
"Na, Lo yang nyetir ya ..." Ujar Fatih kepada Lana.
Fatih pun memberikan kunci mobil nya kepala Lana. Fatih langsung duduk di bangku penumpang bagian belakang. Ia memposisikan dirinya bersandar, menutup kedua mata nya dengan tangan berlipat di dada.
"Kenapa dia?" Tanya Lana kepada Anggel.
Anggel mengangkat kedua bahu nya, karena memang kenyataan nya Anggel tak tahu kenapa Fatih tiba-tiba menjadi pendiam.
"Kecapean mungkin." Jawab Anggel yang di angguki oleh Lana.
Setelah mengantar Anggel, Lana pun kembali melajukan mobil Fatih.
"Mau ke mana nih kita?" Tanya Lana yang merasa yakin jika Fatih pasti sedang ada Masalah.
"Atap yuuk, udah lama juga gak berangin-angin."
Lana menurut saja, tanpa di bilang di mana tempat nya pun Lana sudah tau. Karena di sana memang tempat mereka sering menghilangkan rasa penat. Entah apapun itu yang menjadi penyebab nya, namun memandang bintang dari gedung tertinggi adalah hal yang terbaik.
Sebelum menuju ke atap gedung yang ingin mereka tuji, Lana menghentikan .obilnya di sebuah mini market, dan membeli kacang kelinci pacaran, dan juga minuman soda.
"Lo gak beli kuaci?" Tanya Fatih saat melihat Lana kembali dan langsung membongkar belanjaan nya.
"Ribet makan nya."
"Gue suka, beliin sana."
"ya ela Lo, kenyang kagak pegel tu mulut iya."
"Lo mau beliin gak?"
"Iyaa .. iya .. gue beliin."
Lana berjalan kembali masuk kedalam mini market tersebut. Tak berapa lama ia kembali dengan membawa satu kantong plastik kecil berisikan dua bungkus kuaci.
Fatih tersenyum lebar, kemudian ia meletakkan belanjaan itu ke bangku penumpang dan melanjutkan tidur nya.
"Busset ... seenak jidad aja Lo tidur."
"Gue gak tidur."
"Lah itu?"
"Cuma tutup mata."
"Sama aja nyet."
Lana melanjutkan melajukan mobilnya, sedangkan Fatih melanjutkan menutup mata nya.
Tak butuh waktu lama, karena jalanan pun juga mulai sepi. Fatih dan Lana turun dari mobil, dengan Lana yang membawa barang belanjaan nya.
"Dasar manusia galau." Gerutu Lana kepada Fatih.
Dan di sinilah mereka, di puncak tertinggi dari sebuah gedung milik salah satu keluarga Moza.
Fatih merebahkan diri nya di sebuah rumput buatan. Lengannya di jadikan bantalan kepala nya, dan mata nya menatap jauh ke bintang-bintang yang berkelap-kelip bergantian di atas sana.
"Lamaran gue di tolak lagi sama Quin." Ujar Lana membuka pembahasan.
"Ya udah, Lo nyerah aja." Ujar Fatih menyahuti ucapan Lana.
"Gak segampang itu Fat, Lo aja sendiri gak bisa berhenti buat mencintai Raysa."
"Gue fikir dulu kalo cinta gue ini hanya cinta monyet ke layca, ternyata perasaan itu semakin nyata. Berkali-kali gue tata hati gue, tapi tetap aja gue berharap nya ke layca."
"Gitu juga gue."
"Lo jelas beda. Lo bukan nya nyerah, tapi Lo gak mau nyerah."
"Gue mau nyerah, dan berpaling ke dia. Tapi gue takut." Ujar Lana yang sudah ikut merebahkan diri nya dan menatap langit.
"Takut kenapa?"
"Takut jika si 'Dia' Merasa jika gue hanya jadiin dia pelarian."
'Dia' yang di maksud oleh Lana, Fatih tau siapa orangnya. Tentu saja orang tersebut adalah Anggel.
"Gimana kalo dia memiliki perasaan yang sama dengan Lo?"
"Gak mungkin lah, lagian dia juga udah punya pacar."
"Lo juga, udah punya pacar malah ngejar Quin, eh malah jatuh cinta sama aunty nya Quin. Ha..ha..ha.." Fatih menertawakan Lana.
"Itu dia, kok bisa ya gue jatuh cinta dengan dua orang sekaligus. Brengsek banget gak gue?"
"Banget ..."
Kemudian Fatih terdiam, dia kembali menatap langit dengan pemikiran nya jauh melayang ke Raysa.
'Gimana jika Laysa merasakan hal yang sama dengan Lana? gimana jika ia merasa seperti seorang wanita murahan karena mencintai dua pria dalam waktu bersamaan? Bukankah itu sangat menyakiti harga dirinya?'
Fatih menghela napas nya dengan sedikit kuat, sehingga membuat Lana menolehkan kepala nya.
"Napa Lo? berat banget nampak nya?"
"Yaah, begitulah ... Haah ... Cinta sebelah tangan ternyata sangat merepotkan."
"Maka nya, jangan pake sebelah tangan,"
Fatih menaikkan alis nya sebelah.
"Pake dua belah tangan. Jadi tu cinta ketampong, gak terjatuh. ha..ha..ha.."
Lana tertawa kencang saat melihat wajah fatih bete mendengar candaan nya.
"Garing tau gak."
"Tau, biar rame aja ... Ha..ha..ha.." Lana kembali tertawa.
Fatih duduk dan memilih membuka minuman soda nya. Fatih sengaja mengocok nya dulu sebelum membukanya, kemudian baru lah ia buka dan mengarahkan kepada Lana.
Priiutssss ....
Lana terdiam saat semprotan air soda mngenainya. Gantian Fatih yang tertawa terbahak-bahak.
"Sialan Lo." Lana membersihkan sisa air soda yang mengenainya.
Lana membuka bungkusan kacang dan mulai memakannya, sedangkan Fatih sudah membuka bungkusan kuaci.
Lana melempar kulit kacang kepada Fatih, dan Fatih pun melakukan hal yang sama.
"Jorok banget sih Lo nyet, bekas jigong Lo juga ini."
Fatih hanya melirik, namun iantak peduli dengan apa yang di katakan Fatih. Fatih pun tetap melakukan hal yang sama, menggigit ujung kuaci, memakan isinya, dan membuang kulitnya kearah Lana. Lana pun juga ikut membuat kulit kacang nya kearah Fatih.
__ADS_1
"Woy, jangan kacang lupa kulitnya dong." ujar Fatih sambil melempar kulit kuaci.
"Lah terus?" Balas Lana sambil membuang kulit kacang.
"Makan sekalian kulitnya."
"Udah bosan gue, buat Lo aja nih." Ujar Lana sambil melempar kembali kulit kacang.
Peperangan lempar kulit kacang dan kuaci pun terus berlanjut, sampai Kacang dan kuaci benar-benar habis.
Fatih meneguk minuman soda nya, kemudian ia bangki dan membersihkan tubuhnya dari kulit kacang.
"Mau kemana Lo?" Tanya Lana saat Fatih melangkah kan kaki nya.
"Mau pipis, ikut?"
"Ogah."
Fatih pun meninggalkan Lana yang sedang menikmati minuman soda nya.
Cling ...
Fatih meraih ponselnya, kemudian ia membaca pesan yang masuk dari Farhan. Fatih mengerutkan keningnya, kenapa Farhan sampai mengirimkannya pesan?
Bahkan selama mereka kenal, sekalipun Farhan tak pernah mengiriminya pesan, kalo ada perlu, Farhan biasanya langsung menghubungia via telepon. Ada apa? tumben sekali?
Rasa penasaran yang besar membuat Fatih membaca pesan Farhan.
Farhan : Assalamualaikum, Maaf Fat, gue ganggu. Tadi gue kirim pesan ke Ica, tapi gak di balas dengan Ica. Gue liat dia tadi online, tapi pesan gue belum di balasnya. Gue khawatir sama dia.
Fatih mendengus geli membaca pesan Farhan. Sekali nya ngirim pesan, eh malah sepanjang ini. Bisa juga Farhan merangkai kata-kata. Fatih pun mendial nomor Farhan, tak butuh waktu lama, Farhan mengangkat panggilan Fatih.
"Assalamualaikum, Fat."
"Walaikumsalam,"
"Sory ya, gue ganggu Lo?"
"Gak kok. Kenapa?"
"Ya itu, Gue khawatir dengan Ica."
"Mungkin Layca sedang tidur."
"Bisa jadi, tapi kok perasaan gue gak enak ya?"
"Kenapa?"
"Lo gak pingin liatin dia ke apartemen nya?"
"Kalo gue di Bandung, pasti gue udah liatin. Gue lagi di Jakarta."
"Oh ya, gue lupa."
"Udah, Lo tenang aja. Layca aman kok di apartemen nya. kalo lagi gak tidur, mungkin dia lagi nonton film drakor."
"Iya juga sih, gak biasanya Ica gak balas pesan gue soalnya."
"Makanya, kasih soal jangan-jangan susah-susah."
Farhan terkekeh mendengar lelucon Fatih.
"Bisa aja Lo, Ya udah deh kalo gitu. sory ya ganggu waktu istirahat Lo."
"Alhamdulillah baik, Lo sendiri?"
"Alhamdulillah."
"Fat, kayak nya gue harus tutup deh telponnya, klien gue udah datang."
"Oke deh, sukses ya .."
"Siip, makasih ya .."
Fatih menyimpan kembali ponselnya, kemudian ia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, untuk membuang hajat yang tak tertahankan. Setelah puas, Fatih kembali lagi ke tempat di mana Lana berada.
"Balik yuuk, udah mulai dingin nih cuaca."
"Yuuk lah,."
Lana pun membersihkan tubuhnya dari kulit-kulit kuaci. Kemudian ia bangkit dan berjalan beriringan dengan Fatih.
"Pak, tolong bersihi atap ya ..." Fatih memberikan uang 200 ratus ribu kepada office boy yang sedang dinas malam itu.
"Baik Bos, makasih banyak ya."
Fatih pun mengacungkan jempolnya, kemudian ia kembali berjalan bersama Lana. Memasuki Lift dan menekan tombol untuk menuju lantai paling dasar.
"Haahh ...." Kembali Lana mendengar Fatih menghela napasnya.
Sepertinya apa yang Fatih rasakan kali ini sangat berat.
*
Raysa menatap makanan yang sedari tadi tak di sentuhnya. Saat Kak Lana mengirimkan foto Fatih dengan Kak Anggel, entah kenapa Raysa seolah kehilangan selera makannya.
"Kamu kenapa Ca? Apa yang kamu fikirkan?"
Dan saat melihat status story' Fatih bersama Anggel yang sedang bermain bowling pun, Raysa merasa ada sesuatu yang meremas hatinya.
"Kamu kenapa Ca? kenapa kamu harus sedih sih? itu Kak Anggel, gak mungkin lah ..." Entah kenapa Raysa berfikiran seperti itu.
"Loh, kenapa emangnya kalo Kak Anggel dan Fatih? Mereka bukan saudara atau sepupu. Mereka sudah sama-sama dewasa, gak ada adalah nya juga kan jika mereka bersama?" Batin raysa kembali menjawab.
"Tapi, Haah ... apa yang kamu fikirkan Ca?"
Cling ...
Pesan dari Farhan. Raysa hanya menatap pesan - pesan yang masuk itu, tanpa niat untuk membaca nya, apalagi membalasnya.
Raysa meremas dada nya, seolah sedang meremas jantungnya. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Raysa tak ingin seperti ini. Ia harus meyakinkan dirinya, jika perasaanya kepada Fatih hanya sebagai seorang adik dan Abang, yaa ... hanya sebatas itu, tidak lebih.
Raysa pun mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kepada Fatih. Lebih tepatnya mengomentari foto yang di pasang oleh Fatih di story' pesan singkatnya.
Me : Salam buat kak Anggel ya, Aku rindu ...
Send.
Raysa menatap pesan tersebut, yang dari centang satu langsung berubah ke centang dua. Dan masih berwarna abu-abu. Dengan sabar Raysa menunggui balasan dari Fatih. Namun setelah beberapa menit, pesan itu belum berubah warna. Entahlah, Raysa sendiri bingung kenapa ia harap-harap cemas dengan balasan Fatih. Hingga akhirnya Raysa memutuskan untuk membuat panggilan video kepada Kak Anggel.
Raysa bernapas lega saat melihat tak hanya Kak Anggel dan Fatih di sana, melainkan Ada Kak Lana bersama mereka. Raysa menertawakan diri nya sendiri.
"Dasar munafik Lo, Ca." Molonolg Raysa kepada diri nya sendiri.
__ADS_1
Raysa masih betah duduk di meja makan, sambil menatap kosong kepada makanan nya yang sedari tadi hanya di aduk-aduk oleh nya.
Entah berapa Jam Raysa melakukan hal itu, hingga sebuah panggilan video masuk ke dalam ponsel nya.
Raysa mengerjapkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang di lihat nya. Fatih menghubungi nya?
Raysa menoleh ke pergelangan tangannya, melihat sudah jam berapa saat ini. Raysa terkejut saat jarum jam menunjukkan puk 1 dini hari.
Raysa ragu, mengangkat panggilan Fatih atau mengabaikan nya seolah-olah dirinya sudah tertidur.
Panggilan tersebut pun berakhir, Raysa menghela napasnya pelan.
Cling ...
Satu pesan dari Fatih masuk, Raysa yang gugup dan terkejut tanpa sengaja membuka pesan tersebut.
Fatih👽: Aku tau kamu belum tidur.
read.
Raysa mengusap wajahnya, seharusnya ia tak seceroboh ini. Ponsel Raysa kembali berdering dan menampilkan nama Fatih dengan panggilan video.
Raysa berlari ke sofa, mengusutkan rambutnya dan membuat mimik wajah nya seolah-olah batu terbangun dari tidur. Raysa menggeser tombol hijau tersebut.
"Hmm, assalamualaikum." Ujar Raysa sambil menggaruk kepalanya.
Fatih terkekeh melihat penampilan Raysa seperti itu. Fatih tau, jika Raysa tertidur dan mengangkat telpon, dia tak akan menyapa dengan lembut. Bahkan Raysa akan memarahi si penelpon tersebut, termasuk Farhan pastinya.
"Kok ketawa?" Tanya Raysa bingung.
"Bohong nya ketahuan banget."
Hati Fatih yang menahan rindu untuk menjauh dari Raysa, seakan lega karena dapat melihat dan mendengar suaranya. Benarkan, Fatih gak bisa menghilangkan Raysa dari hati nya.
Raysa mencebikkan bibir nya saat Fatih mengatakan nya berbohong.
"Layca, aku kangen kamu." Ujar Fatih dengan wajah serius nya.
Raysa menatap layar ponsel nya tanpa berkedip, hingga suara perut nya mengambil alih perhatian Fatih.
"Kamu belum makan?"
"Udah, tapi dikit." bohong Raysa.
"Makan lagi sana, biar jangan kriuk-kriik perutnya."
"Males aja, udha malam banget. Entar aku gendut."
"Ya gak masalah, aku tetap cinta kok."
"Gombal nya receh banget tau gak."
"Tau, biar receh yang penting bisa buat kamu ketawa."
Raysa mencibir. " Gak jelas banget."
"Udah, makan sana. Kau temani."
Raysa menaikkan alisnya sebelah. "Serius kamu temani?"
"Iya ..."
"Emangnya gak capek? kan habis main bareng Kak Anggel dan Kak Lana?"
"Enggak lah, buat kamu tubuh aku selalu fit."
"Kan, lebay lagi ..." Raysa mengerucutkan bibirnya.
Fatih terkekeh melihat wajah Raysa yang sangat imut.
"Mau makan gak? kalo gak aku tutup nih." Ancam Fatih.
"Iya .. Iya .. aku makan."
Raysa berdiri dan berjalan menuju meja makan. Raysa meletakkan ponselnya di dengan posisi berdiri dan kamera menghadap dirinya.
"Mau masak apa?" Tanya Fatih.
"Masak omelet aja deh."
Raysa mulai memecahkan dua butir telur, kemudian memotong wortel dengan bentuk dadu-dadu kecil, daun seledri, daun bawang, dan brokoli yang sudah di cuci, kemudian di cincangnya. Raysa campurkan semua bahan tersebut kedalam telur yang sudah di kocok oleh Raysa sebelumnya.
Raysa panaskan teflon dan meletakkan sedikit margarin. Kemudian secara sedikit demi sedikit Raysa memasukkan telur yang sudah di campur sayur tersebut hingga habis. Raysa pun menunggu sampai matang.
Setelah matang, Raysa menyalinnya kedalam piring. Raysa pun memberikan saos di atas ya, kemudian memarut keju lagi di atas nya. Fatih sampai menelan ludah nya melihat itu.
"Layca, kalo aku balik, kamu harus masakin kayak gitu ya buat aku."
Raysa tersenyum dan tertawa pelan. Raysa membawa ponsel nya dan juga omelet nya ke meja makan. Raysa berdiri kan ponselnya dengan bersandar di kotak tisu.
"Kapan kamu pulang?"
"Mungkin lusa, atau Minggu depan."
Raysa yang tadi nya ingin menyuap satu sendok omelet pun, tak jadi menyuapkan nya.
"Lama banget?"
"Kenapa? kamu rindu?"
"Iih, pede banget sih. Cuma kebanyakan aja kalo masak sendiri. Kalo beli di luar boros. Lagian kan aku baru kerja, masa udah mulai boros aja. Kapan nyimpannya."
"Anak pinter.. Kalo udah dekat, pasti udah aku elus-elus itu rambut."
"Elus apa nya? kamu acak-acakin iya .." Raysa kembali memasukkan sepotong omelet kedalam mulutnya.
"Ntar kamu ketagihan kalo aku elus-elus." Ujar Fatih dengan nada menggoda.
"Iiiihh ... genit banget sih kamu. Geli tau dengarnya."
Fatih terkekeh melihat reaksi Raysa yang sangat menggemaskan. Duuh, boleh bawa pulang dan kurung di kamar gak sih? ..
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....