
Dua hari liburan ke Bandung sudah dijalani oleh Tama dan Anaya. Namun, Tama masih berada di rumah, itu semua karena memang Tama mengambil cuti untuk pernikahannya. Kendati tidak berbulan madu, setidaknya Tama memiliki waktu bersama istri dan anaknya. Banyak waktu yang benar-benar Tama manfaatkan untuk kian dekat dengan istri dan juga Citra.
Namun, akhir pekan ini menjadi akhir pekan terakhir bagi Tama. Hari Senin nanti, Tama akan kembali bekerja. Untuk itu, memanfaatkan akhir pekan ini, Anaya ingin mengajak Tama untuk pulang ke rumah Ayah Tendean. Sudah satu minggu juga pernikahan keduanya, dan Anaya juga rindu dengan Ayahnya. Menikmati akhir pekan di rumah mertua tidak ada salahnya.
"Mas, sekarang kan akhir pekan ... nginep di rumah Ayah yuk?" ajak Anaya kali ini.
"Boleh ... tapi nanti Minggu sore balik ke rumah ya Yang ... soalnya aku juga harus bekerja Seninnya," balas Tama.
"Iya, aku juga kangen deh sama Ayah," balas Anaya.
"Ya sudah, siap-siap aja dulu. Aku bantuin yuk, apalagi untuk perlengkapannya Citra yang kecil-kecil tapi banyak," balasnya.
Tidak menunggu lama Anaya dan Tama pun bersiap. Mengemas pakaian yang mereka bawa untuk menginap semalam di rumah Ayah Tendean. Selain itu, Anaya merasa bahwa Tama juga harus terbiasa dengan rumah mertuanya. Selama ini, Anaya saja sudah terbiasa dengan rumah orang tua Tama, jadi gantian. Bukankah pernikahan itu juga mendekatkan dua keluarga? Mendekatkan mertua dan menantu juga?
Setelah bersiap-siap, kini Anaya, Tama, dan Citra berpamitan dengan Mama Rina dan Papa Budi. Keduanya kini berangkat ke rumah Ayah Tendean. Tentu saja Anaya merasa senang, bisa dibilang ini juga pengalamannya pulang ke rumah Ayahnya lagi setelah menikah. Sebelumnya, tidak pernah Anaya jauh-jauh dari Ayahnya itu.
"Ayah, Anaya pulang," sapa Anaya begitu memasuki rumah Ayahnya yang besar dan megah itu.
Tampak Ayah Tendean yang sedang memberi makan untuk ikan-ikan yang berada di akuariumnya, tersenyum dan menyambut kedatangan putrinya itu.
"Ayah kira, kamu tidak mengunjungi Ayah," balasnya.
__ADS_1
"Pasti Anaya akan sering-sering ke mari. Apalagi nanti rumah kami juga dekat dengan rumah Ayah, jadi kami akan sering-sering ke sini," balas Anaya.
"Bagaimana kabarnya Ayah?" sapa Tama kepada Ayah mertuanya itu.
"Baik Tam ... sini cucu cantik ikut Opa yuk ... kasih makan ikan," ucap Ayah Tendean yang mulai menggendong Citra dan mengajak Citra untuk memberikan makan ikan yang ada di akuarium.
"Ikannya banyak banget ya Ayah," ucap Tama yang melihat ikan koi yang begitu besar menghiasi akuarium itu.
"Iya ... kadang memberi makan ikan seperti ini bisa menghilangkan kejenuhan. Maklum, sudah tua ... jadi menikmati kegiatan-kegiatan seperti ini," balas Ayah Tendean.
Tama pun tersenyum, "Maaf ya Ayah, karena Anaya ikut dengan Tama, jadi Ayah kesepian," balasnya.
Sungguh, jawaban yang sungguh bijaksana dari Ayah Tendean. Sepenuhnya Ayah Tendean memahami bahwa tempat terbaik seorang istri adalah berada di sisi suaminya. Mendampingi sang suami dalam keadaan senang dan juga susah, membersamai hari-hari dengan saling bergandengan tangan. Apa pun yang terjadi di dalam rumah tangga akan dihadapi bersama-sama.
"Tidak apa-apa. Ayah sudah menitipkan Anaya kepadamu. Pesan Ayah, cintai Anaya, jika Anaya salah tegurlah dengan baik, dan juga jangan menyakiti hatinya," lanjut Ayah Tendean lagi.
"Tentu Ayah ... terima kasih sudah mempercayakan Anaya kepada Tama. Tama akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Anaya," balasnya.
Anaya yang mendengar percakapan Ayah dan suaminya itu merasa senang. Dia memiliki dua pria terhebat dalam hidupnya. Ayahnya dengan kasih sayang yang tidak akan putus sepanjang masa, dan suaminya yang berjanji akan selalu memberikan yang terbaik untuknya.
"Ngomong-ngomong, Ayah belum memberikan hadiah pernikahan untuk kalian berdua. Kalian ingin apa?" tanya Ayah Tendean kemudian.
__ADS_1
"Tidak usah Ayah ... lagipula Tama sudah bersyukur memiliki pendamping hidup lagi sekarang. Sekarang bisa berbagi hidup bersama Anaya," balas Tama.
Sungguh, Tama berpikir bahwa dia sudah bukan di fase di mana orang tua harus memberikan hadiah pernikahan. Sekarang yang Tama pikirkan adalah saling mengisi satu sama lain dengan Anaya. Itu yang jauh lebih penting.
"Jangan begitu, orang tua memberikan untuk anaknya sendiri kan tidak masalah. Terlebih satu-satunya anak Ayah juga hanya Anaya. Jadi sudah pasti semuanya itu milik Anaya," balas Ayah Tendean.
Anaya kemudian tersenyum dan menatap Ayahnya itu, "Anaya tidak meminta apa-apa Ayah ... yang penting Ayah sehat dan bahagia. Itu sudah hadiah yang indah untuk Anaya," balasnya.
"Kalau itu pasti, Aya ... terlebih sekarang kamu sudah menikah. Kamu mendapatkan pria yang tepat, dan bonus punya baby. Kamu terlihat lebih bahagia sekarang, tentu Ayah bahagia," balas Ayah Tendean.
Anaya dan Tama pun tersenyum. Ada hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan di dalam hati. Untuk semua itu tentu Anaya dan Tama begitu bersyukur.
"Kalian nginep di sini kan?" tanya Ayah Tendean kemudian.
"Iya, boleh enggak Ayah, kamu menginap di sini untuk semalam?" tanya Anaya.
"Tentu boleh dong ... ini rumah kamu. Jangan merasa terusir dari rumah orang tuamu sendiri setelah kamu menikah. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu," balas Ayah Tendean.
"Makasih Ayah," balas Anaya.
Sungguh, kasih sayang seorang Ayah seperti ini yang menguatkan Anaya. Di saat-saat terpuruknya dulu, hamil dengan kondisi seorang diri, kehilangan bayinya, dan kondisi mental yang tidak stabil, ada Ayahnya yang menghiburnya dan memberikan perhatian kepadanya. Kini, kembali pulang ke rumah Ayahnya dengan mengajak serta Tama dan Citra tentu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Anaya.
__ADS_1