
"Buat ibu polwan yang tercantik, Raysa Prayoga Bahari. Sukses selalu, I Love you ..."
Raysa mengalihkan perhatiannya kearah panggung, di mana di sana berdiri seorang pria yang selalu membuatnya kesal, namun pria itu juga yang selalu mengerti akan dirinya.
"Fatih???"
"Kamu tak ingin memeluk aku?"
"Dasar menyebalkan, tamu tak di undang." Kesal Raysa dan menghapus air matanya yang terjatuh.
Fatih berjalan mendekati Raysa, dan mengacak rambut nya yang sudah rapi.
"Iihhh ... Rambut aku rusak ntar ..." Kesal nya.
Fatih hanya terkekeh dan menatap rindu kepada wanita yang selalu membuat tidurnya tak nyenyak.
Makan malam semakin meriah karena kehadiran Fatih yang selalu bisa membuat suasana hangat. Di tambah sahabat karibnya Lana yang memang selalu cocok di sandingkan dengan dirinya.
Lihat saja, dengan pede nya mereka berdua bernyanyi di atas panggung, dengan suara cemprengnya yang membuat telinga para tamu undangan terasa sakit.
Namun, siapa yang berani menegur mereka? Melihat siapa yang bersama mereka saja, para tamu lain hanya diam dan ikut menimkmati.
"Mbak, gak sesak apa pakai masker terus?" Tanya Raysa kepada Quin.
"Sebentar lagi juga di buka."
Ya, memang sebentar lagi Quin akan membuka Maskernya, karena mereka akan pindah ke ruangan yang lebih pribadi lagi. Ruangan yang lebih tertutup.
Ini semua karena Fatih, seharusnya dari awal mereka sudah masuk ke ruangan VIP karena adanya Quin. Namun karena ingin memberikan kejutan kepada Raysa, maka dari itu mereka sengaja berada di ruangan umum.
*
Farhan memotong kan daging steak untuk Raysa, dan itu terlihat jelas di depan mata Fatih. Haah ... Fatih, bisa apa? Fatih hanya bisa berdoa agar suatu saat dirinya lah yang berada di sana menggantikan Farhan. Tapi apa mungkin itu akan terjadi? Melihat keseriusan Farhan kepada Raysa, yang tak juga goyang karena kehadiran dirinya. Sama seperti dirinya yang tak goyang mendapatkan hati Raysa, walaupun gadis itu tak melihat kearahnya.
"Hei, pejuang cinta. Nikmatilah hidup mu." Ujar Lana menyemangati Fatih yang mulai lesu dengan pemandangan di depannya.
*
Fatih menatap kearah langit gelap. Harus sampai kapan ia bertahan seperti ini. Pernah rasanya untuk berhenti, akan tetapi perasaan ini menolak dan selalu ingin melindungi Raysa.
"Kamu mikirin apa?" Suara Mami Mili mengambil atensi Fatih yang sedang berada di balkon kamarnya.
"Mi,"
"Mikirin Raysa?"
Fatih tersenyum dan mengangguk pelan.
"Mami tau, kamu sengaja nyambung kuliah ke Malaysia karena ingin membuang perasaan kamu kepada Raysa kan?"
"Mami terbaik."
"Ck, Mami tau apa yang anak-anak Mami rasakan."
"Mi, kenapa jatuh cinta itu menyakitkan?" Fatih menarik tubuh Mami Mili dan memeluknya dari belakang. Fatih menyangga dagunya di bahu Mami Mili.
"Untuk sesuatu yang indah, gak ada hasil yang singkat. Terkadang saat kita menyukai seseorang, belum tentu kita benar-benar mencintainya. Bisa jadi hanya rasa kekaguman dan ingin memiliki. Namun, saat kita jatuh cinta, kita akan mengorbankan segala demi dia."
"Maksud Mami, Raysa belum tentu mencintai Farhan?"
"Kenapa Abang bilang gitu? Mami gak bilang gitu kok!"
"Ya itu kan harapan Fatih Mi." Ujar Fatih dengan nada merajuk.
__ADS_1
Mami Mili terkekeh mendengar sang putra merajuk.
"Sekarang Mami tanya, kamu sebenarnya benar-benar cinta sama Raysa? atau hanya sekedar penasaran untuk ingin memilikinya?"
"Fatih gak tau Mi, saat ini yang Fatih rasakan, Fatih gak mau Raysa menjauh, Fatih rela mengorbankan apapun termasuk nyawa Fatih untuk Raysa."
"Hmm ... Apa kamu pernah menyukai wanita lain selain Raysa?"
"Eeng.. sejauh dan selama ini belum ada Mi."
"Masa sih?" Mami Mili melepaskan dirinya dari pulang Fatih. "Coba Mami lihat wajahnya?" Mami Mili menolehkan wajah Fatih kemiri dan kekanan.
"Tampan, mulus, bersih, glowing lagi, tapi kok gak ada ya cewek yang suka sama kamu? Atau mereka semua buta?"
Fatih terkekeh, "Mami bisa aja, berarti Raysa buta dong gak bisa lihat Fatih."
"Bisa jadi ... Ah, atau Fatih mau Mami kenalin sama anak teman Mami?"
"Untuk apa?"
"Ya untuk berteman lah ... Kan gak mungkin Mami suruh kamu nikahi anak orang kalo gak cinta."
"Beneran cuma hanya kenalan?"
"Ya kalo memang cocok, kenapa gak lanjut ke hubungan yang lebih serius?"
"Hmm ... Bisa di fikirkan, tapi beneran kan gak ada pemaksaan untuk nikahi anak orang."
"Bener, cuma kenalin aja. Tapi, anaknya kembali, makanya Mami mau kenalin sama kamu yang bawelnya minta ampun."
Fatih terkekeh. "Boleh deh, sebelum Fatih kembali ke Malaysia."
"Ya udah, nanti Mami hubungi teman Mami ya."
"Iya Mi."
"Iya Mi, sebentar lagi Fatih masuk."
Mami Mili pun meninggalkan Fatih di balkon. Fatih terkekeh mengingat pembicaraannya dengan Mami Mili barusan. Yang benar saja, dikenalin sama anak gadis orang, tapi tanpa maksud dan tujuan yang lain.
Ingin menolak, tapi Fatih tak ingin menyakiti dan tak menghargai niat baik sang Mami. Dalam fikiran Fatih, ia hanya perlu menjalani kehidupannya. Toh, jika Raysa memang bukan jodoh nya, bukankah berarti Fatih harus mencari wanita lain untuk menjadi pendampingnya? Tak mungkin kan Fatih melajang seumur hidupnya?
*
Fatih menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Seperti biasa, tak ada jas, tak ada rambut klimis. Fatih tampil hanya dengan menggunakan baju kaos dan kemeja yang tak di kancing, serta rambut ikalnya yang di ikat.
"Maaf, apa anda Tuan Fatih?" Tanya seorang wanita yang manis dan memandang Fatih dengan malu.
Fatih tersenyum , ia berdiri dan menganggukan kepalanya.
"Huuf, syukurlah. saya fikir bakal salah orang lagi."
Fatih mengernyitkan keningnya, tak berapa lama wanita itu tertawa pelan.
"Sebenarnya saya tadi salah orang." Wanita itu menunjuk dengan dagu nya kearah pria yang menggunakan pakaian jas lengkap dan berkaca mata.
"Hah, biasanya kan kalo pertemuan gini selalu memakai pakaian formal gitu, jadi ya aku fikir itu kamu, karena pria itu terus saja memandang kearah jam tangannya."
Fatih menatap wanita yang ada di hadapannya dengan kening berkerut. Bukankah Mami Mili bilang jika wanita yang akan dikenalkan olehnya adalah wanita pemalu. Tapi sedari tadi wanita ini terus saja tak berhenti berbicara, tak seperti wanita pemalu pada umumnya.
"Ah ya, perkenalkan, nama aku Tissa."
"Fatih." Fatih membalas uluran tangan dari wanita bernama Tissa.
__ADS_1
"Apa kamu sudah memesan makanan?"
"Belum, aku menunggu kamu."
"Bisakah kita memesan sekarang? Aku sangat lapar "
"Tentu."
Fatih terus memperhatikan wanita di hadapannya itu. Cantik, tapi tak seperti yang Mami Mili katakan.
"Apa Mami salah ya?" Gumamnya.
Wanita bernama Tissa itu memanggil waiters, dan memesan beberapa menu makanan, begitu juga dengan Fatih.
"Eem, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan langsung dengan kamu " Ujar Tissa saat waiters tersebut sudah pergi bersama pesanan mereka.
"Katakan."
"Sebenarnya, saat Mama mengatakan ingin memperkenalkan aku dengan anak temannya, aku sudah menolak. Tapi Mama memaksa, jujur saja, aku belum siap menikah, dan aku belum siap memiliki hubungan apapun kepada pria berjenis kelamin lelaki."
Fatih mengerutkan keningnya.
"Maksudku, bukan berarti aku tak tertarik. Aku sangat tertarik kepada lelaki, apalagi pria yang pertama kali aku temui tadi." Tissa memandang kearah pria berjas dan berkacamata itu seklias.
"Aku dengar, jika kamu setuju dengan pertemuan ini karena terpaksa, benar?"
"Ya ..."
"Nah, aku berharap kamu tak tertarik dengan kecantikan aku. Aku sebenarnya gak pede ngomong gini, tapi aku cuma bilang, bisakah hanya sebatas teman?"
Terlihat di wajah wanita itu, jika dirinya sangat tak mengharapkan hubungan ini ketahap selanjutnya.
"Aku setuju."
"Yes ... Huuff ..." Tissa bernapas lega.
"Kamu terlihat senang sekali."
"Yaa, karena Mama mengharapkan hubungan ini bisa ketahap selanjutnya. Selama ini aku tak memiliki teman lelaki, karena aku takut kepada mereka. Dan aku selalu bersekolah di asrama wanita, hanya wanita yang aku temui."
"Aku berani bertemu dengan mu, karena kamu adalah anak dari Tante Mili. Kalaupun tidak aku gak mau bertemu."
Fatih paham, wanita ini bukan pemalu, ia hanya takut bertemu dengan seorang pria.
"Oh ya, kamu kok diem aja? Kata Tante Mili kamu itu orangnya lucu dan menyenangkan."
Fatih terkekeh. "Kata Mami, kamu orangnya pemalu dan pendiam."
Tissa merasa salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebenarnya aku hanya diam saat ada orang lain di rumah, dan aku jarang bercerita dengan Mama. Kamu tau, sebenarnya Mama ku bukan Mama kandung, jadi aku merasa gak berani untuk terbuka dengannya. Padahal Mama orang yang baik dan sayang dengan aku."
Dan, mengalir lah cerita antara Fatih dan Tissa. Fatih merasa Tissa anak yang seru, ia hanya ingin mejadi seorang pelukis terkenal, dan untuk itu ia memilih memfokuskan dirinya kepada karyanya. Untuk itu, Tissa tak ada fikiran untuk menjalin hubungan yang serius dengan orang lain. Bukan berarti tak ada yang mendekati Tissa, banyak, namun Tissa menolaknya dan mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....