Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 56


__ADS_3

Kepulangan Fatih ke Bandung membuat Raysa semakin bersemangat. Ia tak sabar rasa nya ingin bertemu dengan Fatih, pujaan hati nya saat ini. Setelah permasalahan tentang bunga, Raysa lebih hati-hati dalam menerima paket. Raysa pun bernapas lega saat Fatih mengatakan jika diri nya tak mempermasalahkan hal itu.


Tanpa Raysa ketahui, jika tekad Fatih untuk melupakan Raysa semakin kuat. Namun Fatih tak ingin terlalu terlihat menonjol, Fatih ingin membiasakan dirinya sebagai seorang Abang bagi Raysa, bukan seorang pria yang mencintai Raysa.


*


Raysa yang baru saja membeli sarapan lontong di dekat apartemen nya, melihat sebuah mobil merah yang di kenali nya. Mobil milik Tissa. Raysa pun memperhatikan dua manusia yang berada di dalam mobil tersebut dari jauh.


"Sa, bangun..." Ujar Fatih kepada Tissa.


Tissa merenggangkan tangannya, yang mana Tissa baru saja terbangun dari tidur nya.


"Udah sampai ya ..." Tissa mengerjap dan melihat sekitar nya.


"Iyaa, bangun .... tu iler jangan lupa di lap."


"Ehh, resek Lo ...."


Fatih terkekeh. Fatih pun membuka seatbel nya dan turun dari mobil, dengan Tissa mengikuti gerakannya.


Fatih membuka bagasi mobil untuk mengambil barang-barangnya.


"Aaww ...." Tissa memekik sakit saat kening nya terbentur oleh pintu bagasi mobil yang sedang Fatih buka.


"Ehh, sory ...." Fatih menoleh kearah Tissa yang keningnya sudah sedikit memerah.


"Sakitt tau ..." Rajuk Tissa.


Fati terkekeh, "Sory, gue gak liat Lo di situ."


Tissa hanya mencebikkan bibirnya. Fatih menyentuh kening Tissa, dan melihat keadaan kening Tissa yang memerah. Fatih pun meniup kening Tissa, dan berkata. "Dah, sembuh ...."


"Iis, dikira gue anak kecil apa." Tissa mengerucutkan keningnya.


Fatih terkekeh dan menepuk kepala Tissa dengan sayang. Tanpa mereka sadari, jika ada sepasang mata yang tengah menahan bulir bening itu terjatuh ke pipi nya.


Raysa melihat semua nya, Raysa mwlihat bagaimana Fatih mengecup kening Tissa dengan sayang. Dan Tawa Fatih yang sangat meneduhkan bagi lawan bicaranya. Raysa tak sanggup melihatnya lagi, hingga akhirnya Raysa memilih memasuki apartemen nya dengan rasa cemburu di hati nya.


*


Fatih baru saja selesai membersihkan tubuhnya, Fatih berencana untuk ke apartemen Raysa, memberikan titipan dari Bunda Sasa.


Fatih sudah menyiapkan hati nya untuk menjadi seorang Abang. Tak ada salahnya mencoba menjadi seorang Abang bagi Raysa. Lagi pula, bukannya Raysa menganggapnya sebagai Abang? Setidaknya Fatih sudah mengikuti nasehat dari dokter Faisal.


Fatih menekan bel yang ada di depan pintu apartemen Raysa, tak berapa lama pintu terbuka menampilkan Raysa yang terlihat sedikit murung.


"Kamu kenapa? sakit?" Tanya Fatih khawatir dan menyentuh keningnya.


"Aku gak papa." Ujar Raysa sambil menyingkirkan tangan Fatih.


"Bunda titip ayam ungkep dan rendang Frozen buat kamu." Fatih memberikan dua wadah tertutup rapat kepada Raysa.


"Makasih." Raysa meraih wadah tersebut dan memasukkannya kedalam kulkas.


"Kamu udah makan siang?" Tanya Fatih untuk memecahkan suasana yang terasa dingin.


"Masih jam 11, ya jelas lah belum makan siang." Jawab Raysa dengan sedikit merengut.


"Makan luar yuuk,"

__ADS_1


"Males,"


"Ayo lah ... kata nya rindu sama aku, kok aku udah di depan kamu jadi jutek gini hmm? Atau aku balik aja lagi ke Jakarta yaa?"


"Jangan," Jawab Raysa cepat sehingga menerbitkan senyum di bibir Fatih.


"Aku tunggu kamu di bawah ya, cepetan, oke ...." Fatih mencuil hidung Raysa sebelum ia keluar dari apartemen Raysa.


Raysa ingin tersenyum saat Fatih melakukan itu, tapi ia kembali teringat saah Fatih mencium kening Tissa. Wajah Raysa pun kembali murung.


*


Raysa menghampiri Fatih yang tengah berbicara kepada seseorang di panggilan telpon seluler nya. Fatih tersenyum saat melihat Raysa berjalan kearahnya, Fatih pun mengakhiri panggilan telponnya.


"Yuuk ...." Fatih berjalan di depan Raysa menuju mobilnya, dengan di ikuti Raysa di belakangnya.


"Waaah, mengkilat bener, kamu bawa doorsmeer ya?"


"Iyaa ..."


Raysa memberikan kunci mobil kepada Fatih. Fatih segera menekan tombol untuk membuka kunci pintu mobil miliknya.


"Kita mau makan di mana?" Tanya Raysa saat sudah duduk di dalam mobil dan berusaha untuk memasang seatbel nya.


"Ada deh, aku yakin kamu pasti suka."


Sreet ... sreet ...


"Susah yaa?" Lirih Raysa.


Fatih menoleh dan melihat Raysa kesusahan saat memasang seatbel. Fatih pun berniat untuk membantunya, sehingga tubuh Fatih sudah condong kearah nya.


Ceklek ...


Raysa menoleh kepada Fatih yang sudah duduk kembali seperti semula di balik kemudi.


"Udah macet kayaknya." gumam Fatih.


Raysa mengerucutkan bibirnya, ia merasa kecewa karena Fatih tak melakukan apapun seperti di film-film kepada dirinya.


Huuff ....


Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Raysa sesekali melirik kearah Fatih, jantungnya berdegup dengan kencang saat ini. Fatih terlihat sangat menawan dengan penampilannya yang sangat sederhana namun terlihat sangat menggoda.


"Oh ya, Farhan gimana kabarnya?"


Seketika lamunan Raysa buyar karena pertanyaan Fatih.


"Kak Farhan, baik."


"Kapan dia kembali?"


"Mungkin sebulan lagi."


Hening, Tak ada percakapan apapun lagi di antara mereka. Mood Raysa yang semula membaik, kembali merasa bersalah karena mengingat kejadian soal bunga itu. Haruskah Raysa kembali meminta maaf? yaa, walaupun Raysa sudah meminta maaf melalui panggilan telepon. Tapi Raysa masih merasa tak enak dengan Fatih.


"Emm, Fat, masalah bunga waktu itu ...."


"Ca, kan udah aku bilang gak papa."

__ADS_1


"Tapi, aku___"


"Ca, jangan bahas lagi ya, kita udah sampai."


Raysa melihat kearah luar, ternyata memang mereka sudah sampai di parkiran sebuah resto yang kekinian namun terlihat sangat classik.


Raysa turun dari mobil mengikuti gerakkan Fatih yang juga ikut turun. Raysa berjalan di belakang Fatih masuk kedalam resto tersebut. Semakin kedalam, Raysa merasa kagum dengan bangunan nya.


"Hai, Bos Fatih. Akhirnya datang juga." Ujar seornag pria yang terlihat seumuran dengan Fatih, dan menjabat tangan Fatih.


"Datang dong, masa gak datang di pembukaan resto yang udah gue rancang sendiri."


Fatih terkekeh bersama pria itu. Hingga netra pria itu melihat ke arah Raysa dan tersenyum.


"Waah, udah punya gebetan nih ceritanya?" Goda pria itu.


Fatih terkekeh, sedangkan Raysa sudah tersenyum malu. Karena seperti biasa, Fatih akan memperkenalkannya kepada orang-orang bahwa diri nya adalah calon istri Fatih.


"Bukan, Adik sepupu gue. Kebetulan tugas di sini, jadi ya udah gue ajak aja."


Senyum Raysa pun langsung memudar saat mendengar Fatih mengatakan bahwa diri nya adalah adik sepupu dari Fatih.


"Waah, gak nyangka adik sepupu Lo cantik bener. Hai, aku Rian." Ujar Rian sambil mengulurkan tangannya.


"Raysa." jawab nya dengan malas dan membalas uluran tangan Rian.


"Waah, gue suka tipe cewek jutek gini. Dah ada pacar gak doi?" tanya Rian kepada Fatih.


Fatih kembali terkekeh, "Saingan Lo berat,"


"Seberat apa emangnya? Demi Raysa, gunung Merapi pun akan ku daki." kekeh nya.


"Lo kenal Farhan? Pengusaha IT muda itu?"


Seketika mata Rian pun mendelik. "Waaah, berat banget itu mah ... Gak cukup tabungan gue buat mendaki ke gunung Himalaya." Ujarnya sambil terkekeh.


Fatih pun ikut terkekeh mendengarnya, namun tidak dengan Raysa yang merasa kesal kepada Fatih. Karena mengatakan jika dirinya adalah pacar Farhan. Padahal hubungan dirinya dan Farhan saja belum jelas mau di bawa ke mana. Emang sih, dulu bisa dikatakan jika Raysa berharap menjadi pacar Farhan, itu dulu, tapi tidak dengan sekarang. Raysa berharap jika Fatih lah yang menjadi suami nya kelak.


"Yuuk ah, Tissa dah tungguin di sana." Ujar Rian.


Seketika Raysa membeku, apa dirinya tak salah dengar? Tissa? apa wanita itu ada di sininjuga? Seketika mata Raysa berkelana hingga menemukan sosok cantik Tissa yang sedang tertawa dengan yang lainnya.


Lihatlah, tawanya sangat cantik sekali. Raysa kembali cemberut, karena merasa dirinya kalah cantik dengan Tissa. Belum lagi bentuk tubuh Tissa yang berisi di bagian dada dan pinggul. Pantas saja Fatih menyuruh dirinya untuk banyak makan, dan jaangan diet.


Tanpa sadar, Raysa mencebikkan bibirnya tak suka dengan pemikirannya barusan. Dan itu terlihat oleh Fatih.


"Kenapa? kamu gak suka sama resto ini? ini aku yang bikin loh sketsa bangunannya." Ujar Fatih mengambil atensi Raysa.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2