
"Gimana Mas Bara? " Tanya Puput khawatir.
" Sedang di obati dengan Gadis manis yang jagoan tadi"
Lia ikut bergabung dengan Fadil dan Puput. Tak berapa lama Bara dan Sasa keluar. Namun sesaat kemudian Sasa kembali berlari ke dalam dengan memegang mulutnya.
" Kenapa Saya?" Tanya Puput.
" Kamu bisa tolong temani Sasa? " Titah Fadil,
Puput tersenyum dan langsung menghampiri Sasa. Puput heran, kenapa Sasa bisa muntah-muntah?
" Kamu gak papa?"
" Eh, mbak Puput. Iya Mbak, cuma mual aja"
Tak berapa lama Lia datang dengan seorang polisi, Baru saja Sasa merasa lega, namun harus kembali berlari ke kamar mandi karena melihat seorang pria memakai seragam polisi.
" Kenapa dia?" Tanya Lia kepada Puput. Puput hanya mengendikkan bahunya, dan melihat kearah Sasa dengan penasaran dan iba.
Tak berapa lama Fadil dan Bara menyusul, Bara menarik mukena yang terletak di atas nakas, kemudian menutupi temannya yang menggunakan seragam.
" Apaan sih Lo" protes pria itu.
" Udah, Lo pakek aja kalo mau kerjaan Lo cepat selesai"
Pria itu terpaksa menuruti perintah Bara, karena pangkat Bara lebih tinggi dari nya.
Sasa keluar dengan keadaan terlihat kelelahan. Sebenarnya Bara tidak tega melihat Sasa seperti itu, dan harus di tanyai oleh temannya. Tapi ini adalah salah satu prosedur kerjanya, dan Bara tidak bisa berbuat apa-apa, terutama membuat Lia curiga.
Sasa mengerutkan keningnya melihat pria yang memakai baju seragam polisi itu menyelimuti tubuhnya dengan mukena.
" Maaf Nona, apa bisa saya meminta waktunya untuk berbicara berdua. Saya hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan tentang perihal kejadian tadi . ah ya, nama saya Joko"
Terlihat wajah Sasa langsung berubah tegang dan pucat, Sasa menggelengkan kepalanya, kemudian melihat kearah Fadil, seolah mengatakan jika dia tidak bersedia.
" Tenanglah, Puput yang akan menemani Lo. Gue berada di luar jika Lo memerlukan gue" Fadil mencoba meyakinkan Sasa.
Melihat wajah Sasa yang ketakutan, Puput mendekati Sasa dan menggenggam tangan nya untuk menenangkan. Sasa membalas genggaman tangan Puput.
Sasa di introgasi oleh Joko dengan di dampingi oleh Puput. Hanya butuh waktu 30 menit, dan Joko keluar dengan tubuh yang masih terbalut dengan mukena.
" Oke, gue udah selesai. Gue balik ya" Ujar Joko kepada Bara.
" Lo yakin balik ke kantor dengan keadaan seperti itu?" Tunjuk Bara kearah penampilannya.
__ADS_1
" Ah, lupa gue. Ha..ha.." Joko membuka balutan mukena di tubuhnya, dan memberikannya kepada Bara.
Sasa dan Puput keluar dari ruangan istirahat, wajah Sasa masih terlihat pucat.
" Lo gak pa-pa kn?" Tanya Fadil yang terlihat sangat khawatir.
" Hmm, makasih ya Mbak Puput dah temani aku. Oh, gue balik duluan ya. Mau istirahat di rumah aja"
" Gue antar. Yuk sayang" Fadil mengajak Puput. Puput mengambil tas nya dan mengikuti Fadil dan Sasa setelah mereka berpamitan kepada Bara dan Lia.
Sebenarnya Bara ingin memeluk tubuh Sasa, namun apalah daya, dia tidak memiliki hak untuk itu, dan saat ini juga ada Lia di sebelahnya. Perasaan apa ini? Kenapa dia sangat ingin menemani Sasa saat ini. Kemana rasa rindu yang saat ini di rasakannya untuk Lia? Bahkan kehadiran Lia di sini, malah membuat hatinya semakin hampa.
" Kamu kayaknya kurang enak badan, mau pulang juga? sekalian aku bertemu dengan Tante Shella, sudah lama tidak bertemu beliau" Lia menggelayut manja di lengan Bara yang tidak terluka.
Bara hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Lia. Fikiran Bara masih tertuju kepada Sasa.
Sasa menatap ke arah jalan selama di perjalanan, Puput Masih bertanya-tanya tentang hubungan Sasa dan Fadil, serta apa penyebab membuat Sasa bisa seperti ini. Seakan seseorang yang sedang mengidap trauma.
" Terima kasih ya. Makasih juga Mbak Put. Maaf udah ganggu waktu kalian."
" Gak pa-pa, Lo tenang aja. Mending sekarang Lo istirahat aja."
Sasa mengaggukkan kepalanya, kemudian melambaikan tangannya saat melihat mobil Fadil mulai melaju. Sasa butuh tidur saat ini. Sesampainya di apartemen, Sasa langsung merebahkan dirinya, hingga tanpa dia sadari air matanya sudah mulai mengalir dan perlahan semakin deras, hingga membuat Sasa terisak. Sasa terus menangis dalam waktu yang lama, hingga dia kelelahan dan tertidur. Entah berapa lama dia menangis, yang jelas dalam tidurnya Sasa masih sesenggukan.
Mami Shella sangat senang karena kehadiran Lia. Tapi Mami Shella tidak melihat kebahagiaan di wajah Bara. Mami Shella melihat ada sesuatu yang difikirkan oleh Bara.
" Maaf Tante, sebenarnya saya sangat ingin, tapi ada pekerjaan yang harus saya kerjakan"
" Baiklah, tapi lain kali kamu harus bisa ya. Kalo Malam kan formasi lengkap, ada Daddy dan Kiki."
" Iya Tante, lain kali Lia pasti makan malam di sini"
Mami Shella memberikan ruang untuk Bara dan Lia berdua di ruang Tamu. Entahlah, 4 tahun Lia menjadi tunangan putranya, namun Mami Shella merasa Lia masih seperti orang asing.
" Kamu kenapa? kok gak semangat gitu? gak senang aku di sini hmm?" Ujar Lia dan mencium pipi Bara.
" Hah, enggak kok. Aku senang kamu di sini. Mungkin aku cuma kelelahan aja."
" Kamu mau aku pulang?"
" Maksud aku bukan gitu__"
" Aku ngerti kok, kamu habis melawan 3 pria berbadan besar, dan lengan kamu tergores. Seharusnya aku biarin kamu istirahat. Jadi sekarang kamu istirahat aja ya, aku pulang dulu."
Akhirnya Bara hanya menganggukkan kepalanya. Lia berpamitan kepada Mami Shella. Berhubung Lia tidak membawa mobil, jadi Bara memesankan taksi online untuknya.
__ADS_1
" Aku pulang dulu ya, kamu istirahat biar cepat pulih"
" Iya sayang"
Lia kembali mengecup pipi Bara sebelum dia masuk kedalam mobil. Sepeninggalan Lia, Bara kembali kedalam rumah dan masuk kedalam kamarnya. Bara merebahkan dirinya di tempat tidur, mencoba menutup mata, namun bayangan wajah Sasa yang ketakutan hadir di benaknya. Bara mencoba merubah posisi tidurnya, mencari posisi ternyaman, namun sama aja, tetap tidak bisa menghilangkan wajah Sasa yang terlihat ketakutan dan pucat.
Bara bangkit dari tidurnya dan mencoba mendial nomor Sasa. Namun tidak ada jawaban dari Sasa.
" Kemana sih dia?" Gumam Bara.
Bara keluar dari kamarnya, dan duduk di teras belakang rumahnya. Berusaha kembali untuk menghubungi Sasa, namun hasilnya sama aja, tidak ada jawaban dari Sasa.
" Ck, bikin khawatir aja" Gumam Bara dan berdiri dari duduknya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Mami Shella saat melihat Bara meraih kunci mobil yang memang tergantung di ruang keluarga.
" Emm, mau kerumah temen Mi, ada perlu"
" wajah kamu pucat loh, mending kamu istirahat aja di rumah dulu. Temen kamu bisa kamu hubungi melalui telpon kan?."
" Itu dia Mi, dari tadi Bara hubungi gak di angkat-angkay, Bara khawatir terjadi apa-apa sama dia. Bara pergi dulu ya Mi" Bara mengecup pipi Mami Shella dengan cepat.
Mami Shella yang ingin bertanya siapa temannya pun tidak jadi bertanya karena keburu Bara menghilang.
" Siapa sih temennya? Mencurigakan banget" Gumam Mami Shella.
Di apartemen, Sasa baru bangun dari tidurnya. Dia merasakan matanya membengkak karena terlalu banyak menangis. Sasa bangkit dan mencuci wajahnya di kamar mandi.
Kriuuk..
Sasa merasa lapar, namun dia malas untuk memasak. Akhirnya Sasa meraih ponselnya dan berencana membeli Pizzia. Sasa mengerutkan keningnya saat melihat 30 panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak di kenal. Sasa menimbang, haruskah dia mendial ulang nomor tersebut, atau membiarkannya. Akhirnya Sasa memilih memesan Pizzia dulu, urusan nomor tak dikenal, nanti juga bisa dia hubungi, yang penting perutnya terisi.
Sasa meletakkan kembali ponselnya, kemudian berjalan kearah lemari es. Sasa meraih Jus siap saji rasa mangga yang jika di ruang di gelas, gak akan tembus. Sasa pun menuang Jus tersebut. Tak berapa lama suara bel pun berbunyi.
" Cepet banget sampe nya?" Gumam Sasa.
Sasa berjalan kearah pintu dan membukanya.
Ceklek.
" Kamu??"
.
.
__ADS_1
** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...
Salam SaBar ( Sasa Bara )