
Sasa menatap gaun baby blue yang masih menempel di manekin. Gaun yang sangat indah, penuh dnwgan kerlap kerlip batu Swarovski.
" Hiikss.."
" Sayang, kenapa?" Mami Shella membelai bahu Sasa.
" Sasa gak nyangka, kalo gaun yang akan Sasa pakai seindah ini Mi.. Hikkss.."
" Ini hadiah dari Tante Dewi. Buat wanita yang tegar dan berhati mulia seperti kamu."
" Mungil, kenapa?" Bara yang baru masuk ke kamar hotel langsung di suguhkan oleh pemandangan yang hati.
" Ini, Sasa terharu melihat gaun yang akan di kenakannya nanti."
Bara menghampiri Mami Shella yang tengah memeluk Sasa.
" Looh, kok Mami di peluk juga.."
Bara menyengir, " Dua wanita yang paling Bara cintai. Terima kasih sudah memberikan Bara kehidupan dan kebahagiaan.." Bara mengecup pucuk kepala Mami Shella dan Sasa bergantian.
"Duuh, Key juga mau di peluk.." Kesya yang sedang menggendong Quin pun ikut menghambur kedalam pelukan Bara..
" Ikuutt..." Vina berlari untuk masuk kedalam pelukan Bara.
" Pelan-pelan Vina, jangan lari-lari" Tegur Tante Mega. Vina hanya meringis saat Mami Shella memberikan pelototan kepadanya.
Sasa sudah di dandani dengan cantik, dan menggunakan gaun yang indah. Bara juga menggunakan Jas yang berwarna senada dengan Sasa.
" Cantik banget kamu sayang!!" Bara mengecup kening Sasa di hadapan MUA yang sedang membereskan perlengkapan tempur mereka.
" Iih, dasar beruang mesum. Malu tau.."
" Gak pa-pa Mbak, kami udah biasa kok." Ujar salah satu tim MUA.
" Tu kan ,mereka aja gak keberatan sayang. Lagian kan gak dosa."
" Iih, kamu ini.. Malu tau.."
Bara meringis saat Sasa mencubit pahanya.
" Sudah selesai?" Tanya Mami Shella.
" Sudah Mi,"
" Ya udah, ayo.. Sudah di tunggu dibawah."
Bara memberikan tangannya untuk Sasa rangkul. Senyum Bara dan Sasa sedikit pun tidak luntur sepanjang jalan. Mereka juga saling curi pandang dan saling mengagumi dalam hati.
Sasa tidak mengetahui ada acara penghormatan pedang. Karena komandan ingin memberikan kejutan kepada Bara dan Sasa, karena waktu itu Sasa membantu istri komandan memasak di rumahnya. Hingga orang tua komandan sangat menyukai dan memuji masakan sang istri. Katakanlah, ini tanda pengucapan terima kasih istri komandan untuk Sasa, karena Sasa menolak untuk di berlikan barang branded.
Pegawai WO mengintruksi Sasa nanti, berjalan pelan saat melewati perwira yang memberikan penghormatan pedang.
" Mas, Ini??."
" Komandan yang memberi perintah."
" Kami tau Mas, aku merasa seperti Cinderella saat ini. Apa aku sedang bermimpi sekarang?"
" Aakh.." Bara menggigit pelan telinga Sasa. "Sakit Mas"
" Itu tandanya kamu tidak bermimpi sayang." Bara menghapus air mata yang siap jatuh ke pipi Sasa. Bara mengecup kedua mata Sasa dengan sayang.
" Jangan nangis, nanti make up-nya luntur. Dan kamu bisa seperti Mbah Kunti.."
" Iih, nyebelin deeh.."
Bara terkekeh melihat wajah Sasa yang cemberut.
Pegawai WO kembali memberikan intruksi kepada Sasa dan Bara, agar berjalan pelan di karpet merah menuju pelaminan.
__ADS_1
Musik yang berdentum mengiringi langkah Bara dan Sasa. Sasa tidak pernah menyangka jika pernikahannya akan semeriah dan semegah ini. Bergandengan dengan Bara, melewati pedang-pedang yang di acungkan keatas kepala mereka, di tambah lemparan kelopak bunga, seperti pernikahan orang India (Jelas yaa, ini ide siapa, pastinya ide Vina ).
" Mas, aku gak lagi mimpikan.." Sasa berbisik dengan suara paraunya.
" Apa kamu mau aku buktikan dengan cara lain lagi?"
" Hah? maksudnya.?"
" Kamu gemesin banget sih.. "
Tanpa Aba-aba Bara menarik pinggang Sasa, serta tangannya menahan tengkuk Sasa. Bara mencium Bibir Sasa, dan menggigitnya sedikit sehingga membuat Sasa terpekik merasakan sakit.
Suara sorakan pun langsung bergema memenuhi ruangan gedung tersebut. Mami Shella sampai menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan sang putra yang mesumnya gak ada obat. Sungguh sangat jelas terbukti jika Bara benar-benar mewarisi darah Daddy Roy.
" Anak Daddy itu.. Bikin malu aja.."
" Udah sah Mi, biarin aja.."
" Ini lagi, malah ketawa dia. Setidaknya punmmhpp" Mami Shella melotot saat Daddy Roy ******* bibir mami Shella singkat.
" Dasar tua Bangka mesum."
" Aww.. sakit Mi.." Daddy mengelus lengannya yang mendapatkan cubitan dari Mami Shella.
Untung saja tidak ada yang menyadari perbuatan Daddy Roy kepada Mami Shella, kecuali Bukde dan Pakde yang langsung berpura-pura tidak melihat.
Pernikahan Bara dan Sasa yang di gelar secara meriah di hotel M Moza, berjalan dengan lancar. Acara yang menggunakan tradisi hormat pedang itu membuat pernikahan Bara dan Sasa menjadi sangat berkesan. Sasa pun terlihat sangat cantik dengan gaun baby blue yang membungkus tubuhnya itu. Make up yang tidak terlalu bold, tetapi membuat Sasa terlihat sangat cantik dan mirip boneka. Hah, lihat saja, tangan Bara tidak lepas dari pinggang Sasa.
Seluruh tamu mendadak panik saat melihat segerombolan tamu undangan yang berwajah sangat. walaupun mereka memakai jas, tetap saja penampilan mereka masih terlihat preman pasar.
Sebagian tamu undangan langsung menepi karena takut, dan langsung dialihkan keruangan lain. Sebelumnya Sasa sudah memperingatkan kepada teman-teman premannya untuk tidak membuat kekacauan. Dan jangan tersinggung dengan perlakuan mereka. Para preman pun memaklumi. Lihat saja, saat menjalani pemeriksaan, mereka tetap tersenyum manis.
" Gak nyangka kalo kamu bisa mengenal preman sebanyak ini mungil." Bisik Bara.
" Kan udah aku bilang Mas, kalo aku bilang ke satu orang, pasti yang lain juga ikut nimbrung. Lihat, para penjual dipasar juga ikut datang. Ya ampun, lihat apa yang mereka Bawa "
" Selamat Bos ku." Ujar pemimpin preman yang baru, dan mulai menyalami Sasa dan Bara.
" Foto dong foto."
Sang fotografer dengan tangan bergetar mulai membidik mereka.
" Gak terasa, hitung dong.. biar tau. satu dua tiga.. gitu.."
Sang fotografer menelan ludahnya, dia pun mulai menghitung dengan suara bergetar. Setelah mengambil beberapa foto, mereka menyerahkan sebuah hadiah, yang terlihat seperti bingkai.
" Buka sekarang dong.." Ujar salah satu preman.
" Yakin di buka sekarang?"
" Buka Mbak.." Teriak Ara yang penasaran dengan bingkisan besar yang berbentuk bingkai itu.
" Okee, aku buka yaa.." Sasa merobek kertas yang berwarna coklat itu. Kertas yang biasa di buat untuk membungkus sampul buku pelajaran.
Semua tamu undangan yang tidak masuk ke ruangan lain, menatap takjub dengan hadiah yang di berikan oleh para preman. Sebuah lukisan yang indah, dimana lukisan Sasa dan Bara yang tengah menyebrang jalan, dengan Bara menggendong Sasa. Kalian ingat kan dengan video yang saat sendal putus, video ini sempat viral, dan dari gambar video tersebut lah, salah satu preman yang mempunyai bakat mebggambar, mencoba karyanya. dan hasilnya, sungguh indah dan menakjubkan.
" Pasti kamu yang gambarkan Toni."
Toni yang di sebut namanya pun menggaruk kepala dan mengangguk malu.
" Makasih banget yaa. Ini sungguh indah.."
" Sama-sama"
" Terima kasih, sudah mau datang." Ujar Bara.
" Iya pak polisi, tolong jaga Sasa yaa. Dia bunga bagi kami. "
" Tentu, saya pasti akan menjaganya selalu."
__ADS_1
Segerombolan preman pun turun dari panggung. Preman yang bernama Toni langsung di jegat oleh pengawal, karena ada seorang pengusaha yang ingin bertemu dengannya. Salah, kayaknya Toni bakal jadi preman pensiun selanjutnya nih..
Setelah turun para preman ,naiklah para penjual yang dipasar. Para tamu undangan ada yang merekam kejadian tersebut. Sebab, para penjual itu ada yang membawa sapu, tikar, cabai, bawang, kangkung, beras serta pete dan jengkol, dan banyak lagi bahan sembako yang lain.
" Maaf, kami hanya bisa memberikan bahan poko makanan."
" Gak papa buk, makasih banyak yaa.. Sasa sangat bersyukur bisa diberikan hadiah seperti ini."
Para penjual pun berfoto dengan Sasa dan Bara. Hadiah yang tadi diberikan, langsung dibawa turun oleh para pengawal utusan Arka, Vano, dan Kakek Farel.
Keadaan mulai normal setelah para preman dan penjual pulang. Pastinya setelah mereka mencicipi makanan yang di sediakan. Bara menyarankan agar tidak menbeda-bedakan mereka dengan tamu yang lain.
" Ini pernikahan yang mengenakan." Ujar salah satu tamu.
" Iyaa, tapi sangat seru dan berkesan. Aku tadi pingin masuk ruangan lain, tapi penasaran, makanya aku tetap bertahan di sini walaupun kaki aku udah gemetaran"
" Iyaaa, gak nyangka yaa. Bara dapat istri mantan preman."
" Heum. Tapi asal kamu tau aja, dia ini perempuan luar biasa. Aku dengar, dia seorang relawan di salah satu panti jompo. "
" Iyaa.. awalnya saya fikir, apa yang membuat Bara tertarik dengan dia. Ternyata hati nya sangat mulia."
" Ini jadi pelajaran buat kita, kalo melihat seseorang itu jangan dari penampilannya, melainkan dari hatinya."
Kesya, Ara, Vina, Mami Shella, dan Mama Rosa yang mendengar pembicaraan dua wanita itu pun tersenyum. Biar mereka tau, jika menantunya adalah orang yang sangat mulia.
Bara mengerutkan keningnya saat melihat Sasa tersenyum lebar kepada Riko. Apa mereka saling kenal?
" Selamat yaa.. akhirnya kamu bersatu kembali dengan dia."
" Iyaa, makasih udah mau datang. Ah ya, Mas, kenalin ini Riko."
" Kamu kok bisa kenal dengan dia sayang?" Bara yang melihat tatapan mata Riko kepada Sasa yang penuh pujaan pun langsung memiliki insting jika Riko menyukai sasa. Bara cemburu.
" Oh, Mamanya Riko ini donatur di panti jompo tempat aku tinggal di Purwokerto dulu. Makanya aku kenal dengan Riko. Mas kenal?"
" Kenal sayang. Dia yang membantu kita untuk mendapatkan bukti jika kamu tidak bersalah."
Sasa menutup mulutnya tak percaya. " Kok kamu gak bilang?"
" Aku cuma gak mau pamer. Takut kamu jatuh hati ke aku.."
" Iih, geer banget sih." Pembicaraan mereka terlihat sangat seru, sehingga Sasa tidak menyadari ada Bara api yang telah menyala.
Riko yang menyadari tatapan Bara sudah berubah cemburu pun mengakhiri perbincangan mereka. Riko menyalami Bara dan mengucapkan selamat. Kemudian berpindah ke Sasa. Riko mengecup punggung tangan Sasa, sehingga membuat Sasa menarik tangannya dan merasa tidak enak dengan Bara.
Bara langsung mengambil sapu tangan yang ada di kantongnya dan mengelap bekas ciuman Riko di punggung tangan Sasa. Riko terkekeh, rasanya sangat menyenangkan melihat Bara cemburu.
" Cuma ingin mengingatkan, jaga Sasa baik-baik, jika tidak, aku akan merebutnya. I love you, Marisa." Riko mengedipkan matanya sebelah kepada Sasa.
" Eh.." Sasa panik, pasalnya genggaman tangan Bara di tangannya menguat.
" Mas.." Sasa mencoba menenangkan Bara.
" Kamu suka dengan dia?"
" Tidak, kami hanya berteman."
" Jangan berteman lagi dengannya. Dia lebih berbahaya Dari preman-preman tadi."
Sasa hanya bisa meringis. Suaminya sudah memeluk pinggangnya dengan posesif.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )
__ADS_1