
"Di rumah ini ... akan menjadi istana kita. Bukan dibangun dengan batu pualam, atau tembok yang berlapis emas. Hanya saja, aku mengatakan kepadamu bahwa istana kita ini dibangun atas dasar cinta," ucap Tama lagi.
Jika biasanya istana dibangun dengan batu pualam yang indah, dinding atau pilarnya berlapis logam mulia, tetapi istana kecil yang Tama berikan untuk Anaya adalah sebuah bangunan yang dibangun atas dasar cinta. Tama sepenuhnya menyadari bahwa dasar dari sebuah hubungan pernikahan adalah cinta. Ya, cinta yang menyatukan dirinya dan Anaya. Terlepas juga ada rasa butuh dan bahkan menjadi ketergantungan, tetapi semua didasari atas nama cinta.
"Kamu pinter banget sih bicaranya. Bikin aku meleleh," balas Anaya dengan menyeka air matanya.
Tama pun tertawa di sana, "Kamu bisa saja. Aku bicara dengan sungguh-sungguh, dari hatiku yang terdalam. Jika membangun istana layaknya kastil, tentu saja aku tidak mampu, Yang ... cuma jika istana yang dibangun atas dasar cinta, ya inilah bangunan itu," balas Tama.
Tak ingin berlama-lama, Tama segera mengajak istrinya itu untuk room tour ke rumah yang tidak terlalu besar ukurannya itu dengan dua lantai di sana. "Ini ruang tamu, Sayang ... bisa nanti kalau orang tua kita datang ke kemari. Lalu ada kamar tamu di bawah. Siapa tahu nanti ada yang menginap. Nah, ini dapur ... kamu bisa memasak dan membuatkan bubur bayi untuk Citra di sini," ucap Tama.
Anaya tersenyum, "Rumah baru, pekerjaanku tambah banyak ya Mas ... lalu, apa yang kamu lakukan?" tanya Anaya kepada suaminya.
"Aku akan bahagia hidup bersamamu selamanya," jawabnya.
Tentu saja Anaya terkekeh geli di sana, ada cubitan yang mendarat di pinggang suaminya itu. "Ishhs, kamu itu bisa-bisanya. Cuma rumah sebesar ini, kita bagi-bagi tugas untuk membersihkan rumah ya Mas," balas Anaya.
"Aku saja yang bersih-bersih. Kamu jadi penguasa dapur saja dan urus Citra. Urusan yang lain berikan ke aku saja. Aku seorang suami yang bisa kamu andalkan Sayang," jawab Tama.
Anaya hanya geleng kepala saja mendengar betapa percaya dirinya Tama. Sungguh tidak mengira bahwa Tama pun adalah pria yang menjadi banyak berbicara dan terlihat begitu percaya diri. Kian dekat dengan Tama dan melihat sisi demi sisi pria itu, pandangan Anaya tentang Tama perlahan mulai berganti.
__ADS_1
"Sekarang ke lantai dua Sayang ... kamar kita dan Citra berada di lantai dua," ucapnya.
Dengan bangga dan bahagia, Tama membuka pintu kamar yang berada di lantai dua.
"Private room," ucap Tama dengan merangkul bahu Anaya di sana.
"Kok private sih?" tanya Anaya kemudian.
"Iya ... karena ini akan menjadi ruang privasi untuk aku dan kamu. Memang didominasi warna putih di bagian kamar ini, hanya saja ada sentuhan warna pinknya. Jadi, ada sisi kamu sebagai seorang Ibu di dalam kamar ini," ucap Tama.
Lagi-lagi Anaya tersenyum karenanya, dia melihat ranjang dengan ukuran Super Kingsize di sana, sofa yang ada di sudut ruangan, televisi pintar yang berada di dalam kamar, nakas, dan kamar mandi dalam. Ada balkon juga yang menghadap ke jalan yang berada di depan rumah.
"Itu bed-nya terlalu besar Mas ... cuma kita berdua, Citra kan sering bobok di box bayi," ucap Anaya.
"Ya enggak single bed juga kali," balas Anaya dengan melirik suaminya itu.
"Tidak apa-apa Sayang. Bisa cuddling time (waktu untuk saling berpelukan bisa suami dan istri atau orang tua dengan anak) di sini. Senyamannya saja, ini istana kita jadi mari kita buat setiap orang yang tinggal di dalamnya merasa nyaman," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Makasih banget Mas Tama ... enggak mengira kamu benar-benar mengonsep rumah ini dengan begitu indah. Aku sungguh terharu dibuatnya," balas Anaya.
__ADS_1
Tama pun tersenyum, "Sama-sama Sayangku ... jadi mulai hari ini, kita akan menempati rumah ini. Istana yang indah untuk keluarga kecil kita," balasnya.
"Sebenarnya aku tidak begitu suka kemewahan, tetapi kamu memberikan istana yang mewah dan indah. Aku pernah baca artikel yang ditulis oleh seorang penulis yang menginspirasi aku bahwa bukan megah dan mewahnya sebuah rumah yang membuat rumah itu nyaman ditinggali. Akan tetapi, dari orang-orang yang tinggal di dalamnya bisa merasakan nyaman, menemukan kehangatan, dan juga menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi oleh orang lain. Itulah arti rumah yang sebenarnya," balas Anaya.
"Hebat banget sih ... siapa yang bilang coba?" tanya Tama lagi.
"Ada, penulis novel online favoritku," balas Anaya dengan tertawa di sana.
"Ya sudah ... intinya kamu senang kan dengan rumah ini? Jika ada yang kurang bilang saja yah, nanti aku akan memperbaikinya," balas Tama.
"Sudah Mas ... ini bagus banget. Terlalu bagus menurutku," balas Anaya.
Tama lantas menatap istrinya itu, "Untuk kamu dan anak-anak kita, aku akan selalu memberikan yang terbaik. Semoga banyak hal-hal yang indah, momen istimewa yang akan terjadi di dalam rumah ini ya Sayang. Bagiku rumah ini bukan sekadar untuk berteduh dari panasnya matahari, dinginnya angin malam, atau derasnya air hujan. Akan tetapi, rumah ini akan menjadi rumah yang nyaman untuk kita dan anak-anak yang lahir kelak di rumah ini, dan kamu jadilah rumahku," balas Tama.
Tidak perlu bertanya lagi, Anaya pun segera menganggukkan kepalanya. "Pasti ... terima kasih sudah menjadikanku rumah. Di rumah ini, di dalam hatiku kamulah satu-satunya yang menempati rumah yang bisa kamu rasakan dengan hatimu," balas Anaya.
"Terima kasih Istriku ... kita mulai membina rumah tangga kita di sini yah. Di istana ini. Terima aku dengan segala kekuranganku, cintai dan asuh anak kita berdua," balas Tama.
"Pasti Mas ... itu sudah pasti," balas Anaya.
__ADS_1
Ya, istana yang dibangun atas dasar cinta kiranya bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama. Dengan cinta, Tama yakin pondasinya akan semakin kokoh. Dengan cinta, anak-anak mereka nanti akan mendapatkan tempat yang nyaman dan lingkungan tumbuh kembang yang indah dan penuh kasih sayang tentunya.
Happy Reading ^^