
"Layca, kamu kenapa bisa di sini?" Fatih terkejut di saat melihat Raysa sudah berada di sampingnya.
"Aku rindu tau, kamu gak kasih-kasih kabar ke aku." Rajuk Raysa dengan bibir yang di manyunin.
"A-aku juga nungguin kabar kamu. Kamu kalo rindu kenapa gak hubungi aku?"
"Aku malu,"
Tiba-tiba Raysa mendekat dan sudah mendudukan tubuhnya di atas Fatih.
"Layca, ap-apa yang kamu lakukan?" tanya Fatih gugup.
"Aku tak bisa menahannya, aku rindu kamu."
Raysa menahan wajah Fatih, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fatih hingga bibir mereka menyatu. Raysa mencium bibir Fatih dengan begitu intens. Fatih masih diam membeku dan menikmati apa yang Raysa lakukan.
"Balas ciuman ku Fatih, aku menginginkan kamu." Ujar Raysa dengan tatapan mata yang sayu.
Fatih pun perlahan memegang tengkuk Raysa dan memperdalam ciuman mereka. Fatih perlahan menurunkan tangannya, mengelus punggung telanjang Raysa.
Tunggu, sejak kapan Raysa tak memakai baju?
Fatih ingin menghentikan ciumannya, namun Raysa seolah masih ingin berlama-lama menikmati ciuman mereka.
"Ahh .." Desah Raysa saat Fatih membelai punggung telanjangnya.
Perlahan ciuman Raysa turun menuju leher Fatih.
"Hi..hii., Layca, geli .. haha ... hentikan... ha ..ha.. aku gak tahan.. ha..ha.."
"Nikmati saja, sayang." ujar Raysa dengan seksi.
Fatih semakin kegelian di saat Raysa memainkan ujung ****** nya yang kecil, memberikan kecupan-kecupan basah di sana, dan menghisapnya.
"Ha ..ha.. Layca, hent-hentikan. Kaubgak tahan. Kau mau pipis."
"Keluarkan saja." Ujar Raysa tanpa ingin berhenti.
"Layca ..." pekik Fatih dan terduduk dengan napas yang tersenggal.
Fatih menatap sekelilingnya, mencari keberadaan Layca nya.
"Huff, ternyata mimpi, bisa di Panggang Bunda Sasa gue jika beneran." Gumam nya.
Namun, Fatih merasa basah bagian panggang paha nya. Fatih menelan ludah nya kasar. Perlahan ia membuka selimutnya, dan mendapatkan jika celananya telah basah dengan cairan kenikmatan.
__ADS_1
"Sial ..." Maki nya.
Fatih dengan cepat bangun dan membersihkan tempat tidurnya. Membawa selimut beserta seprai ke dalam kamar mandi. Fatih membersihkan cairan kenikmatan nya di sana, malu rasanya jika ketahuan sama Mami. Dan tak mungkin juga menyuruh Art nya yang membersihkan. Bisa jadi gosip di kalangan pembantu entar.
"Uukhhh ... ini karena Mami dan Daddy yang bercumbu tidak lihat tempat." gerutu Fatih dengan kesal.
*
Di tempat lain, Raysa terbangun dari tidurnya karena ia benar-benar teringat akan Fatih yang belum juga memberi kabar. Sudah pukul 6 pagi, tapi Fatih belum juga kasih kabar.
"Apa gue kirim pesan aja ya?" Fikir Raysa.
"Kalo gue kirim, entar dia makin ngarep lagi." Raysa kembali meletakkan ponselnya, kalau dalam sedetik selanjutan ia kembali mengambil ponsel tersebut.
"Eh, tapi .. tapi kemarin dia bilang kalo khawatir jangan malu-malu buat kirim pesan duluan kan? yaa, aku khawatir karena dia udah aku anggap sebagai Abang. Gak ada salah nya juga kan seorang adik kirim pesan kepada Abang nya. Lagian, aku juga sering kirim pesan ke Ibra, buat tanyain kabar dia." monolgnya pada diri sendiri.
Ya, sudah Raysa putuskan. Raysa akan mengirim pesan kepada Fatih, untuk menanyakan kabarnya.
Me : Sibuk ya? kok gak kasih kabar? gimana kakak ipar? apa cantik? siapa namanya?"
Send.
Raysa menatap ponselnya yang masih centang satu, kemudian ia menghela napasnya.
"Belum bangun mungkin ya? atau baterai ponselnya habis?"
*
"Huuff, harus masukin ke dalam plastik yang besar, biar bisa di bawa ke laundry." Gumam Fatih.
"Eh, tapi kalo Mami tanya bilang apa ya?" Fatih menggaruk kepalanya.
"Haduuuhh, gak mungkin bilang aku ngompolkan? Yang ada di ketawain tujuh hari tujuh malam dengan Papi, terus bisa bikin catatan ke-malu-an deh dengan pakai. Bisa rusak martabat gue gini. Aaaakkkhhh..."
Fatih menggaruk kepala nya yang tak gatal, dan membuat rambutnya semakin kusut. Mata Fatih tanpa sebagai menoleh kearah kopi caleng yang ada di atas nakas. Seperti mendapatkan cahaya di dalam kegelapan, Fatih pun berjalan mendekati nakas, dan mengambil kaleng kopi tersebut.
"he ..he... Rasa malu gue masih bisa di selamatkan." Fatih tertawa seperti iblis.
Fatih membuka tutup kaleng, dan mulai menuangkan isinya ke atas selimut tebal nya dan juga seprai.
"Waah, kamu sangat cemerlang Fatih. Ha..ha..ha.." Tawanya bagaikan raksasa yang siap menghancurkan dunia.
Fatih keluar dari kamarnya sambil memeluk selimut dan juga seprai nya yang sudah kotor dengan kopi.
Dengan berjalan mengendap-ngendap kearah pencucian, Fatih juga berwanti-wanti agar tak ada yang melihat nya. Namun sayang, semau hanya angan-angan belaka, di kala Fatih harus mengingat jika sang Papi selalu saja rutin melakukan yoga pagi bersama Mami di taman belakang rumah mereka yang kebetulan berdekatan dengan Raung pencucian.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain?" Tanya Papi Gilang.
"Paapi, eengg, anuu"
Fatih tak fokus saat melihat tanda merah keunguan di leher Papi Gilang. Dengan cepat iya mengalihkan pandangannya.
"Apa itu? Kamu ngompol?" Tebak Paoingolanh dengan seringai licik.
"Hah? eng-enggak kok. siapa yang ngompol? ini, anu .. Abang gak sengaja tumpahi kopi ke atas selimut dan seprai nya."
"Bisa gitu ya? hmm, lalu kenapa kamu bawa sambil menyelinap begitu? atau jangan-jangan ..." Papi Gilang menatap putra nya itu dengan jahil.
"Apaan sih, Papi fikiran nya negatif aja deh."
"Loh, Papi gak bilang hal yang negatif. Papi cuma bilang 'Jangan-jangan." Papi Gilang sudah tersenyum menatap putra nyanyang terlihat pucat.
"Kenapa Pi? kok pagi-pagi anak nya di godain sih."
"Ini Mi, seperti nya kita harus sudah mencarikan jodoh untuk Fatih."
Fatih membelalakkan matanya, kemudian menatap Mami Mili yang melihatnya secara intens.
"Oooh, mimpi basah toh. Hah, nasib jomblo karatan Pi. Nanti deh, mami tanyain ke teman Mami. Ada gak yang mau sama anak kita yang jomblo karatin ini." Ujar Mami Mili sambil tersenyum.
Jangan di tanya lagi bagaimana wajah Fatih saat ini. Sepetinya semua rencana mulusnya berjalan dengan sangat ... Sangat ... tidak baik.
Fatih pun berjalan melewati Mami dan Papi nya dengan wajah masam. Ia langsung menuju ke tempat pencucian kain. Di belakangnya, Mami Mili dan Papi Gilang sudah tertawa teebahak-bahak.
"Huuf, ada lah orang tua gitu. Ngetawain anak nya." Kesal Fatih sambil memasukkan kain selimut kedalam mesin cuci.
"Di bilas dulu Bang dengan air mengalir." Teriak Papi Gilang.
"Udah." Balas Fatih sambil berteriak.
Uukkh, kalo aja gak ingat jika Papi Gilang adalah orang tua nya, mungkin Fatih sudah ngajak gelut tuh pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan sehat.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....