
Fatih melihat satu bekal yang sudah di siapkan. Fatih menaikkan alisnya sebelah, apa itu untuk Farhan? Entah kenapa Fatih berfikiran seperti itu.
"Ayo makan ..."
Pagi ini Raysa masih menyuapi Fatih, karena Fatih enggan menggunakan tangan kirinya untuk makan. Fatih membuka mulutnya saat Raysa mulai menyendokkan sesuap nasi goreng kedalam mulutnya.
Mata Fatih masih melirik kearah bekal makanan yang ada di atas meja. Raysa tau ke mana arah pandang Fatih, namun Raysa entah mengapa enggan untuk mengatakan jika bekal itu untuk Farhan. Ada rasa tak enak di dalam hati Raysa jika mengatakannya.
Sarapan pun selesai, Raysa sudah membereskan semua dapur hingga kinclong.
"Seharusnya gak perlu di bersihi, biasanya setiap pagi bakal ada orang yang datang buat bersihi." Ujar Fatih kepada Raysa yang sedang mengeringkan tangannya.
"Kebiasaan di rumah, jadi mau gimana lagi. Lagian aku juga gak buru-buru banget."
Fatih menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, aku pulang ya, mau siap-siap pergi dinas."
"Iya, makasih banyak ya ..."
Raysa hanya mengangguk dan tersenyum. Raysa mengambil kotak bekal dan membawanya bersama tanpa mengatakan apapaun. Fatih hanya menatap kepergian Raysa dan mengantarnya sampai ke pintu. Fatih ingin bertanya, namun suaranya seakan tertahan di tenggorokan, seolah -olah salah satu bagian tubuh sedang menjaga hati nya agar tak sakit.
Ponsel Fatih berdering, semalam Fatih sudah mengirim pesan kepada Tissa untuk menjemputnya pukul 8. Kebetulan kantor Fatih dan galeri yang ingin di bangun oleh Tissa berada dalam satu jalur.
"Halo ..."
" ......"
"Tumben banget Lo cepat geraknya? gue belum mandi ini ..."
"......."
"Iya ... iya ... ya udah, gue siap-siap dulu."
Fatih memutuskan panggilan, kemudian ia bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk Fatih bersiap, Karen Fatih memang orang yang simple, namun kali ini Fatih tak bisa mengikat rambutnya, karena tangannya yang masih sakit jika di gerakkan ke atas. Fatih pun kembali menggunakan Bando nya untuk menarik semua rambutnya kebelakang.
Ceklek ...
Fatih terkejut saat melihat Raysa masih berada di depan lift, begitu pun dengan Raysa.
"Kamu pergi kerja jam segini?" Raysa menoleh ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 7 lewat 35 menit.
"Iya, ada meeting dadakan jam 8, jadi aku harus datang pagi."
"Ya udah, aku antar."
"Eh jangan, nanti kamu terlambat apelnya. Lagian teman ku sudah menuju ke sini."
Raysa menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melihat penampilan Fatih yang hanya menggunakan kemeja terbuka dan celana jeans. Bahkan rambutnya tak di ikat seperti biasa nya jika Fatih sedang bertemu dengan klien.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Fatih dan Raysa pun masuk bersamaan. Kebetulan sekali di dalam lift tidak ada satu orang pun. Raysa melirik kearah pergelangan tangan Fatih yang memang selalu ada ikat rambut di dekat jam tangannya.
"Sini .."
Raysa menarik tangan kanan Fatih dengan lembut. Karena memang Fatih menggunakan jam di tangan kanannya, berbeda dengan kebanyakan orang, jika menggunakan jam di tanah kirinya.
Raysa menarik ikat rambut tersebut, kemudian ia berjalan ke arah belakang Fatih. Raysa terpaksa harus berjinjit karena tinggi Fatih yang melebihi tingginya. Fatih tersenyum, kemudian ia membuka kakinya lebar agar tingginya bisa sama dengan tinggi Raysa. Raysa menarik bando Fatih, kemudian ia rapikan rambut Fatih dengan jarinya. Di kumpulnya rambut Fatih menjadi satu, kemudian ia mengikat nya.
"Udah ..."
Fatih kembali berdiri dengan tegap. Namun pergerakan Raysa yang lain membuat jantung Fatih berdegup dengan kencang. Raysa berdiri di hadapan Fatih, dan mengancingi semua kancing baju kemejanya. Fatih menelan ludahnya, di dalam hati beristighfar agar tak menerkam Raysa saat ini juga.
Oh Layca, bisakah kamu tak memancing sisi liar ku? Bisa di gorok Daddy Bara jika aku sampai menyentuh mu.
Fikiran Fatih sudah melayang kepada adegan salah satu film di mana si wanita merapikan dasi si pria, dan kemudian si pria yang tak menahan nafsunya pun langsung menerkam bibir si wanita. Tidak hanya sampai di situ, mereka pun akhirnya gagal ke kantor karena harus menuntaskan sesuatu yang baru saja di mulai.
"Sudah ... gini kan rapi. Lebih enak di pandang."
Raysa mundur tiga langkah, sehingga Fatih pun akhirnya bisa bernapas lega. Fatih merasa kenapa ini lift lama sekali turunnya, dan kenapa tidak ada orang yang naik ke dalam lift? Bukankah ini sudah pukul setengah 8, di mana waktunya orang-orang sedang sibuk untuk berangkat pagi agar tak terkena macet? Oh, sungguh malang nasib Fatih yang harus menahan sisi liarnya.
Hei Layca, bis agak tu bibir gak usah di gigit - gigit? Rasanya pingin banget Fatih menggantikan gigi nya untuk menggigit bibir Raysa.
Ting ...
Pintu lift terbuka. Fatih berjalan keluar duluan, membuat Raysa terkejut dan menatapnya bingung. Raysa pun berjalan pelan sambil masih memperhatikan punggung Fatih yang mulai menjauh. Raysa menghentikan langkahnya di saat Fatih juga menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik dan berjalan cepat kearah Raysa.
"A-aku duluan ya ... Kamu hati-hati nyetirnya." Tak lupa Fatih mengacak rambut Raysa, kemudian ia berbalik dan berjalan dengan cepat.
Saat Fatih berada di lobi, mobil berwarna merah pun tiba, dan Fatih langsung masuk kedalamnya.
__ADS_1
Raysa mencebikkan bibirnya, pantas saja Fatih buru-buruz ternyata takut ketahuan jika dia di jemput oleh seorang wanita. Dasar Buaya.
Raysa pun menggerutu kesal, awalnya Raysa yang tak kesal, dan sekarang menjadi menyesal karena telah mengikat rambut Fatih dan merapikan kemeja nya.
Raysa menghentakkan kakinya, ia kemudian sadar saat ponselnya berdering. Raysa melihat nomor asing di sana, namun ia tak ragu untuk mengangkatnya, karena di depan lobi sudah ada tukang ojek yang baru saja tiba. Raysa pun mendekati tukang ojek online tersebut.
"Mbak Raysa?" Tanya tukang ojek online.
"Iya pak, Ini. Tolong di antar ya ke alamatnya." Raysa memberikan bekal yang sudah di siapkan nya kepada Tukang ojek.
"Iya Mbak."
Raysa memberikan biaya pengantarannya, kemudian ia pun berjalan meninggalkan tukang ojek yang sedang menghidupkan mesinnya. Raysa mengetikan sebuah pesan untuk Farhan, mengatakan jika bekal sarapannya sedang menuju kantornya.
Di seberang sana, Farhan tersenyum lebar dan menyuruh supirnya untuk mempercepat laju mobilnya. Farhan ingin dia sendiri yang menerima bekal tersebut. Karena bekal itu di kirimkan oleh pujaan hatinya. Pastinya penuh cinta di sana.
*
Fatih masuk kedalam mobil Tissa, kemudian ia memegang jantungnya yang masih berdegup kencang.
"Nape Lo?"
"Air ... Mana air?"
Tissa pun bingung, namun ia pun segera mengambil sebotol air dan membukakannya untuk Fatih. Fatih menerima air tersebut dan meneguknya hingga setengah.
Tissa melajukan mobilnya dan akan bertanya kembali saat Fatih benar-benar tenang.
"Laysa tadi pagi ngikatin rambut gue, terus dia kancingin baju gue " Ujar Fatih dengan wajah bersemu merah.
Ciit ...
Untungnya tak ada kendaraan yang sedang melaju tinggi di belakang mobil Tissa. Tissa terkejut dan menekan rem mendadak bukan karena Fatih mengatakan Raysa mengikat dan mengancing bajunya, namun wajah Fatih yang bersemu merah dan tersipu malu- malu itu yang membuat Tissa merasa terkejut. Untungnya mereka berhenti tepat di lampu merah.
" Lo gila? kalo ada mobil di belakang kita gimana? main rem tiba-tiba aja, untung lobgak ngebut."
Tawa Tissa langsung pecah, ia tak tahan melihat wajah Fatih yang benar - benar cute seperti ini. Tak percaya Tissa jika Fatih bisa seperti ini. Seingatnya, saat mereka di Malaysia dulu, Tissa di goda oleh preman kampus yang memang suka mencari masalah dengan anak-anak yang lebih lemah, Fatih datang tanpa kata dan langsung menghajar mereka semua. Tissa sampai terkejut saat melihat Fatih bisa sangat mengerikan seperti itu. Hingga seluruh kampus takut kepada Fatih. Sehingga Fatih di juluki Raja Kampus.
" Wajah Lo itu ... Ha ...ha ....ha .. Menjijikkan tau gak, gak cocok banget Lo malu - malu gitu. Gak ada tampang Lo buat malu -malu. Yang ada malu-maluin iya ... Ha..ha..ha.."
Tissa kembali menahan tawanya saat ada mobil yang mengklakson mereka. Tissa kembali melanjutkan perjalanannya.
"Sirik aja Lo .. Dasar jomblo karatan."
*
Farhan tak sabar menunggu ojek online itu tiba, dalam lima detik sekali, Farhan menatap jam tangannya, hingga dirinya pun menjadi pusat perhatian bawahannya. Farhan sengaja berdiri di depan lobi agar mempermudah tukang ojek untuk mengantarkan makannya langsung kepadanya.
Namun, Karyawan Farhan tak berfikiran seperti itu. Mereka sudah jantungan karena Farhan tak biasanya berdiri di sana. Bahkan sebagian karyawan ada yang memutar dan memilih lewat belakang. Walaupun itu Lana memakan waktu yang lebih lama untuk mereka melakukan absensi.
Pria berjaket hijau dan menggunakan motor pun masuk keperkarangan kantor Farhan. Farhan langsung tersenyum lebar dan menghampiri tukang ojek tersebut, sehingga tulang ojek itu terkejut.
"Mas Farhan?" Tanya nya ragu-ragu.
"Iya, Saya." Ujar Farhan dengan senyum lebarnya. Tak biasanya Farhan tersenyum di depan karyawan nya, dan itu menjadi pemandangan yang indah bagi semua karyawan wanitanya, yang mana akan semakin memuja Farhan.
"Ini dari Mbak Raysa."
Farhan meraih bekal tersebut dan memberikan uang seratus ribu kepada si tukang ojek.
"Eh, sudah di bayar Mas, sama Mbak Raysa nya."
"Gak papa, ambil buat bapak aja, buat tambah-tambah isi minyak."
Tanpa ragu dan segan, tukang ojek pun mengambil uang tersebut.
"Terima kasih Mas, semoga cepat nikah sama Mbak Raysa nya." Doa tulus dari tukang ojek.
"Amin, makasih Pak."
Dengan perasaan berbunga-bunga, Farhan memegang bekal yang di kirimkan Raysa dengan hati-hati. Senyumnya pun tak luntur sedari tadi memandang bekal tersebut. Asisten Farhan pun sampai geleng-geleng kepala, jika sudah menyangkut dengan yang namanya Raysa, pasti bosnya ini bakal seperti orang gila.
Sesampainya di ruangan, Farhan langsung membuka bekal makananya, sebelumnya ia sudah berpesan kepada Asistennya Abil, untuk tidak masuk kedalam ruangannya sampai ia memanggil asistennya itu.
"Bismillah .." Farhan mulai menyendokkan nasi goreng yang dikirmkan oleh Raysa.
"Eem, enak banget. Emang calon istri idaman ini." Farhan terus menyuapkan makananya kedalam mulut, sambil tersenyum-senyum.
Ponsel Farhan berdering dan menampilkan panggilan video dari Raysa.
"Hai .." Panggil Farhan saat wajah Raysa sudah tampil di layar pipihnya.
__ADS_1
" Lagi makan ya?"
"Iya, enak banget. Makasih Ya .. Mau dong tiap hari di masakin."
Wajah Raysa tersipu malu, di tambah dengan ucapan Farhan selanjutnya.
"Udah siap kan? Masakin untuk Aku setiap hari?"
Dengan wajah malu-malu, Raysa menganggukkan kepalanya. Farhan semakin tersenyum lebar dan menatap dengan cinta ke layar pipih nya.
"Nanti malam dinner yuk ..." Aja Farhan.
Raysa awalnya ingin mengangguk, namun seketika ia mengingat tentang Fatih yang tangannya masih sakit.
"Kayaknya gak bisa deh Kak, Fatih tangannya retak gara-gara aku, jadi aku harus masakin untuk dia."
Terlihat sedikit perubahan wajah Farhan.
"Kakak Jangan salah paham. Ica cuma bertanggung jawab aja kok, sama sekali. ngucapin makasih untuk Fatih."
"Iya, Kakak percaya kok sama Ica."
Raysa pun tersenyum. "Oh ya, gimana kalo Kaka makan malam bersama kami aja?"
"Ide bagus." Jawab Farhan cepat.
Tentu saja ide bagus bagi Farhan. Karena Farhan tak akan membiarkan Fatih dan Raysa berduaan. Farhan takut, jika Raysa bisa berpindah kelain hati.
Huuff, sepertinya Farhan harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, agar bisa melamar Raysa dengan segera.
*
Fatih bernapas lega, akhirnya kliennya kali ini tak kembali meminta perubahan dengan sketsanya. Bukannya Fatih tak ingin merubah sketsa, namun berhubung keadaan tangannya yang sakit dan membuat ia sudah bergerak, itu akan sangat merepotkan bagi Fatih.
Pintu ruangan Fatih diketuk, dan menampilka Rara di balik sana.
"Bos mau makan apa?" Tanya Rara sang sekretaris dengan sopan.
Fatih terlihat berfikir, kemudian ia memesan spageti dengan porsi jumbo, jus Buah naga, dan buah alpukat yang di beri taburan medis dan keju. Rara pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia keluar dari ruangan Fatih dan menyiapkan apa yang di minta oleh Fatih.
Fatih melirik kearah jam tangannya, masih ada sisa satu jam setengah lagi untuk jam istirahat. Fatih memilih untuk mengecek email yang dikirimkan oleh Mami Mili. Ada pekerjaan yang harus Fatih lakukan di perusahan sang Mami.
Cling ...
Ponsel Fatih berbunyi, menampilkan sebuah pesan dari Raysa. Dengan senyum mengembang, Fatih meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.
Layca❤️❤️: Jangan lupa makan, dan obatnya jangan sampai lupa di minum. Biar cepat sembuh.
Me :Oke calon istri.
Fatih tersenyum mengingat bagaimana reaksi Raysa saat membaca balasan pesannya.
Dan benar saja, Raysa yang berada di kantornya pun, saat mendapatkan balasan dari Fatih langsung bergidik geli dan menelungkup kan ponsel nya dengan kesal.
"Gak bosan-bosan nya ni anak." kesal Raysa.
hai, perkenalkan, nama aku Farhan.
CEO muda dalam bidang Teknologi dan jaringan.
Tau kan aku anak nya siapa?
yups, aku anak nya Papi Riko, yang pernah suka sama Bunda Sasa.
Sekarang, Aku nya yang kecantol sama anaknya Bunda Sasa.
Doain aku ya, Berjodoh dengan Raysa.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....