Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 86


__ADS_3

Bunda Sasa sudah menyiapkan hidangan untuk calon besan yang akan datang melamar Raysa. Pastinya ada semur jengkol kesukaan sang besan, besan pria maksudnya, he ..he ..he ...Dan ada juga sate kerang kesukaan besan wanitanya. Emm, sebenarnya kedua nya suka sih, bukan hanya besan, tapi ya seluruh keluarganya.


Kursi yang ada di ruang tamu rudah di letakkan di halaman rumah, Ibra juga sudah membentangkan ambal yang lembut untuk alas duduk tamu mereka. Di sudut ruangan, meja makan di letakkan di sana untuk menata menu makanan yang akan tersedia.


Tak hanya Bunda Sasa yang heboh, Mama Kesya dan Mami Vina juga ikut heboh mmebantu memasak. Pastinya Mami Vina membantu memasak menu utama makanan. Sedangkan Mama Kesya mmebuat cake dan juga kue kering seperti risol dan bakwan, yang di bantu oleh Mami Ara.


Quin, Kayla, Anggel, dan juga Nafi sedang mendandani Raysa untuk tampil cantik di depan calon suaminya entar.


“Duh, gak nyangka kalo si bontot bakal kawin” seru Anggel yang merapikan riasan Raysa.


 “Iya, si Bontot udah gedek aja ternyata.” Sambung Kayla.


 Ya, Kayla dan Anggel selalu memanggil Raysa dengan panggilan Bontot. Karena dirinya lah yang paling kecil di antar Quin, Anggel, dan Kayla.


“Hmm, bakal di jamin makin klepek-klepek deh tu Abang Fatih.” Goda Quin yang mana membuat Raysa semakin merona.


“Sudah siap?” Bunda Sasa membuka sedikit pintu kamar Raysa dan melihat apa yang di lakukan oleh ibu-ibu hamil itu kepada anak gadisnya.


“Sudah Bun,”


“Bunda tenang aja, Ica gak bakal jelek kok di tangan kita.” Canda Quin.


 Bunda Sasa memandang sang putri dengan mata yang berkaca-kaca, sebentar lagi anak gadisnya ini akan menjadi seorang istri. Bunda Sasa mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Raysa berjalan mendekati Bunda Sasa dan menghapus air mata itu.


 “Bunda kok nangis sih?”


“Bunda nangis, karena Bunda gak nyangka aja, kalo Ica udah di lamar orang.”


 “Bunda, Ica tetap jadi anak Bunda kok.”


“Hah, Anak gadis Bunda yang cengeng dan keras kepala.” Bunda sasa mengelus wajah sang putri.


*


“Woow, tampan banget dah pake baju batik.” Goda Tissa yan ikut acara lamaran Fatih.


 Tissa berada di Jakarta bukan khusus untuk menghadiri acara lamaran yang akan menentukan tanggal pernikahan Raysa dan Fatih, melainkan juga karena besoknya Tissa akan berangkat ke Paris selama dua bulan.  Tissa akan kembali untuk menyiapkan lukisan untuk Fatih dan Raysa. Juga Tissa akan mengadakan aksi lukisnya dengan  cepat nanti di saat pesta pernikahan Fatih dan Raysa.


 “Deg-degkan gue.”


“Lagu lo, Cuma nentuin tanggal juga.”


“Ya elah, namanya juga hari penting.” Fatih terus mengusap Dada nya hingga Sang Mami memanggilnya karena mereka akan berangkat menuju rumah Bunda Sasa.


Sepanjang perjalanan Fatih sudah merasakan berdebar-debar, padahal ini baru saja acara lamaran, gimana kalo nikahan? Haduuh, bisa minta napas buatan takutnya.


Kepala komplek dan Pak RT sudah menyambut kedatangan dari pihak laki-laki. Papi Gilang pun menyalami tetua kampung tersebut.


“Mari-mari, masuk.”


Mami Mili yang menggandeng tangan Oma Laura pun membawa Oma Laura untuk duduk di atas kursi yang sudah di siapkan oleh tuan Rumah.


“Oma.” Sapa Anggel dan Quin sambil mencium punggung tangan Oma Laura.


 “Gimana kandungan kalian? Sehat?”

__ADS_1


 “Alhamdulillah Oma.”


Oma Laura pun mengusap perut Anggel dan Quin dengan sayang. “Sehat-sehat ya cicit Oma,”


 “Oma juga.” Jawab Quin dan Angel bersamaan.


“Ila mana?”


“Ila di kamar, temenin Ica.”


Seluruh keluarga Fatih pun sudah duduk di ruang tamu dengan beralaskan ambal bulu yang empuk. Perwakilan pak RT dari kampung Fatih pun membuka suaranya dengan mengucapkan salam untuk menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan mereka. Pak RT dari kampung Raysa pun menjawab salam dan menerima tujuan dan maksduk kedatangan mereka.


 “Jadi, untuk lebih lanjutnya mengenai tanggal pernikahannya, saya serahkan kembali kepada Pak Gilang dan Pak Bara, bagaimana baiknya untuk menentukan tanggal sesuai dengan keputusan nya.” Ujar Pak RT dari kampung Raysa.


Papi Gilang pun menarik napasnya di saat di suruh membicarakan tentang tanggal pernikahan anak sulung mereka.


“Jadi, Mas Bara ... Seperti yang di sampaikan oleh Pak RT, kedatangan saya dan keluarga untuk menetapkan tanggal pernikahan anak kita, bagaimana menurut Mas Bara?”


“Ya, saya setuju-setuju aja dek Gilang, Tanggal berapa pun yang penting setelah Raysa selesai masa Abdi nya.”


 “Menurut Mas Bara, apa sehari setelah Abdi Raysa selesai kita langsung kan pernikahannya?”


“Dek Gilang, apa itu tidak terlalu cepat?”


 “Seperti halnya Mas Bara dulu yang tak sabar untuk menikah dengan Mbak Sasa, begitupun anak saya, Fatih yang tak sabar untuk menikah dengan Raysa, anak Mas Bara.”


 “Anak Saya sih juga gak sabaran buat nikah sama anak Dek Gilang, saya juga heran sifatnya saya yang gak sabaran kok bisa nurun ke anak Saya.”


“Namanya juga buah gak jatuh dari pohonnya, Mas.”


 “Iya, Mas Bara beanr sekali. Jadi gimana Mas? Kalo soal gedung dan persiapan, biar kami yang mengurusnya.”


 “Anak saya juga yang nikah, saya yang akan mengurusnya.”


“Nikah terus buat acara tujuh hari tujuh malam.”


“Terlalu berlebihan, takutnya Raysa kelelahan, apa lagi saya yakin jika Nak Fatih gak akan sabar untuk melakukan itu.”


Blus ... wajah Fatih langsung memerah.


 “Saya rasa bukan hanya Fatih saja yang gak sabaran, tapi nak Raysa juga.”


 “Jadi, kita buat acara seharian aja.”


 “Tidak, tiga hari tiga malam.”


“Sehari aja, jadi mereka bisa langsung berangkat untuk berbulan madu.”


“Tiga hari tiga malam, Soal bulan madu sudah saya atur. Mau kemana? Keliling Eropa? Keliling Asia? Atau keliling Indonesia juga boleh.”


“Palingan juga ujung-ujungnya keliling kamar,” ujar Daddy Bara melirik kearah Fatih yang sedari tadi menunduk dan meilik ke arah Daddy Bara yang berdebat tentang hal yang sudah melenceng dari penentuan tanggal.


Perdebatan yang tak berfaedah itu pun berlangsung hampir 30 menit. Tanggal belum di pastikan namun para orang tua sudah berbicara mengenai pesta pernikahan dan juga bulan madu.Fatih menggaruk alisnya yang tak gatal, jika tak di hentikan maka ini akan berlanjut hingga sampai besok pagi. Karena Papi Gilang yang ingin menangung semua biayanya, namun Daddy Bara yang juga ingin menanggung semua biaya nya.


Papi Gilang yang meminta adat Minang, sedangkan Daddy Bara meminta adat betawi. Intinya tidak ada titik terang dalam perdebatan ini. Bahkan Mami Mili dan Bunda Sasa yang berusahan untuk menghentikan para suaminya dengan mengelus lengan suami mereka pun tak di gubris.

__ADS_1


“Papi, Daddy, Bisakah berhenti berdebat? Kita belum menemukan tanggalnya.” Ujar Fatih yang sudah tak tahan mendengar perdebatan tersebut dan juga tak enak dengan Pak RT dan beberapa tetangga dekat.


Kalo hanya keluarga besar saja sih, Fatih gak masalah. Mau berdebat sampai besok pagi juga gak masalah, yang penting tanggalnya sudah di kantongi.


Daddy Bara dan Papi Gilang pun serentak menoleh kearah Fatih, yang mana memang suaranya terdengar sangat lantang.


Daddy Bara pun tersenyum miring.”Kan bener, gak sabaran banget sih dek Gilang Anaknya.”


 Kayla keluar kamar dan tiba-tiba bertanya kapan Raysa bisa keluar?


“Duh Mas Bara, anak Mas Bara juga gak sabaran buat jadi mantu saya.”


Mami Mili dan Bunda Sasa pun menepuk kening mereka.  Suami-suaminya ini memang sungguh ajaib bin unik sekali.


“Jadi keputusannya tanggal berapa?” Tanya Opa Roy yang juga sudah mulai jengah dengan perdebatan Papi Gilang dan Daddy Bara yang tak menemukan titikk terang.


 “Jadi mau nya dek Gilang, sebaiknya kita nikahkan anak kita sehari setelah abdi nya selesai gitu?’


“Iya Mas Bara, lebih cepat lebih baik. Saya udah gak sabar mau momong cucu. Ingat umur yang makin tua.”


 “Iya, saya juga gak sabar. Hmm, tapi setelah nikah Raysa dan Fatih akan tinggal di sini.”


 “Tidak, sebaiknya istri mengikuti ke mana suaminya pergi.”


“Raysa anak perempuan saya satu-satunya.”


“Fatih anak laki saya satu-satunya.”


Fatih mengusap wajahnya dengan frustasi. Sedangkan yang lain sudah mengulum senyum melihat perdebatan yang sepertinya tidak ada habisnya.


“Baiklah Tuan Iqbal, sebaiknya kita saja yang menentukan tanggal pernikahan cucu-cucu kita.” Usul Opa Roy yang di setujui oleh kakek Iqbal, ayah dari Papi Gilang.


Setelah menimbang dan membahas tentang bulan baik, hari baik, dan tangga baik. Maka telah di putuskan jika  pernikahan Raysa dan Fatih jatuh pada tanggal 17 Oktober.


Raysa keluar dari kamarnya dengan menggunakan kebaya yang bawahannya serasi dengan baju batik yang Fatih kenakan. Fatih tak bisa berkedip melihat Raysa yang begitu cantik. Begitu pun dengan Raysa yang memandang Fatih tanpa berkedip, hingga Kayla dan Zein menyenggol bahu mereka.


Seluruh tamu pun di persilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia.


 “Woooww, Jengki ...” seru Papi Gilang saat melihat makanan kesukaannya itu.


 “Tidur di luar dan jangan coba-coba berani ngomong sama Mami.”


 Papi Gilang hanya tersenyum manis dan berbisik untuk membelikan Mami Mili tas keluaran terbaru. Mami Mili hanya tersenyum sekilas dan meninggalkan Papi Gilang.


“Oma...” Sapa Kayla dan mencium punggung tangan Oma Laura.


“Duh, Oma gak sabaran deh lihat cucu-cucu oma lahir.” Ujar Oma Laura dan mengelus perut Kayla.


Oma Laura memandang ke arah seluruh cucu, cicit, dan anak-anaknya. Seandainya Kakek Farel masih ada, pasti kakek akan sangat bahagia sekali melihat salah satu cucu nya menikah. Oma Laura menghapus air mata nya yang mengalir.


“Oma, jangan sedih. Kami di sini ada bersama Oma.”


Peluk Quin, Kayla, Anggel, Nafi dan juga Raysa.


**

__ADS_1


SALAM HANGAT DARI LAYCA DAN FATIH ....


__ADS_2