
Ada pertanyaan yang pada akhirnya keluar dari bibir Opa Tendean. Entah itu serius atau tidak yang pasti kali ini, Opa. Tendean berbicara dengan langsung kepada Oma Dianti yang berada tidak jauh darinya.
"Sama kamu mau, Di?"
Jika sebelumnya Dianti terkesiap dengan penulisan namanya di bukunya yang berubah menjadi DEANTI. Kali ini, Dianti lebih terkesiap ketika Tendean mengucapkan kalimat tanya itu. Satu kalimat tanya yang nyatanya bisa membuat jantung Dianti berdegup dengan begitu kencangnya.
"Hmm, kamu tanya apa tadi Mas Dean?" tanya Dianti perlahan.
"Kalau sama kamu, apa kamu mau, Di?"
Di sana Dianti justru tertawa, mungkinkah dia sekarang tengah dilamar oleh Tendean? Atau memang itu hanya candaan semata.
"Weh, aku gak salah denger ini Mas?" tanyanya dengan menatap Tendean.
Lantas Tendean pun menundukkan wajahnya dan kemudian kembali menatap Dianti. "Kapan-kapan mainlah ke rumah, Di ... kenalan sama Anaya dan menantuku, Tama. Lebih dekat supaya bisa saling kenal," balas Tendean.
Dianti pun menganggukkan kepalanya, "Boleh, minta alamat rumahnya saja, Mas Dean. Nanti aku main ke rumah dan sekaligus nengokin cucu," balasnya.
Mungkin pembicaraan ini hanya candaan karena sekarang keduanya terlihat mengalihkan pembicaraan. Walau binar di kelopak mata tak bisa dielak, tetapi di bibir seolah masih ada sesuatu yang tertahan.
Hingga perlahan Tendean berdehem di sana, "Ehem, misal aku meminta kamu untuk menemaniku di hari-hari tuaku, apakah kamu mau, Dian?"
Ketika mengatakan itu, jantung Tendean berdegup dengan begitu kencangnya. Kali ini seakan hasrat itu muncul dengan sendirinya. Benar yang dikatakan Tama, ketika hasrat itu muncul, maka semua akan terjadi begitu saja. Bahkan hal yang sebelumnya tidak dia rencanakan pun bisa muncul sekarang.
Di sana Dianti kembali tersenyum, walau jantungnya juga berdegup dengan begitu kerasnya. Akan tetapi, Dianti bisa menguasai dirinya dengan baik.
"Kita baru bertemu dua kali, Mas Dean. Semuanya terlalu cepat," balas Dianti.
Akhirnya Tendean pun menghela nafas panjang sepenuh dada dan kemudian menatap Dianti di sana.
"Jadi, aku ditolak nih?" tanyanya.
__ADS_1
Dianti pun menganggukkan kepalanya, "Iya, maaf ... terlalu cepat. Aku juga sudah begitu tua, Mas."
Usia yang sudah tidak lagi muda, sistem reproduksi yang menurun, bahkan bayang-bayang menopause menjadi hal yang dipikirkan Dianti sekarang. Juga, baru bertemu dua kali dan kemudian akan menikah baginya terlalu cepat. Untuk sesuatu yang berkaitan dengan masa depannya, Dianti tak ingin gegabah.
"Pikirkan dulu baik-baik, Di ... jawabannya bisa di lain waktu. Mainlah ke rumah dan bertemu Anaya, pasti dia senang bisa bertemu kamu," ucap Tendean sekarang.
"Oke, boleh. Share lokasi ya Mas Dean," balasnya.
Justru Tendean menggelengkan kepalanya, "Kalau ingin ke rumah, kirimi aku pesan saja, aku akan menjemputmu," balasnya.
"Baiklah," balas Dianti dengan menganggukkan kepalanya.
Setelahnya, Citra kembali berlari dan menghampiri Opanya. Gadis kecil itu bertanya lagi kepada Opanya.
"Opa, kita akan pulang jam berapa?" tanyanya.
"Citra mau pulang jam berapa dulu? Sekarang atau nanti tidak masalah. Hari ini kan Opa libur," balasnya.
Kalo ini, Dianti terkekeh geli. Belum ada satu jam berlalu, dia sudah menerima lamaran dua kali. Pertama dari Tendean, dan kedua dari Citra. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, justru dia menerima lamaran dua kali hari ini. "Oma Dian mau kan menjadi Omanya Citra? Bersama Opa Dokter," pintanya lagi.
"Kan Oma sudah menjadi Omanya Citra. Sudah kan?" jawaban dari Oma Dianti.
"Tinggal bersama Opa dong Oma. Kasihan Opa," balas Citra lagi.
Hingga di batas Oma Dianti memegangi kedua bahu Citra. "Oma perlu mengobrol dengan keluarganya Oma, juga perlu kenalan sama Mama dan Papanya Citra juga. Jadi, sabar yah ... jangan terburu-buru yang hasilnya justru tidak baik," balas Oma. Dianti.
Citra bisa menerima penjelasan dari Oma Dianti. Gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya, "Iya Oma ... Citra akan sangat senang jika Oma mau beneran jadi Omanya Citra. Oma kan baik, cocok untuk Opanya Citra," balasnya.
"Nanti ya Citra yang cantik," balasnya.
Kemudian Citra menatap kepada Opanya. "Opa, kita pulang yuk ... Citra sudah kangen sama Mama dan Papa. Sudah lama juga Opa, nanti lain kali giliran Oma Dian yang main ke rumah Citra yah," pintanya.
__ADS_1
"Iya, akhir pekan nanti Oma main boleh ke rumahnya Citra?" tanyanya.
"Iyaaahhh ... tentu Oma," balasnya.
Lantaran sudah lama berada di Taman Baca Kasih Bunda, Opa Tendean pun juga berpamitan.
"Dian, aku pamit yah ... hari Sabtu nanti main ke rumah yah. Kenalan lagi sama Anaya," pamitnya.
"Sabtu besok Mas Dean?" tanyanya balik.
"Iya, dan pikirkan baik-baik pertanyaan dariku tadi ya Dian ... temani aku di masa yang tersisa hingga ujung usia," ucapnya lagi.
"Jadi tadi dilamar?" tanya Dianti menegaskan.
"Hmm, iya ... kalau perasaan yang dulu mungkin masih tersisa, mari kita segerakan niat baik ini," balas Tendean lagi.
"Beri waktu untuk berpikir, Mas," balasnya.
"Pasti. Aku pamit yah, nanti Sabtu aku jemput," balas Tendean dan menjabat tangan Dianti di sana.
Entah keberanian dari mana yang membuat Opa Tendean bertindak begitu impulsif. Seolah dia meminta Dianti untuk mendampinginya tanpa berpikir panjang. Namun, Dianti masih perlu waktu untuk berpikir, baru dua kali bertemu. Rasanya dia juga harus mengenal Tendean dan Anaya dengan lebih baik terlebih dahulu.
"Sabtu nanti Oma ke rumahnya Opa yah?" tanya Citra begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya, kenapa Sayang?" tanya sang Opa.
"Ajak ke rumah Citra ya Opa. Biar kenalan sama Dedek Kembar," balasnya.
"Tentu … Citra suka yah sama Oma Dian?"
"Iya suka Opa … pengennya, Oma Dian jadi Omanya Citra. Bisa tidak ya Opa?" tanyanya.
__ADS_1
Opa Tendean pun tersenyum di sana, "Ya, semoga nanti Omanya mau yah. Biar Citra, Charel, dan Charla punya Oma," balas Opa dengan melajukan mobilnya menembus jalanan Ibu kota.