Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 8 " Fadil dan Sasa "


__ADS_3

Ciee, yang baru jadian" Goda Sasa saat melihat Fadil dan Puput masuk kedalam toko dengan bergandengan tangan.


" Sirik aja Lo, makanya cari pacar sana"


" Ihh, males banget. Habis-habisin waktu."


" Jadi Lo mau jomblo seumur hidup?"


" Ya elah, jodoh tu udah di atur. Ngapain capek nyari, jadian, sayang-sayangan dan habisin waktu, trus putus. Mendingan tunggu dia datang, nyatain cinta, ngajak nikah deh. Jadi gak perlu menguras hati untuk patah hati" Ujar Sasa.


" Ya elah, macam pernah patah hati aja Lo"


Sasa hanya mengendikkan bahunya. Kenyataannya memang Sasa tidak pernah pacaran sama sekali, karena menurutnya mencari uang lebih penting dari pada pacaran. Bukannya tidak ada yang menyukai sasa, sudah banyak yang menyatakan cinta, termasuk ketua preman pasar, tapi Sasa menolaknya karena merasa buang-buang waktu untuk hal itu.


" Eh, Lo masih normal kan?" Tanya Fadil yang langsung menyembunyikan Puput di belakangnya.


Puput sudah tersenyum geli melihat wajah Sasa yang sudah memancarkan kilatan api di matanya.


" Udah bosan bernapas Lo dengan oksigen yang tersedia? atau Lo mau bernapas dengan di bantu selang oksigen?" Ancam Sasa.


Bulu kuduk Fadil tiba-tiba saja langsung merinding. Fadil tau betul bagaimana Sasa jika sudah menghajar orang. Dia akan terus memberikan bogem mentahnya tanpa ampun.


" Cewek manis mulutnya jangan pedas-pedas, Entar gak laku loh" Sahut Bara yang baru saja masuk.


Sasa tidak memperdulikan kehadiran Bara. "Jutek amat sih neng, senyum dikit nape?"


" Ogah"


" Atau mau kang parkir yang godain?"


"Gue gak butuh pria lemah" Ujar Sasa dengan tatapan tajam setajam mulutnya netizen menatap Bara.


Fadil dan Puput sudah memandang mereka berdua sambil tersenyum.


" Coba aja Mas Bara belum tunangan, pasti seru ya kalo bisa jadian sama Sasa" Bisik Puput kepada Fadil, yang masih di dengar oleh Sasa dan Bara.


" Iih, amit-amit jabang bayi" Ujar Sasa.


" Hati-hati, ntar cinta beneran loh" Goda Bara, yang tidak di gubris sama sekali oleh Sasa.


Bara, Fadil, dan Puput langsung saja duduk di cafe cake. Mereka membahas tentang orang yang mengikuti Puput selama ini.


" Gue curiga, jika dia ngincar Puput. Kenapa dia tidak langsung menculik Puput. Sepertinya ada maksud lain di balik semua ini" Ujar Bara.


" Put, kamu punya musuh?" Tanya Bara.


" Emm, Gak ada sih Mas. Terakhir sama Agus. Tapi sudah selesaikan Dil?" Ujar Puput yang di angguki oleh Fadil.


"Gue juga udah nanya sama teman-teman gue. Gak ada yang kenal dengan mereka. Kecuali mereka dari geng Mafia." Sambung Fadil.

__ADS_1


Bara menatap Puput, kemudian terlintas satu nama di dalam fikirannya. ' Apa mungkin?? Gak gak gak, tapi jika bukan dia, siapa?' batin Bara.


Sasa datang dan membawakan pesanan mereka. Kemudian Sasa ikut bergabung bersama mereka. Setelah kejadian di kantor polisi waktu itu, Bara sudah meminta maaf dan menjelaskan tujuannya mengajak Sasa ke sana saat mereka sedang makan siang di apartemen Sasa.


Fadil menatap Sasa yang baru saja duduk di sebelahnya, Sasa sengaja menggeser kursi ke sebelah Fadil, agar tidak duduk bersebelahan dengan Bara. Entah lah, Sasa merasa gak nyaman aja dengan Bara yang menggunakan seragamnya, ya walaupun dia selalu memakai jaket agar tidak terlalu mencolok karena seragam coklatnya.


" Sa, Lo gak ada kenalan gitu di geng Mafia"


Bara langsung menatap Fadil dan Sasa bergantian. Begitupun dengan Puput, dia terheran-heran kenapa Fadil sampai bisa bertanya seperti itu kepada Sasa. Karena setau Puput, Sasa anak yang baik dan kalem. Gak tau aja Puput kalo Sasa bisa segarang macan betina bunting, bahkan bisa melebihi betina bunting.


" Ada, tapi udah meninggal" Jawab Sasa santai sambil menyeruput lemon tea nya.


Fadil menatap kesal kepada sasa, jawaban Sasa itu sama saja jika dia tidak memiliki kenalan.


Buntu, Benar-benar buntu. Mereka tidak tau motif apa sebenarnya dibalik pengintaian Puput.


Bara masih memperhatikan Sasa. Sepertinya Bara sangat penasaran dengan masa lalu si mungil di hadapannya ini. Kenapa Fadil bisa menanyakan masalah geng Mafia dengan Sasa? Apa jangan-jangan Sasa?. Pokoknya Bara harus mencari tau masa lalu Sasa. Mungkin dari mengetahui masa lalu Sasa, Bara bisa tau alasan Sasa kenapa sangat tidak suka dengan seragam polisi, dan trauma apabyang di derita oleh Sasa.


" Oh ya, Mbak Kesya kapan pulang?" Tanya Sasa memecah keheningan di antara mereka. Yang mana mereka tengah sibuk dengan fikirannya masing-masing.


" Gak tau, lagian tu orang susah buat di hubungi. Ya biarin aja lah mereka berdua, biar pulangnya jadi bertiga"


Sasa mengaminkan perkataan Fadil di dalam hati. Tak berapa lama ponsel Sasa bergetar, dan ternyata adalah neneknya yang mengirimkan pesan.


" Siapa?" tanya Fadil saat melihat Sasa sudah serius menatap ponselnya.


" Nenek gue "


" Alhamdulillah baik."


" Kalo Baik kenapa wajah Lo masam?"


" Oh, Nenek bilang, atap rumah kemarin bocor, jadi nenek sekarang tinggal sama Pakde Yono"


" Ya udah, besok gue suruh orang buat betulin genteng rumah nenek Lo"


" Gak usah, yang ada gue ngerepotin Lo aja ntar."


" Kagak lah, cuma genteng doang"


" Oke lah, nanti gue cicil duitnya.


" Gak usah, kayak sama siapa aja Lo. Pokoknya Lo fokus sesuai dengan perjanjian kita aja. Yang lain mah gampang?"


" Enak Lo ngomong, lah gue yang kagak enakkan hutang Budi sama Lo terus."


Bara dan Puput hanya memandang kedua orang yang tengah beradu argumen tersebut.


" Kenapa masam lagi wajah Lo?"

__ADS_1


Sasa memberikan ponselnya kepada Fadil, Fadil membacanya dan kemudian tawanya meledak.


" Ha..ha..ha.. Makanya Lo dah bisa cari pacar sana. Dari pada Lo di jodohi dengan dia? atau Lo emang suka lagu sama dia. Ha..ha..ha.."


" Sialan Lo" Sasa membuang pandangannya kearah luar. Nasib orang jomblo.


" Kenapa?" Tanya Puput dan Bara hampir bersamaan.


" Si Sasa mau di jodohi sama neneknya dengan anak pakde Yoni, tetangga mereka. Dan kamu tau sayang, anaknya pakde Yono itu dukun banget, bahkan kalo tidur masih minum Didot. Ha. ha..ha.. Yang sabar ya Lo sa"


Sasa hanya mendengus kesal mendengar tawa Fadil. Puput hanya menatap Sasa dan Fadil dengan heran. Sebenarnya seperti apa hubungan Sasa dan Fadil. Tapi dari tatapan mata Sasa dan Fadil, tidak ada tersirat ketertarikan di antara mereka berdua. Tapi tetap saja, Puput penasaran dengan hubungan mereka seperti apa.


Drrtt...Drrt...


Bunyi ponsel Bara mengalihkan perhatian Fadil dan Puput, sedangkan Sasa tidak peduli tentang Bara, dan apapun yang berhubungan dengan pria itu.


" Halo..."


"....."


" Maaf, aku terlalu sibuk. Karena ada kasus yang harus segera aku selesaikan. Kamu sudah makan?"


Bara berdiri dan meninggalkan Fadil, Puput, dan Sasa.


" Ke mana Lo dengan Bara kemarin?"


Sasa langsung menoleh menatap Fadil, dia yakin jika pertanyaan itu di tujukan untuknya. Sasa pun menceritakan jika Bara membawa dirinya ke kantor polisi, dan dia bertemu dengan Tio. Fadil mengumpat dan terlihat mengeraskan rahangnya. Fadil tidak bisa mengalahkan Bara, karena Bara tidak mengetahui kondisi Sasa, tapi yang paling Fadil kesalkan adalah Tio, kenapa pria itu masih berada di Jakarta. Bukankah Fadil sudah meminta orang untuk memindahkannya ke daerah pelosok? Fadil akan selidiki ini nanti.


Puput merasa sedikit memanas di hatinya, melihat perhatian Fadil kepada Sasa. Memang di antara mereka tidak terlihat seperti ada jalinan cinta, namun entah kenapa dia merasa cemburu. Apa Puput perlu menanyakan hal ini kepada Fadil? Atau membiarkannya saja? Hah, Puput dilema.


Tak berapa lama Bara datang dengan wajah tersenyum.


" Duh yang dapat telpon dari pujaan hati" Goda Puput.


Bara melirik kearah Sasa, sedangkan yang di lirik sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang menarik di dalam ponselnya itu.


" Dalam beberapa hari lagi Lia akan ke sini"


" Wah, bakal gak Jablai lagi dong Lo Bar" Terdengar tawa Fadil menggema.


" Berisik Lo, budek telinga gue kalo Lo ketawa besar-besar" Ujar Sasa dan mengelus telinganya.


" Bilang aja kalo Lo sirik karena gak punya kekasih"


" Gak penting itu buat gue. lagian Lo tau sendiri fokus gue kemana"


" Tapi nenek Lo udah pingin liat Lo nikah, Lo gak pingin bahagiain nenek Lo?"


Jika sudah menyangkut neneknya, Sasa akan diam. Dia tidak ingin memperpanjang permasalahan apapun jika sudah menyangkut neneknya. Bagi Sasa, kebahagian neneknya adalah yang paling utama. Tapi keinginan Sasa adalah menaikkan Haji atau Umrah untuk neneknya. Fadil pernah menawari diri untuk memberangkatkan nenek Sasa untuk pergi Umrah, tapi Sasa menolak. Dia ingin hasil dari keringyanya sendiri. 3 tahun Fadil mengenal Sasa, tapi dia sudah mengenal sangat baik bagaimana Sasa sebenarnya.

__ADS_1


** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...


Salam SaBar ( Sasa Bara )


__ADS_2