Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pemulihan Psikologis


__ADS_3

Tujuan Tama mengambil cuti sampai tiga hari bukan hanya untuk merawat Anaya pasca kuretase, tetapi juga untuk membantu istrinya itu pulih secara psikologisnya atau mental. Tidak dipungkiri, bagaimana pun kuretase mengambil embrio yang tidak berkembang. Sudah pasti secara psikis, seorang ibu akan merasa bersedih dan juga merasa kehilangan.


Kini, Tama sudah kembali menggendong Anaya dan mendudukkan wanita itu di atas ranjang. Kemudian tampak menarik selimut untuk menyelimuti bagian kaki Anaya supaya tidak kedinginan dengan AC di kamar yang menyala.


"Makasih banget Mas Suami," ucap Anaya kepada suaminya itu.


"Iya, sama-sama My Love," balas Tama dengan tersenyum kepada istrinya itu.


Kembali dipanggil My Love membuat Anaya tertawa di sana. Dipanggil dengan panggilan 'My Love' seolah menjadi hiburan tersendiri untuk Anaya.


Tama lantas menggenggam tangan Anaya, "Kamu beneran baik dan sehat?" tanya Tama.


"Iya," jawab Anaya dengan singkat.


"Syukurlah, aku tidak mau hanya merawat kamu untuk sembuh secara fisik saja seperti tidak mual, muntah, pusing, kram panggul yang semuanya sembuh. Akan tetapi, aku juga ingin kamu sembuh secara psikis. Bagaimanapun kita kehilangan, aku hanya tidak mau kamu berduka," ucap Tama kemudian.


Mendengar apa yang Tama sampaikan membuat Anaya tak banyak bicara langsung menghambur dalam pelukan suaminya itu. Rasanya tidak akan ada orang yang bisa memahaminya sebaik Tama. Tidak akan ada orang yang mengenal perasaannya sebaik Tama.


"Aku sedih sih Mas, cuma kan nangisnya sudah kemarin. Kalau kehilangan ya kehilangan, cuma bagaimana lagi. Kita tidak bisa melawan takdir, Mas. Hanya saja, terima kasih sudah menemaniku dan mendampingiku. Terima kasih sudah berjuang bersamaku sampai di titik ini."


"Sama-sama My Love. Intinya, kamu harus sembuh baik secara fisik dan psikis. Ingat kan, sepekan ini aku milikmu," balas Tama dengan begitu yakin.


Nyatanya kini Anaya justru menangis. Tidak mengira bahwa suaminya itu begitu pandai untuk menyentuh hatinya hingga membuatnya selalu menangis tiap kali suaminya berbicara dengan manis dan juga lembut.


"Malah nangis," ucap Tama dengan menghela nafasnya.


"Terharu," balasnya.


"Enggak usah terharu. Bukankah kasih seorang suami kepada istrinya memang seperti ini? Kasih yang tanpa batas dan mau melakukan yang terbaik untuk pasangannya?"

__ADS_1


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya, seharusnya. Cuma aku enggak nyangka akan mendapatkan cinta yang sangat besar darimu," balas Anaya.


“Harus nyangka Sayang … kan kamu pasangan hidupku, temanku berbagi hidup, jadi semuanya akan kuberikan untukmu,” balas Tama.


***


Keesokan harinya ….


Mengingat bahwa Anaya masih sakit dan perlu untuk istirahat setidaknya tiga hari. Tama pun bangun lebih pagi. Pria itu kemudian membuat roti bakar dengan berbagai selai yang ada di dapur. Setelahnya, dia menyeduhkan teh hangat untuk Anaya. Namun, kali ini Tama menambahkan sedikit madu di dalam Tehnya.


Kemudian Tama menaruh roti bakar dan juga Teh itu di atas nampan, dengan pelan-pelan Tama membawanya naik ke lantai dua ke kamarnya. Rupanya Anaya sudah bangun dan bersandar di headboard. Wanita itu tampak sedang merapikan rambutnya dan menguap.


"Pagi My Love," sapa Tama dengan tersenyum lebar kepada istrinya.


"Pagi Mas Suami," balas Anaya dengan tersenyum.


"Sarapan My Love ... aku buatkan roti bakar dan teh madu," ucapnya.


Usai mengatakan itu, Anaya beranjak dari tempat tidurnya dan juga memilih untuk di sofa. Sebenarnya Tama ingin menghentikan Anaya, tetapi Anaya terlanjur berjalan dan menuju ke sofa.


"Tungguin aku saja Sayang ... aku gendong," balas Tama.


Anaya justru tertawa dan menggelengkan kepalanya, "Enggak ... harus jalan juga. Kalau hanya diam, kan katanya Tante Indri kemarin bisa membuat jaringan pembuluh darah yang ada di kaki menjadi bengkak," balas Anaya.


"Cuma, aku gak mau kamu kesakitan," balas Tama.


"Enggak sakit kok," balasnya.


"Aku yang membayangkan saja ngilu," balasnya lagi.

__ADS_1


Lagi Anaya justru tertawa, "Aku sudah baik-baik saja kok Mas ... berkat kamu, aku jadi pulih lebih cepat deh. Serius, aku sudah baik-baik saja," balasnya.


Anaya sepenuhnya menyadari bahwa memang dirinya pulih lebih cepat karena Tama yang merawatnya dengan baik. Tama juga yang memberikan telinga untuknya bisa berbagi. Benar bahwa beberapa hari sebelum kuretase, Anaya sudah menangis dan juga takut. Akan tetapi melihat bahwa rahimnya sudah lebih bersih Anaya justru bersyukur dan berharap tiga bulan mendatang akan ada embrio baru di dalam rahimnya. Embrio yang merupakan tanda buah cintanya bersama Mas Suaminya tercinta itu.


"Intinya harus pulih, dan tidak ada tanda-tanda yang disebutkan Dokter Indri. Kalau mual, pusing, kram di panggul, sampai keluar cairan yang berbau tidak sedap itu harus ke Rumah Sakit. Untuk itu, jangan mengambil risiko apa pun Sayang. Kamu sembuh dulu, itu prioritas utamaku," balas Tama.


Kemudian Tama menyerahkan satu cangkir berisi teh madu kepada Anaya, dan Anaya pun mengucapkan terima kasih dan mulai untuk meminumnya. Kemudian Anaya juga memakan roti bakar buatan suaminya itu.


Usai sarapan, Tama juga langsung membersihkan peralatan makan. Sementara Anaya meminta izin untuk mandi. Tama sebenarnya ingin menemani Anaya untuk bisa mandi bersama, tetapi Anaya menolaknya. Anaya berjanji akan mandi dengan lebih cepat dan memastikan tidak akan terjadi apa pun.


Pagi itu, sekitaran jam 09.00, keduanya sudah duduk bersama di sofa yang ada di dalam kamar. Duduk di sofa, dengan membawa dua di tangannya. Ada Tama yang membaca bahasa pemrograman untuk menambah skillnya sebagai IT Engineering, sementara Anaya membaca sebuah novel di sana.


"Hari yang santai ... dinikmati dulu," balas Tama kemudian.


Anaya menganggukkan kepalanya, "Hmm, iya ... tapi nanti sore jemput Citra ya Mas."


"Besok saja ... biar kamu punya waktu untuk istirahat," balas Tama.


"Dua hari ini kan sudah istirahat. Jadi, jemput Citra yah ... aku akhir pekan nanti juga mulai kuliah lagi."


"Libur dulu saja Sayang."


"Enggak, aku suka mata kuliahnya yang diajar Bu Khaira itu kok. Passionnya mengajar kelihatan banget, jadi kita yang kuliah itu ibaratnya dapat makanan sehat dan kenyang banget. Melihat Bu Khaira, pantes sih kamu dulu naksir dia," balas Anaya.


Dengan cepat Tama menaruh bukunya sesaat di perutnya, dan kemudian pria itu menunduk dan mengecup bibir Anaya di sana.


Chup! Chup! Chup!


"Tidak usah membahas dia lagi. Yang pasti sekarang hati dan cinta aku sepenuhnya buat kamu, My Love," ucap Tama dengan masih meraih dagu Anaya di sana.

__ADS_1


Bukan marah, Anaya justru tersenyum, "Iya-iya, Mas Suami ... udah ah, jangan cium-cium. Nanti malahan bahaya. Ciuman sama kamu di saat seperti ini justru membuat kita terjerembab ke lumpur hidup," balasnya dengan tertawa.


Setelahnya, Tama memeluk Anaya di sana. "Kamu sehat, pulih maksimal, nanti kita sama-sama berenang di samudra cinta. Ingat bukan hanya fisik yang harus sehat, secara psikis juga harus sehat dan harus bahagia yah. Love U My Love!"


__ADS_2