
Uhuukkk...uuhuukk...uuhhuukk....
Kesya, Mami Shella, dan Sasa langsung menolehkan kepalanya ke arah Bara yang baru saja terbatuk kesedak minumannya sendiri.
" Kamu kenapa?" tanya Mami Shella sambil mengernyitkan keningnya.
" Gak pa-pa Mi" Ujar Bara sambil melirik kearah Sasa. sedangkan Sasa tidak peduli dengan keberadaan Bara.
Bara mencoba mendekati Sasa, namun suara Kesya membuat dirinya kembali jauh dari Sasa.
" Sa, tolong ambilin loyang yang di atas itu ya" Ujar Kesya.
" Oke" Sasa menarik satu kursi dan menaikinya. Sasa mengambil loyang yang di atas rak, berhubung tingginya tak seindah tinggi Kesya, Sasa harus menggunakan kursi untuk meraihnya. Tiba-tiba Kiki datang dan mengejutkan Sasa dan Kesya.
" Baaaa"
" Aaaaamp"
" SASAAA" teriak Kesya.
Bara yang memegang berada di dekat Sasa pun dengan cepat langsung menangkap tubuh Sasa yang mungil itu.
Centlaaaang..
Sasa menutup matanya, merasa tidak ada yang sakit di sekujur tubuhnya, Sasa langsung membuka matanya. Sasa langsung membelalakkan matanya, saat mengetahui jika dirinya sudah berada dalam pelukan Bara. Ehemm, maksudnya gendongan Bara.
" Sa, kamu gak pa-pa?" Tanya Kesya panik.
Sasa langsung meminta Bara menurunkan dirinya. " Gak Pa-pa Mbak"
" Kamu Ki, lain kali gak boleh gitu ya. Bahaya ngejutin orang lagi kerja"
" Maaf Mbak, Kiki janji gak ulang lagi" Ujar Kiki dengan wajah tertunduk.
" Kak Sasa, Maafin Kiki ya"
" Iya, lain kali jangan di ulang yaa" Ujar Sasa dan mengacak rambut Kiki yang tingginya lebih sedikit dari dirinya.
Sasa mengambil loyang yang jatuh tadi, dan berjalan kearah Kesya dengan melewati Bara begitu saja.
" Hah? Gak ada terima kasih?" Batin Bara dan menatap Sasa tajam. Sedangkan yang di tatap sudah membelakangi Bara.
Suara Mami Shella mengagetkan Bara, dan fokusnya kepada Sasa pun Buyar.
" Bara, ada Lia di depan" Ujar Mami Shella.
__ADS_1
Sasa yang mendengar nama Lia, langsung melirik kearah Bara. Melihat ekspresi Bara yang seketika langsung berubah. Entahlah, ekspresi yang tidak bisa terbaca. Sebenarnya Sasa penasaran, kenapa Bara tidak memutuskan Lia, padahal dia sudah tau jika tunangannya itu bermain di belakang Bara.
Hah, itu bukan urusan Sasa kan? Buat apa dia memikirkan hal yang bukan urusannya. Sasa kembali melanjutkan kerjanya, tanpa Sasa dan Bara sadari, Kesya memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Kesya yakin, dan sangat yakin, jika ada sesuatu di antara mereka berdua. Kesya harus tanyakan itu kepada Bara.
Bara mencari-cari keberadaan Sasa, tapi mungilnya itu tidak juga terlihat.
" Kamu kenapa?" Tanya Lia saat melihat Bara seperti melihat-lihat ke arah lain.
" Hah? gak pa-pa"
Tak berapa lama ponsel Lia berbunyi, dan Lia langsung menjauh dari Bara saat mengangkat panggilan tersebut. Tak berapa lama Lia kembali dan mengatakan jika dirinya harus kembali ke Bandung. Ada urusan keluarga, bahkan sama Bara pun Lia tidak memberi tahu urusan keluarga apa.
Bara menemani Lia berpamitan kepada tuan rumah. Kemudian Bara mengantarkan Lia sampai ke mobilnya.
" Kamu hati-hati nyetirnya"
" Iya, nanti aku hubungi kamu lagi ya.. Love u" Lia mengecup pipi Bara singkat, tanpa Bara sadari, Sasa melihat semuanya.
Bara kembali kerumah Vano, Bara melihat Sasa sedang bercengkrama dengan Duda dan Jodi. Mereka tertawa dan sepertinya perbincangan mereka sangatlah seru. Bara semakin mendekat kearah mungilnya itu, Bara sempat mendengar saat Duda ingin menjodohkan mungilnya dengan Jodi. Bara mengepalkan tangannya kuat.
" Ih, bisa aja sih Bang Duda"
" Lah, Sama-sama jomblo kan. Ya gak Jod"
" Seru banget, ada apa?" Tanya Bara yang sudah berdiri di sebelah Jodi, dan pastinya berhadapan dengan mungilnya.
" Oh, ini Mas Bara. Jodi ini kan udah kelamaan jomblo, jadi mau saya jodohi dengan Sasa. gimana menurut Mas Bara? Cocok gak?"
Duda yang belum menyadari perubahan wajah di diri Bara, masih saja bercerocos akan menjodohkan Jodi dan Sasa.
Bara menatap Sasa intens, tatapan Bara ke Sasa membuat Jodi, dan Duda saling berpandangan dan menatap kembali kearah Bara dan Sasa. Bara yang terlihat seperti mengeraskan rahangnya masih terus menatap Sasa. Sedangkan Sasa terlihat santai dan tidak terpengaruh dengan tatapan Bara.
" Mas Bara" Tegur Duda takut-takut.
" Gak cocok, Sasa masih kecil belum dewasa. " Ujar Bara dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.
" Lah, salah gue apa? jutek amat jawabnya" Gumam Duda.
" Sa, kayaknya Mas Bara Naksir sama Lo deh" Ujar Duda yang di setujui oleh Jodi.
" Kalo dia naksir gue, tunangannya mau di tarok di mana?" Ujar Sasa santai.
" Buat gue aja. Ha..ha..ha.." Ujar Duda tanpa dosa.
Tanpa mereka sadari jika percakapan mereka tadi di dengar oleh Arka, dan Arka juga memperhatikan semua gelagat Bara kepada Sasa.
__ADS_1
Sasa ikut membantu membersihkan rumah Vano, walaupun sudah ada Maid yang mengerjakannya, tapi Sasa memang tipe orang yang gak bisa diem.
Sasa melirik kearah jam yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukkan pukul 9 malam. Akhirnya Sasa pamit kepada semuanya. Kesya menawarkan agar Sasa di antar oleh Jodi, namun Sasa menolaknya secara halus. Kesya pun memakluminya.
Sasa meraih kunci motornya di dalam Tas. Saat Sasa sedang merogoh tas nya, Bara sudah berdiri di belakang Sasa tanpa di sadari nya. Sasa tersenyum saat mendapati kunci motornya, tapi tiba-tiba saja seseorang meraih kunci motornya dan menarik tubuh mungilnya berada di belakang tubuh tegap dan besar itu.
Sasa menatap tajam kearah Bara. Sedangkan Bara tersenyum manis kepada Sasa
" Apaan sih, gue mau pulang. Awas."
" Aku antar ya, gak baik anak kecil pulang malam-malam"
" Ck, gue udah biasa kali sendirian,"
" Itu sebelum kamu ketemu aku, jadi sekarang aku akan menjaga kamu"
Sasa merasa ingin muntah mendengar ucapan Bara. Sasa juga memperagakan seolah dirinya ingin muntah.
" Cepat naik"
" Gak mau"
" Ah, atau kamu mau tidur di rumah aku?"
" Ih, ogah"
" Loh, bukannya kita udah pernah tidur bareng yaa" Uajr Bara tanpa lihat kondisi sekeliling.
Sasa langsung membelalakan matanya dan mencubi pinggang Bara. Dalam seketika Bara meringis kesakitan dan mengelus pinggangnya yang terasa panas dan perih.
" Naik atau aku teriak kalo kita udah pernah timmmmppphhhhh"
Sasa langsung membekap mulut Bara dengan telapak tangannya yang mungil. Bara tersenyum menang saat Sasa akhirnya memakai helm dan naik ke atas motor.
Bara menghidupkan motornya, dan perlaha. melajukannya dengan kecepatan sedang. Tanpa mereka sadari, Kesya dan Arka sedari tadi mendengar dan melihat percakapan mereka.
" Aku gak salah dengar kan Mas?" Tanya Kesya kepada Arka.
" Kita cari waktu yang pas untuk menanyakan semua kebenarannya" Ujar Arka dan merangkul bahu sang istri dan membawanya masuk kedalam rumah.
**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
salam SaBar ( Sasa Bara)
__ADS_1