Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 131 " cek kandungan"


__ADS_3

" Mas, mau bawa pulang boleh?" Tanya Sasa ragu-ragu.


Bara tersenyum lembut kepada mungilnya itu.


" Tentu."


Sejak semakin besar kehamilan Sasa, napsu makan Sasa pun juga semakin bertambah banyak. Bahkan Sasa sanggup menghabiskan roti bakar Bandung dalam sekali duduk. Bara saja sampai heran, tapi juga tak marah. Yang penting, Sasa dan calon anaknya sehat selalu.


Sasa tertidur pulas di mobil saat jalan pulang. Bara yang sedari tadi tidak melepas genggaman tangannya dari tangan Sasa, bahkan Bara sesekali mengecup punggung tangan Sasa.


Tak berapa lama mobil yang di kendarai Bara pun tiba di perkarangan rumah Mami Shella. Sasa terkejut saat Bara membua seatbel nya dan ingin membopong tubuhnya.


" Aku bisa sendiri." Ujar Sasa dan turun dari mobil.


Bukannya langsung turun, tapi Sasa malah memeluk punggunh Bara dan menangis.


" Mungill.." Bara ingin membalikkan tubuhnya, namun Sasa menahannya.


" Mas jangan ninggalin aku yaa, hikkss.. aku gak sanggup kalo Mas harus lirik-lirik yang lain."


" Gak akan, Aku gak akan melirik yang lain. Buat aku, kamu adalah segalanya."


" Hikkss.. Dasar bohong. Buktinya tadi di Mall Mas tebar pesona. Hua...."


Suara tangis Sasa terdengar oleh Mami Shella yang memang masih menonton TV bersama Daddy Roy.


" Sasa kenapa Mi?" Tanya Daddy Roy,.


" Mami liat dulu, bentar deh kepala Daddy angkat dulu.." Ujar Mami Shella yang menggeser kepala Daddy Roy dari pangkuannya.


Saat Mami Shella keluar, Bara tengah merayu Sasa untuk tidak lagi menangis.


" Mungil, udah dong. Tadi aku kan udah bilang, kalo aku gak ada maksud buat tebar pesona."


" Kenapa Bar?" Tanya Mami Shella yang sudah berada di belakang Bara dan Sasa yang tengah berpelukan.


" Hikss.. Mas Bara tadi... hiks... Senyum-senyum sama cewek lain Mi.. Hiikkss..."


Bara meringis saat mendapati mata Mami Shella yang siap keluar dari rongga nya.


" Kita masuk yuuk, gak enak di liat tetangga." Bujuk Mami Shella dan Sasa pun menurut.


" Kenapa Mi?" Tanya Daddy Roy.


" Tuh, anak Daddy, senyum-senyum sama cewek lain. Dah tau bintik lagi bunting, malah senyum-senyum sama yang lain." Kesal Mami Shella.


" Bara gak senyum Mi, Dad. Bara cuma bantu bukain pintu, terus dia bilang makasih, ya Baar tanggapi dengan senyum tipis doang kok."


" Tetap aja senyum, hiks.. Mas gak tau apa, kalo Mas tu ganteng banget. sedangkan aku jelek gini. Mana dekil lagi. Huaa..."


"sssttt.... sstt.... Udah yaa, namanya juga bawaan hamil." Bujuk Mami Shella.


Daddy Roy teringat akan saat Mami Shella tengah mengandung Bara di saat kehamilan Mami Shella sudah membesar. Mami Shella sangat cemburuan, bahkan Mami Shella sering ikut Daddy Roy ke kantor demi memastikan Agar Daddy Roy benar-benar tidak menggoda wanita lain.


Gimana mau goda, Cinta nya udah mentok dengan Mami Shella.


"Daddy kenapa senyum-senyum?" tegur Mami Shella galak.


" Ingat Mami dulu saat hamil Bara."


Mami Shella mengerutkan keningnya, kemudian mengangguk setuju.


.


.


" Mas jangan pernah tinggalin aku yaa.."


" Iyaa sayang.."

__ADS_1


" Mas janji?" Sasa menatap wajah sang suami.


" Janji, Aku gak akan pernah bisa hidup jauh dari kamu."


" Mas gak bohong kan?"


" Enggak" Bara mengecup bibir Sasa kilat, dan menarik kepala Sasa untuk kembali bersandar di dadanya.


" Aku cinta Mas, cinta banget."


" Aku juga mungil, aku cinta kamu."


Dan hingga akhirnya Bara dan Sasa pun terlelap dalam tidurnya.


.


.


Kehamilan Sasa yang semakin besar membuat Sasa semakin over protektif kepadanya. Di mata Sasa, Bara terlihat semakin tampan dan seksi. Sehingga dirinya terlihat jelek dan semakin gendut.


" Assalamualaikum anak Daddy." Bara mengelus perut Sasa dengan sayang.


" Walaikumsalam Daddy." Ujar Sasa dengan suara yang menirukan anak-anak.


" Kamu kapan mau jadwal kontrol, mungil?"


" Hari ini ."


" Aku antar yaa.."


" Boleh, tapi Mas pake masker yaa.. aku gak mau ada ibu-ibu yang pingin cubit pipi Mas lagi kayak bulan lalu." Sasa mengerucutkan bibirnya.


" Iya sayang. Sesuai dengan permintaan kamu."


Sasa mengecup pipi kanan Bara dengan cepat.


" Yang kiri minta di cium juga, mungil."


Sasa terengah saat ciumannya terlepas, Bara benar-benar membuat dirinya kehabisan napas.


" Aku tunggu kamu di luar ya.." Bara menghapus jejak Saliva di bibir Sasa, dan mendaratkan kembali ciuman di bibir Sasa.


Sasa menganggukkan kepalanya dengan wajah yang merona.


Mami Shella yang melihat Sasa dan Bara sudah rapi pun kepo, ingin tahu ke mana menantu dan anaknya itu pergi.


" Jadwal kontrol bulanan si baby Mi."


" Mami ikut yaa.."


" Mami ganggu ih.."


" Mami mau lihat cucu Mami. Boleh yaa.. ya...ya.."


" tapi Bara singgah ke kantor dulu Mi, baru ke dokter."


" Gak masalah, Mami sekalian mau jengukin Kesya di tokonya."


" Mas, aku ikut Mami ke toko yaa.."


" Kan, Mami ihh... "


Mami Shella hanya terkekeh melihat wajah cemberut Bara. Rencana Bara yang ingin di temani oleh sang istri pun gagal, Karena Mami Shella yang meminta ikut juga.


Bara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan hati kesal. Saat ini Bara benar-benar seperti supir bagi istri dan Mami nya.


Lihat saja, Sasa lebih memilih duduk di belakang bersama Mami Shella daripada duduk di depan bersamanya.


" Mas hati-hati ya bawa mobilnya." Ujar Sasa saat mereka sudah tiba di depan toko Kue milik Kesya.

__ADS_1


" Mungil, tunggu.."


Sasa mencondongkan tubuhnya ke depan, karena Bara memintanya. Tanpa aba-aba Bara langsung saja mencium Bibir Sasa, untungnya Mami Shella sudah keluar dari mobil duluan.


" Masshmmpp.."


Bara tidak membiarkan Sasa pergi tanpa mencium nya dulu. Bara benar-benar menggunakan waktunya dengan baik.


" Aku mencintai mu, mungil" Ujar Bara saat ciuman mereka terlepas, dan Bara juga menghapus jejak Saliva yang tertinggal di Bibir Sasa.


" Aku juga Mas." Balas Sasa dengan wajah memerah.


Sasa melambaikan tangannya saat Bara menekan klakson nya sekali. Sasa pun masuk kedalam toko kue, yang mana sudha di smabut senyuman oleh Mami Shella dan Kesya.


" Duh,, yang selalu serasa dunia milik berdua."


Sasa menangkup pipinya, menutupi wajahnya yang kemerahan.


" lucu banget sih Mbak.." Goda Kesya yang sangat suka melihat wajah Sasa yang tengah hamil. Terlihat chubby dan menggemaskan.


Kesya, Mami Shella, dan Sasa pun bercengkrama bersama.


" Beruntung banget ya Mbak Sasa" Ujar Mawar yang sedari tadi memperhatikan anak menantu tersebut.


" Udah garis kehidupannya seperti itu, udah, jangan halu deh." Ujar temannya yang tau jika Mawar masih belum move on dari Bara.


" Coba gue yang duluan datang yaa, pasti Mas Bara sama gue.


" Mimpi Lo, Emangnya Lo sanggup di suruh lawan preman saat ada orang yang mau jahatain Mbak Kesya dan Mbak Puput saat itu?"


" Ya gak sih, tapi kan bisa aja kalo Mas Bara naksir gue." Mawar masih kekeuh dengan angan-angannya.


" Udah deh, Gak usah ketinggian mimpinya. Lagian mau gimana pun, Mas Bara tu udah jodoh sama Mbak Sasa. Dan Lo, jangan kefikiran buat ganggu rumah tangga orang lain"


" Buat apa gue ganggu, yang ada gue kehilangan pekerjaan. Gue cuma mengagumi dari jauh aja.'


" Serah Lo deh."


Mawar masih memperhatikan Sasa dari jauh dengan tatapan tak suka.


.


.


Mami Shella sangat senang saat Anggun mengatakan jika bayi dalam kandungan Sasa dalam keadaan sehat, bahkan sangat aktif sekali.


"Jadi yakin nih gak mau tau jenis kelaminnya?" Tanya Anggun kepada Bara dan Sasa.


" Iya, biar surprise aja An."


" CK, padahal Mami pingin banget tau jenis kelaminnya." Mami Shella mengerucutkan bibirnya.


"Apapun yang di kasih, yang penting sehat Mi"


" Iyaa... Iyaa.. yang penting mantu sama cucu Mami sehat-sehat. Dan pastinya Oma dan opa nya juga harus sehat, biar bisa liat anak kalian hingga besar."


" Amiin..."


dan, jangan lupa follow IG aku juga yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA...


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2