Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 88


__ADS_3

“Aku, aku bersedia menikahi kamu.”


 Tissa menoleh kearah Farhan dengan tatapan yang tak bisa di baca. Kemudian Tissa tersenyum miring, dengan dengusan halusan keluar dari mulutnya.


 “Aku tau kamu hanya menghiburku. Terima kasih untuk itu, tapi aku tak perlu di kasihani.”


 “Aku serius, aku mencintai.”


 “Farhan, aku mohon. Saat ini aku benar-benar tak butuh untuk di kasihani atau pun di hibur. Lagi  pula, ucapan mu itu sungguh membuat aku tersinggung.”


 Tissa bersiap membuka pintu mobil, namun Farhan menahan pergerakan Tissa.


 “Farhan, apa yang kamu lakukan—hmmpppt.”


 Farhan langsung membungkam bibir Tissa dengan ciumannya. Tissa mencoba mendorong tubuh Farhan dan juga memukul punggungnya, namun Farhan masih saja terus mencium bibirnya dengan ganas.


 “Far—hmmppt.”


 Sial, gara-gara Tissa membuka mulutnya untuk menghentikan Farhan. Malah dirinya harus merasakan hangatnya lidah Farhan di dalam mulutny yang sedang mengajak main lidahnya. Tissa menutup matanya rapat-rapat dan mencari celah agar bisa menghentikan aksi Fathan, dan—


“Akh ....” Farhan meringis di saat bibirnya di gigit kuat oleh Tissa.


Dengan cepat, Tissa membuka pintu dan berlari sekencang yang ia bisa agar Farhan tak bisa mengerjarnya. Beruntungnya mobil Tissa tak terparkir jauh dari mobil Farhan.


 “Tissa, tunggu ... Aku serius dengan apa yang aku ucapkan.” Teriak Farhan dan mengetuk pintu kaca mobil Tissa.


 Untungnya Tissa dengan cepat mengunci pintunya dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. Tissa langsung menekan pedal gas nya untuk pergi jauh dari Farhan. Ia tak peduli dengan Farhan yang terus mengejarnya.


 *


“Kak, aku pasti akan sangat merindukan kamu.”


“Benarkah? Aku juga pasti akan merindukan kamu, terutama masakan kamu. Pokoknya kalian harus sering-sering telfon aku.”


“Tentu.” Raysa memeluk Tissa yang sudah di anggapnya sebagai sahabatnya.


Tissa dan Raysa sama-sama terkejut saat Fatih memeluk mereka berdua.


“Dasar pria genit, sangat pintar mengambil kesempatan,” gerutu Tissa.


 Fatih terkekeh. “Jika aku memelukmu langsung, aku takut jika calon istri ku ini akan cemburu. Aku tak ingin membuatnya cemburu.”


“Ya ... ya ... ya ... yang penting ada alasan.”


 Suara pengumuman pun mengalihkan perhatian mereka bertiga.


“Panggilan untuk pesawat ku, Aku rasa sudah waktunya kita berpisah.” Tissa kembali memeluk Raysa dan  bersalaman dengan Fatih.


Tissa menggeret kopernya dan melambaikan tangannya.


“Hmm, andai saja ka Tissa dan kak Farhan bisa bersama.” Lirih Raysa yang masih di dengar oleh Fatih.


 Fatih merangkul pujaan hatinya. “Kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka berdua.”


 “Amin,”


“Habis ini mau kemana?”


 Raysa cukup mengalihkan perhatiannya untuk menatap sebuah toko roti yang mengeluarkan aroma kopi tersebut.


“Baiklah tuan putri, ayo kita ke sana.”


 *


Farhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju galeri milik Tissa. Dengan terburu-bur Farhan turun dari mobil dan berlari memasuki galeri tersebut.


“Maaf Pak, Buk Tissa nya tidak ada di tempat.”


“Kemana dia?”

__ADS_1


“Buk Tissa sudah berangkat ke Jakarta.”


 “Apa?”


 “Ya, Buk Tissa berangkat ke-Jakarta, dan jika tidak ada halangan, hari ini adalah keberangkatannya ke Paris.”


“Apa? Paris? Bukankah seharusnya minggu depan keberangkatannya?”


 “Kalo itu saya kurang tau, Pak.”


 Farhan merasa tubuhnya terasa lemas. Ia tak menyangka jika Tissa membohonginya tentang keberangkatannya. Dengan lunglai Farhan kembali ke dalam mobilnya, ia menatap kosong ke depan.


“Aku gak nyangka kamu menghindari aku, Sa. Padahal aku benar-benar serius dengan perasaanku kepada kamu, Sa. Aku benar-benar jatuh cinta dengan kamu. Aku gak peduli kamu bisa mengandung keturunan ku atau tidak, yang aku mau cuma kamu. Cuma kamu, Sa. Tak bisakah percaya kepadaku?”


 *


Semenjak lamaran sah Fatih datang dan juga untuk menentukan tanggal pernikahan mereka. Mami Ara pun di sibukan dengan membuat gaun pengantin untuk Raysa dan juga Farhan. Belum lagi baju seragam yang akan di pakai oleh kedua keluarga, termasuk bridesmaid yang akan menjadi pendamping pengantin perempuannya nanti.


 “Mi, baju nikahnya jangan terlalu nyesek kayak baju lamaran kemarin ya. Ica malu terlalu membentuk di bagian dadanya. Mana dada ica kecil lagi. Kan malu.” Raysa mengerucutkan bibirnya.


“Lah, namanya juga kebaya, Ca. Ya kudu ketat dong.”


“Ayo lah Mi, bisa ya jangan di buat ketat. Kalo bisa jangan kebaya, kan banyak tu yang baju nikahnya bukan kebaya, tapi kaya gaun-gaun gamis gitu Mi.”


“Hmm, model gini?” Mami Ara menunjukkan sebuah gambar yang ada di dalam majalah desaigner nya.


 “Iya Mi, bisa kan? Tapi warnanya jangan putih, Ica maunya coklat susu gitu, Mi.”


“Bisa dong. Terus, waktu resepsinya mau yang gimana?”


 “Emm, gaun ala princess gitu Mi. Yang kembang terus ada kerlap kerlipnya gitu. Warnanya baby blue gitu Mi, kayak cinderella gitu modelnya. ”


 “Iya, terus apa lagi yang Ica mau?”


Melihat Raysa yang begitu semangat dengan pernikahannya, Bunda Sasa dan Mami Mili pun tersenyum melihat berapa antusiasnya Raysa, sehingga membuat Mami Ara pun harus di sibukkan dengan pesanan Raysa. Untungnya pernikahan Raysa tiga bulan lagi, tidak seperti pesta pernikahan Quin dan Anggel yang benar-benar super kepepet. Untungnya Mami Ara sudah menyiapkan sebelumnya gaun pesta untuk Quin dan Anggel


“Udah? Ada lagiyang Ica mau?” Tanya Mami Mili.


“Emm, kalo untuk gaun, udah cukup sih Mi. Gak ada yang perlu di tambahi lagi.”


 “Ya udah, kalo konsep saat resepsinya gimana?”  tanya Bunda Sasa.


“Emm, Ica mau yang sederhana tapi berkesan aja gitu Mi.”


 “Gimana kalo untuk resepsi nya Mami dan Bunda aja yang milihin. Lagian Ica pasti capek kan harus bolak balik Bandung-Jakarta.”


“Iya juga sih, ya udah deh, Ica serahin aja sama Mami dan Bunda.”


 “Gitu dong, jadi tugas kamu cuma perlu perawatann aja.”


 “Iya Mi, Bun.”


*


Setelah seharian berada di butik Mami Ara, Bunda Sasa, Mami Mili, Raysa, dan Fatih kembali ke rumah masing-masing. Fatih rencananya akan mengantarkan Raysa ke Bandung, sekalian ada hal yang harus Fatih kerjakan di sana.


 “Bunda, Daddy, Ica balik dulu ya ke Bandung.” Raysa mencium punggung tangan Bunda Sasa dan Daddy bara bergantian.


“Iya, jangan lupa kasih kabar kalo udah sampai.”


 “Fatih berangkat ya Bun, Dad.”


 “Hati-hati nyetirnya tu.”


Fatih dan Raysa pun mendatangi Opa Roy dan Oma Shella yang berada di ruang keluarga.


 “Opa, Oma, Ica pamit balik ke Bandung ya.”


“Fatih juga, sekalian antar layca.”

__ADS_1


“Hati-hati di jalan, pelan-pelan aja bawa motornya.” Nasehat Opa Roy.


“Iya Opa.”


Seteleh melambaikan tangan kepada Bunda Sasa, Daddy Bara, Opa Roy, Oma Shella, dan juga Rayyan, Fatih pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Hmm ..” Bunda Sasa menghela napasnya saat mobil yang di kendarai oleh Fatih sudah tak terlihat lagi.


“Mungil, kenapa?” tanya Daddy Bara yang melihat ada kesedihan di wajah Bunda Sasa.


“Gak papa, Cuma gak nyangka aja kalo Ica udah mau nikah. Sebentar lagi dia udah bakal jadi istri orang.”


“Ica tetap lah putri kita, apapun statusnya nanti.”


 *


Sudah sebulan persiapan pernikahan Raysa dan Fatih berlangsung. Bunda Sasa juga banyak di sibukkan untuk membeli segala keperluan pernikahan Rasya dan Fatih bersama Mami Mili. Namun, Mami Mili yang memang lebih lemah fisiknya dari Bunda Sasa pun harus mendapatkan cairan Infus karena terlalu kelelahan.


Fatih sudah mengingatkan kepada Bunda Sasa dan Mami Mili untuk menjaga kesehatannya. Dan masalah dekor dan makanan, biarkan pihak WO yang mengatur semuanya. Namun yang namanya orangtua, pasti tidak ingin ada yang kurang di pernikahan anak mereka, maka dari itu Bunda Sasa dan Mami Mili ikut turun tangan melihat


langsung segala persiapannya.


 “Bunda, ini vitamin tadi Fatih beliin. Minta di resepin dengan Lucas.”


 “Makasih ya sayang.” Bunda Sasa mengecup kening Fatih dengan sayang.


“Pokoknya Bunda sama Mami gak boleh capek-capek lagi. Cukup Mami deh yang Fatih lihat di infus gara-gara kelelahan mempersiapkan pernikahan Fatih dan Layca. Jangan Bunda juga ikut-ikutan di infus.”


 “Iya sayang, tapi Bunda tuh pingin lihat sendiri bagaimana persiapannya.”


“Bunda, ingat Layca deh yang sendirian di sana. Mana Tissa lagi gak di sana, untung ada Nanda yang temani Layca. Saat mendengar Mami sakit aja, Layca udah mau kembali ke sini, tapi untungnya Fatih bisa membujuk Layca buat gak menyusul kesini. Kalo Layca tau Bunda juga ikutan sakit, Bunda tau sendiri gimana keras


kepalanya Layca kan?”


“Hmm, Iya, Bunda janji bakal jaga kesehatan.”


 “Makasih Bun, pokokny Bunda harus sehat-sehat terus.” Fatih memeluk Bunda Sasa dengan sayang.


“Loh, apa nih peluk-peluk istri Daddy?” ujar Daddy Bara yang cemuruannya gak jelas.


“Daddy sirik aja deh.” Gerutu Fatih di saat Daddy Bara langsung memaksa duduk di anntara Bunda Sasa dan Fatih.


 Dengan wajah polosnya pun Daddy Bara merangkul Bunda Sasa dan menciumnya.


“Lihat aja, kalo Fatih udah sah jadi suami Layca, Fatih juga bakal tiru apa yang Daddy kasih lihat sekarang.”


“Awas aja kalo berani.”


 “Kalo bukan Fatih, palingan layca yang nyosor Fatih.”


 Daddy Bara langsung mendaratkan jitakan di kening fatih, yang mana membuat Fatih meringis kesakita.


Ngomong-ngomong soal Nanda. Momol sudah mempertemukan Nanda dengan kedua orang tuanya. Yang


mana apa yang Nanda takutkan malah tidak terjadi. Orang tua Momol langsung menerima Nanda dengan tangan terbuka, sebelumnya Momol sudah mengatakan jika Nanda hanya gadis biasa yang mencuri hatinya. Momol juga mengatakan jika Nanda berasal dari kalangan yang berbeda kasta denagn mereka, dan kedua orang tua Momol


tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Yang pasti, gadis yang di nikai oleh Momol haruslah gadis baik-baik dan dari keluarga yang baik. Bukan berarti harus dari keluarga yang kaya, melainkan keluarga yang tak keluar dari jalur ranah hukum. Kalian ngertikan maksdunya ...


 Jadi intinya, Momol berhasil membuat kedua orang tuanya itu bertemu dengan Nanda dan menerima Nanda untuk menjadi menantunya. Nanda pun akhirnya menepati janjinya untuk menerima lamaran Momol. Ah, betapa bahagianya hidup Momol di saat Nanda menerima lamarannya.


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.


Jangan lupa like and komen.


 Salam Sayang dari FATIH n RAYSA.


Salam Rindu dari FARHAN n TISSA

__ADS_1


__ADS_2