
Puas berjalan-jalan sambil bergandengan tangan, mereka pun mampir ke salah satu cafe yang ada di sana. Raysa dan Fatih memilih memesan spageti dengan minumannya jus jeruk.
"Abang, apa yang akan terjadi dengan pria brengsek itu?" tanya Raysa yang penasaran dengan nasib si pria asing tersebut.
Pasalnya Raysa sempat mendengar jika Papa Arka dan Papi Gilang akan memberikan hukuman yang berat kepada si pria.
"Emm, mungkin dia akan mendekam didalam penjara dengan waktu yang sangat lama. Ah ya, dan juga, Papi tadi bilang, jika akan membuat usahanya bangkrut."
Raysa membuka mulutnya mendengar ucapan Fatih.
"Sampai segitunya? apa itu tak terlalu berlebihan sehingga membuatnya bangkrut?"
"Kenapa? kamu kasihan dengannya?" tanya Fatih dengan menaikan alisnya sebelah.
"Bukan begitu, bagaimana jika ia memiliki anak atau istri, atau orang tua yang harus dibiayai?"
"Itu sudah menjadi resiko yang harus ia tanggung, karena telah berani melecehkan anggota keluarga Moza."
Raysa menelan ludahnya dengan kasar. Benar saja, saat ini ia telah menjadi bagian dari keluarga Moza. Yaa, walaupun sedari dulu ia telah menjadi bagia ln keluarga Moza, tapi posisi Raysa saat ini telah berubah sama seperti Mama Kesya. Dimana tak ada seekor serangga pun yang boleh menyakiti dirinya, maka serangga tersebut akan dibabat habis oleh seluruh anggota keluarga Moza.
Begitulah spesialnya keluarga Moza memperlakukan para anggota keluarganya. Bahkan, tanpa sepengetahuan Quin pun, orang-orang yang telah membulinya, telah diberikan pelajaran oleh Papa Arka. Pastinya pelajaran yang tak terlihat jelas, karena demi melindungi identitas Quin. Walaupun Papa Arka ingin sekali memperingati orang tersebut dengan keras dan lantang.
*
Setelah puas berjalan-jalan dan membeli oleh-oleh, mereka pun kembali ke rumah Aunty Risma. Dimana mereka akan beristirahat sejenak disana.
Bukannya takut kehabisan uang membayar hotel untuk peristirahatan mereka yang terbilang sebentar itu, namun, silaturahmi adalah gaya hidup yang memang sudah dibiasakan oleh keluarga Mama Kesya, dan semuanya pun mengikuti kebiasaan tersebut.
Jika ada rumah saudara, ngapain nginap dipenginapan? Bukannya pelit, tapi cara menjalin silaturahmi ya begini, mampir sebentar atau kalau perlu menginap di rumah saudara, ya pastinya jika si saudara telah memberikan lampu hijau.
Dan Aunty Risma, sudah jauh hari menyuruh mereka semua untuk mampir dan menginap. Jadi, untuk memenuhi undangan aunty Risma pun, mereka beristirahat sambil menunggu jam penerbangan mereka kembali ke Indonesia, rumah aunty Risma.
"Gimana jalan-jalannya?" tanya Bunda Sasa yang melihat Raysa memegang beberapa paper bag, begitu pun dengan Fatih.
"Asik, Bun, Jalan kaki walaupun jauh, gak terasa lelah, karena disini aktifitasnya masih ramai yang berjalan kaki." seru Raysa dengan bahagia.
__ADS_1
"Bunda sebenarnya pingin ikut, tapi ada yang kelelahan," ujar Bunda Sasa sambil melirik kearah Daddy Bara yang sudah terlelap nyenyak bersama para suami-suami yang lainya.
Raysa pun terkekeh melihat dimana Daddy, papi-papi, dan Papa nya sudah tergeletak diatas ambal bulu yang lembut. Di tambah lagi suara dengkuran yang saling bersahutan, seolah mereka sedang berlomba untuk menunjukkan dengkuran siapa yang paling merdu, indah, dan berkelas.
"Oh ya, Ica tadi beliin ini untuk Bunda," Raysa menunjukkan sebuah jam tangan yang cantik, yang terbuat dari bahan kayu. Jam tangan bermodel kuno namun terlihat sangat elegan, berkelas, dan juga modern.
"wow, cantik banget? Mami gak dibeliin?" ujar Mami Mili yang melihat jam tangan yang sedang Raysa berikan untuk Bunda Sasa.
"Kalo Mami, Ica beliin ini," Raysa mengeluarkan sebuah kotak kecil, yang Mami Mili duga adalah sebuah gelang.
Namun, saat Raysa membuka kotak tersebut, tenryata tak hanya gelang, ada cincin juga disnaa. Cincin dengan ukiran kayu yang sudah disulap sangat cantik dan berkelas. Bahkan, terdapat butiran permata di sana.
"Ica, ini kan?" Mami Mili sudah terharu melihat hadiah yang diberikan oleh Raysa.
Raysa terswnyim manis. "Mami suka?"
"Hmm, Kamu tau? ini gelang kuno yang pernah sempat Mami incar. Tapi keburu diambil orang." Mami Mili mengusap air matanya.
"Benarkah? wah, rezeki banget ya.."
"Ditoko antik, saat jalan-jalan tadi."
"Pasti mahal?" ujar Bunda Sasa.
Raysa hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Bunda Sasa. Sebenarnya, Raysa tak tahu berapa harga semua belanjaan tersebut, karena Fatih menyuruhnya mengambil apapun yang ia inginkan.
Saat Raysa mengatakan bahwa takut kemahalan, karena barang-narang tersebut sangat indah, Fatih malah mengatakan jika tak ada yang lebih mahal dari cintanya kepada Raysa.
Gombalan yang sangat membuat Raysa tersipu malu dan merona.
"Gak ada kata mahal kalo untuk bidadari-bidadari cantik yang Fatih miliki." Fatih pun bergabung dengan wanita-wanita cantik yang berbeda usia itu.
Mami Mili langsung mengusap kepala Fatih dengan gemes.
Raysa pun membagikan hadiah yang ia belikan ditoko antik kepada Mama Kesya, Mama Puput, Mami Vina, dan Mami Anggun. Mereka sungguh bahagia mendapatkan hadiah dari Raysa. Apalagi hadiah tersebut sesuai dengan yang mereka sukai. Barang-barang antik yang terbuat dari kayu.
__ADS_1
*
"Waah, rasanya udah lama banget gak makan sambal terasi, serasa pulang kerumah," seru Daddy Bara yang di angguki oleh yang lainnya.
"Walaupun tinggal dinegri orang, gak membuat Aku lupa untuk makanan khas Indonesia." ujar Aunty Risma.
"Gimana dengan suami bule mu? apa dia menyukai makanan ini?" tanya Mami Mili.
"Tentu saja, makanya aku selalu menyetok terasi didapur. Kalian tau sendiri kan? mana ada di German jual terasi."
Semua orang pun tertawa, kemungkinan yang sangat kecil untuk menjumpai terasi di jual di negara ini. Bukannya Taka da di jual, namun sungguh susah menemukan bahan tersebut di supermarket manapun.
Daddy Bara, Lapak Gilang, Papa Arka, Papa Fadil, Papi Leo, dan Papi Vano pun makan dengan lahap. Bunda Sasa sampai takjub melihat halaman belakang rumah aunty Risma. Yang mana terdapat banyak jenis pohon ubi, pohon pepaya, dan juga kemangi. Sepertinya Aunty Risma dan suami adalah pecinta lalapan. Maka dari itu tak heran jika makanan yang tersedia pun adalah menu lalapan khas Indonesia. Dengan sayur daun ubi rebus, daun pepaya, selada, timun, dan juga wortel. ah ya, tak lupa daun kemangi yang sudah dicuci bersih.
"Waah, gak nyangka masakan Kamu seenak ini, Ris." ujar Mama Kesya kepada besannya itu.
Aunty Risma pun terkekeh. "Bukan aku yang masak, aku hanya membantu saja."
Mama Kesya pun memakluminya, bagaimana tidak, dari awal masuk saja mereka sudah disambut dengan asisten rumah tangga yang memakai seragam kompak menyambut mereka.
Aunty Risma hanya tinggal memerintah dan mereka pun mengerjakan. Salutnya, Aunty Risma mengerjakan pekerja Indonesia dan juga penduduk asli. Bahkan semua asistennya pun. bisa berbahasa German dan juga Indonesia.
Mama Kesya jadi teringat dengan apa yang Quin ceritakan, jika ia sungguh salut dengan aunty Risma yang sengaja memberikan pelajaran bahasa kepada setiap asistennya. Dan itu bertujuan untuk mempermudah komunikasi mereka satu sama lainnya.
**
"hai, mungkin updatenya agak slow ya. karn aku mau siapain beberapa bab di sikembar Arash n Abash. tapi aku usahain untuk up berbarengan juga. terima kasih..
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA
salam rindu Tissa dan Farhan
__ADS_1