Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F -85


__ADS_3

Hari ini adalah hari spesial bagi para anggota polisi, dimana hari ini adalah hari ulang tahun bhayangkari. Raysa dan Nana sudah memakai pakaian seragam mereka yang  berbeda dari hari yang lain. Yang membuat Nanda jengah adalah kehadiran Momol yang terus saja mengganggunya walaupun sudah di tolak berkali-kali oleh Nanda.


 “Gak bosan-bosan tu orang, bosan gue liat muka dai terus-terusan.” Gerutu Nanda.


 Raysa terkekeh geli mendengar gerutuan Nanda.


“Awas bucin loh.”


“Iih, emang lo.”


 Raysa megerucutkan bibirnya di saat Nanda mengingatkan bagaimana dirinya menolak Fatih matian-matian. Yaa, Nanda sudah mengetahui bagaimana kisah sahabat seperjuangannya itu. Nanda tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal dari Raysa.


Upacara bendera dan perayaan ulang tahun Bhayangkari pun sudah terjalani. Setiap istri mendampingi sang suami dalam perayaan ulang tahun Bhayangkari ini dengan menggunakan seragam pink milik mereka. Namun, yang membuat semua mata tertuju kepada Raysa dan tersenyum penuh arti adalah, di mana Fatih sang tunangan


memakai jas lengkap berwarna pink, dari celana, jas, serta kemeja yang ia kenakan. Awalnya Raysa merasa malu dengan penampilan Fatih, namun melihat bagaimana percaya dirinya sang tunangan, Raysa pun ikut bangga berada di sampingnya.


“Udah deh, gak usah dekat-dekat napa?” Nanda masih mengusir Momol yang terus mengejarnya.


Bukannya Nanda tak ingin memiliki hubungan dengan Momol, namun Nanda tak ingin jatuh cinta dengan Momol, karena status mereka yang berbeda. Nanda tak ingin perasaan sakit hatinya terulang kembali dengan mantan pacar nya yang dulu memutuskan hubungan mereka karena orang tua sang pacar tak merestui hubungan mereka karena Nanda berasal dari kasta yang berbeda dari sang mantan pacar.


“Nanda Aulia, Aku mencintai kamu, maukah kamu menjadi istriku?” Pekik Momol sambil berlutut dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya.


Mengenal Nanda selama 7 bulan sudah cukup bagi Momol untuk mengatakan jika Nanda adalah calon istri yang pantas untuknya. Dan calon ibu yang akan melahirkan anak-anak mereka.


Suara gemuruh dan tepuk tangan langsung memenuhi lapangan kantor polisi. Tak hanya itu, suara teriakkan dari para senior, junior, dan juga teman-temannya untuk menerima lamaran Momol pun membuat telinga Nanda terasa sakit.


 “Ayo dong Nan, di jawab. Sayang tuh Momol udah kepanasan.” Teriak Raysa tak mau kalah seru.


“Ayo Nanda, di jawab, jodoh jangan di angguri.” Ujar komandan mereka yang mana membuat Nanda menghela napasnya pelan.


Nanda berjalan mendekati Momol, membuat Momol tersenyum lebar menatap Nanda dengan jantung yan berdegup kencang.


 “Gue punya satu syarat untuk lo.”


 “Apapun, katakan.”


Nanda menarik napasnya panjang dan membuangnya secara perlahan. “Kenali gue ke orang tua lo sebagai calon istri, kalo orang tua lo setuju dan langsung terima gue dengan tangan terbuka, gue terima lamaran lo.”


Nanda sengaja mengatakan hal itu, karena Nanda yakin jika orang tua Momol pasti akan langsung menolaknya, karena dirinya berasal dari sebuha kampung kumuh dan hanya anak dari seorang tukang bangunan dan buruh cuci. Nanda tersenyum pias di saat mengingat jika dirinya akan di tolak lagi hanya karena berbeda kasta.


Momol menelan ludahnya yang mana tenggorokannya terasa kering. “Oke, sekarang terima dulu bunga gue.”


Nanda pun menerima bunga pemberian dari Momol, yang mana langsung di sambut tepuk tangan yang gemuruh dan siulan yang saling bersahutan.


“Semoga langsung di terima Nan, doa kami selalu bersama mu.” Teriak senior, junior, dan teman-teman Nanda yang lainnya.


*


 “Happy banget sih lo Mol?” tanya Rian.


 Saat ini mereka sedang duduk di cafe milik Rian, setelah acara ulang tahun Bhayakari selesai. Ada Momol, Nanda, Raysa, dan Fatih di sana.


 “Ya dong, bentar lagi gue mau kawin. Ya gak yank?” ujar Momol kepada Nanda.


  Nanda hanya memutar bola mtanya malas mendengar panggilan ‘yank .. yank ... ‘ yang sedari tadi Momol sematkan kepada dirinya. Sungguh pede sekali anda, sok banget jika Nanda di terima oleh kedua orang tua nya.


 “Hei, udah pada ngumpul ya. Sorry ya, telat.” Tissa datang dengan menggendong tabungnya dan membawa dua buket bunga untuk Raysa danNanda.


“Baru juga nyampe kok.” Jawab Fatih.


“Nih, untuk kamu Sa, ini untuk kamu Nan. Selamat ulang hari Bhayangkari ya.” ucap Tissa dengan tersenyum manis.


 “Makasih kak.”Jawab Raysa dan Nanda bersamaan.


 “Farhan mana? Gak bareng lo?” tanay Fatih.


Tissa hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.


“Tumben banget lo gak bareng dia, emang ke mana dia?” tanya Momol kepo.


 “Lah, mana tau gue, emang gue mak nya apa.”Ujar Tissa sambil memainkan ponselnya.


Fatih, Raysa, dan Momol saling melirik mendegar jawaban Tissa. Selama ini, Tissa dan Farhan seolah tak bisa di pisahkan, mereka selalu terlihat bersama di setiap kesempatan.


  “Lihat, gue dapat proyek lukisan di Paris.” Ujar Tissa sambil melihatkan foto kontrak kerjanya dengan salah satu perusahaan yang sangat terkenal di Paris dan meminta Tissa untuk bergabung bersama mereka dan memamerkan lukisannya.


 “Waah, makin sukses aja nih.” Ujar Fatih dan Momol hampir bersamaan.


“Rian, Hauuuss ...” ujar Tissa sambil memegang tenggorokannya.


Rian pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Tissa dan Raysa sedang mengobrol tentang Nanda yang mana baru saja di lamar oleh Momol.


“Hah? Serius lo Mol?” pekik Tissa dan Rian bersamaan.


“Ya dong, kalo udah cinta dan merasa cocok kenapa gak langsung di ikat aja. Ya gak yank?” jawab Momol dengan bangga.


 Berbeda dengan Nanda yang memutar bola matanya malas. Tissa dan Rian pun tertawa terbahak-bahak karena melihat penolakan dari Nanda.


 “Jadi nih ya, kalo oranng tua lo gak setuju dengan Nanda gimana?” tanya Rian yang mana membuat semua orang peansaran.

__ADS_1


 “Gue guna-guna mak bapak gue buat restui hubungan gue sama Nanda.”


“Yee, dosa tau.” Ujar Tissa sambil menggempleng kepala Momol.


 “Eh Tis, lo ke Parisnya kapan?” tanya Fatih.


 “Emm, kemungkinan sebulan lagi.”


 “Apanya yang sebulan lagi?”


Tiba-tiba Farhan datang dan duduk di sebelah Tissa, terlihat perubahan ekspresi di wajah Tissa yang di sadari oleh Fatih.


 “Bukan apa-apa.” Jawab Tissa sambil menggeser kursinyasedikit lebih jauh dari Farhan.


Fatih masih memantau gerak gerik mereka, sepertinya memang terjadi sesuatu di antara mereka. Fatih akan tanya itu nanti dengan Tissa. Di saat mereka sedang berdua saja.


“Oh ya, ini buat kamu Ca, dan ini buat kamu Nan.” Fatih memberikan sebuket bunga yang di campur dengan coklat kepada Nanda dan Raysa.


“Makasih ya kak.”


Farhan mengangguk dan tersenyum kepada Raysa. Tissa melihat tatapan Farhan ke pada Raysa yang masih terlihat jelas sangat memuja Raysa sampai saat ini, padahal Fatih dan Raysa sudah berbulan-bulan bertunangan.


Hah, emang susah kali ya untuk menglupakan cinta pertama.


Pesanan makan mereka pun Tiba, Tissa langsung menikmati makanannya tanpa menawari kepada Farhan hanay untuk sekedar basa basi, karena ia benar-benar sangat lapar.


 *


“Layca, aku ke tempat Tissa boleh gak?” Fatih meminta izin sebelum ia pergi ke tempat Tissa.


Fatih baru saja mengantar Raysa hingga ke apartemennya, bahkan Fatih sempat meminum jus yang di suguhkan oleh Raysa untuk dirinya. Ya kali baru antar calon istri langsung ketemu cewek lain, ya walaupun itu sahabat sendiri, tapi sama aja kan gak etis aja gitu rasanya. Kayak gak sabaran buat ketemu cewek lain.


Sudah menajdi kebiasaan Fatih meminta izin ataupun memberi kabar kepada Raysa jika dirinya mampir ke tempat Tissa ataupun bertemu dengan klien perempuan.


“Mau ngapain? Pasti mau tanyain hubungan Kak Farhan dan Kak Tissa ya?”


“Kok kamu tau?”


“Hmm, Aku juga ngerasain jika tadi itu mereka sangat berbeda. Tidak seperti biasanya.”


 “Iya sih, Biasanya mereka terlihat santai dan serasi, tapi kali ini mereka terlihat seperti orang yang baru kenal.”


“Hmm, salam buat kak Tissa ya.”


“Atau kamu ikut aja.”


 “Gak deh, aku yakin kalo Kak Tissa bakal cerita sama abang aja. Kalo ada aku pasti Kak Tissa gak berani cerita.”


“Iya Abang, hati-hati ya.”


 “Iya sayang.”


Fatih mengecup kening Raysa sebelum ia bangkit dan berjalan kearah pintu.


“Abang tunggu.”


Fatih menghentikan langkahnya dan berbalik  menghadap Raysa.


 Cup ...


Raysa mengecup bibir Fatih dengan cepat.


“Jangan nakal ya, aku percaya sama abang.”


 Fatih tersenyum dan  menarik tengkuk Raysa dan meng*lum sebentar bibir yang selalu membuatnya ketagihan.


“I love you, Layca.


 “Love you more, Abang Fatih.”


 *


“Waaah, mimpi apa gue di datengin sama lo ampe bawa banyak cemilan gini.” Ujar Tissa saat menyambut sang sahabat yang mendatanginya di galeri lukisnya.


“Hmm, kangen aja gue sama lo.”


“Ntah iya pun.” Tissa mengambil satu jus mangga yang di bawa Fatih dan langsung meminumnya.


 “Lo kapan balik dari Paris?”


 “Lo kapan nikahnya?”


“Gue? Insya Allah kalo gak ada halangan sih 3 bulan lagi. Pas masa abdi Layca berakhir.”


“Ya udah, gue balik pas lo mau nikah aja.”


 “Buseet, lo kerja apa melarikan diri sih?”


Tissa hanya mengendikkan bahunya sambil meminum jus mangganya.

__ADS_1


 Fatih menatap dalam ke mata Tissa. “Ada masalah apa lo dengan Farhan?”


Uhuk ...uhukkk ...uhukk ..


Tissa tersedak dengan minumannya. “Hah? Masalah? Gak ada masalah apa-apa kok!!”


 “Gue kenal lo udah lama. Dan gue tau, kalo lo udah melarikan diri dari zona nyaman lo, pasti ada sesuatu yang gak beres dengan orang-orang yang ada di sekitar lo. Dan saat ini, orang yang berada di dekat adalah Farhan.”


 “Hah ... tebakan lo kenapa suka gitu sih.”


 “Suka gimana?”


 “Suka betol.” Tissa terkekeh dan kembali menikmati jus mangganya.


“Lo mau cerita atau gak?”


“Kalo gue milih gak?”


 “Gue bakal maksa buat lo cerita. Atau gue tanya langsung ke Farhan, dan lo tau, jika dia berani macam-macam dengan lo, gue bakal hajar dia habis-habisan.”


 “Hadeew, seperti biasa deh, selalu maksa dan ngancem. Hmm, kasih gue waktu buat cerita.”


 “5 menit,”


“10 menit.”


“Oke, Gue bakal tungguin,” Fatih meraih ponselnya dan menghidupkan pengatur waktu dan mengatur waktunya untuk 10 menit ke depan.  “ Di mulai dari sekarang.” Ujar Fatih sambil menekan tombol play.


Tissa menghela napasnya dan meraih roti yang ada di kantong plastik yang Fatih bawa tadi. Berkali-kali Tissa menghela napasnya sambil menggigit dan mengunyah roti tersebut.


“Waktu habis.” Ujar Fatih sambil menunjukkan ponselnya.


“Hah, cepet amat yak? Lo salah pasang waktu gak?”


“Mau cerita atau gak?” Fatih menunjukkan tampilan ponselnya yang mana dengan sekali tekan langsung terhubung dengan Fahan.


 “Oke, gue cerita. Tapi lo harus janji, kalo lo jangan tanya apapun pada Farhan. Gue gak mau masalah ini merambat ke mana-mana.”


“Oke, gue Cuma cukup perlu tau apa yang terjadi sama lo dan Farhan.”


Tissa pun mulai menceritakan tentang hubungan dan kedekatan mereka yang Tissa rasa bukan lagi sekedar teman. Tak jarang Farhan sering mengecup keningnya setelah mengantarkan Tissa pulang, atau sebaliknya. Hingga Farham mencium dirinya saat mereka sedang makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Saat itu Tissa


bertanya, apa maksud dari ciuman itu? Dan juga kecupan-kecupan lainnya yang sering Farhan berikan padanya selama ini. Namun jawaban Farhan membuat Tissa sakit hati.


Kejadian di saat makam malam romantis.


 “Kamu suka?” tanya Farhan kepada Tissa yang sedang menikmati makan malam mereka di rooftop salah satu restoran berbintang.


“Hmm, ini enak banget, Dagingnya empuk, matengnya sampai kedalam.” Ujar Tissa dengan terkekeh, karenaia merasa lucu dengan ucapannya yang sudah seperti iklan di televisi.



“Syukur  deh kalo kamu suka.” Farhan melanjutkan kembali makannya.



Setelah  makan malam, Farhan mengajak Tissa untuk berdansa.


“Kamu pintar juga berdansa,”


Farhan terkekeh, “Benarkah? Kamu juga hebat.” Farhan membuat tubuh Tissa berputar di bawah lengannya, hingga kemudian Farhan menangkap pinggang Tissa dan mereka tertawa saling memandang.


Perlahan-lahan tawa mereka mereda, beriringan dengan deru napas yang terdengar berat. Farhan perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum milik Tissa. Tissa pun perlahan membalas ciuman Farhan hingga ciuman tersebut terlepas dan mereka saling menempelkan keningnya.


*“A-apa  maksud dari semua ini Han?” tanya Tissa dengan lirih.


Hening, Farhan masih belum menjawab pertanyaan Tissa walaupun jarak mereka sudah terpisah beberapa langkah.


“Maafin aku Sa, Maafin aku. Aku yang salah, maafin aku.”*


 Mata Tissa langsung berkaca-kaca, Tissa menggigit bibir bagian dalamnaya, tanpa kata Tissa langsung meninggalkan Farhan di sana. Farhan pun tak memanggil atau pun mencoba menghentikan langkah Tissa.  Hingga


berhari-hari berlalu pun Farhan masih tak menghubungi Tissa untuk menjelaskan tentang ciuman tersebut. Hingga dua minggu berlalu sejak kejadian itu, Farhan baru mendatangi Tissa dan kembali meminta Maaf kepada Tissa. Farhan mengatakan jika dirinya terbawa suasana dan Farhan hanya menganggap Tissa hanay sebagai teman.


 “Brengsek tu orang.” Maki Fatih dengan geram setelah mendengar cerita dari Tissa.


“Gue harus kasih pelajaran buat dia.” Fatih sudah siap mengambil kunci mobilnya, namun dengan cepat Tissa meraih kuncii mobil tersebut.


 “Ini urusan aku dengan Farhan, Aku mohon, kamu jangan ikut campur. Aku gak mau gara-gara aku, hubungan kamu dan dia ikut berantakan.”


“Tapi Tis, dia udah__”


“Aku tau, dia emang brengsek, tapi dia gak sepenuhnya salah. Seharusnya aku mendorong dirinya saat ia  menciumku, seharusnya aku menamparnya saat ia mengecup keningku, tapi aku tidak melakukannya. Karena aku mencintai dia.”


**


Hai .. hai .. Ynag belum mampier ke novel baru ku, buruan mampir ya, di jamin seru deh ...


Judulnya : Twins A and Miss Ceriwis.

__ADS_1


Jangan lupa di Favoritkan dan like nya ya ...


__ADS_2