Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ide dari Ayah Mertua


__ADS_3

Pernikahan itu layaknya sebuah bejana dari tanah liat yang nantinya akan diisi oleh air oleh suami dan istri. Air bisa berupa kasih sayang, kepedulian, pengertian, bahkan mungkin ada cemburu juga di sana. Si pengisi air dengan segala kekurangan dan kelebihannya akan berusaha untuk bisa memenuhi bejana itu dengan air yang melimpah.


“Mas, akhir pekan ini kita enggak usah kemana-mana dulu yah,” ucap Anaya yang seakan meminta kepada suaminya untuk tidak keluar rumah terlebih dahulu.


“Emangnya kenapa Yang? Jadi, enggak main ke rumah Mama Rina atau Ayah Tendean nih?” tanya Tama.


“Di rumah dulu aja, Mas … tugas kuliahku banyak itu Mas. Jadi, abis kuliah itu langsung mau mengerjakan tugas. Apalagi ada ujian blok, aku perlu belajar juga,” balas Anaya.


“Oke deh My Love … kamu ngerjain tugas kuliah saja nanti biar Citra aku yang mengasuhnya. Semangat belajarnya dan ngerjain tugasnya yah,” ucap Tama.


Sehingga sepanjang hari itu memang dihabiskan Anaya untuk membuat resume untuk tugas yang dia harus kumpulkan minggu depan. Sekaligus belajar untuk ujian blok juga nanti. Jika tidak belajar dari sekarang, mungkin saja nilai yang dia dapat akan jelek karena memang Anaya lebih fokus mengasuh Citra setiap harinya. Jika, ada Tama di rumah, keduanya bisa saling bekerja untuk mengisi satu sama lain.


“Sayang, aku mau jalan-jalan sama Citra ke rumahnya Opa Dokter boleh?” tanya Tama kemudian kepada istrinya itu.


“Mau ke rumahnya Ayah? Ngapain Mas?” tanya Anaya.


“Biar kamu punya waktu tenang untuk belajar. Palingan juga cuma satu atau satu setengah jam saja sih. Biar Citra lihat ikan di akuariumnya Opa,” balas Tama.


Anaya pun lantas menganggukkan kepalanya setuju, “Ya sudah … boleh. Cuma jangan lama-lama ya Mas ... waktunya mandi sudah di rumah yah. Kan ini juga sudah jam setengah tiga sore. Nanti kalau udah pulang yah," balas Anaya.


"Oke My Love ... yang rajin ya belajarnya Mama Anaya," balas Tama dengan melambaikan tangannya kepada istrinya itu.

__ADS_1


Kemudian Tama mengajak Citra untuk jalan-jalan bersama menuju rumah Opa Tendean yang jaraknya memang dekat. Selain Citra bisa bermain dengan Opanya, Citra juga melihat ikan-ikan yang menghiasi akuarium besar milik Opa Tendean. Sementara Anaya di rumah bisa lebih fokus untuk belajar. Tama bahkan memilih ke rumah Opa Tendean dengan menggendong Citra dengan menggunakan hipseat saja.


"Jalan-jalan ke rumahnya Opa Dokter ya Citra ... lihat ikan-ikan di sana," ucap Tama yang begitu excited mengajak putrinya jalan-jalan siang itu.


Hanya beberapa menit berjalan kaki dan keduanya sudah tiba di kediaman Ayah Tendean. "Permisi," sapa Tama begitu membuka gerbang dan mengetuk pintu rumah yang besar itu.


Tidak berselang lama, Ayah Tendean pun membukakan pintu dan menyapa dengan ramah kedatangan menantu dan cucunya itu.


"Masuk sini ... kok cuma berdua? Aya di mana?" tanya Ayah Tendean.


"Anaya ada tugas kuliah dan belajar untuk ujian blok, jadi Tama ajakin Citra main ke sini," balasnya.


"Sini, Citra main sama Opa dulu yuk. Lihat ikan mau?" tanya Opa Tendean.


Ayah Tendean segera menggendong Citra dan mengajak Citra melihat ikan-ikan di akuarium besar miliknya. Sementara Tama memilih duduk di ruang tamu.


"Tama, kalau minum ambil sendiri yah ... kan di sini sudah seperti rumah sendiri. Enggak perlu Ayah buatkan yah?"


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ayah ... nanti Tama ambil sendiri saja. Santai saja Ayah," balasnya.


Ketika Citra bermain dengan Opanya, Tama memilih istirahat sejenak. Kadang melihat majalah kesehatan dari Rumah Sakit tempat Ayah Tendean bekerja dan membacanya perlahan. Tama lebih memberikan waktu kepada Opa Tendean dan Citra untuk bermain bersama. Lagipula, Opanya juga sibuk di Rumah Sakit, sehingga jarang juga untuk bertemu walau rumah mereka berdekatan.

__ADS_1


"Kalian sehat kan?" tanya Ayah Tendean kepada Tama.


"Sehat Ayah ... Ayah sendiri sehat?" balas Tama.


"Sehat. Berada di usia seperti Ayah ini doanya itu sehat saja dan bahagia saat pensiun nanti," balasnya.


Tama pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Benar Ayah ... asal sehat itu sudah anugerah dari Allah yang luar biasa."


"Sudah hampir dua bulan sejak Anaya dikuret yah, kalian jadinya kapan mau program baby?" tanya Ayah Tendean.


"Sedikasihnya saja sih Ayah ... kata Dokter juga minimal usai tiga kali masa haid. Jadi, ya kami masih santai saja. Semoga juga setelah ini berhasil sampai waktunya melahirkan nanti," balas Tama.


Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, "Ya, semoga saja. Walau Ayah ada ketakutan saat Anaya hamil. Dulu itu, Anaya morning sickness sangat parah, janinnya juga lemah, sehingga beberapa kali Dokter menyarankan Anaya untuk bedrest, sampai itu bayinya lahir karena kekurangan berat badan. Hanya beberapa jam saja bertahan dan setelahnya meninggal."


Ayah Tendean terlihat masih sedih kala mengingat semua kejadian itu. Masih ada ketakutan di hati jika Anaya kembali hamil karena masa lalu yang tidak baik.


"Tama akan selalu menjaga Anaya, Ayah ... kami akan saling mengisi. Bagaimana pun prioritas Tama sekarang adalah Anaya dan Citra. Jadi, Tama akan selalu menjaga Anaya," ucapnya.


Ayah Tendean kemudian menghela panjang, "Iya ... Ayah selalu percaya kepadamu. Nanti kalau kalian sudah siap, jalan-jalan saja berdua. Untuk Citra bisa nitip ke Eyangnya, untuk liburan kalian biar dari Ayah. Menikmati waktu berdua walau dua atau tiga hari tidak masalah, Tama."


"Iya Ayah ... nanti diobrolkan dengan Anaya dulu. Bagaimana pun kan Anaya nyaman. Kalau Anaya nyaman ya, Tama mau-mau saja. Cuma, kelihatannya Anaya kepikiran jika tidak membawa serta Citra," balasnya.

__ADS_1


"Apa perlu kita piknik bersama, di siang hari kita berkumpul jalan-jalan? Malam hari kalian hanya berdua?"


Ayah Tendean mengatakan itu dengan tertawa. Agaknya lucu, tetapi mungkin suatu saat nanti bisa dicoba, sehingga Anaya dan Tama juga bisa memiliki waktu berdua.


__ADS_2