Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 78


__ADS_3

“Mami ...”


“Aduh, gimanan nih?” ujar Raysa yang sudah berdiri dari pangkuan Fatih dan berputar-putar seolah sedang tertangkap basah sedang mesum.


Fatih terkekeh melihat Raysa yang kepanikan seperti kebakaran jenggot.


“Nyantai aja Layca, tenang deh. Kalo kamu panik gitu ntar Mami curiga loh.”


Raysa menoleh kearah tunangannya yang saat ini tengah tertawa. “Dasar nyebelin.”


Raysa berlari menuju sofa dan berpura-pura sedang memainkan ponselnya. Raysa sudah mengatur napasnya agar tak terlihat seperti ngos-ngosan.


Dengan sisa tawanya, Fatih menggeser tombol hijau yang mana wajah Mami Mili langsung memenuhi layar pipih milik Fatih.


“Assalamualikum, Mi.”


“Walaikumsalam, Abang di kantro kan?”


“Iya Mi, ini abang lagi di kantor. Ada apa  Mi”


“Gak ada apa-apa. Mami Cuma kangen aja tiba-tiba sama Abang.” Terdengar suara Mami Mili sendu.


“Mami ngambek sama Papi lagi?”


“Iih, kamu. Kapan Mami pernah ngambek sama Papi. Papi kamu tuh nyebelin banget.”


Fatih menghela napasnya, Raysa yang sedang duduk di sofa pun melirik kearah Fatih yang baru saja mengusap wajahnya.


“Papi kenapa, Mi?”


“Papi kamu tuh ya, dah tau Mami gak suka bau jengkol. Masa dia makan jengkol di luar terus pulang-pulangnya main cium Mami. Nyebelin gak sih. Iih, kesal tau. Mami sampai muntah-muntah gara-gara Papi kamu. Nyebelin.”


Fatih mengulum bibirnya mendengar curhatan sang Mami. Sudah Fatih tebak jika Maminya ngambek bukan karena hal yang besar, melainkan hal yang sepele.


Raysa yang mendengar alasan Mami Mili menelpon Fatih pun langsung menahan tawanya agar tidak meledak. Memang bukan rahasia umum lagi jika Papi Gilang berani memakan jengkol, maka bisa di pastikan Papi Gilang di larang tidur di dalam kamar bersama Mami Mili. Papi Gilang selalu mengatakan menyesal dan tidak akan


memakan jengkol lagi, tapi kenyataan nya Papi Gilang tidak pernah kapok dengan yang namanya makan jengkol. Apa lagi semur jengkol buatan Bunda Sasa. Mana bisa berpaling dari jengkol buatan Bunda Sasa, sama seperi halnya Fatih yang pernah kabur dari rapatnya demi memakan semur jengkol buatan Bunda Sasa, karena pada


saat itu Papi Gilang juga sedang menuju ke rumah Oma Shella. Fatih takut jika ia tak kebagian semur jengkol tersebut.


 “Kamu mau ketawain Mami ya? Awas aja kalo berani, Mami gak mau pesanin kalung mutiara yang kamu incar itu untuk ulang tahun Layca.”


Fatih membolakan matanya di saat sang Mami membongkar kejutan yang akan ia berikan di saat ulang tahun Raysa. Raysa yang mendengar itu juga terkejut mendengar nya. Fatih ingin membelikannya mutiara?


Fatih sudah menoleh kearah Raysa, kejutan yang akan ia berikan untuk sang pujaan hati sepertinya telah terbongkar. Lihatlah, Layca nya sudah tersenyum manis kepadanya.


“Mami tau sendirikan kalo Papi emang doyan jengkol.” Fatih mencoba mengalihkan permbicaraan kepada sang Mami.


“Hah, mau gimana lagi. Tapi ya udah lah, yang penting Papi kamu gak merokok kayak kamu. Abang harus mulai berhenti merokok, kalo abang mau hidup panjang bersama Layca.”


Fatih membolakan kembli matanya. “Mami doain Fatih cepat Mati?”


“Ya enggak, Mami cuma mau kasih tau Abang aja potongan nasihat dari ustad Da’as lathif. Kalo Abang masih merokok, nanti abang cepat mati dan layca kawin lagi sama mantan pacarnya.”


“Ih Mami, ngomongnya gak enak di dengar ah.” Kesal Fatih.


Mami Mili pun terkekeh mendengar nada kesal sang putra kesayangannya yang terkadang jug asering nyebelin seperti Papi nya.


“Mami doain kamu dengan Layca hidup bersama selamanya dunia akhirat, dari muda sampai tua dan hanya maut yang memisahkan kalian.”


“Amin ...”


 “Amin ...”


Raysa pun mengaminkan doa Mami Mili dengan suara yang pelan, berbeda denagn Fatih yang suaranya menggelegar satu ruangan kerjanya.


“Udah ah, Mami mau ke rumah Mama Puput dulu.”


“Mau ngapain?” tanya Fatih kepo.


“Mau ngurus pernikahan Lana.”


“Lana mau nikah?” jiwa kepo Fatih pun mulai meronta-ronta.

__ADS_1


“Iya, dia mau nikah. Katanya gak mau keduluan sama abang.”


“Nikah sama siapa Mi?”


“Ya sama cewek lah, masa sama cowok.”


“Ya sama siapa? Kantu cewek ada namanya.”


“Mami bilang siapa ceweknya kamu juga gak kenal.”


“Hah, kan Abang penasaran Mi.”


“Biarin aja, ntar kamu tau sendiri siapa ceweknya. Udah ah, Mami mau pergi dulu.”


“Mami gak merajuk lagi dengan Papi?


“Lihat nanti deh, salam buat calon menantu Mami ya.”


“Iya Mi, nanti Fatih sampein.”


Panggilan video call itu pun terputus, Fatih menoleh kearah Raysa yang sudah tersenyum kearahnya.


“Sini, ngapain senyum-senyum di sana?”


Raysa pun bangkit dari duduk nya berjalan kearah Fatih. Tanpa di minta oleh Fatih, Raysa pun langsung duduk di atas pangkuan Fatih dan mengalungkan tangannya di leher Fatih.


“Jadi Abang  mau kasih aku kejutan ulang tahun?”


“Gak jadi, udah ketahuan ya bukan kejutan lagi dong namanya.”


“Abang beliin kalung Mutiara yang aku ingin itu ya?”


“Hmm, Iya.” Jawab Fatih dengan kesal karena hadiah kejutannya telah di ketahui oleh Raysa.


 “Makasih ya Abang,”


Cup ...


“Abang yang terbaik.”


“Cuma pipi sebelah kanan aja? Yang kiri gak di cium?”


Cup ....


Raysa pun menegcup pipi kiri Fatih.


“Hidungnya?”


Cup ..


“Mata?”


Cup ... cup ..”


“Bibirnya?” pinta Fatih dengan memajukan bibirnya.


Cup ...


Namun tangan Fatih dengan cepat menahan tengkuk Raysa dan dan melum*at bibir Raysa dengan lembut. Raysa yang terkejut pun menepuk bahu Fatih dengan sedikit kuat. Fatih pun melepaskan ciumannya itu.


“Aku mencintai kamu,”


“Aku juga.”


“Kita nikah yuk ..


“Yuk ...”


“Masih harus menunggu satu tahun lagi.” Ujar Fatih dengan sendu dan menempelkan keningnya di bahu Raysa.


“Sabar, Abang Fatih sabar di sayang Layca.”


 Fatih mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Raysa yang selalu terlihat cantik di matanya.

__ADS_1


“Kita nikah sirih aja yuk ...”


“Aku sih mau-mau aja. Tapi apa abang bisa yakin untuk sanggup menahan hasrat abang buat gak nyentuh aku?”


“Aku gak bisa bilang gak sih.”


“Makanya, kalo kita nikah sirih, terus tiba-tiba aku hamil gimana? Kalo gak ketahuan sih gak masalah, api kalo ketahuan aku bisa kena hukum. Hukuman ringannnya minimal gak naik jabatan, maksimal aku di pecat. Abang mau?”


“Ya gak dong. Itu udah jadi cita-cita kamu sedari kecil dulu. Mana mungkin aku tega lihat kamu kehilangan apa yang udah dengan susah payah kamu raihnya.”


“Makanya, abang harus sabar dan gak boleh khilaf juga.”


“Tapi kalo ini boleh ya?” Fatih menyentuh bibir Raysa dengan gerakan sensual. Yang mana membuat Raysa merasakan gelenyar aneh yang selalu membuatnya candu.


Perlahan Raysa pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Fatih merapikan rambut Raysa yang berserakan di wajanya, ia selipkan rambut itu ke belakang telinga Raysa. Perlahan, Fatih kembali mendekatkan wajahnya ke waajh Fatih dan menempelkan bibirnya kembali.


*


“Makasih ya, maaf udah ngerepotin kamu.” Ujar Tissa kepada Farhan.


“Gak kok, malah aku makasiih banget karena kamu udah mau kasih tumpangan dengan aku.”


Tissa kembali meringis merasakan perutnya sakit. Seingatnya, ia tidak jadi menambahkan taucho ke dalam lontongnya tadi pagi. Tapi kenapa perutnya sakit sekali? Ah, mungkin karena kemarin-kemarin Tissa tak memakan dengan benar karena harus medengar ocehan sang tante. Jika bukan kerena sang Mama, mungkin Tissa sangat malas untuk tinggal di rumah sang Mama yang aman tante cerewetnya itu juga tinggal di sana. Tidak, Tissa lebih suka menyebutnya menumpang. Ya, menumpang di rumah peninggalan sang Ayah yang saat ini di tempati oleh sang Mama tercinta.


Tissa memang benar-benar mencintai Mama tirinya itu, dan juga adik laki-lakinya yang asih duduk di bangku sekolah menengah pertama.


“Kamu tak apa?” tanya Farhan yang melihat Tissa kembali merasakan sakit di perutnya.


Sepanjang perjalanan Tissa memang kerap kali meminta berhenti di spbu. Dan itu sungguh membuat Tissa menderita. Padahal Tissa sudah meminum obatnya.


“Aku gak apa, kamu jangan khawatir.”


“Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?”


“Tidak perlu, ini hanya sebentar saja. Beristriahat sebentar akan membuat aku baik-bak saja.”


“Baiklah, kalo begitu aku pergi dulu.”


“Farhan,” Mendengar namanya kembali di panggil, Farhan pun kembali berbalik.


“Bawa saja mobil ku.” Tissa memberikan kunci mobilnya kepada Farhan.


“Tidak apa, supirku sudah menunggu di luar.”


“Benarkah? Ah maaf, aku lupa kalo kamu sudah menghubungi supir mu.”


Farhan tersenyum dan kembali berpamitan dengan Tissa.


Sepeninggalan Farhan, Tissa langsung berlari menuju kamar mandi. Ia tak tahan dengan sakit perut yang melilit minta untuk di keluarkan.


*


Farhan melihat foto-foto yang Raysa pasang di sosial medianya. Ia tersenyum melihat bagaimana senyum Raysa begitu mengembang dengan sempurna. Sungguh berbeda dengan senyum yang biasa ia berikan untuknya. Farhan kembali melihat foto yang lain, foto di mana terdapat dirinya dan juga Tissa. Namun entah kenapa Farhan


merasa jika Tissa juga terlihat sangat cantik.


“Tidak buruk, dia gadis yangbaik. Apa aku bisa melupakan Ica dengan kehadirannya?” gumam Farhan sambil menatap foto Tissa yang ia perbesar di layar ponselnya.


**


Hai .. hai ... Aku mau minta tolong dong.


Mampir ke Novel ku yang baru netas ya ..


Judulnya : Twins A and


Miss Ceriwis.


Jangan lupa di Favoritkan


dan like nya ya ...


Salam LAYCA.FATIH

__ADS_1


__ADS_2