
Fatih merasa tubuhnya lemas, akan tetapi sebagian dirinya merasa bahagia mendengar kabar baik ini. Bagiamana tidak, Raysa kembali di nyatakan hamil oleh Anggel.
"Baru juga Mama bilang, udah kebobolan. Emangnya gak pake pengaman selama ini?" tanya Mama Kesya.
"Pake, tapi? Pernah beberapa kali gak pake juga, tapi, seingat Fatih, keluarin di luar, eh, ada dengan masuk sedikit, eh? Masuk gak ya? Eh, tapi___"
"Ah eh ah eh aja gak pake tapi. Intinya Ica udah hamil sekarang. Itu tandanya kamu harus lebih ekstra jaga Ica, tau sendiri kan? Ica suka darah tinggi?" ujar Anggel.
"Iya, tapi? Kok bisa hamil yaa? Perasaan cuma sekali itu doang gak pake pengaman, trus___"
"Itu tandanya rahim Ica subur. Benih kamu juga bagus, makanya cepat jadinya. Kenapa gak pake KB suntik aja sih waktu itu?" tanya Anggel lagi.
"Lah, kan memang suntik KB," jawab Bunda Sasa.
"Iya, tapi,"
Fatih sudah bingung sendiri, seingatnya dia rutin membawa Raysa untuk suntik KB, pernah sih, sekali Fatih lupa membawa Raysa, tapi mereka bermain cuma sekali juga sebelum kembali suntik, masa iya langsung jadi?
"Udah, ini rezeki yang tak terduga, kamu harus terima." ujar Bunda Sasa akhirnya.
"Iya, Fatih terima, tapi?"
"Intinya kamu harus menjadi suami dan Papi siaga yang lebih ekstra." tambah Mama Kesya.
"Boleh gak kalau Layca resign dari kepolisian?" tanyanya setelah diam beberapa saat.
Plaak ...
Fatih meringis dan memegangi kepalanya yang baru saja di tempeleng oleh Daddy Bara.
"Enak banget kalau ngomong, Jadi polwan itu udah cita-cita Ica dari kecil. Enak aja main patahi cita-cita anak Daddy," kesal Daddy Bara.
"Kan cuma tanya, Dad, mana tau di kasih izin." ujar Fatih dengan merengut.
*
Raysa menatap wajah Fatih yang sedari tadi melamun. Raysa tau, apa yang saat ini sedang dalam pikiran sang suami.
"Abang," panggil Raysa.
Fatih menoleh dan tersenyum dengan paksa.
"Semua akan baik-baik saja, Aku dan bayi kita, akan baik-baik saja."
Ya, Raysa berjanji akan tetap baik-baik saja bersama kedua bayi yang ada di dalam perutnya itu.
Ya, Raysa kembali mengandung bayi kembar lagi.
Waktu terus berlalu, selama lima bulan ini, tensi Raysa pun terbilang cukup normal. Tapi, Fatih tak boleh bernapas lega, bisa saja tensi Raysa akan kembali tinggi.
Reyhan dan Rayyan pun di asuh oleh bunda Sasa dan Mami Mili. Selama kehamilan Raysa yang kedua, Mami Mili memilih tinggal di rumah Oma Shella, demi menjaga kedua cucunya dan juga menantu kesayangannya itu.
Tak terasa, kehamilan Raysa sudah memasuki bulan ke sembilan, sebentar lagi waktu bagi kedua bayinya untuk melihat dunia luar pun akan tiba.
"Aaw..,"
"Kenapa, sayang?" tanya Fatih yang memang selalu ada untuk Raysa, di mana pun berada, kecuali saat Raysa di kantor pastinya.
"Mereka nendang-nendang."
Fatih mengulurkan tangannya dan merasakan apa yang Raysa katakan.
"Enggak kok, eh iya, mereka nendang-nendang."
Sesat, kekhawatiran Fatih akan kondisi Raysa pun hilang. Tapi hanya sesaat, karena setelahnya Fatih kembali merasakan khawatir. Takut jika saat itu tiba, tensi Raysa kembali naik.
*
Seluruh keluarga sudah panik, saat Mami Anggun mengatakan jika tensi Raysa kembali tinggi dan tak bisa di operasi hingga tensinya turun.
Fatih sudah *******-***** rambutnya dengan frustasi. Jangan di tanyakan lagi, bagaimana keadaan Fatih saat ini.
Keadaan Raysa semakin lemas, hingga akhirnya Mami Anggun berhasil menurunkan tensi Raysa, hingga dia bisa menjalankan proses operasi Caesar.
Setelah menunggu dua jam lebih, Anggun keluar dengan membawa berita bahagia dan juga duka.
"Maaf, kami gak bisa menyelamatkan satu bayinya. Ica dan satu bayinya lagi Alhamdulillah dalam keadaan sehat."
Puji syukur pun terucap dari setiap bibir keluar yang ada di rumah sakit, dan juga rasa kehilangan.
__ADS_1
"Maafin aku, hiks .. aku gak bisa tepati janji aku yang akan membuat kedua bayi kita baik-baik aja," ujar Raysa dengan isak tangis di dalam pelukan Fatih.
"Bukan salah kamu, ini sudah menjadi takdir yang Allah berikan untuk kita. semoga putri kita yang telah di panggil oleh Allah, akan menjadi amal untuk kamu kelak di akhirat," ujar Fatih sambil mengusap punggung Raysa untuk menenangkannya.
*
Almaira Faraysh Gibran
Keseluruhan wajah yang sangat mirip dengan Fatih, Raysa hanya kebagian di hidungnya saja.
"Cantik Bangeet, gemesh deh. Aku bawa pulang yaa," ujar Tissa yang sedang menggendong Maira.
Fatih hanya tersenyum mendengar candaan sang sahabat.
*
Waktu terus berjalan. Fatih akhirnya bisa merasakan bagaimana perasaan Daddy Bara menjaga putri semata wayangnya itu. Tentu saja, Fatih akan memberikan yang terbaik bagi sang putri.
Seperti saat ini, walaupun lelah, Fatih akan setia menemani sang putri untuk bermain kuda-kudaan.
"Udah cukup mainnya, ayo serangan cuci tangan dulu, Mami buat cemilan untuk kalian," ujar Raysa sambil mengajak putri dan putranya untuk mencuci tangan.
Fatih memegangi pinggangnya yang serasa mau patah. Lelah dalam memimpin dua perusahaan, di tambah harus meninjau lapangan, dan saat pulang di hadapi dengan tiga bocah yang lincah serta aktifnya di atas normal. Fatih maklumi, mengingat bagaimana lincahnya dia saat kecil dulu.
"Sakit pinggang?" tanya Raysa.
"Iya, nyeri banget."
"Itu tandanya Abang udah tua," ledek Raysa dan meninggalkan sang suami yang terbengong mendengar ledekannya.
*
Tak terasa, Reyhan dan Rayyan telah berumur 8 tahun, begitu pun dengan Maira yang berumur 6 tahun.
Maira benar-benar cantik, wajahnya putih, pipinya tembem dan merona. Siapa pun yang melihatnya, pasti ingin sekali mencium dan mencubit pipi gemas itu. Akan tetapi, itu hanya menjadi angan-angan bagi yang ingin melakukannya, karena Fatih dan kedua putranya akan menjaga Almaira bagikan ratu yang tak boleh di sentuh oleh siapapun.
Bayangkan saja, Reyhan dan Rayyan yang masih berumur 7 tahun, tapi sudah sangat jago dalam bela diri. Fatih saja sampai takjub melihat kedua putranya yang masih usia sangat muda, sudah membawa pulang mendali kemenanga bela diri.
"Hai Al," sapa Karim.
Almaira hanya melirik ke arah pria yang umurnya tiga tahun di atasnya itu. Bahkan, Maira enggan untuk membalas sapaan bocah laki-laki bernama Karim itu.
"Males, Mi. Mas aim suka jahil sama Ila, dah tau Ila gak suka di panggil Al." gerutu gadis kecil itu.
Raysa menatap sahabat sang suami, Tissa.
"Kayaknya bakal ada season ke dua nih," ujar Tissa kepada Raysa, yang mana mengingatkan perjalanan cinta antara Fatih dan Raysa.
Karim adalah anak angkat dari Farhan dan Tissa. Setelah empat tahun menunggu kabar baik yang hadir di dalam rahimnya, akhirnya mereka memutuskan untuk mengangkat anak dari panti asuhan.
Pilihan Tissa dan Farhan pun jatuh kepada bocah pendiam dan juga penyendiri. Mereka mengangkat Karim dari panti asuhan yang di kelola oleh keluarga Moza.
Karim yang masih takut dengan suasana barunya, menatap gadis kecil yang berumur dua tahun berlari ke arahnya. Untuk pertama kalinya, Karim membalas genggaman tangan dari orang asing. Orang asing itu adalah Almaira Faraysh Gibran.
Seiring berjalannya waktu, Maira merasa kesal dengan Karim yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'Al'.
Karena Maira, Karim sekalian menemukan keceriaannya lagi.
"Maaf, aku akan panggil kamu, Ira." ujar Karim dengan tersenyum.
"Janji? Jangan panggil aku Al lagi." kesal Ira.
"Iya, Aku janji."
Ira dan Karim pun menautkan jari kelingking mereka bukti tanda damai.
"Seneng lihat mereka akur lagi," ujar Tissa menatap kedua bocah yang tengah bermain.
"Iya, oh ya, kAkak masih jalani progam hamil?"
"Aduh, Layca. Capek. Tusuk sini, tusuk sana, minum ini, minum itu, semua udah d jalanin. Semua pantangan juga udah di pantangin. Dari pengobatan tradisional, sampai internasional, aduuh, lelah hayati," ujar Tissa sambil terkekeh.
"Namanya juga usaha kak."
"Iya, walau bagaimana pun, kita manusia sudah berusaha, semua keputusan ada di tangan Allah. Yang penting, usahanya aja dulu,"
"Bener tuh kak."
Raysa dan Tissa memang sering bertemu di saat mereka sedang tak sibuk. Bahkan, Raysa dan Tissa pun semakin akrab.
__ADS_1
*
Dua tahun kemudian.
Tissa dan Farhan tengah mengadakan oerlsta ulang tahun Karim yang ke sepuluh. Tiba-tiba saja Tissa jatuh pingsan di tengah-tengah acara berlangsung.
Angg langsung memeriksa keadaan Tissa, hingga satu kalimat Anggel, membuat tubuh Farhan bergetar.
Tak ingin menunggu lama, Farhan langsung membawa Tissa ke rumah sakit dan memeriksakan keadaan sang istri.
"Selamat, istri Bapak hamil,"
"Alhamdulillah, ya Allah..."
Farhan sujud syukur saat mendapatkan kabar jika akhirnya Tissa hamil. Selama 10 tahun mereka menanti kabar tersebut, akhirnya doa-doa mereka pun terkabul.
Farhan tak bisa menahan rasa harunya lagi, pria itu memeluk sang istri dan menangis terharu bersama.
Ira menatap wajah pria yang berdiri di sebelahnya saat ini, gadis kecil itu pun menggenggam tangan pria yang umurnya tiga tahun di sebelahnya.
Karim menoleh kearah Ira, sudut bibir bocah laki-laki itu pun naik ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Aku akan punya adik,"
Tissa menatap bocah kecil yang menatapnya dengan satu. Tanpa ingin membuang waktu, Tissa memeluk bocah laki-laki itu.
"Sampai kapan pun, Mami akan terus menjadi Mami kamu." bisik Tissa kepada anak angkatnya itu.
Tak ada hal terindah dari kabar bahagia yang sudah lama di nanti-nanti.
Fatih- Raysa dengan ketiga anaknya.
Farhan-Tissa dengan kedua anaknya.
Tissa menepati janjinya sebagai seorang ibu, tak ada rasa cinta yang dia berikan secara berbeda. Baginya, Karim tetaplah putranya sendiri.
*
"Mas, kenapa diliatin aja adiknya?" tanya Tissa kepada Karim.
"Adiknya cantik,"
hanya itu yang bisa Karim katakan. Ya, Tissa baru saja melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Olivia namanya, keturunan sah Farhan satu-satunya.
*
Setiap perjuangan yang tulus, akan menemukan titik terang dalam kebahagiannya masing-masing. Walaupun jalan yang di hadapi sangatlah terjal.
Ibarat gunung yang tinggi dan terjal, sulit di daki, akan tetapi, dia akan menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dari puncaknya. Begitulah kehidupan, pasti akan ada puncak keindahan setelah melalui perjalanan panjang ini.
Perjuangan Bara yang meluluhkan hati Sasa, sehingga menjadikan mereka sepasang suami istri yang membuat iri hati para readers.
Di tambah lagi, perjuangan Fatih yang meluluhkan hati Raysa, hingga akhirnya membuat si keras kepala Raysa, bucin akut kepada Fatih.
Dan juga, perjuangan Tissa dan Farhan, menanti hingga sepuluh tahun buah cinta mereka hadir, hingga akhirnya allah mengabulkan doa-doa itu.
Akankah Karim dan Almaira akan memiliki kisah cinta yang rumit? Atau kisah cinta mereka akan lebih rumit dari para orang tuanya.
THE END
Terima kasih author ucapkan kepada readers-readers semua yang udah setia mengikuti kisah cinta Bara dan Sasa. Fatih dan Raysa. Tissa dan Farhan.
Maaf, jika endingnya tak memuaskan. Author janji, akan memberikan ektra past yang bikin klepek-klepek.
Ikuti terus ya semua kisah-kisah novel ku.
Yang belum taplove TWINS A AND MISS CERIWIS, buruan taplove yaa.. up tiap hari...
Jangan lupa juga, follow IGnya author ya...
Terima kasih dan beribu-ribu kasih sekali lagi author ucapkan kepada semua readers..
I LOVE YOU ❤️❤️❤️
...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......
...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....
...Rira_Syaqila...
__ADS_1