipkan Anaya kepadamu. Tanggung jawab Ayah untuk putri Ayah akan usai dan berpindah tangan kepadamu. Rumah tangga pasti selalu ada masalahnya, hanya saja jadikan itu sebagai hal yang akan menguatkan kalian berdua. Jadikan itu sebagai hal untuk mendewasakan kalian berdua,” ucap Ayah Tendean kepada Tama.
“Baik Ayah,” balas Tama.
“Kira-kira, kapan pernikahan kedua anak-anak kita bisa dilangsungkan? Apakah ada syarat khusus dari pihak keluarga perempuan?” tanya Papa Budi.
“Kami tidak ada. Hanya saja, Anaya memiliki permintaan khusus terkait hari bahagia itu nanti,” balas Ayah Tendean.
Anaya pun tersenyum dan menatap Mama Rina, Papa Budi, dan juga Tama sendiri. “Uhm, Anaya ingin menikah di hari ulang tahun Citra,” ucapnya.
Apa yang disampaikan Anaya pun cukup membuat pihak keluarga Tama menjadi heran karenanya. Apakah ada alasan khusus sampai Anaya ingin menikah di hari ulang tahun Citra?
“Kenapa Anaya?” tanya Mama Rina.
Padahal jika menghitung masa idah, pernikahan bisa dilangsungkan kurang lebih dua minggu lagi. Namun, jika harus menunggu hari ulang tahun Citra, pernikahan akan dilangsungkan sebulan lagi.
“Di hari ketika Citra lahir, Citra kehilangan Ibu. Jadi, Anaya ingin di setiap perayaan ulang tahun pernikahan kami nantinya, Citra bisa tahu bahwa hari di mana dia kehilangan Ibunya, akan berubah menjadi hari bahagia karena Citra memiliki Ibu yang baru. Ibu yang juga menyayanginya dengan sepenuh hati walau Anaya bukan yang melahirkannya. Duka kehilangan Ibu itu tak pernah tergantikan, tetapi Anaya ingin di hari ulang tahunnya, Citra mengingat bahwa dia memiliki Mama. Anaya akan selalu menyayangi Citra dan memberikan kasih sayang secara penuh kepada Citra. Bahkan jika nanti Anaya bisa hamil lagi, kasih sayang Anaya untuk Citra tetap sama, tidak akan pernah berkurang. Ini janji Anaya,” ucapnya.
Ya Tuhan, sungguh baik dan lapangnya hati Anaya. Sebagai orang yang pernah kehilangan Ibunya, duka kehilangan ibu memang sangat mendalam. Oleh karena itu, di masa yang akan datang Anaya ingin Citra tahu bahwa dia juga seorang Ibu yang menyayanginya. Anaya memang bukan wanita yang melahirkan Citra, tetapi dia adalah wanita yang Tuhan kirimkan untuk mengasuh dan membesarkan Citra.
__ADS_1