Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Sore yang Indah


__ADS_3

Sejenak menepi dari Ayah Tendean dan mungkin saja peluang dengan cinta yang kembali bersemi di usia yang sudah tidak muda lagi. Kini, Anaya dan Tama sama-sama untuk mengurus bayi-bayi mereka yang sudah berusia satu bulan.


Tampak Anaya tersenyum melihat bayi kembarnya yang kian menggemaskan itu, dengan rambutnya yang mulai tumbuh perlahan-lahan. Kian lucu karena hanya bagian atas rambutnya saja yang tumbuh, di bagian atas tengkuknya justru belum seberapa yang tumbuh.


"Dulu dibotakin lucu, sekarang rambutnya tumbuh juga enggak barengan ya Nak ... kalian lucu banget Charel dan Charla. Rambutnya tumbuh kok tidak rata sih," ucap Anaya dengan memperhatikan dua bayinya yang sedang dia biarkan bergerak di tempat tidur. Dua bayi itu terlihat mengangkat tangannya, menggerakkan kakinya, dan sesekali lehernya menoleh. Sangat menggemaskan. Tak jarang, Anaya mengabadikan momen dua bayinya yang sangat menggemaskan.


"Mama ... adiknya baru ngapain Ma?" tanya Citra yang menyusul Mamanya di dalam kamar.


"Ini Kak Citra ... jagain adik-adik kamu," balas Anaya.


Citra mendekat dan turut mengamati adik-adiknya yang Charel mengenakan pakaian berwarna biru, dan Charla mengenak pakaian berwarna pink. Lantas Citra bertanya kepada Mamanya, "Boleh pegang adik enggak Ma?" tanyanya.


"Boleh dong ... yang penting hati-hati ya Kak Citra."


Mendapatkan lampu hijau dari Mamanya, Citra menyentuh Si Charel dengan menggenggam tangan adiknya itu. "Tangannya kecil, Ma," balasnya.


"Kamu dulu juga sekecil ini Kak Citra ... coba lihat ini fotonya Mama sama Kak Citra. Kecil kan? Imut," balas Anaya dengan menunjukkan fotonya menimang Citra yang masih bayi.


"Kayak adik ini ya Ma?" tanya Citra lagi.


Anaya menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... seperti Adik kamu ini. Dulu Citra kecil banget, Mama gendong-gendong, Mama berikan ASI. Mama sayang banget sama Citra," ucap Anaya.


Mendengar ucapan sayang dari Mamanya, Citra melepaskan tangan adiknya dan kemudian menghambur untuk memeluk Mamanya di sana. "Citra juga sayaaaanng Mama ... Love U to the moon and to the back, Mam."


Mendengar Citra yang juga membalas ucapan cintanya, Anaya pun memeluk Citra dengan begitu eratnya. Sungguh, bagi Anaya, dia tidak pernah membeda-bedakan anak sambung dan anak kandung. Citra, Charel, dan Charla, ketiganya sama di matanya. Ketiganya adalah anak-anaknya, dan juga tidak akan membedakan ketiganya. Justru, rasa sayang yang Anaya rasakan untuk Citra makin besar.


Ketika memiliki Adik, tentu porsi sayang dan perhatian itu akan dibagi. Akan tetapi, sejauh ini Citra bisa bersikap kooperatif dan walau kadang Citra meminta perhatian lebih. Namun, Anaya tetap memakluminya. Fase tumbuh kembang anak memang demikian.

__ADS_1


Sore pun tiba, dan si Papa yang bekerja akhirnya pulang ke rumah. Kali ini, Tama pulang tidak dengan tangan kosong. Melainkan, dia membawa satu kotak donat sebagai oleh-oleh.


"Papa pulang," teriak Papa ketika memasuki rumah di sore hari.


"Papa ... bawa apa itu Pa?" tanya Citra dengan menunjuk kotak donat berwarna kuning yang dibawa Papanya.


"Papa belikan donat nih untuk Kak Citra dan Mama ... Papa mandi dulu yah, biar nanti bisa main sama kalian," balasnya.


Anaya tersenyum melihat donat yang dibawakan suaminya, "Makasih Papa ... wah, bisa jadi ASI booster buat Busui nih," balasnya.


"Sama-sama Mama Anaya ... Papa mandi dulu yah. Mau nemenin?" balas Tama dengan mengerlingkan matanya.


Terlihat Anaya menggelengkan kepalanya perlahan. "No no ... tidak bisa Papa," balasnya dengan memanyunkan bibirnya dan tertawa di sana.


"Iya, tahu Mama ... santai saja. Mandi dulu sebentar yah," balas Tama dengan segera menaiki lantai dua dan menuju ke kamar mandi.


"Papa ... Citra makan donatnya Pa ... makasih," ucap Citra dengan mengunyah donat itu.


"Iya, dimakan ... pelan-pelan yah makannya," balas Tama.


Setelahnya, Tama meminta si kembar dari istrinya dan menggendong keduanya bersamaan. "Sini, biar Duo C ikut Papa dulu, Mama me time dulu. Makan donatnya Mama," balasnya.


Memang sekarang ketika Citra semakin besar dan mengenal peran dalam rumah, Tama dan Anaya memilih untuk memanggil dengan sebutan Mama dan Papa, sekaligus memberikan teladan kepada Citra untuk bisa memanggil Mama dan Papanya.


Merasa senang, Anaya pun memberikan Si Kembar kepada suaminya, kemudian Anaya menyeduh Teh untuk mereka berdua. Setelahnya Anaya mengambil satu donat dan menikmati kue yang manis itu.


"Mau Papa?" tanya Anaya.

__ADS_1


"Sudah ... Mama dulu. Nikmati waktu, Ma ... kalau sore kan Papa sudah pulang. Biar Papa yang urus anak-anak. Mama santai saja," balasnya.


"Makasih Papa ... idaman banget sih," balas Anaya dengan mengacungkan ibu jarinya. Begitu kerennya suaminya itu. Tidak hanya rajin bekerja, bertanggung jawab, tampan, tetapi juga bisa diandalkan untuk mengurus tiga Bocils di rumah.


Anaya lantas mengambil satu donat dan menyuapi suaminya itu, "Buka mulutnya, Papa ... aku suapin," ucapnya.


Tama pun tersenyum di sana dan mulai membuka mulutnya, menerima suapan donat dari istrinya itu. Menggigitnya sedikit, dan mengunyahnya perlahan.


"Makasih Mama," balas Tama.


Rupanya Citra ikut-ikutan dia, membawa Donat miliknya dan menyuapkannya kepada Papanya. "Hakkk juga Papa ... Papa juga harus makan," ucap Citra.


Tama pun akhirnya menggigit kecil donat milik Citra dan mengunyahnya. "Makasih Kak Citra," balasnya.


Tama tersenyum di sana, "Kayak Raja Minyak ini ... disuapin dua wanita cantik," balasnya.


"Bisa aja sih Papa," balas Anaya.


"Dou C rewel enggak Mama?" tanya Tama kemudian.


"Ya, biasa aja Papa. Baby kan begitu. Kak Citra juga hebat tadi membaca buku sama Mama," balasnya.


Citra kemudian memeluk Papanya itu dari belakang, "Kalau Papa sudah gajian, belikan Citra buku ya Pa," pintanya.


"Tentu Sayang ... nanti ke toko buku sama Papa yah," balas Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... Day's out sama Papa," balasnya.

__ADS_1


Ini adalah potret keluarga kecil. Menikmatin sore bersama. Tama menggendong Charel dan Charla dengan kedua tangannya dan ada Citra yang bergelayut manja di punggungnya dengan dua tangannya melingkari lehernya. Menikmati waktu bersama anak-anak, karena ketika mereka dewasa, waktu seperti ini tidak akan pernah kembali.


__ADS_2