Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Deep Talk


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Anaya ….


Ayah Tendean agaknya membutuhkan waktu untuk mengobrol dengan Anaya dan Tama. Sampai malam hari, usai pulang bekerja dan menunggu bayi-bayi Anaya dan Tama sudah tertidur, Ayah Tendean meminta izin untuk singgah ke rumah putrinya yang memang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya itu. Ini pun menjadi kali pertama Ayah Tendean datang ke rumah malam-malam.


“Ayah tidak mengganggu kalian kan?” tanya Ayah Tendean yang sekarang duduk di ruang tamu bersama Anaya dan Tama.


“Tidak Ayah,” balas keduanya bersamaan.


"Tumben malam-malam ke sini Ayah?" tanya Anaya kemudian kepada Ayahnya.


Di sana Ayah Tendean tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar, Aya ... maafkan Ayah yah, jadi mengganggu waktu istirahat kalian,ada yang ingin Ayah bahas dengan kalian, secara khusus kamu, Anaya," ucap Ayah Tendean kemudian.


Anaya pun tampak menganggukkan kepalanya perlahan dan mempersilakan Ayahnya untuk bisa berbicara dengannya, "Silakan Ayah ... jangan merasa mengganggu atau terbebani. Toh, jam segini anak-anak sudah tidur juga," balasnya.


Ayah Tendean pun menghela nafas dan menatap Anaya, "Menurutmu, apakah tidak terlalu terburu-buru untuk melamar Dianti kemarin, Aya? Kamu yakin akan merestui kami?" tanya Ayah Tendean lagi.


"Tidak terburu-buru Ayah ... niat yang baik sebaiknya disegerakan. Untuk apa menunda niatan yang baik. Itu juga yang dilakukan Mas Tama dulu. Begitu menyadari perasaannya, Mas Tama segera melamar Anaya dan meminta Anaya untuk mendampinginya," balas Anaya.


Setidaknya Anaya hanya ingin memberikan contoh dari suaminya. Ketika Tama merasa sadar dengan perasaannya, Tama memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya dan meminta Anaya untuk bisa mendampinginya. Oleh karena itu, Anaya pun berpikir bahwa jikalau memiliki niatan yang baik, sebaiknya memang disegerakan saja.


"Walau kami bertemu baru 3 kali? Sementara kalian kan saling mengisi dan selalu bertemu untuk jangka waktu satu tahun, saat kamu menjadi Ibu susu bagi Citra," balas Ayah Tendean.


"Yang bertemu satu kali dan bisa menikah saja bisa kok Ayah. Kenapa Ayah menjadi ragu?" tanya Anaya kemudian.


"Bukan ragu, Ayah cuma harus siap-siap jika Dianti menolak Ayah lagi. Rencana B harus dibuat Anaya," jawab Ayahnya.


Terlihat Anaya mengulas senyuman di wajahnya dan menatap Ayahnya di sana, "Jangan ragu, Ayah ... firasat Anaya kali ini baik. Jadi, tunggu saja pekan depan. Bagaimana Ayah akan melakukan sesuatu yang romantis atau bagaimana?" tanya Anaya kemudian.


"Entahlah Anaya ... sederhana saja, tapi bermakna. Lagipula Dianti adalah sosok yang sederhana," balas Ayah Tendean kemudian.

__ADS_1


Mendengar jawaban yang diberikan Ayahnya, Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Oke Ayah ... kami setuju saja. Bertemu di mana Ayah? Bolehkah kami ikut serta?" tanya Anaya kemudian.


"Boleh ... ikut saja. Di rumahnya Ayah saja ya Anaya ... bawa Citra, Charel, dan Charla ke rumah Ayah tidak apa-apa kan?" tanyanya.


"Boleh Ayah ... hal terbaik, di kelilingi anak, menantu, dan cucu-cucu Ayah," balas Anaya.


"Itu juga yang Ayah pikirkan Anaya. Dia yang mendampingi Ayah, benar-benar Ayah berharap dia mau menyayangi kamu, dan menyayangi cucu-cucu Ayah. Tidak perlu menyayangi kamu ya Tama. Kasih sayang dan cinta dari Anaya saja sudah cukup bahkan melimpah untuk kamu," balas Ayah Tendean.


Tama yang sedari tadi diam, akhirnya turut berbicara. Pria itu mengulum senyuman di bibirnya. "Iya Ayah ... cukup cinta dan kasih sayang dari Anaya saja untuk Tama sudah amat sangat cukup," balasnya.


"Bukan begitu saja, jika dia menyayangi Anaya dan cucu-cucu Ayah, sudah pasti dia akan sayang kepada menantu Ayah juga. Seyogyanya begitu," balas Ayah Tendean.


"Iya Ayah, santai," balas Tama dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelahnya, Ayah Tendean menatap Anaya yang duduk di hadapannya hanya terpisah meja saja, "Jika, Ayah benar-benar menikah, seluruh aset yang Ayah miliki akan Ayah berikan untuk kamu, Anaya. Ahli waris Ayah satu-satunya. Sementara untuk istri Ayah yang baru akan mendapatkan juga, tapi tidak sebanyak kamu," ucap Ayah Tendean.


"Harus Anaya ... seorang ayah atau pria akan memikirkannya. Tidak baik menikah tanpa membahas semua itu. Kamu, anak kandung Ayah ... ahli waris Ayah, jadi 80% aset akan menjadi milik kamu, dan 20%nya untuk Dianti, jika dia menjadi istri Ayah," balasnya.


"Kenapa berbicara masalah aset dan warisan membuat hati Anaya sakit," balasnya.


"Tidak, kamu harus menerimanya. Itu adalah hak kamu," balasnya.


Kemudian Tama menatap Ayah Tendean dan Anaya bergantian. Kali ini Tama perlu berbicara dengan mereka berdua.


"Izinkan Tama bicara, memang sebaiknya begitu Ayah. Bukan apa, hanya saja berkaca dari kasus Tama terdahulu. Memang sebaiknya ada hitam di atas putih. Tidak seperti maaf mantan mertua Tama yang meminta harta gono-gini atas nama mendiang Cellia. Bagaimana pernikahan kedua itu rentan dengan masalah harta, Ayah ... yang Ayah lakukan itu benar."


Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Itu yang menjadi pertimbangan Ayah juga Tama. Masak iya seorang mertua meminta harta kepada pria yang dulu menjadi suami putrinya dan juga mengancam merebut hak asuh Citra. Ayah tidak ingin ada masalah terkait harta saja ketika Ayah semakin uzur dan juga tidak memiliki waktu yang panjang," balasnya.


"Jangan berkata begitu Ayah ... sudah pasti Ayah akan memiliki usia yang panjang," sahut Anaya.

__ADS_1


"Itu fakta Anaya ... jadi, biarkanlah Ayah menjalankan hal yang tepat."


Setelah dibujuk oleh Ayahnya, Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah Ayah ... hanya saja, jika nanti mungkin saja Ayah dan Ibu berkesempatan memiliki bayi, ambilkan saja aset untuk Anaya itu untuk adik bayi," balasnya.


Tampak Ayah Tendean tertawa di sana, "Mana mungkin kami memiliki bayi di usia yang sudah tidak lagi muda, Anaya," balasnya.


"Mungkin saja Ayah ... selama belum menopause masih bisa kok. Nanti biar Anaya yang mengasuhnya," jawabnya dengan begitu girang.


Ayah Tendean pun terkekeh geli. Dia membayangkan jika pria yang sudah memiliki cucu tiga, pada akhirnya akan memiliki bayi lagi. Bukankah anaknya akan terlahir seusia dengan cucu-cucunya. Begitu geli rasanya.


"Tidak usah berpikir terlalu jauh, Aya ... yang penting Ayah dan Dianti bisa bergandengan tangan dan mengisi hari tua bersama," balasnya.


"Iya-iya Ayah ... Anaya sangat tahu kok. Jadi, sudah tidak ragu kan Ayah?" tanya Anaya kemudian kepada Ayahnya.


Ayah Tendean tampak menganggukkan kepalanya, "Ayah akan menunggu dengan sabar. Sama seperti Tama yang menunggu kamu, Ayah akan melakukan hal yang sama. Walau Ayah bukanlah Mas Duda yang mencari Ibu susu," balas Ayah Tendean.


Sementara Anaya dan Tama terkekeh di sana, "Pak Duda Mengejar Cinta," balas Anaya dengan terkekeh geli.


"Ssttss, jangan keras-keras Anaya. Nanti bisa jadi novel terbaru kalau kamu mengucapkan judulnya," balas Ayah Tendean.


"Tenang saja Ayah ... tidak akan ada novel itu. Sebab, yang ada hanya Mas Duda Mencari Ibu Susu," balasnya.


Tama pun tertawa, "Mencari Ibu Susu, mendapatkan tulang rusuk yang sudah lama hilang."


Ayah Tendean pun kembali tertawa, "Sudah ditemukan ya Tam, yang hilang. Luar biasa, kamu itu alasan Ayah bisa tenang, Tam ... karena sudah pasti ada kamu yang menjaga Anaya," balasnya.


"Terima kasih sudah mempercayai Tama, Ayah ... kepercayaan dari Ayah ini tidak akan Tama sia-siakan."


Jika biasanya melakukan Deep Talk atau berbicara dengan instens hanya dengan pasangan. Anak dan Ayah pun bisa melakukan deep talk untuk membahas sesuatu yang sangat penting. Sama seperti Ayah Tendean dan Anaya sekarang yang membahas banyak hal bersama. Dengan demikian keduanya bisa menyamakan sudut pandang dan juga mendapatkan keputusan berdasarkan kesepakatan bersama.

__ADS_1


__ADS_2