
"Halo, Layca, kamu masih di sana kan?"
"Ya, aku di sini." lirih Raysa, yang mana terdengar seperti sebuah suara kekecewaan di telinga Fatih.
Fatih, sadarlah. Tak mungkin Raysa cemburu dengan mu dan Tissa, walaupun kamu berharap seperti itu. Bukankah Raysa sudah mengatakan dengan jelas bahwa dirinya hanya mencintai Farhan?
Hah, sebaiknya Fatih benar-benar membuat janji dengan dokter psikolog.
Terdengar suara Steva memanggil dari luar kamar nya, Fatih pun tersadar dari lamunannya.
"Layca, udah dulu ya. Aku ada janji pergi sama Steva."
"Oh, iya. Salam buat Mami dan Papi, juga sama si kembar ya."
"Iya, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah terdengar suara jawaban salam, Fatih pun memutuskan panggilan dan melempar ponselnya keatas tempat tidur. Fatih berjalan menuju pintu kamar nya dan mendapati Steva berada didepan pintu.
"Ayok.. Jadikan?"
"Masih pagi Dek, mall juga belum buka jam segini."
"Iih, siapa yang mau ke mall jam segini? Pokoknya satu harian ini Abang harus temani Steva. Pagi ini Steva mau lihat-lihat universitas Mulia Utama ."
Mata Fatih langsung berbinar saat mendengar nama salah satu kampus ternama tersebut. Bahkan Anggel juga menjabat sebagai dokter di sana.
"Kamu serius mau kuliah di sana? itu arti nya kamu gak jadi keluar negri kan?" Tanya Fatih dengan mata berbinar-binar.
Steva menganggukkan kepalanya, "Iya, aku udah putusin buat lanjut kuliah di sini aja. Tapi semuanya ada syaratnya."
"Syarat?"
"Hmm, Syarat."
"Syarat apa?"
"Kakak harus bisa move on. Maksud Stev, Abang jangan terlalu fokus kepada Mbak Ica saja, yang mana cinta Abang belum tentu di terima oleh Mbak Ica. Tapi Abang juga harus membuka peluang untuk gadis-gadis lain. Jadi, saat Mbak Ica benar-benar menolak cinta Abang, Abang tidak terlalu merasa kehilangan."
Fatih tersenyum melihat ketulusan sang Adik yang ingin jika dirinya tak melihat kepada satu wanita. Bukan berarti Steva ingin Fatih menjadi seorang play boy, bukan. Namun Steva hanya ingin Fatih membuka hati nya untuk wanita lain. Mungkin itu sangat sulit, mengingat bagaimana Fatih begitu besar dan tulusnya mencintai Raysa. Namun, Fatih tak ingin membuat adik-adiknya kecewa, mengingat umurnya yang sudah mau menginjak 26 tahun itu. Pastilah orang tua nya dan adik-adik kesayangannya ingin melihat diri nya bahagia.
"Iya, Abang janji. Abang bakal berusaha buat Move on."
Steva mengangguk dan menundukkan tubuhnya di dada Idang Fatih. Steva melingkarkan tangannya di pinggang Fatih.
"Bukannya Steva gak setuju jika Abang menikah dengan Mbak Ica. Steva malah senang kok jika Abang menikah dengan Mbak Ica. Tapi, Steva gak mau aja jika Abang terpuruk dalam kesedihan patah saat Mbak Ica memilih pasangan hidupnya." Ujar Steva dengan air mata yang berlinang.
Fatih yang merasakan hangatnya air mata sang adik langsung merelai pelukan mereka. Ditangkupnya wajah Steva, serta Fatih juga Menghapus air mata yang mengalir di wajah mulus sang adik.
__ADS_1
"Abang janji, Abang akan berusaha untuk melupakan Mbak Layca. Sekarang, kamu jangan nangis lagi ya."
Steva menganggukkan kepalanya. "Ya udah, Abang ganti baju cepat. Steva juga udah janji sama kawan untuk bertemu di kampus."
"Siap Tuan putri."
Steva pun keluar dari kamar Fatih dan memberikan Abang nya waktu untuk bersiap.
Di luar kamar, Mami Mili mendengar pembicaraan Steva dan Fatih. Mami Mili pun ikut meneteskan air matanya, kemudian dengan cepat melangkah pergi sebelum Steva memergoki Mami Mili menguping di depan pintu kamar Fatih.
*
"Steva." Panggil seorang gadis imut yang sepertinya teman dari Steva.
"Hai Via." Steva memeluk gadis bernama Via itu.
"Kamu sama siapa?" Tanya Via sambil melirik malu kearah Fatih.
"Oh, ini Abang aku, Bang Fatih. Abang, sini kenalan sama kawan aku."
"Hai, Fatih." Fatih mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.
"Via." Jawab gadis itu sambil membalas uluran tangan Fatih. Via tersenyum malu kepada Fatih, dan bisa Fatih tebak, jika teman adik nya ini pasti naksir pada pandangan pertama dengan dirinya.
" Ya udah, kalian jalan-jalan aja dulu, liat-liat kampus. Abang mau ketemu sama Kak Anggel sebentar."
"Iyaa,"
*
"Tumben banget sih." Anggel yang lagi bersiap untuk mengajar pun harus terlambat masuk karena kedatangan Fatih. Anggel mengambil jam pelajaran tambahan bagi mahasiswa yang mengambil semester pendek.
"Steva, mau liat-liat kampus."
"Ooh. Eh, Aku tinggalin kamu sendiri di sini gak papa kan ya? Aku mau ngajar, udah telat 5 menit ini."
"Ikut."
"Ikut?" Ulang Anggel.
"Hmm, aku liat kamu ngajar dan duduk di bangku mahasiswa gak papa kan ya?"
"Ya udah, terserah Kamu. Tapi awas, jangan ganggu mahasiswa aku."
"Iyaa, gak bakal. Paling goda satu aja yang cantik." Kekeh Fatih
"Dasar, bilangin Raysa baruntau rasa."
"Bilang aja, lagian Layca sebentar lagi juga mau di lamar Farhan."
__ADS_1
Pergerakan Anggel yang sedang berjalan melewati Fatih pun terhenti, sehingga ia menoleh kepada Fatih dengan Iba.
"Kamu serius?"
"Hmm, dan kayaknya aku harus mulai mengiklaskan diri nya."
"Hmm, yang sabar ya.."
"Yeee, biasa aja kali. Lagian, sebelum janur kuning melengkung, masih bisa berjuang kok Aku." Ujar Fatih yang terdengar menyebalkan di telinga Anggel.
Rasanya rugi sekali waktu Anggel barusan untuk merasa iba kepada sahabat sekaligus saudara nya itu. Anggel pun berjalan melewati Fatih sambil menggerutu dalam hati.
Fatih terkekeh melihat wajah kekesalan Anggel, ia berharap agar mood Anggel tidak rusak gara-gara dirinya.
*
Anggek merasa geram kepada mahasiswanya yang tak fokus kepada penjelasannya. Mereka lebih fokus kepada Fatih yang duduk di bangku paling belakang sambil memandang Anggel yang tengah mengajar dengan wajah nya yang menopang pada kedua tangannya.
Sungguh sangat menggemaskan. Namun tidak di mata Anggel.
"Yang tidak fokus pada pelajaran saya, silahkan keluar." Ujar Anggel galak.
Fatih Sampai membelalakkan matanya saat melihat Anggel bisa marah dengan anggun begitu, namun terlihat semakin cantik. Pantas saja Lana juga naksir dengan Anggel.
Terlintas ide menyebalkan untuk Fatih mengerjai Lana. Fatih tau, saat ini Lana tengah mengadakan konferensi pers dengan para wartawan. Fatih mengambil ponselnya dan memfoto Anggel yang tengah mengajar
Send
Fatih menahan tawanya saat pesan tersebut sudah bercentanh dua. Tak berapa lama centang abu-abu itu pun berubah warna menjadi biru. Fatih Terkikik tertahan saat mendapatkan balasan pesan dari Lana.
Lana: Brengsek. Calon binik gue ke dua itu, awas Lo macam-macam, Layca Lo gue jadiin yang ke tiga.
Ancam nya di sebuah pesan singkat itu.
Me : Coba aja, dan gue pastikan Lo bakal mendapatkan undangan pernikahan Gue dan Anggel secepatnya.
Send
Fatih memegang perutnya yang sakit karena menahan tawa. Bisa di pastinya jika saat ini Lana sedang mengumpati dirinya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....