
Keberangkatan Farhan di percepat, Fatih ikut menemani Raysa ke Banda untuk mengantarkan Farhan.
"Aku berangkat ya ..."
"Iya, kakak hati-hati ya di sana, jangan lupa kasih kabar."
"Tentu ..." Farhan pun membelai kepala Raysa.
"Bro, gue berangkat ya." Ujar Farhan kepada Fatih.
"Yoi, hati-hati ya."
"Sip, jagain pujaan hati kita ya."
"Tentu." Fatih dan Farhan pun bersalaman ala laki-laki, dan berpelukan ala laki-laki juga pastinya.
Raysa memutar bola mata nya saat mendengar Farhan mengatakan 'pujaan hati mereka'. Yang benar saja, sejak kapan Kak Farhan nya itu sudah lebay seperti Fatih? Kebanyakan bergaul dengan Fatih ni pasti.
Tak tau kah Raysa, jika Farhan berusaha mengikuti gaya bercanda Fatih. Farhan ingin menjadi orang yang relaks seperti Fatih, tak kaku seperti dirinya. Farhan ingin membuat Raysa benar-benar nyaman, dan menjadi dirinya sendiri. Bukannya selama ini Raysa tak menjadi dirinya sendiri, namun saat Raysa kesal dengan Farhan, Raysa tak pernah mengungkapkannya, Raysa hanya diam dan memendamnya sendiri, sampai rasa kesal itu hilang. Sedangkan saat bersama Fatih, Raysa langsung mengungkapkan rasa kekesalannya. Dan itu membuat Farhan merasa cemburu.
Raysa dan Fatih pun kembali menuju aktifitas mereka masing-masing. Raysa mengantarkan Fatih ke kantornya.
"Aku jemput jam brapa?" Tanya Raysa saat Fatih mau turun.
"Hari ini aku lembur, nanti aku pulang naik ojek aja."
"Sampai jam berapa? biar aku jemput."
"Belum tau, kalo cepat aku kabari deh."
"Oke ..."
Setelah Fatih turun, Raysa pun melajukan kembali mobil nya meninggalkan gedung yang hanya empat tingkat milik Fatih. Gedung arsitektur nya.
Fatih harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Cedera tangannya membuat pekerjaan Fatih melambat, namun saat ini Fatih sudah bisa menggunakan tangannya seperti sedia kala.
Pintu di ketuk, dan Fatih menyahut dan memberi perintah untuk orang Yang ada di balik pintu itu masuk.
"Ada apa?" Tanya Fatih kepada Romi, sekretaris baru nya.
"Ini laporan dari perusahan Singaluncur Pak."
Fatih meraih berkas yang di berikan oleh Romi. Rara sudah Fatih suruh libur cepat, karena melihat kerja Romi yang terbilang cekatan. Lagi pula Rara anak satu-satu nya, pastinya mengurus sebuah pernikahan sangat merepotkan pastinya.
"Baiklah, kamu bisa kembali."
"Baik, Pak."
"Oh ya, jangan lupa berikan laporan sketsa dari bagian Tim dua."
"Iya pak."
Setelah memberi hormat, Romi pun keluar dari ruangan Fatih. Pekerjaan Fatih benar-benar sangat banyak. Belum lagi pekerjaan yang dari perusahaan sang Mami. Rasanya Fatih ingin membelah dirinya jadi dua, agar dapat bekerja sekaligus. Hah ....
*
Raysa menatap kulkasnya, ia ingin makan di luar, namun hujan, jadi ia malas keluar sendiri. Akhirnya Raysa pun memasak untuk makan malamnya.
Hmm, memasak untuk sendiri rasanya sangat aneh, jadi Raysa berencana masak untuk Fatih. Mungkin jika hujan tak terlalu lebat, Raysa akan mengantarkan nanti.
Masakan Raysa telah selesai, tepat di saat hujan mulai reda. Raysa menatap jam yang bertengger di dinding, sudah pukul 6 lewat. Raysa berencana untuk menunaikan solat magrib dulu sebelum berangkat mengantarkan makan malam untuk Fatih.
Ngomong - ngomong, Raysa tak memberikan kabar kepada Fatih jika dirinya akan mengunjungi Fatih. Raysa hanya ingin memberi kejutan untuk Fatih. Mungkin Fatih akan senang, secara dirinya kan bagaikan moodboster bagi Fatih.
Raysa sudah bersiap, kantor Fatih tak terlalu jauh dari apartemen mereka, mungkin hanya berjarak 10 menit, begitu pun dengan kantor Raysa.
Raysa turun dengan senyum yang mengembang, dan menyapa satpam yang masih berjaga di sana.
"Selamat malam pak, Apa Pak Fatih nya masih ada?"
"Dengan mbak siapa ya?"
"Saya adik sepupu nya,"
" Boleh saya melihat tanda pengenalnya?"
Raysa mengangguk dan memberikan tanda pengenalnya. Satpam membaca pekerjaan Raysa yang seorang perwira polisi. Satpam pun tersenyum dan mengangguk.
" Baik buk, Sebelumnya sudah punya janji?"
Raysa berfikir, jika ia mengatakan belum, maka semua rencananya akan buyar, jadi Raysa berbohong dan mengatakan jika dirinya sudah memiliki janji.
"Iya pak, saya sudah punya janji dengan Bang Fatih." Raysa terpaksa menyebut nama Fatih dengan embel-embel 'Bang'.
"Oh, begitu. Mau antar makan malamnya ya?"
"Iya, pesanan Bang Fatih." Raysa tersenyum manis.
"Oh, kalo begitu silahkan naik ke lantai 4 aja, nanti ada petunjuknya di sana, di mana ruangan Bos Fatih. Saya tidak bisa mengantarkan, karena mau masuk soft pergantian."
"Oh, gak papa Pak, Makasih banyak ya."
Raysa pun melangkahkan kakinya menaiki lift.
"Beruntung banget si Bos, dua wanita cantik ngantarin makan malam. Nasib orang ganteng ya gitu. Tapi gue gak kalah ganteng kok." Satpam tersebut berujar sambil memegangi kumisnya.
Raysa menatap angka yang terus naik hingga menunjukkan angka 4. Di mana lantai yang terdapat ruangan Fatih di sana. Dengan perasaan yang baik, Raysa melangkahkan kakinya, mengikuti petunjuk arah ruangan Fatih, sehingga bertemu dengan seorang pria yang langsung berdiri ketika Raysa datang menghampiri.
"Maaf, apa Bang Fatih nya ada?" Tanya Raysa lembut.
Romi, sang sekretaris baru mengernyitkan keningnya. Ia seperti pernah melihat wajah Raysa, tapi di mana ya? Kemudian Romi seolah mendengar bel berbunyi yang mengatakan jika Raysa adalah kekasih Bos nya itu. Romi ingat, jika ada foto wanita ini di meja sang Bos.
"Ada di dalam, silahkan masuk." Ujar Romi yang merasa bangga karena dia adalah orang pertama yang melihat pacar sang bos.
Bahkan Rara yang sudah bekerja lama saja belum pernah melihat kekasih sang Bos. Kekasih sang Bos hanya menjadi bahan gosipan mereka saja. Namun, saat ingatannya seolah kembali, Romi tersadar jika saat ini sang Bos sedang bersama seorang wanita yang juga membawakan makanan untuknya. Dengar-dengar gosipnya, wanita ini adalah selingkuhan sang Bos. Waah, bisa gawat ini.. Romi bergegas menyusul kekasih sang Bos.
Cekleek ..
__ADS_1
Raysa terdiam saat melihat pemandangan di depannya. Senyumnya yang mengembang tiba-tiba saja luntur. Begitu dengn Romi yang sudah merasa bersalah dengan sang Bos.
Fatih dan Tissa yang swdang bercanda pun ikut terdiam saat melihat kedatangan Raysa yang tiba-tiba.
"Layca " Fatih seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Mata Fatih menuju ke tangan Raysa yang membawa bekal. Senyum Fatih langsung mengembang dan menghampiri Raysa.
"Kamu bawa makanan untuk aku?" Tanya Fatih saat sudah berada di depan Raysa.
Raysa menertawakan dirinya sendiri. "Sepertinya aku mengganggu kalian, maaf."
"Heii, mau ke mana?" Fatih menangkap tangan Raysa sebelum ia melangkah berbalik.
"Ayo, kamu sudah kenal kan dengan Tissa."
Fatih menarik tangan Raysa dengan lembut untuk ikut bergabung dengan Tissa. Fatih menghentikan langkahnya saat melihat Romi masih berdiri mematung.
"Kamu boleh pergi."
Dengan kikuk, Romi membungkukkan badannya dan memberi hormat. Romi pun meninggalkan ruangan Fatih.
Raysa merasa kesal, iya kesal karena ada orang lain yang sudah duluan mengantarkan Fatih makanan.
"Hai Layca, kita ketemu lagi." Ujar Tissa dengan ramah dan melambaikan tangannya.
Raysa hanya tersenyum, namun ia sungguh tak suka namanya di panggil Layca oleh orang lain.
"Nama aku Raysa, bukan Layca." Ujar Raysa dengan jutek.
Fatih sampai menaikkan alisnya saat Raysa berbicara seperti itu. Biasanya Raysa tak akan pernah marah jika di panggil 'layca' oleh nya. Dan memang sih, tidak ada yang pernah memanggil dirinya dengan panggilan 'Layca' selain dirinya.
Tissa seakan sudah menangkap sesuatu yang aneh. Sepertinya Raysa menyukai Fatih, tapi ... Ah, bicarakan waktu yang menjawab. Tissa juga belum pasti dengan apa yang di rasakannya saat ini.
"Maaf, aku hanya kebiasaan mengikuti Fatih menyebut nama kamu"
Raysa pun memaksakan senyum nya. Sebenarnya apa alasan Raysa untuk marah dengan Tissa? toh dirinya dan Fatih tidak memiliki hubungan yang spesial?
"Kamu bawa apa?" Tanya Fatih lembut mengambil atensi Raysa.
"Cuma masakan rumahan." Ujar Raysa dengan jutek.
Raysa melirik kearah meja, di sana terdapat bistik yang terlihat sangat enak. Dan pastinya mahal.
"Itu yang aku butuhkan." Ujar Fatih sambil meraih bekal makanan yang di bawa oleh Raysa.
"Iya deh iyaa, yang pujaan hati nya pinter masak." Tissa tersenyum dengan ramah.
"Makanya, Lo belajar masak sana. Jadi kalo punya suami, betah di rumah dengan maskan Lo."
"Nanti deh, kalo gue udah Nemu yang pas."
"Kan udah Nemu." Ledek Fatih.
"Yeey, itu kan baru sekilas aja. Ya gue sih maunya kalo udah resmi gitu."
"Kelamaan, yang ada pada kabur."
"Enak tuh, boleh nyicip gak?" Tanya Tissa kepada Raysa.
"Boleh."
Saat Tissa ingin menyendokkan capcai ke piring, suara Fatih membuat Tissa menatap Fatih dengan kesal.
"Tu bistik mau Lo apain ntar?"
Tissa mencibir, namun jika di buang kan sayang, jika di bawa pulang lagi, belum tentu ia kan memakannya lagi.
"Gue tanya sekretaris baru Lo ya." Tissa berdiri dan menghampiri Romi.
Beruntung Romi belum memesan makanan, jadi makanan yang di bawa oleh Tissa tidak mubazir.
"Kamu udah makan?" Tanya Fatih kepada Raysa.
"Belum."
"Ayo, kita makan bareng."
Fatih menyendokkan nasi untuk Raysa.
"Lo bisa ambil sendiri kan?" Ujar Fatih kepada Tissa.
"Ya ... ya ... yaa.. gue ngalah deh. Gak sekalian Lo suruh gue pulang biar gak ganggu kalian berdua?" Ujar Tissa dengan menggoda.
"Ide bagus tuh." Ujar Fatih sembil terkekeh.
"Jahat banget Lo sama sahabat sendiri." Tissa mencibir, dan hanya di balas kekehan oleh Fatih.
Mereka bertiga pun akhirnya makan dalam diam, yang entah kenapa membuat Fatih lebih memilih menikmati makanannya dari pada mengomel seperti biasa.
Tissa baru saja selesai mencuci tangannya, saat ia kembali, meja sudah bersih, dan itu adalah ulah Raysa.
"Eh, kamu rapikan mejanya sendirian?"
"Iya .."
"Maaf ya, aku niatnya mau cuci tangan dulu baru bantuin kamu."
"Gak papa, aku juga udah biasa kok."
"Wah, kamu benar-benar istri idaman Fatih banget. Aku doain kalian berjodoh ya .."
"Eh ..."
Baru saja Raysa ingin protes, suara Fatih sudah mengambil atensi Tissa.
"Lo jadi langsung pulang?"
"Jadi lah, Gue mau tidur cepat, biar besok pagi fresh saat seminar."
__ADS_1
"Ya udah, hati-hati di jalan."
"Iya, pokonya sketsa gue jangan kelamaan buatnya."
"Sip lah."
"Raysa, aku duluan ya .. Eh, kamu tungguin Fatih pulang kan ya?" pamit Tissa.
Raysa pun menganggukkan kepalanya. Kepergian Tissa membuat suasana hening kembali.
"Kamu beneran mau nungguin aku di sini?" Tanya Fatih.
"Iya, kenapa? gak boleh?"
"Aku masih lama loh kerjanya."
"Kamu berharap orang lain yang tungguin?"
"Ya gak dong. Aku senang kamu di sini." Fatih tersenyum. 'Cuma gak tega aja lihat kamu kebosanan.' Batin Fatih.
"Kalo kamu takut aku bosan, udah tenang aja, aku gak bakal bisa kok. Ada drakor yang bisa aku tonton kok."
Fatih menganggukkan kepalanya. Kemudian ia kembali fokus kepada pekerjaannya yang mana besok harus sudah selesai.
Fatih bernapas lega saat sketsa bangunan nya telah selesai dibuat. Raysa sampai menoleh saat mendengar helaan napas Fatih.
"Udah selesai?"
"Alhamdulillah, udah."
Raysa berdiri dan berjalan kearah Fatih. Raysa ingin melihat bangunan yang di bangun oleh Fatih.
"Bagus banget. Emang bakat Papi Gilang Nurin ke kamu ya ..."
Fatih tersenyum. "Kamu mau aku buatin desain rumah impian?"
"Emang boleh?"
"Boleh, nanti waktu aku senggang, aku bakal buatin itu untuk kamu."
"Kapan senggangnya, kaya nya kamu sibuk selalu."
"Ada kok masa nya, tenang aja."
Raysa menatap Fatih yang sedang tersenyum. Kemudian ia kembali kan fokusnya kepada sketsa bangunannya.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Fatih yang sudah melihat jam menunjukkan pukul 11 malam.
"Yuk lah."
Fatih membereskan meja nya, begitu pun dengan Raysa yang tak lupa membawa kembali bekal makananya. Fatih dan Raysa berjalan berbarengan keluar dari ruangan Fatih.
"Romi, udah selesai?"
"Udah Bos."
"Yuuk, kita turun bareng." Ajak Fatih.
Romi pun tanpa segan mengikuti langkah Bis nya itu.
"Pacar Bos cantik ya. Kapan undanganya. KS." Tanya Romi yang sedikit kepo.
"Doain aja berjodoh." Jawab Fatih.
Raysa tak ingin bersuara, dirinya sudah merasa lelah dengan menunggu Fatih selama 4 jam.
"Pasti Bos, saya doain pasti berjodoh. Insya Allah langgeng dunia akhirat."
"Amin."
*
Raysa tak memberikan kunci mobil kepada Fatih, karena ia tahu jika Fatih sangat lelah hari ini. Jadi Raysa yang akan mengemudi hingga kerumah.
"Kamu gak papa kan nyetir sendiri?"
"Gak papa, kamu kalo capek tidur aja.".
"Ya udah, bangunin aku kalo ada apa-apa."
"Iya ..."
Fatih menurunkan sandarannya, mencari posisi ternyaman nya, hingga ia melipat kedua tangannya di atas perut dan menutup matanya. Raysa pun menjalankkan mobilnya setelah melihat Fatih nyaman dengan posisi nya.
Dengan kecepatan sedang Raysa membawa mobil Fatih. Dengan berteman lagu-lagu lama dari radio. Sesekali Raysa juga ikut bersenandung dengan suara kecil, Karena tak ingin membuat Fatih terbangun oleh suaranya.
Tak berapa lama mereka sampai di baseman. Raysa melihat Fatih yang benar-benar kelelahan. Ingin membangunkannya namun ragu, karena baru 10 menit Fatih tertidur. Jadi Raysa memutuskan untuk membiarkan Fatih tertidur sejenak. Tanpa Raysa sadari, jika dirinya juga ikut tertidur di dalam mobil.
Fatih terbangun saat merasakan dingin pada tubuhnya. Dengan rasa kantuk yang teramat amat sangat berat, Fatih memaksakan mata itu terbuka. Fatih mengernyit saat mendapati dirinya di dalam mobil, Fatih menoleh dan melihat Raysa yang juga tertidur di sana. Fatih tau, pasti Raysa sengaja tak membangunkannya.
Fatih rasanya kasihan untuk membangunkan Raysa, namun tangannya belum boleh untuk di gunakan mengangkat yanv berat-berat. Hingga akhirnya Fatih memutuskan untuk membangunkan Raysa.
"Ca, bangun. Masuk yuk ..." Ajak Fatih DNA di angguki oleh Raysa.
Sesampainya di depan apartemen masing-masing, mereka langsung ngacir ke atas tempat tidur, melanjutkan tidurnya yang terganggu.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....