Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 77 " Kencan buta"


__ADS_3

Perlahan mata Bara terbuka. Aroma yang pertama kali di ciumnya adalah bau obat-obatan.


" Kamu sudah sadar sayang?"


" Mi.."


Bara mencoba duduk sambil memegang kepalanya. Mami Shella membantu Bara untuk duduk.


" Bara kenapa Mi?"


" Maag kamu kumat. Makan apa sih kamu sampai begitu?" Kesal Mami Shella.


Pasalnya kemarin mereka baru saja makan enak di kediaman Moza. Tapi ternyata si Bra api ini malah tidak menyentuh makanan apapun. Bagaimana maagnya tidak kumat!.


" Buka mulutnya" Mami Shella menyodorkan sesendok bubur.


" Nanti aja Mi. Bara gak lapar."


" Buka mulut atau jika Sasa kembali Maminakan mengusir dia."


" Mi..."


" Semua ini gara-gara Sasa. Kamu sampai seperti ini karena mikirin Sasa." Kesal Mami Shella.


" Jangan salahi Sasa Mi. Dia gak tau apa-apa"


" Pokoknya kalo kamu masih tidak memperhatikan diri kamu, maka Mami selamanya tidak akan memaafkan Sasa."


" Jangan Mi. Dosa loh kalo gak maafin orang."


" Bara, Mami serius. Mami lagi gak becanda yaa.."


" Iyaa, Bara makan. Tapi Mami jangan Marah dengan Sasa ya.."


" Kita liat aja nanti. Kalo kamu masih seperti ini, Maka Mami akan marah semarah-marahnya dengan Sasa."


Bara menghela napasnya. Karena dirinya, Sasa jadi kena marah dengan Mami. Tapi, di mana kamu Mungil?.


Di tempat lain, Sasa tengah memandang foto Bara di ponselnya.


" Udah bangun?" Suara bariton itu mengejutkan Sasa.


" Eehh, kamu siapa?"


" Kenalkan. Nama aku Riko." Riko mengulurkan tangannya.


Sasa hanya memandang tangan Riko. Riko tersenyum miring, Riko menarik kembali tangannya.


" Bagaimana saya bisa di sini?"


" Kamu gak ingat?"


Sasa menggelengkan kepalanya.


" Kemarin kamu terlalu sibuk melayani semua orang, hingga kamu tidak mengingat diri kamu sendiri untuk mengisi perut kamu." Riko menjeda ucapannya dan memandang wajah Sasa yang terlihat masih menunggu kelanjutan bicaranya.


" Kamu tiba-tiba jatuh pingsan, dan kebetulan aku berada di dekat kamu. Jadi aku langsung membawa kamu ke klinik."


" Sebaiknya kamu makan, kalo tidak maag kamu akan semakin parah."


" Maag??"


" Hmm, kamu sepertinya beberapa hari tidak makan, jadi kamu sekarang mengidaonoenyakit maag"


Sasa menghela napasnya kasar. Fikirannya penuh dengan Bara, sehingga selera makannya pun tidak ada.


" Aa"


" Saya bisa makan sendiri" Sasa meraih mangkok dan sendok yang ada di tangan Riko.

__ADS_1


" Kamu salah satu Donatur di panti?" Sasa akhirnya membuka suara setelah satu jam di landa kesunyian di antara dirinya dan Riko.


" Bukan aku, tapi Mama."


Sasa ber-o ria. " Kamu sebaiknya pulang, saya bisa sendiri"


" Oh yaa? Setelah apa yang aku lakukan kepada kamu, kamu menyuruhku pulang?"


Sasa mengernyitkan keningnya. " Terima kasih atas bantuannya. Sebaiknya kamu pulang saja."


" Waaah, baru beberapa detik kamu sudah mengusirku dua kali."


" Saya bukan mengusir, tapi saya tidak nyaman berada didekat orang yang tidak saya kenal."


" Bukannya aku tadi sudah memperkenalkan diri ku? Nama ku Riko."


" Sasa"


" Baik lah, Sekarang kita sudah saling kenal. Jadi, tidak ada salahnya kan jika aku menemani mu?"


Sasa memicit keningnya yang terasa pusing. Pria yang di hadapannya ini benar-benar keras kepala. Sama seperti---- Ah, ingat lagi kan.


" Terserah kamus aja, saya mau tidur" Sasa merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut.


" Hei, apa kamu bisa bernapas jika tertutup semua begitu?"


" Hmmm" Sasa hanya bergumam karena tidak ingin pria yang bernama Riko ini mengetahui jika dirinya sedang menangis.


Mami Shella memaksa Bara untuk pulang kerumah. Setelah melakukan perdebatan yang rumit, akhirnya Bara mengalah.


Sudah dua Minggu sejak Bara keluar dari rumah sakit. Bara pun sudah menyiapkan segala hal yang di perlukan untuk membuka Usaha jasa titipan kilat. Arka juga ikut andil dalam usaha Bara. Hari-hari Bara pun di hiasi dengan Kantor polisi, Olah TKP, Usaha titipan kilat yang di beri nama 'Sabar Exprees' ,Rumah, dan aparatemen.


Waktu terus berlalu, Kabar tentang Sasa pun belum juga di dengar. Kandung Kesya sudah memasuki bulan ke 8. Kesya di sarankan untuk banyak bergerak jika ingin melahirkan normal. Untuk itu Kesya lebih memilih bergerak mondar mandir, di rumah maupun di toko. Seperti saat ini, Kesya bergerak mondar mandir, hingga Mami Shella mengintruksi Kesya untuk duduk dan beristirahat.


" Jangan terlalu di paksain kalo capek Key"


" Key, Mami mau tanya pendapat kamu"


" Apa itu Mi?"


" Kalo seandainya Mami ingin menjodohkan Bara dengan anak teman Mami. Menurut kamu gimana?"


Kesya menghentikan gerakannya yang tengah memasukkan buah segar.


" Mami yakin?"


" Hhmm... Mami sih gak yakin, cuma Sudah beberapa bulan ini kita tidak mendapatkan kabar dari Sasa. Mami khawatir dengan Bara yang terlalu sibuk dengan dunianya. Hingga tidak memikirkan kesehatan dirinya bahkan masa depannya. Jadi Mami ingin memperkenalkan anak teman Mami dengannya. Yaa, mana tau Bara bisa Move on gitu"


" Hmm, menurut Key sih itu bukan ide bagus sih Mi. Mami tau sendiri gimana Mas Bara kalo udah bucin. Sampai kapan pun tetap akan menunggu."


" Hah., iya sih.. tapi gak ada salahnya kan untuk di coba?"


Kesya tidak bisa mengatakan apapun. Sebenarnya sifat keras kepala Bara, dan Vina ini di turun kan oleh Mami Shella. Jika sudah mentok dengan keinginannya, Mami Shella akan mencobanya sampai mendapatkan hasil.


" Ayo lah Bar, cukup kamu jumpai aja dulu. Mana tau kamu bisa move on dari Sasa."


" Mi, Bara gak ada waktu. Bara sibuk Mi."


" Jika Sasa kembali, apa kamu akan tetap sibuk?"


" Sasa beda Mi."


" Ayoo laah, Mami udah janji dengan temen Mami. Hanya temenin makan malam aja. Ya...yaa..yaa.. selanjutnya terserah kamu."


" Hah, cuma makan malam yaa. Jangan paksa Bara untuk menjalin hal yang lebih."


" Tergantung."


" Mi.."

__ADS_1


" Cuma makan malam."


"Baik lah, dimana?"


Mami Shella pun memberikan lokasi di mana Bara akan bertemu dengan anak dari temannya.


" Maaf menunggu lama"


Wanita cantik itu duduk dengan anggun di hadapan Bara. Bara hanya tersenyum tipis menanggapinya.


'Aakhh, jadi model begini pilihan Mami!' Bara menbantin melihat penampilan wanita yang berada di hadapannya.


Baju dengan rok mini, dan belahan dada yang rendah. Yaaa, walaupun berlengan panjang, tapi tetap saja memamerkan aset kembar nya. Bara tidak suka. Sejelek-jeleknya sifat Lia, setidaknya Lia tidak pernah memakai pakaian kurang bahan begitu.


" Sudah pesan?" Tanya wanita itu.


" Belum"


" Baiklah, eem...mau pesan apa?" Tanya wanita itu tanpa melihat kearah Bara dan masih membalik-balikkan menu.


" Terserah" Jawab Bara malas.


" Okeeyy" Wanita itu memanggil waiters dan memesan beberapa menu makanan.


" Perkenalkan, nama saya Silvia" Wanita seksi yang bernama Silvia itu pun memperkenalkan dirinya.


" Bara."


" Aku suka pria yang dingin dan jual mahal seperti kamu. Aku rasa kamu sangat cocok dengan aku"


" Oh yaa, tapi sayangnya kamu bukan tipe aku."


" Saat ini mungkin belum, tapi lain kali pasti kamu tidak akan bisa jauh dari aku."


Bara rasanya ingin muntah mendengat ucapan wanita bernama Silvia itu.


" Permisi, saya harus ke toilet." Ujar Bara.


" Silahkan."


Makanan sudah tersedia di atas meja, akan tetapi Bara belum juga kembali. Waktu terus berjalan, sudah 45 menit Bara Bara juga belum muncul.


" Brengsek" Umpat Silvia.


Silvia siap berdiri, namun suara bariton yang membuatnya kesal kembali terdengar.


" Maaf membuat mu menunggu lama. Aku sakit perut, jadi aku tadi mencret." Bara dengan santainya duduk dikursi.


" Haah, benar-benar lega. kamu tau, toilet di sini tidak menyediakan sabun. Jadi aku menggunakan tisu yang ada. Hah, untung saja baunya tidak nempel." Ujar Bara sambil menunjukkan tangan kiri nya.


Silvia sudah membuat mimik jijik dengan ucapan Bara. Silvia merasa ilfil dengan Bara.


" Sebaiknya aku pergi, selera makan ku pun sudah menguap entah kemana. Permisi" Silvia dengan langkah cepat meninggalkan Bara.


Bara tersenyum senang. " Ha..ha..ha.. tidak semudah itu Esmeralda untuk menggoda ku." Gumam Bara.


Bara memanggil waiters dan menyurh membungkus semua makanan yang ada. Bara memang tidak berselera makan. Di jalan nanti dia akan memberikan makanan itu kepada pengemis jalanan.


Masalah Silvia selesai, tinggal masalah selanjutnya, Mami Shella.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..


salam SaBar ( Sasa Bara)

__ADS_1


__ADS_2