
Fatih Yangs Edang bersandar pada mobilnya dengan fokus pada layar ponselnya pun, langsung menyadari keberadaan sang istri.
"Lama nunggunya?" tanya Raysa yang tanpa malu mengecup pipi Fatih di depan umum. Apa lagi ini masih didepan kantor polisi.
"Sepuluh menit, gak lama kok. Sudah teruji denga. aku menunggu kamu selama 24 tahun." ujar Fatih sambil terkekeh.
Fatih membuka pintu mobil, dan membiarkan Raysa masuk kedalamnya. Fatih berlari kecil mengitari mobil untuk masuk kedalam kursi pengemudi.
"Sayang, Aku pingin eskrim," rayu Raysa sambil menyandarkan kepalanya dibahu Fatih.
"Oke, siap meluncuur..." Fatih mengecup pucuk kepala Raysa dan melajukan mobilnya dengan kecepatan 20km/perjam.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama, padahal normalnya hanya butuh 15 menitan untuk sampai ke gerai eskrim, akhirnya mereka pun tiba disana.
"Mau pesan rasa apa?" tanya Fatih keapda Raysa.
"Coklat, jagung, vanila, strawberi, dan matcha."
"Kamu yakin mau habisin 5 rasa?" tanya Fatih dengan heran.
"Iya, kenapa? gak boleh?" Rajuk Raysa.
"Bentar ya." Fatih pun meraih ponselnya dan menekan-nekan layar pipih itu. Fatih menempelkan benda pipi itu ketelinga.
"An, bumil boleh minum eskrim gak?"
"Boleh, minum aja," jawab Anggel dari seberang panggilan.
"Sampai lima rasa boleh?" tanya Fatih lagi.
"Asal gak tiap hari aja, dan perut Raysa sudah harus dipastikan terisi dengan makanan berat Gak boleh kosong."
"Ya kali aku kasih besi sama kayu buat Raysa, makan berat" gerutu Fatih.
Anggel yang diseberang panggilan pun tertawa terbahak-bahak. "Serah deh mau bilang apa, intinya jangan kasih makan peniti."
Panggilan pun berakhir dengan Anggel yang memutuskan panggilannya.
"Apa kata Mbak Anggel?" tanya Raysa dengan menunggu jawaban Fatih.
"Kamu udah makan belum?" tanya Fatih tanpa menjawab pertanyaan Raysa.
"Tadi dikantor ngemil biskuit doang."
"Ya udah kalo gitu, boleh."
Raysa bersorak dengan girang. Tak lupa Raysa juga meminta roti untuk dijadikan teman makannya dengan eskrim. Fatih memilih eksrim rasa jagung dengan wafle dibawahnya.
"Emm, seger banget." seru Raysa saat menyendokkan sesuap eskrim kedalam mulutnya.
Fatih tersenyum melihat Raysa yang begitu menikmati makanannya, hingga bibirnya belepotan.
"Pelan-pelan sayang," ujar Fatih sambil mengusap sudut bibir Raysa.
"Ini enak banget, Bang." Raysa pun kembali menyendokkan eskrim dan roti kedalam mulutnya.
"Fatih?" tegur seorang wanita.
Raysa menatap kearah sumber suara, dengan sendok yang masih berada didalam mulutnya.
"Ratna?"
__ADS_1
"Hai, apa kabar?" Raysa mengulurkan tangannya dan disambut oleh Fatih.
"Baik, Lo sendiri pa kabar?"
"Gue? hah.. Gini lah nasib janda, sekali baik, sekali kagak." wanita bernama Ratna pun terkekeh, kemudian ia melirik kearah Raysa.
"Dia siapa?" tanya Ratna yang mana membuat Raysa merasa geram.
"Oh, dia isteri aku. Raysa," ujar Fatih memperkenalkan Raysa kepada Ratna.
Raysa mengulurkan tangannya, "Raysa, ISTERINYA Abang Fatih," ujar Raysa dengan menekan kata isteri.
"Ya, aku tau. Tadi Fatih sudah mengatakannya. Biasa aja kali bilangnya," ujar Ratna dengan menatap remeh Raysa.
"Kalau begitu, Gue duluan ya. Oh ya, ini kartu nama Gue, jangan lupa hubungin gue ya," ujar Ratna sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Fatih.
Fatih tak merespon ucapan Ratna, karena telah melihat perubahan ekspresi pada wajah Raysa.
Setelah sepeninggalan Ratna, Raysa kembali fokus kepada eksrim yang ada dihadapannya. Raysa kesal, ia merasa direndahkan oleh wanita seksi yang bernama Ratna. Mana bajunya kurang bahan lagi.
"Pelan-pelan, sayang." ujar Fatih kembali mengusap sudut bibir Raysa dengan lembut.
Fatih menghela napasnya pelan saat Raysa tak merespon ucapannya. Padahal ia tak merasa membuat kesalahan apapun. Bahkan menyentuh kartu nama Ratna saja tidak.
*
Hening, tak ada obrolan sepanjang perjalanan pulang. Sebenarnya bukan tak ada, sudah beberapa kali Fatih mengajak Raysa berbicara, namun tak ada sahutan apapun dari Raysa.
"Hiks ..."
Fatih menoleh saat mendengar isakan kecil dari bibir Raysa. Fatih pun langsung menepikan mobilnya.
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Fatih sambil meraih tubuh Raysa.
Fatih yang merasa tak tahu apa kesalahannya pun menjadi bingung.
"Layca, sayang, Aku salah apa sama Kamu? Bilang ke aku? Jika tentang Ratna, Aku sedikitpun tak tertarik. Kamu lihat sendiri kan? Bahkan aku tak menyentuh kartu namanya."
"Abang memang gak nyentuh kartu namanya, tapi bisa aja kan Abang hafal nomornya."
"Astaghfirullah, Layca, sayang, Aku gak mungkin lakuin hal itu," ujar Fatih dengan frustasi.
"Bohong banget, hikks.."
"Sumpah, Layca. Aku gak ngelakuin hal itu."
"Trus, kenapa Abang gak mau sentuh AKu?" Pasti karena ada yang lain kan?" pekik Raysa.
"Ya Allah, Layca. Aku gak sentuh Kamu karena Aku gak mau nyakitin kamu, Sayang."
"Bohong banget, hiks ..."
Fatih meremas rambutnya dengan frustasi. "Kamu gak tau apa yang Aku rasain, Layca. Kamu gak tau seberapa kuat Aku menahan hasrat Aku ini."
Raysa massih tersedu-sedu, ia melirik kearah Fatih yang sudah memukul setir, menandakan jika dirinya sedang kesal.
"Aku mau pulang," Raysa sudah siap membuka pintu mobil, namun Fatih dengan cepat menahan pergerakan Raysa.
"Kamu mau apa?"
"Aku mau turun, Aku mau pulang, hiks ..."
__ADS_1
"Kamu istri Aku, kita juga tinggal satu atap. Jangan begini, Layca. Kita bukan lagi difase pacaran. Kita udah menjadi suami istri."
"Jika kita suami istri, pasti Abang bakal kasih aku nafkah bathin."
"Oke, kalo itu mau Kamu," kesal Fatih.
Fatih mengunci pintu mobil, sehingga Raysa tak bisa turun dari mobilnya. Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi, agar mereka cepat sampai kerumah.
Sesampainya dirumah, Fatih langsung menggendong Raysa untuk masuk kedalam rumah. Fatih hanya menyapa mami Mili sekilas, ketika ketika mereka berpas-pasan.
"Ica kenapa, Tih?"
"Gak papa, Mi."
Fatih terus berlalu dengan Raysa dalam gendongannya. Raysa merasa takut melihat sisi Fatih yang ini.Di mana sisi yang tak bisa Raysa sentuh.
Fatih membuka pintu kamarnya, ia berjalan kearah tempat tidur dan mendudukkan Raysa ditepi tempat tidur. Fatih berbalik kearah pintu untuk mengunci pintu kamarnya, ia tak ingin Mami Mili tiba-tiba masuk dan melihat pertengkaran mereka.
Tatapan Raysa masih tertuju kepada Fatih, dengan air mata yang mengalir dari matanya. Fatih berbalik dan berjalan mendekati Raysa sambil membuka kancing bajunya kemejanya.
Jantung Raysa berdebar dengan cepat, karena saat ini ia tahu, jika Fatih sedang tersulut emosi. Raysa pun mersa bersalah, namun ini sudah terlanjur terjadi, Raysa akan pasrah jika Fatih bermain kasar, karena semua ini adalah permintaan dirinya.
Fatih membuang bajunya asal, tak lupa Fatih juga membuka kaos yang ia kenakan sehingga menampilkan roti sobek diperutnya.
Fating menyusupkan tangannya kebelakang tengkuk Raysa, sehingga membuat kepala Raysa mendongak.
Fatih menatap mata Raysa, begitupun dengan Fatih. Mata mereka saling mengunci satu sama lainnya.
"Jika Aku sudah memulainya, maka Kamu tidak akan bisa meminta untuk berhenti," bisik fatih dan mencium bibir Raysa dengan lembut.
Dan, apa yang diinginkan raysa pun terwujud. Namun, raysa salah dalam menilai Fatih. Walaupun dalam keadaan sedang tersulut emosi, Fatih tetap memperlakukan Raysa dengan lembut, bahkan lebih lembut dari biasanya.
*
Fatih menatap wajah Raysa yang kelelahan setelah pertempuran panas mereka. Terlihat Raysa sedikit pucat sehabis pertempuran mereka, Fatih pun merutuki kebodohannya yang telah tersulut emosi tadi. Seharunya Fatih tenang seperti biasanya, namun entah kenapa Fatih tak bisa menahan emosinya, mungkin ini semua efek dari tuduhan yang Raysa berikan kepadanya.
"Maafin Abang, ya sayang. Udah buat Kamu kelelahan. bisik Fatih dan mengecup kening Raysa.
Fatih meraih ponselnya, ia langsung menghubungi Lucas untuk menanyakan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Bwahahaha.... Gila Lo, emosi malah ngajak tempur," gerutu Lucas dari seberang panggilan.
"Layca yang minta. Tolongin Gue dong. Gue harus apa?" lirih Fatih.
"Kalau ICa udah bangun, kasiih minum susu aja dulu, terus suruh makan buah-buahan. Kalau masih lemas juga, langsung bawa kerumah sakit aja,"
"Oke, Lo stanby ri rumah sakit kan?"
"Gue off hari ini, ntar Gue hubungin temen Gue yang dinas."
"Gue gak mau tau, Lo pokoknya harus stanby kalo Gue butuhin," ujar fatih sebelum meutuskan panggilannya.
Bisa Fatih tebak, jika saat ini Lucas pasti sedang memaki dirinya. Siapa yang peduli? yang penting Layca nya baik-baik saja.
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin
Jangan lupa like and komen.
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA
__ADS_1
salam rindu Tissa dan Farhan