Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kode Semesta yang Tak Sempurna


__ADS_3

Anaya keluar dari kampus dengan wajah yang senang. Itu semua karena bisa mengobrol banyak dengan Dosennya sendiri. Banyak mendapatkan ilmu parenting dari Dosennya sendiri membuat gelas kosong yang dimiliki oleh Anaya perlahan terisi.


Hingga ada sebuah mobil berwarna hitam tipe city car yang berhenti di depan Anaya, membuka sedikit jendelanya, "Hei My Love, udah selesai?"


Siapa lagi kalau bukan Tama. Satu-satunya orang yang memanggilnya 'My Love' juga hanya Tama saja. Tidak ada orang lain yang akan memanggilnya My Love.


Anaya tersenyum dan masuk ke dalam mobil suaminya itu, "Hei Mas Suami," balasnya dengan mengenakan seat belt. "Makasih ya Mas," ucap Anaya kemudian.


"Hmm, buat apa?" tanya Tama.


"Benar ... soalnya kebanyakan analisa kok. Jadi ya, tadi ada bagian Bu Khaira berikan studi kasus gitu dan kita diminta untuk menjelaskan. Bahkan bagian Teori Psikologi Tabula Rasa yang anak lahir layaknya kertas putih itu mahasiswa diminta untuk setuju dan tidak setuju, tapi memberikan penjelasannya."


Anaya menceritakan ujiannya tadi dengan semangat kepada suaminya. Tama yang mendengarkan cerita Anaya pun tersenyum, tangannya terulur dan mengusapi puncak kepala istrinya itu.


"Sama-sama My Love ... jadi bisa enggak tadi ngerjainnya?" tanya Tama.


"Bisa ... hanya saja, nilainya dapat berapa juga enggak tahu. Cuma hebat banget Bu Khaira, ujiannya pepperless, kita langsung menjawab di Moodle gitu. Lulusan Teknologi Pendidikan kan dia?" tanya Anaya.


"Iya, S1 nya Teknologi Pendidikan, jadi itu kita dapat skill sedikit teknologi dan sedikit pendidikan, mengupayakan pendidikan berbasis teknologi gitu. Cuma S2 nya apa aku nggak tahu," balas Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya, "Langsung jemput Citra dan langsung pulang ya Mas. Kangen rumah," ucapnya kali ini.


"Kalau aku kangen kamu, Sayang," balas Tama.


Anaya hanya terkekeh geli saja. Candaan dan kata-kata manis dari suaminya itu laksana taburan gula yang mempermanis kehidupan rumah tangga keduanya.


***

__ADS_1


Malam harinya ....


Seharian tadi langit Ibukota begitu cerah, dan juga sinar matahari rasanya begitu terik. Akan tetapi, malam ini tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Mungkin lantaran hujan, jam 19.00 saja Citra sudah terlelap, anak kecil itu sudah lelap dalam buaian Mamanya yang menyenandungkan lagu dan juga mengusapi kepalanya dengan begitu lembut.


Memastikan Citra sudah tidur, Anaya kemudian menuju ke kamarnya yang dihubungkan dengan connecting door. Terlihat Tama sedang melihat televisi yang ada di kamar, melihat siaran pertandingan sepakbola.


"Nonton apa Hubby?" tanya Anaya yang kemudian mendekat untuk duduk di samping suaminya.


"Sepakbola Sayang ... cuma bapuk, sejak tadi masih imbang, belum ada gol," sahut Tama.


Anaya mencoba memahami, padahal sebenarnya dia juga tidak terlalu tahu tentang sepakbola. Hanya saja beberapa pemain sepakbola yang cakep, Anaya tahu. Namun, permainannya sendiri Anaya tidak tahu.


"Sudah babak keberapa?" tanya Anaya kemudian.


"Babak kedua, baru lima menit berjalan," balas Tama.


Sebenarnya Anaya tahu kemana arah perbincangan suaminya itu. Akan tetapi, menggodai suaminya agaknya menenangkan juga. "Bikin mie instant kan Mas? mau aku buatin?" Anaya bertanya dengan terkekeh geli di sana.


"Kamu ini bisa saja. Mau kamu lah, Sayang ...."


Tama mendaratkan bibirnya tepat di tengah kedua belah lipatan bibir Anaya. Membiarkan bibir itu untuk berada di sana, mata Tama yang semula masih terbuka perlahan-lahan pun terpejam, pria itu menggerakkan sedikit bibirnya dan mulai memagut bibir Anaya dengan begitu lembutnya. Menyesap lipatan bawah dan lipatan atas bibir Anaya dengan bergantian. Sedikit menjulurkan lidahnya dan memberikan sapuan bahkan hisapan di permukaan bibir Anaya yang begitu lembut, kenyal, dan juga manis.


Tama itu kembali meraih dagu Anaya, dan memberikan ciuman, pagutan, dan lu-matan di bibir Anaya. Seolah-olah dirinya bagai kumbang yang ingin menghisap madu yang begitu manis yang bersarang di bibir Anaya. Permainan lidah dan bibir Tama membuat wanita itu mengeratkan untuk meremas ujung kaos yang dikenakan Tama. Jantungnya begitu berdebar-debar sekarang ini, suhu tubuhnya pun meningkat dengan begitu drastis.


Ciuman Tama yang semula begitu lembut, kini pun berubah dengan deru nafas yang memburu. Tama sedikit menggigit bibir Anaya, membawa lidahnya untuk menyusup masuk merasai rongga mulut Anaya yang hangat, memberikan usapan dengan lidahnya, membawa bibir dan lidahnya untuk menari-nari di dalam kedalaman rongga mulut Anaya. Tangan Tama bergerak menarik pinggang Anaya untuk kian mendekat ke arahnya. Pria yang sudah diselimuti kabut gairah itu, membawa tangannya untuk meraba pinggang, punggung, hingga leher Anaya.


Bahkan bibirnya yang basah dan hangat itu kini bergerak dan memberikan kecupan-kecupan di leher jenjang Anaya. Bahkan Tama menggigit kecil leher Anaya dan menyesapnya dengan begitu dalam, hingga sebuah tanda merah tercetak jelas di leher itu.

__ADS_1


“Hh, Mas ... Mas,” de-sahan pun lolos begitu saja dari bibir Anaya saat pria itu membuat tanda merah di lehernya.


Bak menghiraukan ucapan Anaya, Tama terus bergerak, kini jari-jemarinya dengan lembut tapi pasti mulai melepaskan kancing demi kancing di piyama Anaya. Wajahnya sudah menunduk hingga di sembulan buah persik itu mengecupinya perlahan. Lantas, Tama membawa tangan Anaya untuk meraba pusakanya yang sudah sepenuhnya berdiri. Sungguh, Anaya tidak mengira bahwa sebatas berciuman saja, bisa membakar suaminya dengan begitu rupa.


Tangan Anaya kian meraba, dan Tama kian mende-sah. Pria itu benar-benar tidak kuasa, sentuhan tangan istrinya saja benar-benar menyulutnya. Seolah memahami permintaan suaminya, Anaya turun, wanita memberikan yang terbaik untuk sang suami. Membenamkan pusaka itu dengan rongga mulutnya yang hangat dan mengu-lumnya. Hingga Tama benar-benar melenguh nikmat. Tangan Tama mengusapi kepala Anaya di sana.


"Nikmat Sayang ... Sayang," racau Tama dengan helaan nafasnya.


Ketika hasratnya kian memuncak, sayangnya hujan kian deras. Hingga listrik di dalam rumah pun padam, sejurus kemudian terdengar tangisan yang keras dari Citra.


Anaya segera menyelesaikan tugasnya, berlari sembari merapikan kancing bajunya dan menggendong Citra. Mungkin kaget karena mati listrik membuat Citra menangis.


"Cup cup cup ... ada Mama Sayang ... ada Mama," ucap Anaya dengan menghela nafas yang juga menderu dan kaget.


Tama pun demikian, pria itu menyalakan lampu emergency dan merebahkan dirinya di sofa.


"Nyaris loh My Love ... ketahan yah?" tanyanya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya, hujannya deras dan Citra kebangun. Mati listrik juga. Sabar ya Mas ... tahan lagi yah," balasnya.


Tama menghela nafas panjang di sana. "Gagal maning, Sayang ... kayak aku sudah diseluncuran water park, sudah siap meluncur, tapi tiba-tiba disuruh turun. Ah, pusing deh," jawabnya.


Anaya duduk di dekat Tama dengan masih menggendong Citra dan memberikan ASI untuk Citra. "Maaf, Citra kan prioritas utama dulu. Sabar ya Baby gedheku," goda Anaya dengan mengusap kepala suaminya itu.


Tama kemudian duduk dan mendekap istrinya yang tengah memberikan ASI untuk Citra dan berusaha menidurkan Citra lagi. "Semesta merestui, hanya saja PLN dan Citra tidak merestui. Papa kalah lagi ya Nak Cantik," balas Tama dengan menyenderkan kepalanya di bahu istrinya itu.


Anaya hanya bisa terkekeh geli di sana. Biarlah gagal sesaat, semoga di lain waktu tidak akan gagal dan ada kendala lagi.

__ADS_1


Happy Reading^^ :D


__ADS_2