
Tak terasa waktu cepat berjalan, hingga Bara sudah menggendong anak ketiga mereka yang baru saja lahir. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu di beri nama Rayyan Prayoga Bahari.
" Ica mau gendong adek Layan," ucapnya kepada Bara.
Bara menaikkan Ica ke atas tempat tidur, dan memberikan Rayyan ke atas pangkuannya, dengan Bara yang masih memegangnya.
" Ica suka?"
" Cuka.."
Ibra yang sudah bisa berjalan pun terlihat antusias ingin menggendong adiknya itu. Daddy Roy pun menggendong Ibra dan memperlihatkan wajah adik kecilnya.
" Tampan kan, mirip Ibra."
Ibra berceloteh dengan bahasanya sendiri.
.
.
Tak terasa, Raysa sudah berumur 6 tahun, sebentar lagi Raysa akan lulus dari taman kanak-kanaknya. Dan baru saja Sasa mendapatkan panggilan dari sekolah Raysa.
" Siapa Mungil?" Tanya Bara yang lagi bersantai karena kena tugas dinas malam.
" Guru Raysa, di suruh ke sekolah sekarabg Mas." Ujar Sasa dengan wajah yang mulai panik.
" Apa ada yang mengganggu Raysa lagi?" Tanya Bara yang juga mulai khawatir.
" Entah lah, sebaiknya kita segera ke sekolah Raysa, Mas."
Tak butuh waktu lama bagi Sasa dan Bara untuk bersiap.
" Mi, titip Ibra dan Rayyan yaa.." Ujar Sasa berpamitan.
" Kalian mau ke mana?"
" Mau ke sekolah Raysa, guru Raysa menelpon tadi."
" Ada apa? Apa ada yang mengerjai Raysa lagi?"
" Gak tau Mi, kami pergi ya, assalamualaikum"
Sasa mencium punggung tangan Mami Shella, dan bergantian dengan Bara.
.
__ADS_1
.
Jantung Sasa berdegup kencang saat melihat pemandangan di hadapannya. Inilah yang Sasa takutkan.
" Maafkan anak saya Buk." Ujar Sasa dengan rasa bersalah.
" Makanya, punya anak itu di ajarin sopan santun." Gerutu orang tua yang anaknya baru saja di tonjok oleh Raysa.
Bara mengeraskan rahangnya, jika tidak da anak kecil, mungkin Bara sudah membalas ucapan orang tua dari anak yang dipukul Raysa tersebut.
" Bunda, Ica gak salah. Dion duluan yang robek gambar Ica" Adu Raysa kepada Bunda Sasa.
Sasa menarik napas, dan menghelanya pelan.
" Lalu kenapa Ica memukul Dion?"
Raysa menundukkan wajahnya, kemudian ia melirik kearah Bara dengan takut. Sasa mengerti, jika Raysa saat ini sedang takut akan kemarahan sang Daddy.
Sasa menyamakan tingginya dengan Raysa.
" Sayang, boleh cerita sama Bunda.?" Tanya Sasa lembut.
Raysa masih melirik kearah Bara. Daddy nya itu sudah melipat kedua tangannya di atas dada, melihat kearah Raysa dengan tatapan tegas dan tajam.
Raysa pun menceritakan, saat dirinya sedang menyambar, Dion yang selalu mencari Masalah dengannya, merampas dan merobek kertas gambar Raysa. Raysa yang geram pun mendorong Dion, hingga bocah laki-laki itu terhoyong kebelakang. Dion tak terima, kemudian ia menarik rambut Raysa. Raysa yang memang dari usia 3 tahun sudah berbekal ilmu bela diri, dengan mudah melepaskan dirinya dan memukul wajah Dion, hingga hidung Dion mengeluarkan darah.
Raysa yang pintar juga mengatakan, jika Bunda, Daddy, dan guru nya tak percaya, Bisa memeriksa CCTV. Sekolah Raysa memang di lengkapi dengan cctv di setiap kelas dan sudut ruangan.
Salah satu Guru Raysa pun menunjukkan rekaman CCTV kepada ibu nya Dion. Memang, Dion ini terkenal sering sekali menjahili tenan-temannya. Raysa saja sudah beberapa kali menjadi korban, dan Raysa selalu diam, itu karena ajaran sang bunda untuk tak melawan yang lemah. Di mata Raysa, Dion itu lemah, karena suka mengganggu anak perempuan saja.
Ibu nya Dion langsung membuang wajahnya, dan enggan untuk meminta maaf atau menyuruh Dion untuk meminta maaf.
" Lain kali, jika ingin memarahi anak orang lain, lihat dulu kesalahan anaknya. " Ujar Sasa dengan tersenyum namun terdengar sabgat menakutkan.
Bara tersenyum menatap sang putri.
Raysa masih menundukkan wajahnya di dalam mobil, ia takut manatao sang Daddy. Bara yang sesekali melirik ke spion tengah pun tersenyum mendapati putrinya yang ketakutan.
Raysa terkejut saat melihat sang Ayah menggendongnya dan membawanya masuk kedalam toko eskrim kesukaannya.
" Daddy gak marah sama Ica?" Tanya nya dengan suara bergetar.
Bara tersenyum dan mengelus rambut Raysa dengan sayang.
" Katakan, apa alasan Daddy untuk marah sama Ica?"
__ADS_1
" Ica udah mukul orang yang lemah." Ujar Raysa dengan lirih.
" Ica hanya membela diri, dan Ica gak salah. Tapi, lain kali jangan main mukul, tapi kunci duku pergerakan lawannya, oke.."
Terlihat Raysa mulai tersenyum. " Iya Daddy." Jawabnya dengan semangat.
" Good, ini baru putri Daddy."
Sasa hanya menggelengkan kepalanya. Daddy dan Anak kok bisa kompak dalam bela diri. Sasa mengingat pertama kali nya Bara mengajarkan Raysa bela diri. Saat itu, Raysa sedang bermain dengan Zein, Kayla, dan Anggel di taman, namun ada tiga anak laki-laki yang menghampiri dan merebut mainan mereka. Zein yang laki-laki sendiri pun tak mampu melawan dan melindungi adik-adiknya, sehingga Raysa yang berumur 3 tahun menendang dan memukul dua anak laki-laki tersebut hingga menangis.
Sepertinya bakat bela diri Sasa mengalir di darah Raysa, saat itu lah Bara mengajarkan Raysa bela diri, dan juga mengarahkan Raysa untuk tidak memukul duluan, melainkan untuk menahan, menghindari, dan mengunci gerakan lawannya.
.
.
Mami Shella mengurut dada nya saat mendengarkan cerita Bara. Rasanya mami Shella ingin pingsan mendengarnya. Bukan karena Raysa yang memukul kawannya, tetapi semangatnya Bara untuk mengajarkan Raysa bela diri.
" Sa, anak mu perempuan itu loh." Ujar Mami Shella lesu.
" Kalo dia ikut atlet, trus gigi nyaboatah, tulangnya patah, gimnaa?"
" Sasa bakal pukul Mas Bara habis-habisan, Mi."
" Yaa, mami setuju, tapi jangan sampai sekarat yaa.."
" Ya gak lah Mi, Sasa belum mau jadi Janda."
Sasa dan Mami Shella pun terkekeh. namun, senyum mami Shella kembali luntur di saat melihat Daddy Roy juga ikut bersemangat mengajarkan Raysa bela diri.
" Haaah... Rasanya Mami pingin pingsan. "
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1