Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Memperkirakan


__ADS_3

Sementara itu di tempat yang berbeda, justru tampak Anaya dan Tama yang tengah nyore bersama dengan mengasuh tiga kiddos di rumah. Hari ini memang akhir pekan, sehingga memang mereka memilih untuk berada di rumah dan juga mengasuh Citra, Charel, dan Charla.


Citra sedang asyik menyanyi-nyanyi dengan segera bergoyang sesuka hati mendengar lagu anak-anak. Sementara Charel dan Charla sedang tummy time sekarang. Anaya dan Tama pun menjaga ketiga buah hatinya itu.


"Kira-kira Ayah baru ngapain ya Mas? Kalau sudah berumur gitu apa juga bercinta ya Mas?" tanya Anaya dengan berbisik kepada suaminya.


Ibu tiga anak itu tampak lucu karena hanya bibirnya saja yang bergerak, dan tidak mengeluarkan suara karena tidak enak ada ketiga anaknya di sana. Walau suami istri dan ketika anak-anak belum tidur, kadang Anaya memang sering hanya sekadar berbisik-bisik saja dengan suaminya.


"Mungkin saja bisa Sayang ... kan pria normal dan tetap terasa muda malahan," balas Tama.


Diam. Anaya tampak mengernyitkan keningnya dan mulai menatap suaminya itu, "Kalau Bunda sendiri bagaimana?" tanya Anaya kemudian.


"Kurang tahu, Sayang ... tapi palingan ya menikmati masa pengantin baru," balas Tama.


"Apa yang sudah berumur juga memiliki semangat yang tinggi ya Mas?" tanya Anaya lagi.


Pertanyaan yang lucu karena Anaya tampak memperkirakan apa yang sedang dilakukan Ayah dan Bundanya di kota Bandung. mengingat bahwa Ayah dan Bundanya adalah pengantin baru, apakah yang sudah memasuki kepala lima juga masih memiliki semangat yang membara seperti mereka yang masih muda. Hanya sebatas ada keinginan untuk ingin tahu saja, dan juga apakah semangat yang membara itu masih ada, mengingat Ayah dan Bundanya sudah tidak lagi muda.


"Katanya sih kalau pria itu nanti kalau puber kedua, justru lebih semangat, Sayang. Melebihi yang muda. Jadi, kamu harus siap-siap Sayang ... kalau nanti aku bakalan bersemangat 45," balas Tama.


Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh suami, Anaya pun mengedikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya. Membayangkan bagaimana nanti jika mereka kian menua. Apakah dirinya akan seperti Ayah dan Bundanya sekarang ini. Ketika ketiga anaknya akan semakin dewasa, dan mereka mungkin saja hanya tinggal di rumah berdua.


"Apa mungkin ya Mas? Aku penasaran saja sih sebenarnya, kan Ayah dan Bunda sudah memasuki usia tua. Ayah sudah 53 tahun, apakah masih bersemangat. Kira-kira saja kok," balasnya lagi.


"Semangat sih Sayang ... menurutku sih. Cuma ya mungkin enggak kayak kita," balas Tama.


"Enggak kayak kita gimana? Kamu saja yang semangat, Mas ... aku kan cuma mengikuti kamu," balas Anaya.


"Kamu enggak semangat emangnya? Padahal aku sih semangat banget loh, Yang ... sama kamu, aku selalu semangat," balas Tama.

__ADS_1


Hingga akhirnya waktu di sore hari itu berganti menjadi malam, ketiga anak-anak mereka pun sudah tidur. Waktunya Anaya dan Tama untuk pillow talk bersama. Rupanya malam ini, Anaya masih penasaran saja dengan apa yang kira-kira dilakukan oleh Ayahnya.


"Kenapa diem?" tanya Tama.


"Masih kepikiran Ayah sih ... hahahah, aku kepo ya Mas. Soalnya penasaran aja sih Mas," balasnya.


Tama pun merangkul istrinya itu, "Ya, biasa Sayang. Biasanya Ayah tidur sendiri, sekarang ada yang dikekepin. Intinya ya begitu saja Sayang. Jadi, anak tunggalnya Ayah ini jadi kepo deh. Daripada kepo, mending kita lakukan yang sama, seperti yang dilakukan Ayah dan Bunda. Gimana?" tawar Tama kepada istrinya.


Mendengar apa yang diucapkan suaminya, Anaya pun tertawa, "Ah, kamu jadi dapat jalan deh. Langsung semangat gitu," balas Anaya.


"Ya, begini Sayang. Kan itu hal yang normal bahwa pengantin baru mencicipi nektar pertama kehidupan berumah tangga. Sekarang pertanyaannya sih, semisalnya nanti kamu punya adik yang seusia anak kamu, gimana? Siap enggak?"


Pertanyaan yang diajukan Tama ini adalah sebuah pertanyaan yang begitu realistis. Jika memperkirakan Bunda Dianti mungkin saja belum menopause, sehingga memang ada peluang bukan untuk bisa hamil. Oleh karena itu, ada kemungkinan bila Anaya akan memiliki adik yang usianya akan seusia dengan anaknya. Mendengar apa yang dikatakan Tama, Anaya pun menghela nafas. Sekarang, agaknya Anaya sedang berpikir keras.


"Lucu ya Mas ... harusnya anaknya itu cucu mereka yah. Cuma, ya bagaimana lagi, Mas ... kalau Tuhan memberikan, ya harusnya Ayah dan Bunda harus siap juga. Aku pun juga akan bersiap menjadi kakak untuk adik bayi yang seusia anakku," balas Anaya.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Benar ... segala kemungkinan kan pasti ada Sayang. Jadi, ya sudah ... kita menjalani saja. Untuk sekarang, biarkan Ayah dan Bunda bahagia dulu. Aku sangat senang jika pada akhirnya, Ayah dan Bunda mendapatkan kebahagiaan. Sebagai anak kan harus mendoakan yang terbaik," balas Tama.


Ya, itu menjadi harapan Anaya untuk Ayahnya. Sebagai anak tentu saja Anaya sangat ingin melihat Ayahnya bahagia, berumur panjang. Sekiranya Tuhan berkehendak, kiranya bisa mengecap semua waktu yang indah dan kebaikan yang Allah limpahkan untuk mereka.


"Ya sudah, Mama Anaya mau bobok atau enggak ini?" tanya Tama kemudian.


"Hmm, masih pengen dipeluk, Mas," jawabnya.


Tama pun menganggukkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya itu. Kadang wajah Tama turun dan menciumi puncak kepala Anaya, terkadang telapak tangannya bergerak dan mengusapi punggung tangan Anaya. Hingga Anaya pun melirik ke suaminya itu.


"Ngomong-ngomong, kalau kamu diam, tapi cium-cium dan mengusapi punggung tanganku gini aku suka banget loh, Mas ... berasa dicintai dan diperhatikan," ucapnya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Ya kan setiap waktu aku cintai sama kamu dan selalu memperhatikan kamu, Sayang. Walau ya kadang dibagi-bagi sama ketiga bocils kita. Kapan mulai Thesis, Yang?"

__ADS_1


Ya, mengingat Anaya juga mulai diakhir kuliah, Tama pun bertanya apakah istrinya itu akan segera mengambil Thesis sebagai tugas akhir mahasiswa yang menempuh jenjang pendidikan Strata Dua.


"Mikir masalahnya dulu Mas ... kalau sudah dapat masalah, baru deh nanti menemui biro Skripsi untuk pengajuan judul," jawabnya.


"Ya sudah, penting dibagi-bagi waktu dan tenaganya. Jangan kecapekan, jangan stress, biar ASI-nya tetap lancar. Tidak lama lagi Charel dan Charla juga akan mulai MPASI, Yang ... jadi Mama Anaya yang semangat yah," ucap Tama.


"Oh, iya ... bulan depan Twins udah MPASI. Cepet banget ya Mas ... rasanya kayak baru kemarin melahirkan mereka, aku sedih, dan terpuruk. Eh, sekarang sudah lima bulan saja," jawabnya.


Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Sayang ... usai ini kiranya tidak ada air mata lagi yah. Kalau pun ada air mata biarlah itu air mata bahagia."


***


Dear My Bestie,


Bulan ini akan menjadi bulan terakhir untuk novel Mas Duda Mencari Ibu Susu yah. Kisah cinta dan perjalanan Ayah Tendean dan Bunda Dianti versi lengkap nanti aku upload di judul baru khusus mereka berdua dan tantangan di hari tua.


Sembari menunggu Bab selanjutnya, dukung juga di karya terbaru Author yuk, judulnya Rujuk Bersyarat.



Dalam perkawinan ada dua pihak yang sama-sama berperan hingga terjadinya perceraian, sehingga untuk rujuk pun niat harus datang dari kedua pihak. Keduanya juga harus mau melakukan usaha yang sama besar untuk memperbaiki hubungan yang pernah cidera. Kondisi inilah yang dirasakan Zaid Syahputra dan Erina Listyana. Menikah dan mempertahankan biduk rumah tangga, nyatanya pernikahan mereka hanya bertahan lima tahun saja. Namun, suatu hari karena peristiwa yang menimpa putra semata wayangnya yaitu Raka Syahputra, akhirnya Zaid dan Erina memutuskan untuk rujuk kembali dengan syarat yang diteken bersama.


"Rujuklah denganku, Rina ... untuk Raka, anak kita. Sebab, di dalam perceraian ini, dialah yang paling menderita."


Benarkah rujuk hanya akan terjadi untuk memastikan kondisi Raka tetap baik-baik saja. Atau mau dibawa ke mana akhirnya rumah tangga Zaid dan Erina?


Cerita itu terbit setiap hari di Noveltoon.


Dukung yah ....

__ADS_1


Love U All,


Kirana^^


__ADS_2