
Fadil memberikan kabar gembira kepada Sasa, jika dirinya dna Puput akan segera menikah. Sasa ikut senanh, akhirnya Fadil bisa melabuhkan hatinya si satu wanita terbaik yang pernah Sasa kenal.
"Lo kapan?" Tanya Fadil.
" Gue? Semua nya udah di takdirkan, jadi gue gak mau pusingin kapan gue nikah. Lagian umur gue masih 24. Masih muda, dan masa depan gue masih panjang."
" Gaya Lo masih muda. Umur Puput juga 24, dan dia akan segera menikah"
" Trus? Gue harus pusing gitu? ya gak lah, lagian Lo kenapa sih, sibuk amat nyuruh gue cepat nikah"
" Lo normal kan?"
Plak.. Sasa memukul kening Fadil dengan sendok.
" Aww, sakit kali"
" Lagian mulut lo tu minta gue sumpel pake sepatu tukang parkir di depan sana" Kesal Sasa.
" Masa sih dari sekian banyak yang goda Lo, gak ada satu pun yang kecantol"
" Gak ada yang srek gue. "
" Tu polisi banyak yang ngegoda Lo, masa juga gak ada yang srek sih?"
" Lo tau sendiri, gue mual kalo udah dekat mereka, apalagi mereka terlalu memamerkan seragamnya. Ukhh makin mual gue"
" Kalo misalnya jodoh Lo polisi gimana?"
" Hahah, siap emangnya dia punya istri yang cuma tamatan SD? Bukannya mereka akan malu ya jika istrinya berpendidikan rendah? Secara istri-istri polisi itu kan rata-rata berpendidikan, minimal bidan lah" Ujar Sasa dengan tanpa mengetahui jika ada seseorang yang sudah mengeraskan rahangnya.
" Lagian, gue ini kan mantan preman, Ntar juga kalo mereka tau masa lalu gue, pada kabur nya mereka. Ya dari sebelum bertempur gue udah kalah, mending gue nyadar diri aja sekarang"
" Iya juga sih, masa lalu Lo suram banget abisnya. Ha..ha..ha.. Udah, sama bang Jodi aja Lo."
" Nah, Lo tau sendiri kan. Ya paling Kalo bang Jodi serius, kayaknya gue terima dia aja. Cinta itu akan hadir dengan seiring berjalannya waktu kan? lagian tampang bang Jodi juga lumayan, intinya gak malu-maluin lah kalo di bawa kondangan. ha..ha..ha.."
" Jadi Lo serius ma Jodi?"
" Gak tau, kalo jodoh kan gak kemana? Lagian dia gak masalah dengan masa lalu gue, ya gak salah juga kalo gue coba Nerima dia"
Braakkk..
Sasa dan Fadil yang tengah mengobrol terkejut karena seseorang yang menggebrak meja mereka.
" Bara?" Lirih Sasa dan Fadil berbarengan.
Bara menatap tajam kearah Sasa, sedangkan yang di tatap hanya mengedip-ngedipkan matanya lucu.
" Kenapa Lo? datang-datang main gebrak meja" ujar Fadil sedikit menaikkan volume suaranya.
Bara mengalihkan pandangannya ke arah Fadil, tetiba dia tersadar dengan apa yang dilakukannya. Kenapa dia harus marah? saat mendengar Sasa akan menerima cintanya Jodi?. Lagian jika di lihat-lihat, Sasa ini bukan tipenya, Sasa dan Lia jauh berbeda. Lia tinggi, putih, anggun, lemah lembut, dan yang penting adalah cinta pertamanya dari SMA. Tapi yang membuat Sasa dan Lia berbeda, Sasa memiliki karismanya tersendiri, dan Sasa mampu membuat jantung Bara berdetak lebih cepat dari pada saat Bara jatuh cinta kepada Lia. Dan Sasa mampu membuat Bara tidak bisa tidur karena membayangkan dirinya.
Fadil memutuskan pandangannya kepada Bara saat mendapatkan panggilan.
__ADS_1
" Shit"
" Kenapa?" Tanya Sasa khawatir.
" Greenday lagi ada masalah. Gue harus ke sana, Lo habisin aja semua batagornya"
Setelah mengatakan itu, Fadil langsung melesat pergi. Fadil bertemu dengan Sasa karena ingin memberikan uang kepada Sasa, karena ATM Sasa tertelan oleh mesin ATM. Jadi Fadil membawakan batagor kesukaan Sasa, yang kebetulan jualan di dekat kantor Fadil.
Sasa melanjutkan makannya setelah kepergian Fadil, tanpa menganggap Bara masih berdiri sambil menatapnya intens. Sasa kembali terkejut saat Bara merampas sendok yang berada di tangannya dan akan menyuapkan batagor kedalam mulutnya.
" Apaan sih Lo" Ujar Sasa dan meraih kembali sendok berisi batagor.
" Aku juga mau"
" Ya Lo bisa ambil sendok lain kan, gak mesti punya gue juga" Kesal Sasa.
Sasa melanjutkan makannya, sedangkan Bara juga ikut menyendokkan batagor kedalam mulutnya dengan menggunakan sendok yang tidak jadi di pakai oleh Fadil tadi.
Lagi enak-enak ya makan sepirinng berdua dengan Sasa, tiba-tiba saja Bara mendengar suara yang sangat mengganggu telinganya.
" Hai sayang"
" Uhukk..uhukk..Uhuk..."
Dengan sigap Lia memberikan air minum milik Sasa kepada Bara. Sasa masih seperti biasa, tidak menganggap dua manusia berpakaian coklat pait itu berada di depannya. Hah, rasanya saat ini dia benar-benar kehabisan napas. Apa mereka tidak mengerti dengan apa yang Sasa rasakan. Jika dia tidak nyaman dengan seragam polisi.
" Sasa" sapa seorang wanita.
" Mbak Risa?"
Sasa dan Risa pun bercipika cipiki.
" Kamu kerja di sini? Bukannya di Greenday?" Ujar Risa saat melihat seragam yang di kenakan oleh Sasa.
" Double job Mbak, he..he.. he.."
" Kalian saling kenal?" Tanya Lia.
" Tentu, Sasa ini dia kan man__" Risa menghentikan ucapannya, tidak mungkin dia membocorkan masa lalu Sasa kepada orang lain. Siapapun itu orangnya.
Lia menanti kelanjutan nya. " Man?? Man apa?"
Risa melirik kearah Sasa, " Oh, Sasa ini manusia super, badannya aja yang kecil, tapi kekuatannya luar biasa" ujar Risa sambil menekan kata 'Man' di manusia.
" Ooo" Seru Lia. " Sayang, aku telponin kamu dari kemarin, kok gak di angkat sih" Ujar Lia kepada kembali fokusnya kepada Bara yang ingin menyuapkan batagor kedalam mulutnya.
" Aku sibuk"
" Ck, sibuk tapi sedang makan berdua dengan romantis dengan Sasa. Kamu gak takut aku cemburu?" Ujar Lia manja.
Risa dan Sasa yang mendengarnya seakan ingin muntah, bukannya Risa gak tau gimana Lia, tapi dia tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi orang lain, lagi pula dia tidak terlalu akrab dengan Bara.
" Kalo Lo cemburu dengan Sasa, Lo salah orang. Sasa ini gak level dengan polisi" Ujar Risa. Dia tidak terima rasanya jika Lia ingin memojokkan Sasa.
__ADS_1
" Dari mana kak Risa tau? Bisa aja kan jika__"
" Gue kenal dengan Sasa sangat baik, seperti gue kenal Lo. Gue tau jelek buruknya Sasa, sama kayak gue tau jelek buruknya Lo" Ujar Risa tajam, membuat Lia menelan kembali ucapannya.
Sedangkan Bara sudah memutar bola matanya malas. Cemburu? hah, jangankan cemburu, untuk perhatian di saat dirinya sakit saja, Lia terpaksa, bagaimana dia bisa cemburu?
Risa kembalikan fokusnya kepada batagor yang sedang di nikmati oleh Sasa tanpa memperdulikan Bara dan Lia.
" Em, kayaknya enak Sa. Mbak cobain ya" Risa pun mengambil sendok bersih dan menyuapkan batagor itu ke dalam mulutnya.
" Ini pasti Fadil yang beliin, karena cuma batagor yang berada di dekat kantor dia yang bisa seenak ini" tambah Risa lagi.
" Iya mbak, tadi di beliin dengan Fadil. belum lagi dia makan punya nya, tapi udah main kabur aja" Sasa menunjuk satu bungkus batagor yang masih utuh.
" Ini punya Fadil? Tuang aja lagi ke sini, Mbak mau. Tapi kamu yang racikin ya sambalnya. " Risa dan Sasa menikmati batagor tersebut tanpa memperdulikan perdebatan antara Bara dan Lia.
" Sayang, temenin aku ya Mall" Ujar Lia manja.
" Aku udah janjian dengan Risa, dan ada yang harus kami bahas" Ujar Bara.
" Kamu kok gitu sih sekarang sama aku?" Ujar Lia sendu.
Bara tau, jika Lia sudah manja begini, itu tandanya dia ada masalah dengan kekasih gelapnya itu.
" Kamu mau nikah sama aku? agar kita bisa berbarengan terus?" Tanya Bara.
Sasa dan Risa menghentikan gerakan tangan mereka yang ingin menyuapkan makanan kemulut. Apa saat ini ada ajang lamaran di hadapan mereka?
" Sayang, kamu tau kan kalo aku__"
" Aku tau, jadi saat ini aku juga lagi fokus dengan kerjaan aku yang baru, jadi tolong kamu hargai seperti aku hargai keputusan kamu. Dan jika pun kamu siap saat ini nikah sama aku, belum tentu aku siap nikah sama kamu saat ini"
Terdengar helaan napas dari Risa. Setidaknya hanya Sasa yang mendengarnya.
" Jadi kamu gak bisa nemenin aku?" Ujar Lia manja. Sepertinua wanita ini tipe perempuan yang pantang menyerah.
" Aku gak bisa"
Setelah mengatakan itu, Bara pergi meninggalkan Lia, Sasa, dan Risa.
" Kak Risa, aku balik duluan ya" Ujar Lia sendu.
" Hmm, hati-hati ya"
Setelah kepergian Lia, Risa mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Bara.
" Dia udah pergi"
**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
salam SaBar ( Sasa Bara)
__ADS_1