Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Tergoda?


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, ini akan menjadi hari pertama bagi Tama untuk kembali masuk ke kantor. Lagipula, sudah dua pekan Tama mengambil cuti dan kini saatnya bagi Tama untuk kembali ke kantor. Sebenarnya Tama juga merasa risau, takut jika Anaya kewalahan saat mengasuh Citra, Charel, dan Charla di rumah.


"Yakin bisa mengasuh Trio C di rumah Sayang?" tanya Tama yang sembari menikmati sarapan di meja makan pagi itu.


"Bisa Mas ... harus belajar juga. Kalau tidak, nanti aku bergantung terus sama kamu," balas Anaya.


Sejak di Rumah Sakit sampai dua pekan berjalan memang Tama sendiri begitu banyak membantu Anaya. Bahkan cuci-mencuci pakaian kotor di bayi semuanya dikerjakan oleh Tama, dia benar-benar menjaga Anaya, dan memberikan waktu untuk istrinya itu bisa segera pulih.


"Sayang, nanti baju kotornya Twins, taruh di tempat pakaian kotor saja. Nanti pulang kerja, aku yang cuci. Kamu sebisa mungkin menjaga Twins dan berikan ASI saja. Ingat, kamu juga perlu istirahat dan pemulihan," jelas Tama kepada istrinya.


Itu memang bentuk kepedulian dan kasih sayang yang begitu besar dari seorang suami kepada istrinya yang baru saja usai bersalin. Suami yang merawat istrinya pasca bersalin menurut sejumlah ahli kesehatan akan membuat wanita pulih lebih cepat, produksi ASI meningkat, dan tidak terkena post partum depression serta baby blues. Itulah yang dilakukan Tama, dia benar-benar mengupayakan pemulihan dan kesehatan Anaya.


"Iya-iya Mas ... kasihan banget, kamu sudah bekerja untuk kami, masih juga megang pakaian kotor si baby," balas Anaya.


"Tidak masalah Sayang ... intinya kamu pulih dulu. Jangan angkat-angkat yang berat. Kalau Trio C tidur, ikut tidur saja. Atau mau memakai babysitter Yang?" tanya Tama.


Sungguh, Tama merasa tidak keberatan jika memang harus mempekerjakan satu babysitter untuk bisa menolong Anaya mengasuh ketiga anaknya. Supaya Anaya juga tidak begitu kelelahan dengan aktivitasnya sebagai Mama dari tiga anak di rumah.


"Aku masih bisa, Mas ... tenang saja. Ada Mama Rina yang siap membantu juga," balas Anaya.


"Cuma aku khawatir saja, Yang ... aku gak mau kamu repot dan kelelahan," balas Tama.


Anaya hanya tersenyum, diperhatikan oleh suami sendiri rasanya memang begitu menyenangkan. Ingin rasanya terus mendapatkan perhatian dari suaminya itu, dia merasa dicintai, merasa dipikirkan kebutuhannya, merasa dikhawatirkan.

__ADS_1


"Makasih loh Mas ... perhatian banget sih. Aku bisa Mas ... menjadi seorang Ibu itu Tuhan akan tambahkan kekuatannya kok, jadi aman. Nanti kalau aku capek dan lelah, semuanya akan berubah menjadi lilah. Ini pengabdianku yang termulia menjadi seorang Ibu," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Kalau capek, nanti malam aku pijitin yah My Love ... apa pun untuk kamu, aku siap," balas Tama.


Usai sarapan di meja makan, kemudian Anaya mengantar suaminya itu sampai ke depan pintu. Sebenarnya Tama menolak dengan alasan supaya Anaya tidak terlalu banyak berjalan dan berpengaruh ke luka jahitan di perutnya. Akan tetapi, Anaya tetap mengantar suaminya itu sampai ke pintu depan rumahnya.


"Selamat bekerja Mas Suami ... Papanya Trio C ... semangat yah," ucap Anaya.


"Terima kasih, My Love ... Mamanya Trio C ... I Love U Full," balas Tama dengan mendekat dan mengecup kening istrinya itu.


Walau kembali bekerja di hari pertama setelah cuti panjang. Rasaya, Tama juga merasa khawatir. Sebagai suami, dia takut Anaya kecapekan dan juga kelelahan. Sebagai seorang Papa, dia khawatir jika saja Twins bisa tantrum dan meng-ASI sepanjang hari.


Sepeninggal Tama, Anaya kembali masuk ke dalam dan memberikan ASI untuk Charel dan Charla. Sementara Citra asyik dengan buku-bukunya. Di siang hari, Anaya masih bisa menyuapi Citra, dan juga memberikan ASI untuk si Kembar.


"Iya, Ma ... usai ini titip Charel dan Charla ya Ma ... Anaya gantian makan," balasnya.


"Tentu ... sana makan dulu, biar produksi ASI-nya melimpah karena makan makanan bernutrisi tinggi," balas Mama Rina.


***


Malam harinya ....


Malam hari ini, Tama mendapatkan tugas untuk bisa menidurkan Citra terlebih dahulu sesuai dengan permintaan dari Citra yang ingin tidur dengan Papanya. Sementara Anaya tampak akan memberikan ASI untuk Si Kembar.

__ADS_1


Selang setengah jam berlalu, rupanya Tama sudah kembali ke kamarnya karena Citra juga sudah tidur. Ketika memasuki kamar, kali ini agaknya Tama tergoda melihat kemeja Anaya yang terbuka, sementara dua bayi kembarnya tampak sama-sama meminum ASI di kanan dan kiri, sehingga dua payu-dara benar-benar untuk kedua bayi.


"Ya ampun My Love," ucap Tama dengan menghela nafasnya.


"Hmm, kenapa Mas?" tanya Anaya karena merasa tidak ada yang salah dengannya.


"Panas kamu ini, bikin aku tergoda," balas Tama.


Bagaimana tidak tergoda, jika area bahu dan dada istrinya terlihat, dengan dua baby yang meminum ASI secara langsung di sana. Anaya tampak menunduk dan mengamati penampilannya sekarang ini.


"Mau bagaimana lagi Mas ... memberikan ASI untuk dua baby kan seperti ini. Jadi buka-bukaan deh," balas Anaya.


Tama kemudian sengaja mengambil duduk di depan Anaya, dan mengamati pemandangan kala itu, "Lucu yah ... cuma kamu jadi H.O.T deh ... luar biasa," balas Tama.


Anaya pun memanyunkan bibirnya mendengar ucapan dari Tama itu. Bagaimana bisa suaminya itu justru bisa berpikir demikian. Padahal memang kedua bayinya ingin mendapatkan ASI bersamaan.


"Tuh, Omes pasti," balas Anaya.


Tama kemudian tersenyum tipis, "Tergoda dan mengagumi milik istri sendiri kan boleh Sayang ... dulu kayak gini juga ya sama Citra?" tanya Tama.


"Iya, cuma kan satu saja yang dibuka Mas ... ini buka dua-duanya," balas Anaya.


Tama kemudian tersenyum, "Semangat Sayang ... dengan memberikan ASI, kamu sedang mencetak generasi emas bangsa ini," balasnya.

__ADS_1


Anaya pun tertawa geli mendengar ucapan suaminya itu. Biarkan saja apa pun yang diucapkan suaminya. Yang pasti memang dia harus memberikan ASI sebagai makanan utama dan pertama bagi kehidupan pertama kedua bayi kembarnya.


__ADS_2