
Opa Roy sudah menyiapkan segala keperluan untuk pesta Barbeque. Halaman belakang yang sudah di satukan dengan halaman rumah Oma Rosa pun, sudah di sibukkan dengan Opa Roy dan Opa Nazar, serta Daddy Bara yang sibuk menyusun kayu untuk membuat api unggun.
" Bunda..." Raysa memeluk sang Bunda yang sedang mencuci beras.
Bunda Sasa tersenyum, jika sudah begini pasti ada sesuatu yang di inginkan oleh sang putri.
" Ini pasti mau rayu Bunda kan?"
" Enggak kok, emang nya salah jika Ica meluk Bunda?"
" Ya gak salah sih." Bunda Sasa sudah selesai dengan mencuci beras, kemudian memasukkannya kedalam rice cooker.
" Sekarang cerita, ada apa?"
Raysa menampilkan senyum malu-malunya, Bunda Sasa merasa gemes dengan perlakuan sang putri saat ini. Tak biasanya ia menjadi gadis pemalu, kecuali jika sudah berhubungan dengan Farhan.
" Kak Farhan ngajakin aku liburan ke Bandung. Boleh??" Tanya nya malu-malu dan juga dengan perasaan takut.
Bunda Sasa memandang wajah sang putri yang sepertinya sedang jatuh cinta.
" Cuma berdua?"
" Gak kok, Desi juga ikut, ada teman-teman yang lain juga. Kak Farhan sekalian lihat perusahaan yang ada di sana."
Desi adalah anak kedua dari Duda dan Lena, yang mana umurnya sebaya dengan Raysa, hanya berbeda beberapa bulan saja.
" Berapa hari?"
" cuma 2 hari sama jalan pulang dan pergi."
" Hmm.. kalo Bunda sih ngizinin, tapi kamu harus ingat. Harus bisa jaga diri. Ingat, harga diri wanita itu terletak di atas kesuciannya. "
" Iya Bunda, Insya Allah Ica akan menjaga diri."
" Tapi, tanya dulu sama Daddy, ngasih izin gak beliau?"
"Itu dia Bunda, Tau sendiri kan Kalo Daddy kurang suka sama Kak Farhan. "
Terlihat raut sedih terpancar di wajah sang putri. Bunda Sasa pun membelai pipi yang sedikit chubby itu.
" Belum di coba kok udah nyerah sih.. Semangat dong.. "
Raysa kembali tersenyum sambil menatap sang Bunda. Bunda nya ini memang selalu bisa membuat hati nya kembali tenang.
.
.
Seluruh keluarga sudah berkumpul. Orang tua Fatih juga ikut hadir, karena sudah seperti keluarga bagi Oma Shella.
Farhan datang dengan membawa boneka besar dan sebuket bunga mawar merah. Para sepupu pun langsung menggoda Raysa. Terutama Lana dan Fatih, namun kali ini Fatih hanya terdiam menatap tak suka. Pasalnya Fatih hanya membawa sebuket cokat dan bunga.
__ADS_1
" Kurang besar punya Lo Fat.. ha..ha..ha.." Lana langsung menggoda Fatih.
"Apa nya yang kurang besar? mau di adu kejantanan gue sama punya dia?" kesal Fatih.
" Ogah gue liat nya.. iih..." Lana hanya bergidik geli.
Fatih hanya mendengus kesal, dan kembali mengarahkan fokusnya kepada Raysa dan Farhan. Pemandangan yang sangat membuat hatinya membara, senyuman yang tak pernah Raysa berikan untuknya sepanjang hidup nya.
Eh, pernah deng.
Saat umur 8 tahun, Raysa yang terus-terusan menangis karena Adik kecil nya berjenis laki-laki pun, Fatih hadir di sana, dan menghibur Raysa. Berkat Fatih, Raysa berhenti menangis dan tersenyum kembali, itulah senyuman pertama dan sangat tulus yang Raysa berikan kepada Fatih. Senyuman itu, tak pernah terhapus dari ingatan Fatih. Bahkan, Mami Mili sempat mengabadikan moment tersebut, dan Fatih membuat foto itu menjadi pusat perhatian yang ada di kamarnya.
Ya, Fatih mencetak foto itu dengan ukuran besar, dan di letakkan di dinding atas ranjang king size nya.
Raysa tak pernah tau akan foto tersebut, bahkan Fatih melarang Lana dan yang lainnya untuk berbicara tentang foto itu.
Seperti Lana yang menyukai Quin, begitulah Fatih kepada Raysa. Namun bedanya, sedari kecil Fatih sudah memiliki seorang saingan. Saingan yang cukup berat. Bisakah Fatih mengambil perhatian Raysa??
Malam semakin larut, Fatih yang bertugas membakar daging, ikan, sosis, dan sate tusuk ala barbeque yang terdapat tomat dan paprika pun sudah mengerjakan tugasnya.
"Ca, cobain deh"
Fatih memberikan Raysa sosis panggang yang sudah di beri saos. Raysa menggigit sosis tersebut.
" Enak, Lo emang jago nya. " puji Raysa dengan mengacungkan jempol. tapi tetap saja, senyum itu tak selebar senyum yang ia berikan kepada Farhan.
Raysa mengambil beberapa tusuk sate, sosis, dan juga daging, sedangkan Quin mengambil ikan yang sudah di bakar.
" Doain gue, berjodoh sama Raysa, nanti gue balas Lo berjodoh sama Lana.."
" Ogah gue.. " Quin pun berlalu dengan memeletkan lidahnya kepada Lana yang baru saja bermain mata dengannya.
" Senasib kita Bro." Ujar Fatih.
" Semoga nasib gue lebih beruntung dari Lo, kalo perlu bisa beristri dua . " Lana terkekeh dan memandang ke arah Anggel, Lana tak tau, sejak kapan Anggel mengambil perhatiannya, walaupun Quin tetap selalu menjadi nomor satu di hati nya.
"Aww.."
"Hati-hati kak" Raysa langsung panik saat tangan Farhan terkena bara api dari kayu bakar.
" Gak papa kok Ca, cuma kena dikit aja."
" Dikit juga harus di obati."
Raysa bergegas mengambil kotak P3K, dan berlari dengan cepat kembali kepada Farhan. Dengan lembut Raysa mengoleskan salep ke tangan Farhan.
Farhan tersenyum dan mengelus kepala Raysa. Pemandangan itu membuat dada Fatih semakin nyeri.
" Heii, nyantai dong.." Lana menyentak tangan Fatih yang meremas pisau.
Darah yang mengalir pun sudah tak terasa lagi di tangan Fatih.
__ADS_1
" Diam, jangan berisik." Ancam Fatih kepada Lana.
Fatih berjalan ke kamar mandi, dan membersihkan luka nya. Fatih membalut luka yang terkena di telapak tangannya dengan sapu tangan yang selalu di bawanya.
Fatih tersenyum miris, bahkan saat darah nya mengalir dan menetes pun, Raysa sedikit pun tak melirik kearahnya. Benarkah tak ada celah untuk dirinya mengambil hati Raysa? jangankan hati, perhatian dari Raysa pun Fatih tak mendapatkannya.
Fatih sudah kembali bergabung bersama yang lain, Ia juga menikmati hidangan yang tersaji, termasuk sosis bakar kesukaannya.
Lihatkan, tak ada yang perhatian dengan tangan Fatih, tak ada yang menyadari jika tangannya saat ini terluka. Tak masalah, yang penting buat Fatih adalah melihat senyum Raysa. Senyum dan tawa yang mengembang seperti saat ini. Senyuman yang entah kapan Raysa berikan untuknya.
Entah lah, Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Malam kian larut, satu persatu para tamu sudah pulang, termasuk Farhan yang harus kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, agar bisa membawa Raysa dan teman-teman berlibur, merayakan kelulusan mereka. Apalagi tadi Daddy Bara sudah memberikan lampu hijau, walaupun dengan wajah yang sedikit terpaksa.
Tinggallah Fatih, Lana, Veer, Ibra dan Zein yang membersihkan sisa-sisa di taman belakang.
" Eeh.."
Fatih terkejut saat Raysa menarik lengan nya, dan membawanya duduk di dapur. Tepatnya di kursi makan.
Fatih masih memperhatikan pergerakan Raysa, yang ternyata sedang mengambil kotak P3K. Senyum Fatih pun mengembang saat mengetahui jika Raysa ingin mengobatinya.
" Ck, kalo tau luka kenapa gak di obati sih?" Gerutu Raysa kesal.
" Udah, lagian juga gak parah."
" Ya gak parah menurut kamu, gimana kalo sampai infeksi?" Kesal Raysa.
Fatih hanya tersenyum menanggapi kekesalan Raysa.
" Kenapa senyum-senyum?"
" Aku suka, lihat kamu khawatir seperti ini dengan ku. Aku rela mendapatkan luka yang banyak, agar mendapatkan perhatian dari mu.
" Gak usah ngada-ngada deh, "
Raysa terus membersihkan goresan luka Yang ada di telapak tangan Fatih. Walaupun mulutnya terus menggerutu, yang penting bagi Fatih adalah mendapatkan perhatian dari Raysa.
katakanlah Fatih bodoh, tapi bukankah cinta memang membuat orang berbuat hal yang tak terduga?
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....