
"Boy! Kamu gak ingat?"
"Boy?"
"Iya, waktu itu kita satu les. Masa kamu gak ingat?"
Desi pun mencoba mengingat pria yang bernaa Boy tersebut.
"Ah ya, Boy yang suka tidur itu kan?"
"Ah, kenapa harus hal yang memalukan itu sih yang diingat" ujar Boy dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Desi dan Boy pun saling bertukar nomor ponsel, "Nanti Aku hubungi ya," uajr Bor.
"Oke,"
Desi dan Boy pun kembali ketempat duduk mereka masing-masing.
"Waah, ada yang dapat kenalan baru nih," uajr Nanda yang sengaja sedikit meninggikan nada suaranya.
Desi tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil melirik kearah Jo. Sepertinya ini kesempatan Desi untuk membuat Jo cemburu.
Pesanan makanan pun tiba, namun ada dua menu makanan yang tak mereka pesan, dan di tujukan untuk Desi dan Tissa. bahkan ada setangkai bunga yang terdapat secarcik kertas disana. Nanda langsung meraih kertas tersebut dan membacanya dengan suara yang sedikit lantang, agar para kekasih mereka dapat mendengarnya.
"Untuk gadis cantik berbaju biru, Salam kenal, Dian."
"Waaah ...." seru Raysa, Desi, dan Nanda untuk meledek Tissa.
Tissa pun melirik kearah Farhan, namun tak ada reaksi apa pun dari Farhan. Farhan masih fokus dengan makanannya. Tissa merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya. Bolehkah Tissa merasa kecewa karena Farhan tak memiliki reaksi seperti yang Jo diberikan untuk Desi?
Ya, terlihat jelas di mata dan wajah Jo, jika dirinya cemburu ketika Desi ada yang mengajak kenalan. Tissa pun hanya tersenyum tipis menanggapi candaan teman-temannya.
Setelah makan, Raysa mengajak para ladies untuk bermain game. Tissa, Nanda, dan Desi pun menyetujuinya.
"Kamu kalo sibuk, boleh balik ke kantor aja," ujar Tissa kepada Farhan, akrena sedari tadi farhan sibuk dengan ponselnya dan juga melirik kearah jam tangannya.
"Gak papa, Aku gak terlalu sibuk. Kerjaan Aku bisa dikerjain nanti," ujar Farhan, tanpa Tissa ketahui jika farhan merasakan perasaan takut dan tak nyaman saat ada seorang pria memberikan setangkai bunga kepada calon istrinya itu.
"Ya udah kalo gitu," Tissa tersenyum dengan lembut. Tissa berharap farhan menggandeng tangannya seperti yang dilakukan oleh Fatih kepada Raysa.
Hei Tissa, sadarlah, ini Fatih. Si pria dingin tak berekspresi, jadi untuk mengharapkan kata romantis sungguh sulit didapat oleh Fatih.
Desi menarik tangan Tissa dan menjauh dari Farhan. Mereka memasuki arena permainan yang terdapat didalam mall tersebut. Raysa telah mengisi kartu mereka dengan nominal yang banyak, agar mereka puas untuk bermain seharian ini.
Para ladies pun berlomba dalam bermain basket. Mereka membagi tim menjadi dua. Tissa dan Raysa jadi satu tim, sedangkan Desi dan nanda menjadi satu tim. Para pria? mereka hanay memperhatikan dari jauh, mereka tak ingin mengganggu waktu bermain para ladies.
__ADS_1
Hingga tibalah mereka pada permainan tangkap boneka. Desi, Tissa, Raysa, dan Nanda pun sudah mencoba berkali-kali, namun mereka gagal.
"Hai, mau boleh bergabung?" tanya Boy kepada Desi.
"hei Boy,"
Mereka pun berkenalan bersama teman-teman Boy. Jo yang sedari tadi tak lepas pandanganya dari desi pun muali bergerak gelisah. Apalagi saat Desi tertawa lepas bersama para pria yang mengajak mereka berkenalan. Jo tiba-tiba bangkit tanpa suara, sehingga membuat Momol yang sedang mengobrol dengan Fatih pun menolehkan kepalanya kearah mana Jo pergi.
"Tih, bahaya nih, ada yang godain pujaan hati kita," ujar Momol dengan panik.
"Gue percaya Raysa, dia gak bakal macem-macem."
"Ya Raysa bisa dipercaya, gimana sama tuh cowok? Rela Lo Raysa dgombalin sama tuh cowok?" Momol pun mulai memanasi Fatih.
"Yok lah, marikita selamatkan mreka dari buaya-buaya itu," ujar Fatih sambil berdiri dan meninggalkan Momol.
"Lah, tadi katanya gak khawatir, sekarang lihat siapa yang jalan paling cepat," gerutu Momol.
Kehadiran Jo, Momol, dan Fatih membuat Raysa, Nanda, dan Desi tersenyum senang. mereka berhasil membuat para pria cemburu. Lalu, bagaimana dengan Farhan?
Tissa hanya memandang kearah Farhan yang sedang sibuk dengan ponselnya. Tissa pun menghela napasnya pelan, ia kembali merasakan kekosongan yang sama degan sebuah pertanyaan yang bermain didalam fikiannya.
'Apa dia tak mencintai ku?'
*
"Gue juga bisa," ujar Momol saat sudah berada disamping mereka.
Sudah empat kali Momol mencoba, namun tetap saja tak berhasil, sehingga membuat mengerutu kesal. Dian dan teman yang lainnya pun mengulum senyumnya melihat kegagalan Momol, sedangkan Dian sudah bermain kembali di box yang lainnya dan kembali berhasil mengambil sebuah boneka lucu.
"Untuk Kamu," uajr Dian sambil memberikan boneka lucu itu kepada Tissa.
Tissa meraih boneka itu, namun belum juga sampai ketangan Tissa, boneka itu sudah dikembalikan lagi kepada Dian.
"Saya bisa memberikan boneka untuk calon istri saya," ujar Farhan yang tiba-tiba saja datang, membuat hati Tissa yang dingin kembali menghangat. Sudut bibir Tissa pun terangkat membuat sebuah senyuman yang manis.
Farhan menggandeng tangan Tissa, menyatukan jari-jari mereka, dan membawa Tissa pergi dari tempat permainan itu. Tissa pun terkejut dan hanya bisa mengikuti langkah Farhan yang sedikit tergesa.
"Farhan, tunggu," ujar Tissa menahan lengan Farhan.
Farhan pun menghentikan langkahnya dan langsung menatap Tissa dengan tajam, sehingga membuat Tissa menelan ludahnya dengan kasar.
"Farhan..."
"Kamu senang kenaaln sama mereka?' tanya Farhan dengan nada yang terdengar dingin.
__ADS_1
"Farhan Aku ----"
"Kamu menyukainya?"
"Kamu ngomong apa?'
"Kamu tersenyum dengannya, kamu sepertinya menyukai dia," Farhan tersenyum miring.
"Terus? kenapa? Kamu cemburu?" tantang Tissa.
"Cemburu? untuk apa aku cemburu? Bahkan aku jauh lebih baik dari dia." uajr Farhan sombong.
"Oh ya? kalo kamu gak cemburu, kamu gak perlu marah sama aku kayak gini,"
"Sudah aku bilang aku gak cemburu, Aku hanya tak suka orang lain mengganggu milikku."
"Dan aku tak suka cara kamu yang kasar seperti ini," kesal Tissa dan meninggalkan Farhan yang membeku saat melihat satu tetes air mata Tissa mengalir begitu saja dipipi Tissa.
Tissa pun langsung melepaskan tangannya dari Farhan dan berlari menjauhi Farhan. Tissa tak peduli dengan pandangan orang lain. Ia hanya peduli dengan perasaannya saat ini. Tissa kecewa dengan jawaban Farhan, apa tak bisakah Farhan mengakui jika dirinya cemburu? sesulit itu kah sehingga Farhan hanya mengakui jika dirinya ini miliknya?
Tissa benar-benar kecewa dengan Farhan.
"Han, Lo gak kejar Tissa?" tanay fatih menyadarkan keterdiaman Farhan.
"Kenapa Tissa harus nangsi? kenapa dia yang marah sama gue? seharusnya gue yang marah dengan Tissa kan?" tanay farhan dengan fikiran yang bingung.
"Ka, perempuan itu perasaannya lebih peka. Di saat yang lain pada takut pasangannya diambil orang, kakak malah membuatnya malu dengan menariknya seperti itu. Perempuan itu juga ingin merasakan apa yang perempuan lain rasakan. Jika mereka melihat para prianya datang sebagai pangeran, dia juga ingin merasakan hal tersebut. Perempuan itu juga ingin menunjukkan kalau pujaan hatinya itu hebat, bukan seperti apa yang kakak lakukan tadi." jelas Raysa.
"Lagi pula, apa susahnya sih mengakui jika kakak cemburu saat melihat Tissa di goda sama pria lain,"
Farhan pun mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak faham tentang hal itu. Selama ini Tissa selalu asik-asik saja dan tak pernah membuat dirinya sekesal ini. tapi sebenarnya ini juga bukan sepenuhnya salah Tissa kan?
Fathan pun langsung berlari untuk mengejar Tissa.
Haiii, selamat tahun baruu ....
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA
__ADS_1
salam rindu Tissa dan Farhan