Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Dia yang Turut Menjaga


__ADS_3

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Tama sudah berada di Rumah Sakit. Pria yang kala itu datang dengan menggunakan jaket bomber berwarna hitam itu dengan mudahnya bisa menemukan di mana Dokter Tendean berada. Dari jauh, ketika melihat Dokter Tendean dari jauh, Tama pun segera berlari dan menghampiri pria paruh baya itu.


"Dokter, bagaimana kondisi Aya?" tanya Tama.


"Tama, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Dokter Tendean dengan bingung.


"Ehm, saya ... saya tahu kabar tentang Anaya dari Dokter Bisma. Oleh karena itulah, saya segera berlari ke sini," jawab Tama dengan jujur.


Ya, di rumah tadi Tama sebenarnya juga khawatir dengan keadaan Anaya. Terlebih ketika melihat Reyhan. Akan tetapi, melihat Anaya yang memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa, Tama pun memilih pulang. Namun, tetap saja Tama merasakan sesuatu yang tidak enak terlebih ketika pesan-pesan yang dia kirimkan masih belum terbaca oleh Anaya. Hanya selang kurang lebih satu jam, dan kerabatnya yaitu Dokter Bisma menelponnya dan mengatakan bahwa sekarang Anaya berada di Rumah Sakit. Untuk semua itu, Tama segera menitipkan Citra kepada Mama Rina dan meminta izin kepada sang Mama untuk menjenguk Anaya di Rumah Sakit.


"Oh, dari Dokter Bisma ... maaf justru membuatmu kerepotan. Lalu, bagaimana dengan Citra?" tanya Ayah Tendean.


"Citra dengan Neneknya, Dokter ... saya nitipkan ke Mama," jawab Tama.


Tama pun berbicara jujur dengan Dokter Tendean karena memang Citra sekarang dirawat oleh Mama Rina. Untuk pengasuhan Citra, Mama Rina memang selalu bisa diandalkan. Tama pun juga berbicara jujur kepada Mama Rina dan pamit untuk bisa menjaga Anaya di Rumah Sakit.


"Anaya kembali terserang gejala depresi, Dokter menyebutkan sinkop psikogenik. Harus rawat inap karena tadi dia sempat pingsan dan belum juga sadar," ucap Ayah Tendean.


Tama juga terkejut, tidak mengira bahwa kondisi Anaya akan seserius ini. Tadi, Anaya memastikan semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, justru Anaya justru tak sadarkan diri dan harus berada di Rumah Sakit.


"Harus rawat inap, Dokter?" tanya Tama.

__ADS_1


"Iya ... kondisinya harus dipantau. Semoga saja tidak terjadi apa-apa," ucap Ayah Tendean dengan lemah.


Kedua pria berbeda generasi duduk di luar ruang perawatan Anaya dengan pikiran yang berkecamuk. Namun yang mereka pikirkan hanya Anaya. Keduanya pun segera berharap bahwa Anaya akan baik-baik saja. Dari UGD, rupanya brankar Anaya segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Tampak Ayah Tendean dan Tama sama-sama berdiri dan turut mendorong brankar dengan selang infus yang dibawa oleh perawat menaiki lift khusus pasien dan juga segera menuju kamar perawatan kelas VIP.


Begitu telah tiba di kamar perawatan pun, Ayah Tendean kemudian menatap Tama. "Sudah Tama ... pulanglah, ini sudah malam. Citra pasti mencarimu," ucap Ayah Tendean.


Akan tetapi, Tama justru menggelengkan kepalanya, "Dokter jika ingin pulang tidak apa-apa. Biar Tama yang akan menjaga Aya," ucap Tama.


Dengan inisiatifnya sendiri Tama mengatakan bahwa dia ingin menjaga Anaya. Tama ingin menemani Anaya dan memastikan bahwa Ibu Susu bayinya itu bisa segera sadar dan kondisinya semakin pulih.


Sementara Dokter Tendean sendiri mengernyitkan keningnya, tidak menyangka bahwa Tama justru yang berinisiatif untuk menjaga Anaya. Sebagai seorang Ayah dan pengalaman Anaya yang pernah terluka, Dokter Tendean sendiri tidak bisa mempercayai pria yang datang mendekati putrinya begitu saja. Namun, ketika melihat Tama dan bagaimana pria itu selalu sopan kepadanya, mungkin saja Dokter Tendean bisa memberi kepercayaan untuk Tama. Sama seperti Tama yang bisa mempercayakan Citra kepada Anaya, mungkin Dokter Tendean juga akan mempercayakan Anaya kepada Tama.


"Cuma, Tama ...."


Dokter Tendean menghela nafas dan menatap wajah pemuda yang kini berdiri di hadapannya itu. Mungkinkah Dokter Tendean bisa mempercayai Tama?


"Kamu bisa saya percaya?" tanya Dokter Tendean.


"Iya, bisa," balas Tama dengan begitu yakin.


Dokter Tendean masih berdiri, perasaannya ragu dan juga bimbang. Sampai akhirnya, Dokter menganggukkan kepalanya. "Baiklah ... hanya saja, jangan macam-macam dengan Anaya. Jika, kamu macam-macam dengan Anaya, maka saya tidak akan memberikan izin lagi kepadamu," ancam Dokter Tendean.

__ADS_1


"Baik Dokter," jawabnya.


Dokter Tendean berdiri di brankar dan kemudian menundukkan wajahnya mengamati wajah Anaya dengan kedua matanya yang masih terpejam. Kemudian, Dokter Tendean berpamitan dengan Tama. Untuk kali ini, Dokter Tendean akan memberikan kepercayaan kepada Tama. Berharap Tama bisa dipercaya.


"Saya titip Aya," pamit Dokter Tendean.


"Baik Dokter ... Dokter bisa istirahat. Saya akan memastikan Anaya baik-baik saja," balas Tama.


Tidak pulang ke rumah, tetapi Dokter Tendean memilih masuk ke dalam ruangan praktiknya dan tidur di sana. Di sebuah brankar kecil yang berada di ruangannya. Sebab, untuk pulang ke rumah rasanya Dokter Tendean terlalu panik jika harus meninggalkan Anaya seorang diri.


Sementara itu di dalam kamar perawatan Anaya, Tama duduk di sebuah kursi yang berada di sisi brankar dan menatap sendu pada wajah Anaya. Jarum infus yang terpasang hingga menusuk pembuluh darahnya, dan juga saturasi oksigen yang terpasang di tangan Anaya. Sungguh, dada Tama terasa sesak melihat Anaya seperti sekarang ini.


"Aya, bangunlah Aya ... jangan menyerah karena masa lalu. Bebaskan dirimu, dan tatap masa depanmu. Banyak orang yang menunggumu sadar dan pulih. Banyak orang yang menyayangimu. Ayahmu, Citra, Mama Rina, dan juga yang lainnya. Sadarlah, Aya ...."


Tama hanya mampu berbicara dalam hati. Tama pun juga bingung dengan perasaannya sekarang ini kenapa dia begitu mengkhawatirkan Anaya. Kenapa dia ingin menjaga dan memastikan bahwa Anaya akan baik-baik saja. Tama memejamkan matanya perlahan, setelahnya dia kembali menatap wajah Anaya.


"Bangunlah, Ay ... siapa sebenarnya Reyhan bagimu? Jika benar dia suamimu, kenapa aku justru ragu, Ay ... apakah ada seorang istri yang menjadi begitu histeris saat bertemu suaminya? Luka sedalam apa di masa lalumu, Aya ... mungkinkah kamu bisa melupakan masa lalumu itu? Mungkinkah kamu bisa selalu sehat dan bahagia. Melihatmu seperti ini, aku benar-benar khawatir, Aya!"


Tama kemudian menyandarkan punggungnya di kursinya, dan berharap bahwa Anaya akan segera sadar. Pria itu pun mencari-cari bagaimana perasaannya kala ini. Kenapa dia begitu khawatir. Kenapa dia sangat ingin Anaya bisa kembali sadar.


"Please, Anaya ... sadarlah. Setelah ini kamu bisa membagi duka dan lukamu itu kepadaku. Aku akan memberikan telingaku untuk mendengarkan semua ceritamu. Aku akan memberikan waktu mungkin ketika aku pulang kerja untuk mendengar kamu bercerita sambil menggendong Citra. Kamu yang sakit seperti, Citra juga pasti sedih. Bangun yah Ay … aku akan menemani kamu sampai kamu sadar. Bangun yah … nanti kita bisa menyiapkan MPASI untuk Citra bersama-sama. Kamu pasti senang turut andil di setiap milestonenya Citra," gumam Tama dengan lirih.

__ADS_1


Mungkinkah Tama mulai benar-benar merasa nyaman dengan Anaya? Mungkinkah waktu yang sudah berlalu selama 6 bulan lamanya membuat ada rasa-rasa yang terpercik di antara keduanya. Bukan hanya intensitas pertemuan yang sering, tetapi keduanya juga berbagi pengasuhan Citra. Jika cinta bisa datang karena terbiasa, maka mungkinkah rasa khawatir Tama sekarang adalah sebuah rasa terselubung yang berbalut kekhawatiran?


__ADS_2