Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Jika Bertemu Kasih Tak Sampai?


__ADS_3

Rupanya Anaya yang masuk ke dalam mobil pun rasanya ingin segera bertanya banyak hal kepada suaminya itu. Mulutnya sudah begitu gatal untuk bisa bertanya dan menceritakan pengalaman kuliah pertamanya hari ini.


"Mas, boleh bertanya?"


Anaya bertanya dengan tiba-tiba. Sontak saja, Tama yang tengah mengemudikan mobilnya melirik ke arah istrinya itu. Ada apakah gerangan hingga Anaya bertanya kepadanya. Tama pun merespons dengan menganggukkan kepalanya.


"Tentu boleh dong Sayang … mau tanya apa?" tanya Tama kemudian.


"Semisal nih … kalau Mas Tama enggak sengaja bertemu dengan kasih tak sampainya bagaimana?" tanya Anaya.


Pertanyaan yang begitu implisit dari Anaya. Sampai Tama sedikit mengurangi kecepatan mengemudinya dan menatap Anaya di sana.


"Hmm, kasih tak sampai gimana?" tanya Tama yang merasa masih membutuhkan penjelasan dari Anaya.


"Kamu pernah punya kasih tak sampai kan Mas? Gadis yang kamu cintai saat kuliah itu, tapi cinta tak terbalas. Jadinya kan kasih tak sampai," balas Anaya.


Tama memilih diam sejenak, menyelami apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Anaya. Namun, jika berbicara tentang cinta di kuliah dulu, jawabannya tentu hanya ada satu, dan itu adalah Khaira. Tidak ada orang yang lain.


"Khaira maksud kamu?" tanya Tama.


"Hmm, iya," balasnya singkat. “Bagaimana jika kamu tiba-tiba bertemu dengannya?” tanya Anaya lagi.


Tama kini justru memarkirkan mobilnya di bahu jalan, di parkiran dekat taman kota. Tanpa mematikan mobilnya, Tama menggenggam tangan Anaya di sana.


“Sudah tidak apa-apa Sayangku … dia sudah menikah lama, dari masih kuliah S1 dia sudah menikah. Ada kalanya kisah yang lalu ya cukup menjadi kisah saja, tidak akan memberi dampak apa pun di masa kini,” balas Tama.


"Serius?"


"Kamu tidak percaya kepadaku? Sekarang di sini, di dalam hati ini cuma ada satu nama dan itu adalah nama Anaya. Tidak ada nama Khaira lagi, kalau pun tersisa satu nama di salah satu sudut hatiku itu adalah nama almarhumah Cellia. Tidak akan ada nama yang lain lagi," balas Tama.


Mendengar setiap ucapan Tama, Anaya sedikit menundukkan wajahnya. Benarkah sudah tidak ada lagi sisa-sisa perasaan di masa lalu? Benarkah di hatinya tidak ada terselip nama itu? Seolah terlihat Anaya yang begitu insecure, tetapi bagaimana jika memang Anaya merasa sosok Khaira itu cukup menempati posisi yang spesial di hidup suaminya.


"Dengarkan aku ya Sayang ... dia sekarang hanya teman saja, tidak lebih. Aku sudah melepaskan perasaan dan kisah tak sampai itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Kenapa kamu jadi bertanya kayak gini sih? Kamu enggak percaya sama suami kamu sendiri?" tanya Tama kemudian.


"Jika suatu saat bertemu?" Tanya Anaya lagi.


"Ya sudah, biasa saja. Hanya menyapa. Boleh enggak menyapa aja?" tanyanya.

__ADS_1


Anaya kemudian menganggukkan kepalanya, "Ya boleh-boleh saja," balasnya.


Kini Tama beringsut, pria itu melepaskan sitbealt yang dia kenakan, lantas menaruh satu tangannya menelisip di belakang tengkuk Anaya. Tanpa permisi, Tama mendekatkan wajahnya, dan pria itu melabuhkan sebuah kecupan yang begitu hangat di bibirnya. Bibir yang hangat itu bertengger di bibir Anaya untuk beberapa saat lamanya. Hingga kemudian Tama menarik kembali wajahnya.


"Masih ragu?" tanya Tama kemudian.


Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku percaya kok sama kamu," balas Anaya dengan menghela nafas.


"Mau pulang ke rumah kita atau ke rumah Mama Rina?" tanya Tama kemudian.


"Ke rumah Mama Rina dong, kan masih harus jemput Citra. Nanti baru pulang ke rumah," balasnya.


Tama pun kemudian tersenyum, "Pulang ke rumah dulu juga boleh kalau kamu mau. Mumpung Citra di rumah Eyangnya, kita bisa pacaran dulu," balas Tama.


Terlihat Anaya yang menggelengkan kepalanya, "Enggak ... masih sore juga. Kita jemput Citra dulu saja," balasnya.


Tama akhirnya kembali mengenakan sitbealt dan kembali melajukan mobilnya. Tangannya ada kalanya menggenggam tangan Anaya di sana. Jika memang Tama harus menyetir dengan menggunakan kedua tangannya, Tama menaruh tangan Anaya sesaat di pahanya.


"Mas, mampir ke coffee shop dulu yuk Mas ... pengen minum," ucap Anaya sembari menunjuk kedai coffee shop yang ada di depan jalan.


"Boleh ... aku beliin minuman kesukaan kamu," balas Tama.


"Hei, Tama," sapa seorang pria yang berdiri di samping wanita cantik yang mengenakan dress batik itu.


Si wanita pun tampak menolehkan wajahnya dan cukup terkejut kala mendengar suaminya menyebut nama Tama di sana.


"Hei ...."


Tama menjawab, kala itu dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Sementara Anaya juga sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum sekilas kepada pria itu.


"Anaya kan?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Khaira, Dosennya yang baru mengajar beberapa saat tadi.


Tama tampak melirik sekilas kepada Anaya. Dia cukup kaget, kenapa Khaira yang adalah wanita yang pernah dia sukai dulu bisa mengenal Anaya.


"Iya Bu Khaira," balasnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Apa kabarnya? Kenalin, istri aku," ucap Tama dengan memperkenalkan Anaya sebagai istrinya.

__ADS_1


"Radit."


"Anaya."


"Sudah kenal, beberapa saat yang lalu. Hei, Anaya," sapa Khaira kini.


Lantas Khaira menatap dan mengamati Anaya dan Tama di sana, "Jadi, kamu istrinya Tama yah? Selamat yah," ucap Khaira dengan lembut.


"Iya Bu Khaira, makasih," jawabnya.


"Tadi, dia yang di kampus kan Sayang? Waktu kamu tungguin aku tadi?" tanya Radit kepada istrinya itu.


"Iya, Anaya ini mahasiswa aku di mata kuliah tadi," balas Khaira.


"Oh, jadi kamu diajar sama Khaira ya My Love?" tanya Tama kepada istrinya itu.


Kembali lagi ucapan My Love keluar, hingga Radit dan Khaira sama-sama tersenyum di sana.


"My Love Sprei ya?" balas Radit dengan terkekeh geli di sana.


"Enggaklah ... panggilan sayang," balas Tama dengan melirik Anaya.


"Iya, tadi diajar sama Bu Khaira. Dunia sempit banget yah," balas Anaya.


Khaira lantas tersenyum dan kembali bersuara, "Mungkin kita bisa akrab ya Anaya. Di luar kampus, panggil aku Khaira saja tidak apa-apa. Kita seusia kan?"


Anaya kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "Eh, jangan Bu ... bagaimana Bu Khaira kan Dosen saya."


Beberapa saat dua pasangan itu mengobrol di sana, dan kemudian Anaya dan Tama berpamitan terlebih dahulu karena memang masih harus menjemput Citra.


"Bu Khaira, kami pamit duluan yah," ucap Anaya.


"Iya, hati-hati di jalan yah. Sampai ketemu minggu depan di jam mata kuliah," balas Khaira.


Setelahnya Tama menggandeng tangan Anaya dan membukakan mobil untuk istrinya itu. Lantas, barulah Tama mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi.


"Tuh, biasa saja kan Sayang. Percaya deh, ku berharap engkau mengerti di hati ini hanya ada kamu."

__ADS_1


Tama mengucapkan kalimat itu dengan bersenandung di sana. Sontak saja Anaya tertawa jadinya, bisa-bisanya suaminya itu bersenandung begitu saja.


"Semua hanya masa lalu My Love ... masa kini dan masa depanku hanyalah kamu. Di hati ini hanya ada Anaya!"


__ADS_2