Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 87 " Mimpi??"


__ADS_3

Bara membuka matanya. Malam ini tidurnya sedikit nyenyak, namun ada rasa takut dan khawatir jika apa yang terjadi hari ini adalah mimpi, dan ketika dia terbangun maka Sasa sudah tidak ada lagi di sampingnya.


Bara mengerjap-ngerjapkan matanya, meneliti keseluruhan ruangan kamarnya.


" Masa sih mimpi? tapi kok nyata banget? gak mungkin mimpi." Monolog Bara.


Bara menyikap selimutnya dan mencari Sasa di kamar mandi.


" Sehalu itu kah aku?"


Tubuh Bara seakan lemas saat fikirannya mengatakan jika dirinya menikah dengan Sasa hanyalah khayalannya. Bara terduduk lemas di depan kamar mandi.


Ceklek..


Perlahan Bara menolehkan kepalanya kearah pintu kamar yang terbuka.


" Maas.."


Sasa meletakkan teh hangat yang sudah di campur dengan irisan jahe di atas meja rias. Sasa berlari kearah Bara yang masih menatapnya dengan terkejut.


" Mas, kamu kenapa? Kamu jatuh? Ada yang sakit? Mana yang sakit?" Sasa memborbardir Bara dengan pertanyaan. Tangannya menyentuh wajah Bara, dan meraba keseluruh tubuh Bara untuk mengecek apa ada yang terluka.


Bara menghentikan tangan Sasa yang terus menjelajah tubuhnya, dan menggenggam dengan lembut jemari Sasa.


" Mungil, kamu nyata? Kamu benar-benar nyata?"


" Mas, kamu kenapa? "


" Kamu? " Bara lihat kearah jari manis Sasa. Ada cincin yang Bara pakaikan di sana saat mereka menikah.


" Kamu sungguh Sasa, mungilku? Kamu beneran istri aku?"


Sasa menganggukkan kepalanya. " Iya Mas. Aku Sasa, mungil nya kamu. Dan aku juga udah jadi istri kamu Mas."


Bara memeluk tubh Sasa. Air mata Bara kembali jatuh. "Alhamdulillah, aku kira semua hanya mimpi. Mungil, jangan pernah tinggalin aku lagi.."


Sasa merelaikan pelukannya, di tangkupnya wajah Bara. " Gak akan. Aku gaka kan pernah pergi lagi dari hidup kamu Mas. Apapun yang terjadi."


Sasa memeluk tubuh Bara, kemudian mencium kening Bara. Sasa tersenyum sangat manis.


" Mungil" Bara menghentikan pergerakan Sasa yang ingin berdiri.


" hmm."


Bara memonyongkan bibir nya. Sasa yang melihat itu mengerutkan keningnya tidak mengerti.


" Kenapa bibirnya Mas?" Tanya Sasa panik.


Bara mencebikkan bibirnya, gemes karena mungilnya tidak mengerti maksud Bara. Sasa membelalakkan matanya saat Bara mencium bibirnya.


" Itu maksudnya mungil" Bara menghapus jejak Saliva di bibir Sasa.


" Iihh.., jorok banget sih kamu Mas. Belum cuci muka, sikat gigi, udah main cium-cium aja."


" Kamu suka kan?" Bara menaik turunkan alisnya.


" Biasa aja tuh." Sasa berdiri dan menjauh dari Bara.


"Biasa aja?" Beo Bara.


Bara mengejar Sasa dan memeluk Sasa dari belakang, serta mengangkatbtubuj Sasa dan menjatuhkannya di atas tempat tidur..


" Aaa.... Maass.."


Bara mengukung Sasa, mengunci kedua tangan Sasa di atas kepalanya.


" Bilang apa tadi? Biasa aja?" Bara menciumi wajah Sasa.

__ADS_1


" Ha..ha.. Mas, geli Mas.. Haa.. Ha..Ampun.. Udah.. aduh.. Mas, gelii.. haa..ha.."


" Bukannya biasa aja? Kenapa kegelian?"


Bara terus menciumi seluruh wajah Sasa, hingga lehernya. Namun saat Sasa merasa kuncian di tangannya sedikit mengendor, Sasa membalikkan tubuh Bara dan duduk di atasnya. Gantian Sasa yang mengunci pergerakan Bara.


"Mungill" Geram Bara dengan suara seraknya.


Sasa mendekatkan wajahnya dan menciumi bibir Bara.


" Ciuman kamu masih sama seperti dulu, yang Biasa membuat jantung aku selalu berdetak cepat." Bisik Sasa didepan wajah Bara.


Bara tersenyum, di tekannya punggung Sasa agar tubuh Sasa menempel di dadanya, saat tangannya sudah di lepas oleh Sasa. Tangan Bara terulur membelai pipi Sasa, dan mendekatkan wajah Sasa ke wajahnya, hingga bibir mereka bertemu..


Tok..tok..tok..


"Bara, kamu gak ke mesjid?"


Suara Daddy Roy menggagalkan aksi Bara yang ingin bermesraan dengan Mungilnya.


" Iya Dad, ini Bara lagi siap-siap"


Bara mengecup bibir Sasa singkat dan menurunkan Sasa dari atas tubuhnya.


"Kita lanjuti lagi nanti ya Mungil."


Bara melangkah ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya secepat kilat. Tidak ingin membuat Daddy nya menunggu terlalu lama.


Sementara itu, Sasa menyiapkan baju Koko dan kain sarung serta peci untuk Bara. Sasa tersenyum saat mengingat jika dirinya sudah menjadi seorang istri. Istri Dari Bara, orang yang sangat di cintainya.


" Makasih sayang." Bara memeluk Sasa dari belakang.


" Batal loh wudhunya Mas."


" Bisa ambil lagi nanti. " Bara mencium kening Sasa sebelum pergi.


" Ini buat aku?" Bara menunjuk keatas cangkir yang berisi teh hangat beririsan jahe di atas meja rias.


" Makasih ya Mungil" Bara meneguk teh buatan Sasa.


Bara kembali mencium kening Sasa sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sasa di kamar.


Sasa keluar dari kamar dan menuju dapur membawa cangkir bekas minum Bara tadi, dan mencucinya.


" Sa, kamu kalo masih ngantuk tidur aja lagi."


" Mami, gak kok Mi. Sa gak ngantuk." Namun ucapan dan bahasa tubuh Sasa tidak sejalan. Sasa terus menguap sedari dia mencuci bekas cangkir teh Bara tadi.


" Udah, wajah kamu itu terlihat lelahnya. Kamu gak tidur ya semalaman?"


" Mami kok tau?"


" Mata kamu sedikit sembab, terus terlihat lelah dan ada kantung matanya."


" Sejelas itu ya Mi?" Sasa kembali menguap, terapi dia menahannya.


" Udah sana, tidur aja lagi."


" Tapi Mami sendirian masaknya. Sa bantuin yaa.."


" Udah, kamu tidur aja lagi sama. Mami gak mau di salahi Bara gara-gara kamu bantu Mami, eh tangan kamu malah terpotong karena ngantuk. Tidur aja lagi.. Udah, gak pa-pa. Kan sekali-kali, gak tiap hari juga." Mami Shella mendorong tubuh Sasa hingga sampai ke depan pintu kamarnya.


" Mami serius?"


"Iyaa, udah sana tidur."


" Makasih ya Mi, udah pengertian" Sasa memeluk Mami Shella.

__ADS_1


" Sama-sama sayang" Mami Shella mengelus punggung Sasa.


Sasa masuk kedalam kamar, rasa kantuknya semakin menjadi-jadi hingga Sasa langsung terlelap saat tubuhnya mendarat di atas tempat tidur yang empuk.


" Sasa mana Mi?"


" Sepertinya dia kelelahan dan tidak tidur semalaman, jadi Mami suruh dia istirahat aja."


Daddy Roy menganggukkan kepalanya.


" Bara ke kamar ya Mi, Dad."


" Duuh, yang gak mau jauh-jauh" Goda Daddy Roy.


" Daddy dulu juga gitu. Nempel terus sama Mami."


" Sekarang juga masih nempel." Daddy Roy memeluk tubuh Mami Shella dari belakang.


" Dasar Opa-opa, gak mau apa di lihat Kiki."


" Kiki udah tutup Mata mi. Kiki gak liat. Kiki ke kamar aja deh, dari pada mata Kiki ternodai." Kiki berjalan cepat sambil menutup matanya dengan tangannya.


" Anak pintar, ngerti situasi dia."


" Dasar mesum." Gerutu Mami Shella sambil menyikut perut Daddy Roy yang masih terasa keras dan rata, jika di raba masih terasa otot kotak-kotaknya walaupun umurnya sudah terbilang tidak muda lagi.


Bara memandang wajah Sasa yang tertidur lelap bagaikan bayi. Bara tersenyum, dalam hati dia sangat bersyukur kepada Allah karena Sasa telah kembali, apalagi sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan.


"Eeumm" Sasa merasa tubuhnya susah bergerak, seperti ada yang menimpa dirinya. Perlahan Sasa membuka matanya, dan pertama kali yang di lihatnha adalah dada tanjang Bara.


Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya, Bayangan milik Bara kembali hinggap di dalam kepalanya. Sasa memukul-mukul pelan kepalanya sambil mengumpati dirinya. Pergerakan Sasa terhenti karena Bara menahan tangan Sasa yang terus memukul kepalanya.


" Mas"


" Kamu kenapa? Kok mukul-mukul kepala?"


" Eemm, itu aku.."


" Kepalanya pusing?"


" Eh, iya.. Pusing, " Jawab Sasa terbata.


" Pusing kenapa?"


" Eem, mungkin karena aku semalam gak bisa tidur?"


" Kenapa?"


" Eemm, itu .. "


" Karena mikirkn junior aku yang besar?" Ujar Bara pede.


" Junior?" Beo Sasa.


Bara menunjuk kearah miliknya dengan matanya. Seketika Sasa langsung sadar jika di bawah sana ada sesuatu yang mengganjal di perutnya. Sesuatu yang keras tapi.. Ah, sudahlah.. Nilai saja sendiri bagaimana..


Sasa menelan ludahnya kasar.


" Dia terbangun, apa kamu mau membantu menidurkannya lagi?"


" Mass.." Sasa terkesiap saat Bara sudah menciumi bibirnya.


Sasa hanya bisa pasrah menerima kemesuman Bara. Sepertinya suaminya ini memang sangat mesum. Dan Sasa harus terbiasa menerima kemesuman Bara mulai dari sekarang.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2