
Menuntaskan malam dengan begitu istimewa, sekarang Anaya dan Tama sudah membersihkan dirinya, dan berbaring di ranjang mereka. Tidak tidur, melainkan Tama bersandar di head board, sementara Anaya masuk dalam pelukan suaminya itu. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya sembari menghirupi aroma woody yang begitu kesan, dan juga mendengarkan detak jantung suaminya yang seirama itu.
"Kenapa diam saja, My Love?" tanya Tama kepada istrinya itu.
"Hmm, lemes Mas ... jadi ngantuk loh," balas Anaya kepada suaminya itu.
Terdengar Tama terkekeh geli di sana, dan mengusapi puncak kepala istrinya itu. "Padahal aku mau nambah lagi loh Sayang," goda Tama kepada istrinya itu.
Tampak Anaya mencubit dada suaminya itu, dan kian mencerukkan wajahnya di dada suaminya, "Nakal banget sih Mas ... aku udah lemes kayak gini loh," balas Anaya.
"Ayok ... nikmat banget, Sayang ... bener-bener nagih," balasnya.
"Kamu gak pernah bosen ya Mas?" tanya Anaya kemudian kepada suaminya itu sembari sedikit menengadahkan wajahnya dan menatap suaminya itu.
"Mana ada kata bosen Sayang ... yang ada justru kalau bisa tiap hari kok. Justru, ketika aku ada di fase bosen itu menjadi warning Sayang. Suami kalau sudah tidak menginginkan istrinya itu bahaya, Sayang," balas Tama.
Anaya mencoba memahami ucapan dari suaminya itu. Memang juga yang dikatakan oleh suaminya itu ada benarnya. Bahwa ketika suami merasa bosen dengan istrinya sendiri justru bisa menjadi self warning, ada yang salah jika sampai pasangan merasa bosan dengan pasangannya sendiri.
__ADS_1
"Benar sih ... penting kamu jangan sampai bosan saja sama aku. Hari yang kita lalui itu sangat panjang. Bahkan harapan dan doaku, aku bisa menua bersamamu. Jadi, lebih baik kalau ada masa di mana merasa bosan, lebih baik segera dicari tahu penyebabnya. Juga, jangan pernah libatkan wanita lain atau pria lain di antara kita ya Mas ... aku sungguh tidak bisa," balas Anaya kemudian.
Tama menganggukkan kepalanya perlahan, "Pasti Sayang ... janji. Tidak akan ada orang ketiga di antara kita. Aku, kamu, dan ketiga anak kita. Makanya justru aku tidak akan pernah merasa bosan dengan kamu, dengan tubuh kamu. Yang ada setiap hari, justru semakin candu. Ini adalah adalah satu fakta mutlak Sayang. Dengarkan aku baik-baik ya Sayang ... kalau hati dan cintaku ini terbagi, sudah pasti untuk ketiga anak kita, Citra, Charel, dan Charla. Udah itu aja sih," balas Tama.
"Iya Mas ... jadi, jangan pernah bosen yah. Walau pun tetap diatur yah, biar nyaman. Cewek dan sudah menjadi Busui kan kadang kecapekan juga," balas Anaya.
"Iya Sayang ... sekarang kan belum pasti dua pekan sekali. Aku lebih tidak mau menargetkan kok. Daripada sesuai target, dan aku pas pengen, terus kamu enggak ngasih jadi bad mood. Jadi, mengalir saja sih Sayang," balas Tama.
"Iya Mas ... mengalir saja. Penting semuanya dikomunikasikan dengan baik-baik. Negosiasi kan juga tidak masalah," balas Anaya.
Ya, dalam rumah tangga sendiri sejatinya ada negosiasi antara suami dan istri. Kesepakatan yang dibuat oleh suami dan istri bersama dalam satu koridor yang bernama rumah tangga. Mana yang boleh, mana yang tidak, pertimbangan-pertimbangan di dalam rumah tangga sejatinya adalah negosiasi antara pasangan suami dan istri, serta nanti bisa melibatkan anak untuk membuat peraturan di dalam rumah dengan anak.
"Saling bersandar Sayang ... ada masa di mana aku juga merasa rapuh dan kehilangan kekuatanku. Jadi, biarkan aku bersandar kepadamu juga," balas Tama.
"Emangnya kamu pernah ingin bersandar?" tanya Anaya.
"Aku menikah denganmu karena aku ingin bersandar kepadamu Sayang ... dulu, aku dan Citra begitu rapuh. Masa-masa kamu kehilangan, jatuh, dan seakan hari-hari semuanya berkabut mendung. Aku bersandar kepadamu, My Love ... bahkan sebelum menikah pun, aku sudah bersandar kepadamu," balas Tama.
__ADS_1
Mendengar apa yang disampaikan Tama, Anaya kemudian menghela nafas, tangannya bergerak untuk melingkari pinggang suaminya. "Aku juga Mas ... aku bersandar kepadamu sejak kita belum menikah. Sembuh dari depresi, masalah dengan Reyhan teratasi, dan dalam kesedihanku, semuanya berlalu. Makasih Mas, sudah setia menemani dan menggenggam tanganku," balas Anaya.
"Pasangan kita kan sandaran kita Sayang ... jadi, sama-sama bersandar. Sampai di hari tua. Ketika kekuatanku sudah berkurang, pandangan mataku juga akan mengabur, kulitku akan mengeriput, selalu temani aku ya Sayang," pinta Tama sekarang kepada Anaya.
"Sama Mas ... ketika aku sudah tidak lagi muda, dan juga kecantikanku sudah hilang dimakan usia, juga dampingilah aku ya Mas," pinta Anaya.
Tama menganggukkan kepalanya dan kian mendekap tubuh Anaya. Beberapa kali Tama juga menundukkan wajahnya dan mengecup puncak kepala Anaya di sana, "Pasti Sayang ... aku berharap Ayah dan Bunda nanti juga bisa saling bersandar satu sama lain ya Sayang. Mengingat mereka sudah melewati masa muda, menuju masa tua yang pastinya ada banyak kelemahan, pemikiran akan hari depan bahkan kematian. Ku harap Ayah dan Bunda bisa sama-sama bergandengan tangan dan menguatkan satu sama lain," balas Tama.
Anaya termenung. Apa yang disampaikan oleh suaminya itu memang benar. Ketika sudah tua, yang dipikirkan adalah hari tua dan juga kematian. Ketakutan akan hidup juga semakin meningkat. Ditambah dengan kelemahan tubuh yang akan dirasakan.
"Benar Mas ... Ayah saja sekarang sudah 53 tahun. Usia pensiunannya bisa di usia 58 tahun dan maksimal 65 tahun. Pasti pemikirannya hari tuanya nanti akan seperti apa. Cara memandang akhir dari kehidupan itu juga akan lebih terasa, walau sebenarnya usia, jodoh, dan maut itu hanya rahasia Illahi, di tangan Allah semata," balas Anaya.
"Makanya aku setuju banget kalau Ayah menikah, Sayang ... setidaknya hari tuanya tidak dilewati dalam kesepian. Ada teman hidup, ada sandaran hidup terbaik untuknya," balas Tama.
Anaya kemudian menganggukkan kepalanya, "Benar Mas ... satu bulan lagi Ayah akan melepas masa dudanya. Aku juga senang. Aku memiliki Bunda lagi, walau sebenarnya susah bagiku untuk mengucapkan Bunda, karena Bunda itu adalah Bunda Messi. Cuma, aku membayangkan ... sosok yang harusnya dipanggil Mama oleh Citra harusnya mama kandungnya, bukan aku. Akan tetapi, anakku itu memanggilku Mama. Menyempurnakan diriku yang tidak sempurna. Oleh karena itulah, aku mau memanggil Bunda. Aku memposisikan diriku seperti Citra," balas Anaya kemudian.
Tama pun terkekeh geli di sana, "Iya, tidak apa-apa. Sama seperti Citra yang menemukan sosok mama terhebat dalam diri kamu ... kamu pun akan menemukan sosok Bunda di dalam diri Bunda Dianti," balas Tama.
__ADS_1
Cuddling Time terbaik dengan pasangan. Bisa menikmati malam indah dan obrolan yang tentunya indah. Bukan hanya membahas diri sendiri, tetapi juga anak-anak dan orang tua. Lebih di atas semuanya, ada harapan untuk bisa selalu bersandar bagi satu sama lain sampai tua nanti.