Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab. 116 " Kontes dansa"


__ADS_3

Bara mengajak Sasa keliling pulau, berjalan menyusuri pantai dengan kaki telanjang mereka.


Bara tersenyum saat ada wisatawan lain yang menyapa Mungilnya, dan Sasa membalas sapaan mereka, walaupun bahasa Inggris Sasa masih terdengar baku dan kaku.. yaah, lumayan lah untuk seorang yang berpendidikan seperti Sasa, tapi sudah mampu berbicara dengan lawan bicaranya. Bara salut, karena Sasa benar-benar giat dalam belajar. walaupun Bara sering mengganggunya saat Sasa tengah serius.


" Mungil, makan eskrim yukk.."


" yukk.." Sasa sangat bersemangat, karena ini hari pertama dirinya keluar dari resort.


Sasa sangat menikmati eskrim cone yang ada di tangannya.


" Mas? ini halal kan?" tiba-tiba saja Sasa teringat akan halal dan haramnya makanan di tempat ini.


Ke mana aja Sa? 3 hari ni?..


" Halal dong mungil, tu lihat, ada lambangnya. Dan asal kamu tau aja, ini resort milik keluarga Moza. Makanya aku bisa dapat Discoun 50%."


Bara menaik turunkan alisnya.


Sasa sudah membuka mulutnya besar. " Serius Mas?" Pekik Sasa.


" Iyaa, santai aja kalo terkejutnya mungil." Ujar Bara sambil mengacak rambut Sasa.


" Waaahh, aku udah setahun nikah sama kamu, sampai sekarang belum bisa bayangin sekaya apa kakek Farel."


" Kamu tau, bahkan Arka mampu membelikan bintang untuk Kesya."


" Hah? emang bisa mas? maksud aku, emang ya bintang bisa di beli? sama siapa? sama malaikat?"


Bara terkekeh, Mungilnya ini sungguh polos. Itu lah yang membuat Bara suka dan semakin cinta dengannya. Di tambah lagi, walaupun Sasa ini mantan preman, tapi Sasa jarang tersulut emosi. Dia akan diam jika orang menghinanya, tapi dia akan melawan jika mereka sudah main kekerasan. Itu lah yang Bara suka, Walaupun preman, Sasa masih bisa menjaga sikapnya. Gak sembarangan main pukul. Yaa mungkin salah satu alasannya karena Sasa takut polisi, maka dari itu Sasa tidak ingin memulai pertikaian.


Hupp..


Bara terkejut saat Sasa menggigit eskrimnya.


" Tawa Mulu, cair tau.."


" Uukhh, gemesin banget siih.. Belepotan gini.."


Bara membersihkan bibir Sasa.


Sasa memberikan cengiran manisnya kepada Bara.


Sasa mengangkat kedua bahunya, yaa... dari pada mikirin hal yang gak masuk di akal, mending makan eskrim kan..


" Mungil, malam ini kamu mau makan apa?"


" Euum, apa yaa?" Sasa terlihat berfikir. " Mie instan aja gimana Mas?"


" Mie?"


Sasa menganggukkan kepalanya.


" Di mana carinya mungil.."


" Eemm, kalo mie yang waktu itu. Apa ya namanya.. sapa..sapa.. apa gitu?"


" Spageti maksud kamu?"


" Ah yaa, itu.. Aku mau itu.. Tapi dagingnya yang banyak ya Mas.."


" Sial yang mulia Ratu."

__ADS_1


Bara mengajak Sasa makan di pinggir resto pinggir pantai, di mana di temani dengan sinar rembulan, hembusan semilir angin pantai, dan deruan ombak halus. Serta ada juga pemusik yang memang di sediakan di resto tersebut.


" waaahhh... banyak banget Mas.." Sasa sangat bersemangat saat melihat potongan daging, bahkan ada potongan jamur kancing di sana. Sasa benar-benar di buat tergiur.


" Ini apa Mas? Anggur ya?? kan haram? gak mau ah.."


" Bukan sayang, itu teh Mawar. Cobain deh.. "


Sasa pun mencicipi teh Mawar yang berwarna merah gelap itu.


" Gimana?"


" Duuh, dasar lidah kampung, tetap aja aneh Mas rasanya.." Sasa menyengir. " Tapi, " Sasa kembali minum. " Enak juga ya.."


Bara tersenyum melihat wajah sang istri yang bahagia. Setidaknya Bara bisa membuat sang istri lupa dengan kesedihannya.


" Besok mau coba kuliner makanan Khas sini gak?"


" Emang ada?"


" Ada dong. Di jamin kamu suka, karena bahan dasar makannya itu terbuat dari ikan. Ada juga yang dari sagu.."


" Halal sayang, lagian di sini kebanyakan penduduknya muslim kok. Kamu tenang aja.."


" Oh yaa? Eem, aku mau deh... "


Sasa dan Bara kembali menikmati makan malamnya, sambil mendengarkan alunan musik yang terus menemani makan malam mereka.


Suara pemusik pun mengambil atensi Bara, dan beberapa pengunjung, yang mana pemusik berkata jika dipersilahkan untuk setiap pasangan ke lantai dansa, karena akan ada perlombaan berdansa bersama pasangannya.


"Kamu mau ikut mungil?"


" Ikut Apaan?"


" Aku gak bisa dansa Mas.."


" Buat seru-seruan aja.. Ayookk...."


Bara menggenggam tangan Sasa dan membimbingnya ke lantai Dansa.


Peraturan pertama, setiap pasangan harus berdansa di atas alas berwarna yang berukuran 50x 20 cm, hingga pemusik mengatakan pindah posisi, dan tidak ada yang boleh keluar dari alas berwarna atau pun terjatuh. Maka jika ada, di nyatakan gugur.


Sasa dan Bara berhasil tidak keluar dari alas berwarna, hingga alas tersebut hanya mampu menampung satu pasang kaki orang dewasa.


" Ayo mungil, naik." ujar Bara dengan semangat.


Sasa yang juga semangat dalam permainan ini pun langsung naik dan melingkarkan tangannya di leher Bara, serta Bara memeluk pinggang Sasa dengan erat hingga tidak tubuh mereka pun menempel.


Musik pun beralub merdu, Bara menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan dengan pergerakan kaki yang kecil, hingga pemusik mengatakan untuk berbalik, dan beberapa pasangan kakinya keluar dari alas berwarna, bahkan mereka juga terjatuh. Hanya menyisakan tiga peserta, dan musik terus berjalan hingga siapa yang paling lama bertahan di atas alas.


Bolehkah Bara bersyukur jika memiliki istri yang mungil, serta berat tubuh yang ringan?. Karena Bara yang tidak merasa sama sekali keberatan oleh berat tubuh Sasa, sehingga Bara dengan mudah bergoyang dan menggerakkan tubuhnya. Hingga Mereka lah pemenang kontes dansa tersebut.


Sasa bersorak bahagia, karena pemilik resto memakaikan mahkota kepada Sasa, sebagai ratu dansa terbaik Minggu ini. Mereka juga mendapatkan tropi karena memenangkan perlombaan ini, serta mendapatkan makan gratis selama mereka berada di resort dan resto tersebut.


" Alhamdulillah Mas, baru kali ini aku ikut lomba menang.." Sasa memeluk karangan bunga yang tadi sempat di berikan kepadanya.


" Selamat yaa sayang..."


Sasa tersenyum manis kepada Bara. Aaahhh, manis banget siih... Boleh kurung di kamar aja gak yaa..


Setelah acara makan malam selesai, Sasa dan Bara pun kembali ke kamar. Kali ini Bara tidak ingin membuat Sasa lelah, Bara ingin membiarkan Sasa tidur nyenyak, karena besok mereka akan keliling kuliner makanan khas Maldives.

__ADS_1


" Mungil, aku boleh tanya gak?"


" Tanya apa Mas?" Sasa baru saja menggunakan pelembab malamnya. Itu terjadi karena Kesya dan Vina yang memaksa. Katanya biar semakin kinclong, apa lagi sekarang Sasa termasuk wanita yang selalu di undang di acara-acara amal besar.


" Kamu itu kok bisa jadi preman sih?"


Sasa terkekeh, pertanyaan apa itu?


" Ya bisa lah Mas. Gak sengaja gitu aja. Lagian aku kan bukan preman yang tukang malak-malakin orang. Katakanlah aku seorang kuli angkat belanjaan."


" Terus, kenapa semua preman ngatain kamu ratu preman?" Sebenarnya Bara tau alasannya, hanya saja Bara ingin istrinya yang mengatakannya.


" Itu karena aku berani melawan mereka. Dan aku menghajar mereka habis-habisan seorang diri."


" Wooww... oh yaa, kamu kok jago banget berantamnya?"


" Aku suka nonton film cina itu loh mas.. Jetli sama jekichen. Terus aku ikuti gerakan mereka. Ya udah, ngalir gitu aja deh. Dibtambah aku sering angkat barang berat, jadi sama aja kayak aku olah raga fitnes kayak angkat besi itu.."


" Wooowwww, emang kamu pernah angkat berat apa?"


" Eemm, apa yaa? beras 3 karung? tepung 2 karung, terus galon air, pokonya banyak lagi deh..".


" Punggung kamu gak sakit mungil?" Bara mengelus punggung Sasa, merasa betapa beratnya perjuangan sang istri yang mencari uang dengan cara halal.


" Awalnya sih pernah sempat terkilir, tapi lama-lama udah biasa Mas."


" Hmm, maafin Mas ya.." Bara memeluk Sasa. Menguburnya kedalam pelukannya. Bara hanya tahu bagaimana Sasa bisa di juluki preman, tapi Bara tidak tau jika kehidupan Sasa seberat ini.


" Kok minta maaf? Emang Mas salah apa?"


" Mas salah, karena terlambat menemukanmu."


Sasa terkekeh. " Udah jalan hidup aku Mas. Bukannya Allah kasih cobaan ke hambanya, sesuai dengan kemampuannya yaa?"


" Udah pinter kamu yaa, semenjak ikut Mami pengajian."


Sasa terkekeh. Memang Sasa sering ikut Mami Shella pengajian, bahkan Sasa meminta Bara untuk menjadi guru ngajinya. Bara dengan senang hati dong mengajarinya mengaji. Walaupun harus di mulai dari Iqra.


" Udah malam, kita tidur yuuk.."


" Tumbeen.." Sasa mengernyit menatap Bara.


" Tumben kenapa?"


" Biasanya Mas minta jatah.." Sasa mengerjap lucu.


" He..he.. malam ini khusus pemenang dansa terbaik, Mas kasih libur. Karena besok kita pagi-pagi sudah mulai menjajahi kuliner makanan di sini."


" Waah.. aku jadi gak sabar Mas. Ya udah, aku tidur yaa.. Selamat malam suami ku tercinta.. beruang madu ku yang maaaaniiisss. banget."


Cup.


Sasa mengecup keseluruhan wajah Bara, dan ******* sedikit bibirnya. Sasa merebahkan tubuhnya memunggungi Bara, agar Bara bisa memeluknya dari belakang. Sasa suka posisi seperti ini.


" Selamat tidur mungill.." Bara baru saja mengecup pucuk kepala Sasa, namun sudha terdengar dengkuran halus dari bibir Sasa. Bara pun terkekeh mendengarnya..


" Mungil... mungil... kalo udah tidur, nomor satu deh, langsung terlelap." Gumam Bara.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2