
Panggilan dari Fadil sudah tak Bara hiraukan. Bahkan Ponsel Bara sudah tergeletak di lantai begitu saja.
Fadil terus memanggil nama Bara di seberang panggilan. Tak ada sahutan dari Bara, Bara sudah sibuk menenangkan Sasa yang terus saja berteriak histeris. Tak berapa lama datang seorang Polwan, yang bernama Risa. Risa juga mengenal Sasa, karena Risa yang membantu Fadil melepaskan Sasa waktu itu.
" Sasa? "
" Bar, ngapain Lo bawa dia ke sini? Dia ini memiliki trauma kantor polisi " Ujar Risa.
Wajah Bara langsung tegang dan menatap Risa seakan mencari kebenaran di wajahnya, dan rasa bersalah langsung menyerebak di seluruh tubuhnya. Baru saja Bata berjanji untuk tidak membuat senyum Sasa luntur, tapi sekarang apa yang telah di lakukan nya? Bara semakin memeluk tubuh Sasa dengan erat.
" Sasa, ini Mbak Risa. Kamu aman sama Mbak" Ujar Risa dan memeluk Risa kedalam pelukannya.
" Mbak Risa? Mbak, bawa aku pergi mbak. Plis mbak.." Ujar Sasa dengan Isak tangis yang terus berderai. Sasa memeluk tubuh Risa dengan erat.
" Iya, kita pergi dari sini ya"
Risa membantu Sasa berdiri, Namun tiba-tiba saja Sasa oleng dan jatuh pingsan. Untungnya Sasa masih dalam dekapan Risa, dan Bara langsung mengambil alih Sasa dan menggendongnya. Bara langsung membawa Sasa kedalam mobil, dan langsung melarikan Sasa ke rumah sakit. Sebelum Bara pergi, Risa berpesan kepada bara, agar jangan pernah membawa Sasa lagi ke kantor polisi.
" Kamu bawa Risa kerumah sakit, aku akan menyusul" Ujar Risa.
Bara menganggukkan kepalanya dan membawa Sasa yang berada dalam gendongannya langsung ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit, Sasa langsung di periksa oleh tim dokter. Leo yang sempat melihat Bara di ruang IGD, akhirnya memutuskan Untuk mendatangi Bara.
" Mas Bara?"
" Leo!?"
" Kenapa Mas? Siapa yang sakit?"
" Oh, itu Sasa. "
" Sasa? Sasa karyawannya Kesya?" Tanya Leo memastikan.
Bara menganggukkan kepalanya. Leo ikut menemani Bara, hingga Dokter yang menangani Sasa pun keluar.
" Keluarga pasien?"
" Saya Dok" Bara berdiri menghampiri Dokter.
Leo menatap Bara dengan curiga, terlihat guratan kekhawatiran di wajahnya. Sempat terfikir oleh Leo jika Bara menyukai Sasa, tapi semua dugaannya di tepis karena mengingat Tante Shella pernah bercerita betapa bucinnya Bara kepada tunangannya itu. Leo pun berfikiran positif, mungkin ada yang terjadi kepada Sasa, dan pada saat itu Bara juga berada di sana.
" Apa pasien mengalami trauma?"
" Sepertinya iya Dok"
" Sebaiknya untuk sementara jangan biarkan pasien memikirkan tentang apapun yang memicu trauma nya. Pasien baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Mungkin sebentar lagi juga akan Sadar"
" Baik Dok, terima kasih"
Bara menatap Tubuh mungil yang tengah terbaring dengan menutup matanya. Napasnya terlihat teratur, mungkin dia sedang tertidur.
" Mas, apa yang terjadi?" Tanya Leo.
Bara baru sadar jika Leo masih berada di sana. " Oh, itu.. Saya gak tau kalo Sasa mengalami trauma terhadap kantor polisi."
" Lalu?"
" Tadi saya membawa dia ke kantor polisi, dan dia berteriak histeris hingga pingsan."
Leo menganggukkan kepalanya seakan mengerti akan apa yang telah terjadi. Tak berapa lama seorang suster datang dan memanggil Leo, karena ada pasien yang harus di tangani. Leo pamit diri dengan Bara, dan meninggalkan Bara bersama Sasa yang masih tertidur.
Bara mendekat kearah Sasa, dan menggenggam jari jemari Sasa.
" Sa, Maafin Saya" Ucap Bara yang jelas-jelas gak akan di dengar oleh Sasa.
__ADS_1
Sasa terbangun, dan mengerjapkan matanya berkali-kali secara perlahan. efek menerima cahaya yang masuk kedalam penglihatannya. Sasa menatap ke sebelahnya, ada Bara yang sedang menggenggam tangannya sambil tertidur menumpukan kepalanya di sebelah tangannya yang lain.
' Sudah berapa lama aku tertidur?' Batin Sasa.
Perlahan Sasa menarik tangannya, agar tidak membangunkan Bara. Namun ekspetasi tak sesuai realita, Bara terbangun dan melihat Sasa yang tengah mengerjap-ngerjapkan matanya lucu menatap Bara.
" Kamu udah bangun?"
" Hmm..."
" Mau minum? makan?"
" Bisa lepasin tangan gue?"
Bara mengerjapkan matanya, kemudian dia tersadar bahwa masih menggenggam tangan Sasa.
" Oh, maaf." Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Kenapa saya bisa di sini?"
Tak berapa lama Leo masuk bersama Dokter yang menangani Sasa tadi.
" Bagaimana keadaannya Nona Sasa?"
" Baik "
" Apa masih terasa pusing? "
Sasa memiringkan kepalanya sedikit, " Gak kayaknya"
Dokter tersebut pun memeriksa denyut nadi Sasa, kemudian menyuruh suster untuk memeriksa tekanan darahnya.
" Semua normal Dok"
" Baik, jika tidak ada keluhan lain, Anda sudah bisa pulang"
Leo menatap Bara dan Sasa bergantian, seperti ada yang lain dengan Bara. Cara Bara menatap Sasa sangat berbeda. Seperti... Ya, Leo tidak ingin membuat kesimpulan sendiri.
" Bagaimana? Udah mendingan? atau masih ada merasa sakit di tempat yang lain?" Tanya Leo kepada Sasa.
" Gak ada pak"
" Aduh, kok bapak lagi sih, kan kemarin sudah di bilang jangan panggil bapak. Panggil Leo saja"
" I-iiya... Le- Leo "
" Gitu kan cakep"
Sasa tersenyum kikuk kepada Leo, tetapi terlihat sangat manis sekali. Entah kenapa Bara sangat kesal melihat Sasa yang tersenyum sangat manis kepada Leo.
" Saya urus administrasi nya dulu" Ujar Bara.
" Sudah saya urus semuanya Mas, Tinggal Sasa nya aja kapan mau pulang"
" Wah, terima kasih banyak Pak, Eh Leo" Ujar Sasa langsung merubah panggilannya saat melihat Leo menatapnya dengan tajam.
" Sama-sama"
Leo dan Sasa saling membalas senyuman.
" Kita pulang sekarang?" Ujar Bara memecah suasana.
Senyuman Sasa langsung menghilang ketika mendengar suara Bara.
" Gue pulang naik taksi online aja"
__ADS_1
" Saya yang antar kamu. Jangan Bantah" Ujar Bara tajam saat melihat Sasa ingin membuka mulutnya dan membantah dirinya.
Sasa hanya mendengus kesal dan terpaksa menuruti perintah Bara karena melihat tatapan tajam Bara, sedangkan Leo hanya tersenyum melihat perdebatan antara dua makhluk berbeda jenis kelamin itu.
Sasa masuk kedalam mobil, dan langsung memejamkan matanya. Sebenarnya Sasa tidak benar-benar tidur, dia hanya merasa masih lemas dan hanya ingin menutup matanya. Bara melirik kearah Sasa, dan mencoba membuka obrolan, namun hanya si jawab dengan gumaman dari Sasa. Sasa di antar langsung ke apartemen oleh Bara. Sasa mengirim pesan kepada Lena jika dirinya tidak kembali ke toko, karena kurang enak badan.
Ponsel Bar kembali berdering, menampilkan nama Fadil di sana.
" Hal__"
" Gimana Sasa? apa yang terjadi sama dia?" Tanya Fadil langsung.
Bara melirik kearah Sasa yang tengah menutup matanya.
" Dia tadi kurang enak badan, tapi sekarang sudah baikan. Gue lagi bawa mobil udah dulu ya" Ujar Bara dan langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Bara yakin, jika Fadil sedang mengumpati dirinya.
Bara masih mengikuti Sasa yang masuk kedalam apartemen nya.
" Mau ngapain?" Tanya Sasa saat melihat Bara masih mengikutinya masuk kedalam lift.
" Mau mastiin kamu selamat sampai apartemen."
" Gue udah di apartemen"
" Belum masuk ke unit kamu"
Sasa hanya mendengus kesal, berhubung keadaan tubuhnya masih lemas, Sasa memilih untuk diam dan tidak memperpanjang perdebatan mereka.
Sesampainya di unit Sasa, Bara ikut masuk kedalam unit nya.
" Ngapain Lo?" Tanya Sasa dengan nada kesalnya.
Bara tidak memperdulikan pertanyaan Sasa, Bara langsung menuju dapur dan membuka kulkas. Bara tersenyum karena melihat jika di kulkas Sasa terdapat sayur dan ayam yang sudah di ungkep.
Bara mengeluarkan berbagai jenis sayur. Sasa hanya menatapnya tajam.
" Lo punya sopan santun gak sih masuk ke rumah orang?" Kesal Sasa.
Bara hanya melihat ke arah Sasa sekilas, kemudian dia kembali fokus kepada pekerjaannya. Sasa menutup matanya, meredamkan emosinya.
" Terserah Lo mau ngapain. Yang jelas gue gak mau kalo dapur gue berantakan" Setelah mengatakan itu Sasa pergi meninggalkan Bara di dapur.
Sasa membersihkan dirinya di dalam kamar, tidak lupa Sasa mengunci pintu kamarnya. Takut-takut jika si Bara api itu menyelonong masuk kedalam kamarnya. Sasa selesai solat Dzuhur, kemudian dia keluar kamarnya dan melihat apa yang di lakukan oleh Bara.
Bara tersenyum saat melihat Sasa keluar dari kamar dengan keadaan lebih segar dan?? Wajahnya sangat bercahaya dan adem untuk di lihat.
" Pinter masak juga?" Sasa menyendok capcai yang berada di atas piring yang sudah di hidang Bara. " Lumayan" Sasa menarik kursi dan mengambil piring.
" Emm, kamu bisa gak makannya tunggu saya selesai solat? Kita makan bareng"
Sasa kembali meletakkan piringnya, " Oke". Sasa berdiri dan meninggalkan Bara yang masih menatapnya heran. Sasa masuk kedalam kamarnya, tak berapa lama Sasa keluar dengan membawa sajadah dan kain sarung.
" Lo solat di sini aja ya, kata nenek gue, pantang masukin laki-laki yang bukan muhrimnya ke dalam kamar"
Bara tersenyum, dan berjalan masuk kedalam kamar mandi yang berada di dekat dapur. Bara keluar dengan keadaan berwudhu. Sasa menatap wajah Bara, Bara tersenyum saat melihat Sasa sedang menatap tanpa berkedip. Namun detik selanjutnya Sasa langsung melihat kearah lain saat melihat Bara tersenyum kepadanya.
Sasa membuatkan Bara solat di ruang TV yang merangkap sekaligus dengan ruang tamu. Seleaai Bara solat, mereka duduk di ruang makan dengan berhadapan.
" Gak nyangka kalo Lo pintar Masak." Ujar Sasa sambil menyiapkan makanan kedalam mulutnya.
Bara menatap Sasa. Wanita pertama yang memakan dan memuji masakannya. Tentu saja selain Mami Shella, Vina, dan Kesya. Sedangkan Lia yang berstatus tunangannya saja tidak menghargai masakan Bara, bahkan Lia lebih memilih makanan di retoran mewah ketimbang memakan masakan Bara.
** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...
__ADS_1
Salam SaBar ( Sasa Bara )