Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 12 " Bubur"


__ADS_3

Bara tidak percaya jika dia telah memiliki fikiran liar bersama mungil nya. Bara memperhatikan Sasa dari jauh. Bara menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengenyahkan fikiran liarnya.


" Lo gak mau makan?" Tegur Sasa karena Bara masih membeku di sofa ruang TV yang merangkap ruang tamu.


Bara menarik napas panjang, dan membuangnya. Dia harus bisa mengendalikan fikirannya.


Bara duduk berhadapan depan Sasa, masakan Sasa sangat menggoda cacing yang berada di perutnya. Sasa menuangkan bubur untuk Bara. Bara mengernyitkan keningnya, kenapa dia di kasih bubur, sedangkan Sasa makan nasi biasa.


" Aku mau nasi biasa" Ujar Bara membuat Sasa menghentikan gerakannya.


Sasa menatap tajam Bara. " Lo lagi sakit, jadi jangan banyak tingkah"


" Aku mau nasi yang sama kayak kamu"


" Ih, bawel banget sih"


Sasa berdiri, menarik kursi untuk dirinya duduk yang berada di sebelah Bara, dan menyendokkan bubur kemudian menyodorkannya ke depan mulut Bara. Bara refleks membuka mulutnya, Baru kali ini dia memakan Bubur, padahal Bara sangat tidak menyukai makanan lembek itu.


" Enakkan?"


Bara menganggukkan kepalanya. Bara merasa rasa buburnya tidak terlalu buruk, Bara kemudian membuka mulutnya lagi untuk meminta Sasa menyulanginya lagi.


" Makan sendiri"


" Tangan aku sakit, jadi Suapin dong"


" Alasan" Sasa berdiri dan berpindah ke tempat duduknya semula.


Bara meraih sendok, dan kemudian meringis kesakitan, hingga sendok yang berada di tangan Bara pun terjatuh. Sasa menghela napas nya pelan, Sasa kembali duduk di sebelah Bara, dan itu menerbitkan senyum Bara. Sasa menyiapi Bara, hingga bubur yang berada di dalam mangkok pun habis tak bersisa.


" Udah, gue mau makan" Sasa berpindah ketempat duduk ya semula, dan mulai menikmati makanannya.


Bara menatap Sasa dalam diam. Baru kali ini dia memakan Bubur, dan itu sangat lezat. Bara melihat menu makanan yang berada di atas meja, Bara penasaran dengan rasa tumis brokolinya, Bara pun menyendokkan kedalam mulutnya. Ternyata rasanya tidak buruk, bahkan Bara ketagihan hingga menghabiskan semua tumis brokolinya. Sasa memperhatikan Bara, lalu tersenyum tipis, kemudian dia tersadar jika Bara makan menggunakan tangan kanan, dan Bara tidak merasa sakit. Sasa menutup matanya untuk meredam emosinya. ' Dasar Bara api sialan, berani-beraninya dia membohongi gue.' Batin Sasa.

__ADS_1


" Enak?"


" Emm, banget. Ternyata selain Bar-bar, kamu jago masak juga ya"


" Mau tambah? pakai bubur lebih enak"


" Benarkah? boleh deh, sedikit aja ya" Bara menyodorkan piring yang berisi brokoli.


Sesaat Bara langsung menyadari perubahan wajah Sasa. Bara baru sadar jika dia makan dengan tangan kanan tanpa rasa sakit.


" Awwww" Bara mencoba peruntungannya, dia pun berakting sakit. Bara tersenyum tipis saat melihat Sasa terlihat khawatir terhadapnya.


" Biar gue suapin" Seringai jahil terbit dari sudut bibir Sasa. tiba-tiba saja bara merasa ada yang aneh, Bara sudah menelan ludahnya kasar.


Sasa menyuapi Bara, dan Bara membuka mulutnya dengan terpaksa. Benar saja, entah kapan Sasa menambah sambal di dalam buburnya, hingga Bara kepedasan saat ini.


" Rasain" Geram Sasa.


Sasa memicit keningnya. Mau ngapain sih Bara api sialan itu di situ? kenapa dia tidak pulang saja?. Sasa membangunkan Bara, menyuruhnya untuk pulang.


" Pulang sana" Ujar Sasa saat Bara sudah terbangun.


" Di luar hujan lebat, gue gak mau ambil resiko." Bara kembali berbaring dan menutup matanya.


Sasa berdecak kesal. "Ck, bangun gak?"


Bara tidak bergeming dan masih menutup matanya. Sasa menarik Bara, agar dia mau pulang, namun badan Bara yang besar, membuat Sasa kesulitan untuk menariknya, apalagi Bara memang menahan posisinya.


" Ya sudah, kalo hujannya reda, Lo pulang sana, ntar jangan lupa Tutup pintunya yang rapat, biar terkunci otomatis. Gue mau tidur, ngantuk"


Sasa berdiri dan berjalan melewati Bara, namun langkah Sasa terhenti karena Bara menahan langkahnya. Sasa memandang Bara, kemudian Bara duduk dan tiba-tiba saja memeluk pinggang Sasa, Bara sandarkan kepalanya di perut Sasa. Sasa mendorong tubuh Bara, namun percuma, pelukan Bara terlalu kuat untuk Sasa. Sasa menghentikan gerakannya karena mendengar suara Bara yang terdengar lirih.


" Biar seperti ini dulu. Pliiss"

__ADS_1


Sasa menunduk, dan melihat mata Bara yang tertutup. Suara bel membuat Bara melepaskan pelukannya. Mereka saling pandang, Sasa melihat ponselnya berdering dan tertera nama Fadil. Sasa menggeser tombol hijau.


" Hal___"


" Sasa, ini Puput, buka pintunya" terdengar suara Puput seperti habis menangis.


Sasa memandang Bara, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tidak mungkin membiarkan Bara di sini saat jam segini, bisa di hakimi dia dengan Fadil.


Sasa menarik tangan Bara dan memasukkan Bara kedalam kamar. Jaket Bara juga di lemparkannya kedalam kamar.


" Diam, jangan berisik" Ujar Sasa dingin.


Sasa berjalan kearah pintu dan membuka nya. Puput langsung menghambur kepelukan Sasa sambil menangis. Sasa melihat kearah Fadil, seolah bertanya apa yang terjadi. Fadil mengisyaratkan kepada Sasa untuk membawanya masuk kedalam dan akan menjelaskan semuanya.


Sasa menyodorkan teh hangat kepada Fadil dan Puput.


" Sa, maafin aku ya. Sebenarnya aku cemburu dan curiga dengan hubungan kamu dan kak Fadil. aku gak tau kalo kamu sebaik itu sama aku. Dan di antara kamu dan kak Fadil tidak ada apa-aoa. kak Fadil sudah menceritakan semuanya kepada aku, tentang trauma kamu, dan kenapa dia baik sama kamu. Karena kamu udah nyelamatin kak fadil. Maafin aku ya Sa" Ujar puput panjang lebar sambil sesenggukan.


Di dalam kamar, Bara memperhatikan kondisi kamar Sasa, kemudian dia tertawa karena mengingat ucapan Sasa saat dia memberikan sajadah waktu itu.


" Lihat, siapa yang memasukkan pria kedalam kamarnya" Gumam Bara.


Bara melihat foto Sasa dengan seorang nenek. Bara tebak, jika itu adalah nenek Sasa. Wangi kamar Sasa membuat fikiran Bara tenang, entah apa yang membuat Bara duduk di tempat tidur sasa, dan tanpa sadar sudah merebahkan dirinya di sana. Dalam hitungan menit, Bara sudah terlelap kedalam mimpi.


Sudah hampir satu jam Puput menangis dan meminta maaf dengan Sasa. Sasa hanya bisa memeluk Puput dan mengelus punggungnya. Setelah merasa tenang, Puput dan Fadil pun kembali.


Sasa membuang napas lega, setidaknya mereka tidak curiga dengan sepatu yang lupa Sasa sembunyikan itu. Sasa melihat kearah kamarnya, dia menggerutu karena memasukan Bara kedalam kamar.


Sasa membuka pintu kamar, dan betapa terkejutnya Sasa saat melihat Bara sudah tertidur di tempat tidurnya. Sasa mendekati Bara dengan amarahnya, namun saat melihat wajah Bara yang terlihat tenang, Sasa mengurungkan niatnya dan membiarkan Bara tertidur di tempat tidur nya. Sasa memilih tidur di depan tv, karena tidak ingin tidur seruangan dengan Pria. Apalagi pria itu adalah Bara.


*** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...


Salam SaBar ( Sasa Bara )

__ADS_1


__ADS_2