Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Jangan Diambil Hati


__ADS_3

Sepulangnya Om Dedy dan Dicky, ada Ayah Tendean yang bertanya kepada Tama di sana, "Kamu tidak apa-apa kan Tama?" tanya Ayah Tendean.


Tentu itu adalah pertanyaan retoris dan formalitas. Akan tetapi, dari pertanyaan inilah, Ayah Tendean ingin mendengarkan perasaan menantunya itu. Sebab, Ayah Tendean pun sangat yakin bahwa Tama pun terpukul dengan keputusan yang sudah dia ambil.


"Ya, Tama merasa disudutkan saja, Ayah ... beribu kali pun orang-orang juga akan menyalahkan Tama," balasnya.


"Ayah tidak pernah menyalahkan kamu, Tam ... yang kamu lakukan sangat tepat. Bisa memiliki Anaya di tengah-tengah kita adalah hal yang terbaik," balas Ayah Tendean.


Pun demikian dengan Anaya yang mengusapi lengan suaminya yang masih menggendong Charel itu. "Jangan mendengarkan omongan orang ya Mas ... aku sudah pulih dan bisa menjalani sampai di titik ini juga karena kamu," balas Anaya.


Sepenuhnya Anaya menyadari bahwa tanpa suaminya, tidak mungkin Anaya bisa survive sampai sekarang. Bahkan Tama yang terus mensupport Anaya setiap hari, melakukan aneka pekerjaan rumah, dan juga menemani Anaya begadang di malam hari ketika Charel dan Charla terbangun dan meminta ASI. Padahal Anaya juga tahu bahwa suaminya itu perlu bangun pagi dan bekerja keesokan harinya. Akan tetapi, justru Tama selalu melakukan yang terbaik dan tidak pernah mengeluh kepada istrinya itu.


"Benar Tama ... Ayah juga berterima kasih kepada kamu, tanpa kamu Anaya tidak akan sekuat ini. Jangan diambil hati yah," balas Ayah Tendean.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Ayah, tidak apa-apa. Tidak akan Tama masukkan dalam hati kok. Tama juga tahu bisa memiliki Anaya di sisi Tama itu tidak akan tergantikan oleh apa pun. Terima kasih Ayah, tadi sudah belain Tama," balasnya.


"Pasti Tama ... kamu juga anak Ayah. Kamu yang selalu mendukung dan selalu membahagiakan Anaya. Jadi, Ayah pun wajib untuk membela anaknya juga," balasnya.


Lantas, Citra pun bertanya kepada Opanya, "Opa ... main di sini saja, Opa masih libur kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, Opa kalau Sabtu libur, Citra ... kamu mau main apa?" tanya Ayah Tendean kepada cucunya itu.


"Mau sama Opa saja ... kangen Opa," balasnya.


Ayah Tendean yang melihat Citra seolah teringat dengan kecil Anaya dulu. Ya, dulu sewaktu membesarkan Anaya seorang diri, dan ketika Anaya seusia Citra, hari Sabtu dan Minggu menjadi hari yang paling dinanti oleh Anaya. Sebab di hari Sabtu dan Minggu, Anaya bisa bermain seharian dengan Ayahnya. Melakukan hal-hal yang Anaya suka. Tak jarang, hari Sabtu juga dimanfaatkan Ayah Tendean untuk mengajak Anaya jalan-jalan entah itu ke Dufan, ke Ragunan, atau ke Monas. Hari di mana Ayah dan Anak itu berinteraksi full selama 24 jam. Sebab, di hari kerja, pengasuhan Anaya akan dibantu Neneknya Anaya dan babysitter.


"Lihat Citra ini Ayah jadi ingat Anaya waktu kecil dulu, kamu dulu juga seperti ini Anaya," ucap Ayah Tendean dengan mengusapi puncak kepala Citra.


"Hmm, seperti Citra gimana Ayah?" tanya Anaya.


"Ya perawakannya, kecilnya, lucunya, dan juga kamu usia 3 tahun sudah bicara lancar seperti Citra ini. Tidak terasa yah, sekarang kamu sudah dewasa, sudah berumahtangga, dan sudah memiliki anak," ucap Ayah Tendean.


Tama pun tersenyum, "Tuh, kamu kayak Citra, Sayang ... ceriwis," balas Tama.


Anaya pun tersenyum, "Ya enggak apa-apa, aku kan Mamanya Citra," balas Anaya.


"Iya, kalian adalah ibu dan anak." Ayah Tendean menyahut karena memang bagi Ayah Tendean, jika Anaya tidak menjadi Ibu Susu untuk Citra, sudah pasti Citra tidak akan tumbuh sehat seperti sekarang. Memang bukan Anaya yang melahirkannya, tetapi ASI dari Anaya juga menumbuhkembangkan Citra.


"Benar ... kamu Mamanya Citra, terima kasih Mama Anaya," balas Tama.

__ADS_1


Ayah Tendean pun tertawa, "Yang rukun yah ... permasalahan dalam rumah tangga itu kompleks, bisa datang dari mana saja. Yang penting kalian jangan terpengaruh. Ya, Ayahmu ini memang tidak dianugerahi kehidupan rumah tangga yang panjang, tetapi Ayah mendoakan kalian berdua akan memiliki kehidupan rumah tangga yang panjang. Sepanjang usia kalian berdua," ucap Ayah Tendean.


Itu adalah doa yang tulus dari Ayah Tendean, walau kehidupan rumah tangganya bersama Bunda Desy hanya berjalan beberapa tahun saja, dan istrinya itu berpulang lebih dulu, tetapi untuk putri tercintanya Ayah Tendean berharap bahwa Anaya dan Tama akan memiliki kehidupan rumah tangga yang panjang. Saling memiliki untuk waktu yang lama.


"Memang pengalaman Ayah berumah tangga itu kurang, tetapi setidaknya kalau ada masalah diselesaikan bersama. Kayak tadi, jika ada suara-suara sumbang, tidak usah diambil hati. Semuanya dilakukan dengan baik dan juga tidak usah diambil hati," balas Ayah Tendean.


Anaya dan Tama yang mendengarkannya pun sama-sama menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang diucapkan Ayah Tendean bahwa memang dirinya harus memilih dan memilah apa yang sebaiknya dimasukkan ke dalam telinga dan juga yang tidak. Tama sangat tahu akan hal itu.


"Terima kasih, Ayah ... Tama beneran tidak apa-apa. Justru Tama bangga bisa mengambil keputusan yang tepat di masa kritis. Walau jujur, waktu itu Tama tidak bisa berpikir. Namun, Allah pun sudah begitu baik, Dia menganugerahkan dua bayi kecil kepada kami sekaligus," balas Tama.


Jika terus-menerus meratapi maka yang terjadi adalah terus-menerus terpuruk dan juga merasa Tuhan sangat tidak adil. Namun, Tama mencoba melihat letak hikmah dari Allah untuk mereka berdua. Rahim yang melebar dan rusak, plasenta yang menempel di dinding rahim membuat rahim yang dalam kondisi normal hanya sebesar alpukat itu diangkat, tetapi sebelum diangkat Allah berikan dua bayi kecil untuknya terlebih dahulu.


Tama sangat yakin lahirnya Charel dan Charla adalah pelipur lara bagi mereka berdua. Terlebih untuk Anaya, bisa mengelola emosi, kesedihan, dan menenangkan diri sembari memberikan ASI untuk kedua bayinya.


"Itu benar Tama ... kamu sudah melakukan yang terbaik. Orang yang berpikiran positif, dalam keadaan yang negatif pun bisa melihat sisi positif yang bisa mereka ambil. Sementara orang yang berpikiran negatif, dalam keadaan yang positif pun akan melihat negatif terus. Terus berpikiran positif. Suami yang berpikiran positif, bisa mendukung istrinya," balas Ayah Tendean.


"Benar Ayah ... kami masih sama-sama belajar," balas Tama.


Anaya kemudian menatap Ayahnya itu, "Ayah, apa Ayah tidak ingin berumah tangga lagi?" tanyanya.

__ADS_1


Itu adalah pertanyaan yang sangat tidak pernah Anaya tanyakan dalam kurun waktu 26 tahun ini. Akan tetapi, sekarang Anaya justru menanyakannya kepada Ayahnya. Bagaimana respons Ayah Tendean terhadap pertanyaan dari putrinya itu?


__ADS_2