
Lia meraih ponselnya, dan menghubungi nomor seseorang.
" Gue ada kerjaan buat Lo."
"...."
" Tenang aja, yang penting Lo harus main bersih. Dan ingat, jangan tinggalin jejak."
Setelah mengatakan tujuannya, Lia mengakhiri panggilannya, dan menatap penuh benci kepada orang yang tengah berbahagia di hadapannya.
" Lihat saja, aku akan menghancurkan kalian semua. Enak saja kalian tertawa di atas penderitaan ku." Geram Lia dan menatap penuh kebencian kepada sepasang sejoli yang tengah di mabuk cinta itu.
Hari ini Sasa berjanji sama Bara akan memperkenalkan dirinya dengan sang nenek.
" Kita berangkat sekarang?"
" Bentar Mas. " Sasa mengambil satu kotak Indimie, yang jelas isinya bukan Indimie.
" Apaan tuh?" Bara langsung mengambil alih kotak tersebut.
" Oleh-oleh buat nenek."
" Kapan kamu beli?"
" Kemarin, saat temenin Ara cari kain."
" Kenapa gak bilang sama aku sih kalo mau bawa oleh-oleh untuk nenek? Kan bisa aku beliin!." Bara memanyunkan bibirnya.
" ulululu.. Beruang madu ku merajuk." Sasa menggelitik dagu Bara.
" Nanti kita beli lagi oleh-olehnya. Nenek suka biji Ketapang, akar kelapa, dan roti buaya."
" Emang nenek masih punya gigi kalo makan biji Ketapang dan akar kelapa?"
" Jangan kurang ajar Ya Mas. Nenek memang gak ada lagi giginya, tapi nenek punya gigi palsu."
" Waah, gaul juga nenek yaa.."
" Cucunya kerja banting tulang ya tujuannya untuk bahagiain sang nenek."
" Bahagiain aku nya kapan?"
Cup.
Sasa mendaratkan ciuman di pipi.
" Bahagia kan?" Sasa langsung menjauh dari Bara, sebelum beruang madu itu berbuat lebih yang mana akan lipstik yang digunakannya.
" Mungiiil... " Geram Bara. Namun Bara tersenyum bahagia.
Sepanjang jalan Bara banyak bertanya tentang sang nenek.
" Mas, di toko yang itu aja yaa. Soalnya aku udah langganan di sana."
" Baik Tuan Putri." Bara pun mmeghentikan mobilnya di toko yang Sasa maksud.
" Mas mau beliin apa buat nenek?"
" Eemm, Roti buaya, biji salak, Akar kelapa, sama dodol. Oh yaa, kain batik itu juga ya kak."
Sasa melototkan matanya saat mendengar pesanan Bara.
" Mas, kebanyakan itu Mah."
" Gak pa-pa"
Setelah membayar, mereka kembali kedalam mobil. Dan Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
" Mungil, buka satu dong biji salaknya."
" Siap Beruang madu ku"
Sasa membuka satu bungkus biji salak, dan menyuapinya kedalam mulut Bara. Tak terasa sudah 3 jam mereka menempuh perjalanan, dan akhirnya sampai di desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Bahkan udaranya masih terasa segar, karena masih banyak pepohonan besar di sana.
" Assalamualaikum" Sasa mengetok ointu kayu yang sudah terlihat rapuh itu.
" Sasa?"
Sasa menoleh kesumber suara.
" Bukde!!" Sasa langsung mencium tangan Bukde Molek dengan Takzim.
" Kamu kapan sampe?"
" Baru aja bukde"
Bukde molek menoleh kearah pria yang berada di sebelah Sasa.
" Sopo Iki?"
" Ooh, Kenalin ini Mas Bara bukde. Mas, ini Bukde, yang selalu jagain aku waktu kecil kalo nenek pergi nyuci."
" Bara " Bara pun mencium tangan Bukde Molek.
" Nenek mana bukde?"
" Nenek di rumah. Ayoo.."
Sepanjang perjalanan Bukde nek memikirkan, apa hubungan Sasa dengan pria yang bernama Bara. Karena setau bukde, kata nenek Sasa tidak memiliki pacar. Atau jangan-jangan ini pacarnya Sasa?.
" Assalamualaikum"
" Walaikumsalam, Ya Allah Sasa." Nenek langsung berdiri dan menghampiri Sasa.
" Nenek, Sasa kangen, hikkss.."
Setelah acara kangen-kangenan, mereka duduk di ruang tamu. Nenek, Pakde, dan Bukde menatap ke arah Bara. Tak berapa lama Sasa datang dengan membawa teh hangat dan cemilan.
" Sa, sopo Iki?" Bisik nenek.
" Ekhem.. Nek, pakde, bukde, perkenalkan. Ini Mas Bara." Sasa menatap ketiga orang yang paling berarti di hidupnya.
" Mas Bara ini calon suami Sasa."
Nenek langsung membulatkan matanya yang sudah sayu itu. Bukde menutup mulutnya, sedangkan Pakde... Ah, entahlah, ekspresinya tidak bisa di tebak.
" Ca--calon suami?" ujar ketiganya.
Sasa pun menyampaikan maksud tujuan Bara dan Sasa datang ke kampung. Sasa ingin memperkenalkan Bara terlebih dahulu kepada sang nenek dan pakde beserta bukde. Jika nenek setuju dengan pilihan Sasa, maka keluarga Bara akan datang untuk melamar Sasa secara resmi.
" Aduh ndok, nenek terserah sama kamu. Jika menurut kamu dia ini pria yang baik, dan kamu bahagia bersama dia. Nenek merestui."
" Pakde, bukde?" Sasa menoleh kepada kedua pengganti orang tuanya itu.
" Pakde dan bukde ikut saja. Yang penting kamu bahagia. Restu kami selalu bersama kalian"
" Alhamdulillah."
Setelah menyampaikan tujuannya, Sasa dan Bara menikmati suasana kampung sebelum mereka kembali ke Jakarta.
" Mas, istirahat aja dulu. Nanti takutnya kamu lelah di jalan."
" Iya mungil."
Sasa membiarkan Bara beristirahat, sedangkan Sasa membantu bukde di dapur bersama nenek.
__ADS_1
" Kamu kenal di mana ndok?" Tanya nenek.
" Eemm, Mas Bara itu abangnya Mbak Kesya, Bos Sasa di toko kue."
" Subhanallah. Nenek gak nyangka kalo jodoh kamu orang terhormat dan kaya."
" Alhamdulillah Nek, yang terpenting itu Mas Bara bisa bimbing Sasa ke surga."
" Amiin.."
Sasa membangunkan Bara saat solat ashar tiba. Bara pun pergi ke mushola bersama Pakde. Setiap warga kampung langsung heboh saat melihat Bara, apalagi penampilan Bara yang terlihat sekali jika dia orang berada. Para warga pada heboh saat Pakde mengenalkan Bara sebagai calon suami Sasa.
" Kenapa gak pulang sehabis makan malam? Tanya nenek.
" Mas Bara nyetir mobil sendiri nek. Takutnya kemaleman juga sampai di Jakarta. Besok Mas Bara harus dinas pagi."
" Ndok, kamu gak pa-pa dengan kerjaan Nak Bara?"
" Insyaallah gak pa-pa nek. Sekarang Sasa juga lagi ikut terapi buat hilangin trauma ini."
" Terapi kan biayanya mahal ndok"
" Eem, itu.. Semua di tanggung sama Mas Bara."
" Ya Allah, baik sekali Nak Bara. sepertinya dia sangat mencintai kamu."
" Insya Allah nek.
Setelah Bara dan Pakde pulang dari mushola, mereka pun menyantap makanan yang sudah di masak oleh Bukde, Sasa, dan nenek.
" Nenek baik-baik ya. Jangan lupa obatnya di minum." Sasa memeluk sang nenek.
" Bukde, kalo perlu uang, bilang aja sana Sasa ya. Jangan sungkan-sungkan."
" Uang yang kamu kirim itu lebih dari cukup ndok."
Sasa memeluk bukde Molek, kemudian mencium tangan Pakde. Mereka pun berpamitan.
" Kalo ada apa-apa langsung kabari Sa ya.."
Setelah melambaikan tangan, Bara pun menekan pedal gas, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Hubungan kami dengan Bukde dan pakde apa?" tanya Bara yang sedari sudah penasaran. Karena setau Bara, Sasa tidak memiliki keluarga lain selain nenek.
" Bukde dan Pakde dulu tetangga nenek. aku sering di titipin ke Bukde kalo nenek pergi nyuci. Setelah salah satu anak bukde sukses di Jakarta, bukde membeli rumah yang di tempatnya itu."
Bara pun ber-oo ria.
" Oh ya, kamu idah bilang kan kalo keluarga aku akan segera datang untuk melamar?"
" Udah Mas, mereka sampai terkejut, karena semuanya serba cepat dan mendadak."
" Karena aku gak mau terlalu lama menunda, Aku ingin segera memiliki kamu seutuhnya."
" Dasar mesum."
Setelah memberikan kabar kepada Mami Shella dan juga Daddy Roy, jika nenek Sasa merestui hubungan mereka, Mami langsung menyuruh Sasa, untuk memberikan kabar kepada keluarga di kampung, bahwa Mami Shella dalam 2 hari lagi berkunjung ke kampung Sasa untuk melamar Sasa secara resmi.
Hari itu pun tiba, lamaran berjalan dengan baik. Sasa resmi bertunangan dengan Bara, dan pernikahan mereka akan di adakan 3 bulan lagi.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)