Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 138 " Kontraksi"


__ADS_3

Sasa ikut membantu Mami Shella menyiapkan beberapa cemilan untuk arisan di rumah. Kandungan Sasa pun menjadi topik utama bagi orang sekitar. Banyak yang mengatakan jika anak Sasa berjenis laki-laki, ada pula yang mengatakan perempuan.


Memang saat Sasa dan Bara mengecek kandungan dan ingin melihat jenis kelaminnya, sang bayi yang masih di dalan perut menutup kemalu*n nya dengan tangannya, hingga Anggun sulit untuk memprediksi jenis kelamin dari bayi Sasa dan Bara.


" Sa, anak kamu itu pasti cowok. lihat deh dari perut kamu yang membulat sempurna ini. "


Sasa hanya tersenyum menanggapi ucapan dari teman arisan sang Mami.


" Belum lagi leger kamu itam gini, udah deh.. ini pasti laki-laki. Percaya sama Tante."


Lagi, Sasa hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan dari teman sang Mami. Bagi Sasa dan Bara, apapun jenis kelamin anak mereka, bukanlah suatu masalah, yang penting bayi yang dalam kandungan Sasa lahir tanpa kurang satu apapun dan sehat. Serta bisa menjadi anak yang pintar dan Soleh ataupun Solehah.


" Iya Sa, pasti anak kamu ini laki-laki"


Lagi, teman Mami Shella yang lain ikut menebak jenis kelamin dari bayi yang sedang di kandung oles Sasa. Sasa dalam hati hanya mengaminkan apa yang di ucapkan oleh teman-teman Mami Shella, yang penting masih dalam kata-kata yang positif dan baik.


Sasa mengelus pinggangnya saat sedang mencuci beberapa piring kotor. Hanya sedikit, tidak banyak.


Sasa terkejut saat merasa sebuah tangan melingkar di perut besarnya. Tak biasanya Sasa tak menyadari kehadiran Bara, tapi akhir-akhir ini Sasa sering kelelahan dan sering tak menyadari kehadiran Bara. Di tambah lagi Sasa sering tertidur sambil nonton TV, tak biasanya ini terjadi.


Apa lagi saat Anggel mengatakan jika berhubungan intim saat hamil besar sangat di anjurkan Bara yang mesum langsung tersenyum lebar, dan senyum itu tak pudar hingga Bara kembali berangkat ke kantor setelah mengantar Sasa pulang. Bara yang mesumnya tinggat tinggi pun dengan senang menjamah tubuh Sasa dengan beralasan mengunjungi buah hati mereka dan itu sangat di anjurkan oleh dokter, Sasa senang memang, Karena sasa juga menginginkannya.


" Mas.."


" Kamu duduk aja ya, biar Mas yang cuci piringnya."


" cuma satu lagi, nanggung juga.."


Bara hanya menghela napas dan membiarkan Sasa menyelesaikan pekerjaannya. Bara langsung menarik lembut tubuh Sasa untuk duduk di sofa yang Bara beli khusus untuk Sasa, saat Sasa tengah hamil dan mengadu jika sering nyeri di bagian pinggangnya.


" Pegel?" tanya Bara lembut sambil mengelus pinggang Sasa lembut.


" Hmm..." Sasa memiringkan tubuhnya di sofa empuk itu, agar memudahkan Bara mengelus pinggangnya. Sasa memeluk guling yang memang disediakan Bara di sofa single, empuk, nyaman untuk ibu hamil dengan mata tertutup. Sentuhan Bara bagaikan obat bagi Sasa, dan juga penghantar tidurnya. Tak butuh waktu lama, Sasa terlelap dalam mimpi nya. Bara tau Sasa telah tertidur, tapi Bara tak berhenti mengelus pinggang Sasa, Bara mengelusnya sampai merasakan jika Sasa benar-benar terlelap dengan nyenyak, setelah itu Bara ikut meringkuk memeluk Sasa di sofa yang sama. Untungnya sofa yang di beli Sasa itu berukuran besar, dan muat untuk dirinya dan Sasa yang bertubuh mungil. Bara dan Sasa terlelap dalam tidur mereka.

__ADS_1


Kehamilan Sasa yang sudah masuk 8 bulan lebih pun membuat Sasa yang tadinya susah bergerak menjadi semakin susah bergerak.


Mami Shella tersenyum ketika melihat Bara tertidur di sofa yang ia beli khusus untuk Sasa, dengan memeluk tubuh mungil Sasa yang membuncit. Tak mau kehilangan moment, Mami Shella mengambil beberapa foto melalu ponselnya.


Mami Shella menghela napasnya, hingga meneteskan air mata sambil menatap Bara dan Sasa yang tertidur.


" Mi.." Daddy Roy datang dan memeluk Mami Shella dari belakang dan mencium pucuk kepala Mami Shella sambil ikut memandang ke arah Bara dan Sasa.


" Pemandangan yang indah." Gumam Mami Shella.


" Hmm, Bara benar-benar mencintai Sasa, dan kita harus bersyukur karena wanita yang menjadi istri dan ibu dari cucu kita adalah Sasa. Daddy gak sanggup bayangin jika wanita itu adalah__"


" Sstt, Mami gak mau dengar namanya. Bagi Mami, Bara tak pernah mengenal wanita jahat itu. Sekarang, Yangam ada hanya Sasa, dan sampai kapan pun Sasa tetap harus jadi menantu kita. Mau Bara setuju atau pun tidak."


" Bara setuju Mi." Jawab Bara dengan mata tertutup.


Mami Shella menatap kesal ke arah Bara, sedangka. Daddy Roy tau, jika Bara sudah terbangun sejak tadi. Mungkin saat Mami Shella mengambil foto mereka. Bara memang sangat peka dengan keadaan sekitarnya, sama seperti Daddy Roy yang selalu terjaga saat merasa ada orang lain di sekitarnya.


Bara membuka matanya perlahan, dan menolehkan kepalanya kearah Mami Shella dan Daddy Roy. Bara tersenyum manis kala melihat Daddy Roy memeluk Mami Shella, seperti dirinya saat ini, yang tengah memeluk Sasa, dan memberikan kenyamanan kepada istri mungil tercinta nya itu.


" Bara hanya membiarkan Mami Shella menikmati pemandangan indah."


Mami Shella mencebikkan bibirnya. Tak berapa lama terdengar suara ringisan dari Sasa.


" Akh.. ssss.."


" Mungil, kamu kenapa?"


" Sasa.. sayang.." panggil Mami Shella dan Daddy Roy yang sudah menghampiri Sasa.


" Sakit Mas.. Akh.." Rintih Sasa dengan keribgat yang sudah keluar sebesar jagung.


Bara membesarkan matanya, apa saat ini Sasa kan melahirkan? bukannya prediksi dari anggun jika Sasa akan melahirkan sekitar dua Minggu lagi?

__ADS_1


Bara sudah mencari kunci mobil, dan mengambil tas bayi dan koper yang memang sudah Sasa dan mami Shella persiapkan dari tiga Minggu lalu


" Tenang Bar.. tenang." Ujar Daddy Roy.


" Sasa mau lahiran Dad, aduuh.. gimana ni.. mungil, ayo.."


" Mau ke mana? jangan di tarik gitu dong " kesal Mami Shella yang melihat Bara heboh sendiri dan menarik tangan Sasa.


" Gendong mau? gendong? aku gendong " Bara sudah siap ingin menggendong Sasa, namun Mami Shella menepuk lengan Bara.


" Bising kamu. Awaas.."


Mami Shella memegang tangan Sasa dan membantunya berdiri.


" Bisa jalan?"


Sasa menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya, menahan sakit yang sasa gak tau gimana cara mendreskepsikannya.


Perlahan Sasa jalan dengan bantuan Mami Shella, sedangkan Bara sudah mondar mandir dan menghubungi Anggun serta Leo. Tak hanya itu, Bara juga menghubungi Arka untuk menyuruh mempersiapkan segala tim medis untuk menyambut kedatangan mereka.


Bara sampai sudah sampai seeprti Tarzan, memanggil Om Nazar yang berada di rumahnya, mengatakan jika Sasa akan melahirkan. Hingga suara Bara terdengar sampai ke rumah Tante Mega.


Bara heboh, benar-benar membuat heboh.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA...


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2