
"Ini Mas." Pelayan memberikan satu bungkus pesanan Fatih tadi.
"Terima kasih."
Fatih menatap Raysa yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Apa ada yang mau kamu sampaikan lagi?"
Raysa mengerjapkan mata nya. Ia menatap Fatih dengan bingung.
"Aku banyak kerjaan Ca, dan sebentar lagi Tissa akan membuka galeri nya. Jadi aku sebagai sahabat harus membantu nya." Jelas Fatih.
Raysa mengangguk, "Iya, aku lupa kalo kamu orang yang sibuk."
"Yaa, aku memang orang yang sangat sibuk. Tapi aku selalu meluangkan waktu ku untuk kamu." Ujar Fatih menatap jauh kedalam mata Raysa.
"Kamu benar." Lirih Raysa dan tersenyum tipis.
Fatih meraih ponsel nya, kemudian terlihat ia mengetik-ngetik di sana. Tak berapa lama Fatih berdiri.
"Ayo ..." Ajak nya.
Raysa pun ikut berdiri.
"Ah, jangan lupa wadah stanlees mu."
Raysa menoleh keatas meja, kemudian ia mengambil wadah itu. Raysa mengikuti langkah Fatih menuju meja kasir.
"Mbak Tissa nya mana Mas?" Tanya kasir yang bernama Ayu. Raysa membaca nametag nya.
"Biasa, lagi ada kerjaan."
"Ooh, jadi ini gebetan baru nya ya? cantik ya Mas." ujar Ayu sambil tersenyum dengan Raysa.
"Bukan, ini ADIK aku." ujar Fatih sambil menekan kata 'adik' dan melirik kearah Raysa.
Raysa terlihat menggigit bibir bagian dalam nya, dan menghela napasnya.
"Ini kembaliannya Mas, makasih ya ..."
"Sama-sama."
Setelah mengambil kembalian, Fatih berjalan menuju pintu luar.
"Kamu sering ke sini?" Tanya Raysa.
"Ini tempat favorit Tissa." Jawab Fatih asal.
Terlihat raut wajah Raysa kesal, namun ia mencoba menyembunyikannya dengan melihat kearah lain. Ponsel Fatih berdering dan Fatih langsung mengangkatnya. Jarang sekali Fatih langsung mengangkat nomor tak dikenal. Raysa sempat melihat siapa yang menelpon.
"Iya, saya sudah di depan pintu."
Fatih menyimpan ponselnya lagi, kemudian ia mengambil patung yang di berikan oleh Ijong.
__ADS_1
Fatih membuka payung dan memayungi Raysa.
"Ayo .."
Raysa mengikuti Fatih, namun kening Raysa mengkerut saat Fatih berjalan kearah mobil yang berhenti di depan cafe, dan membukakan pintu tersebut. Raysa menatap Fatih dengan perasaan bercampur aduk.
"Masuk .."
"Kamu__" suara Raysa seakan tertahan di tenggorokan.
"Tissa sudah menunggu, dan aku gak mau buat dia menunggu lebih lama lagi. Ingat, Tissa belum makan. Aku khawatir dengan dirinya."
Raysa tertawa pelan, genangan air mata itu kembali hadir, sekuat tenaga ia menahannya. Raysa tatap mata Fatih dan tersenyum.
"Baiklah, terima kasih atas makan siang nya. Maaf udah ganggu waktu kamu dengan Tissa. Dan," Raysa melihat kearah tubuh nya, kemudian ia kembali menatap mata Fatih.
"Aku akan mengembalikan baju ini setelah aku laundry. Sampaikan terima kasih ku kepada Tissa."
"Akan aku sampaikan."
Raysa masuk kedalam mobil. Fatih mencondongkan tubuhnya dan berbicara kepada supir.
"Hati-hati ya Bang. Yang penting selamat sampai tujuan."
"Iya Mas."
Fatih kembali menegakkan tubuhnya, dan menutup pintu mobil dengan lembut. Bersamaan dengan pintu mobil itu tertutup, air mata Raysa pun jatuh mengalir di pipi mulus nya.
Raysa tak ingin terlihat bodoh dengan menangis di dalam mobil. Apa lagi dia tak mengenal supir tersebut. Raysa menahan tangisannya, namun sekuat apapun Raysa menahannya, air matanya semakin deras beserta dengan isakan tangis nya. Supir taksi online itu hanya bisa melihat dari kaca spion tengah, kemudian ia kembali fokus ke jalannya. Apapun yang terjadi kepada penumpang, itu. bukan urusannya.
Fatih memandang mobil yang membawa Raysa hingga sampai tak terlihat. Kemudian ia langkahkan kakinya menuju mobil Tissa. Fatih masuk kedalam mobil, menyandarkan tubuhnya, dan menutup matanya.
Entah lah, Fatih rasanya tak tega memperlakukan Tissa seperti tadi. Namun, sisi lain dari dirinya menyuruh nya untuk melakukan itu, agar Raysa tau, betapa sakit dan besar nya cinta Fatih kepada Raysa.
*
Tissa memandang sang sahabat yang baru saja masuk. Namun Tissa tak melihat Raysa di belakangnya.
"Raysa mana?" tanya nya sambil meraih kantung plastik yang di berikan oleh Fatih.
"Aku sudah menyuruhnya pulang."
"Kamu suruh dia pulang sendiri?" Tanya Tissa dengan keterkejutan nya.
Fatih menggeleng. "Aku memesan taksi untuk nya dan aku juga sudah membayarnya."
Tissa menghela napasnya. "Kamu boleh patah hati, tapi jangan memperlakukan perempuan dengan kasar."
"Iya, aku tau. Aku lahir dari rahim seorang wanita, aku memiliki dua orang adik wanita. Dan istri ku pasti nya juga akan seorang wanita." Ujar Fatih dengan wajah yang dibuatnya jenaka, namun itu tidak berhasil kali ini.
"Sakit banget ya?" Tanya Tissa yang memang belum pernah payah hati, apa lagi jatuh cinta.
"Hah ... gak tau bilang ..."
__ADS_1
"Mau aku peluk?"
Fatih menggeleng. "Aku solat dulu ya ..."
Tissa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Fatih beranjak kelantai tiga, dimana ruangan pribadi milik Tissa berada di sana. Fatih mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat ashar. Tak lupa Fatih juga melaksankan sholat sunah, dan berdoa kepada Allah, untuk melindungi hati nya. Menguatkan dirinya, dan Membantu nya untuk melupakan Raysa.
Di lantai dasar, Tissa menatap hujan yang sedari tadi masih betah membasahi kota Bandung tersebut.
"Hah, apa yang harus gue lakukan sebagai sahabat Lo, Fat?" Tanya Tissa kepada dirinya sendiri.
Cling ...
Fatih meraih ponselnya yang berada di dalam saku celana nya. Ia membaca sebuah pesan dari nomor asing.
0852667xxx : Maaf Mas, ini saya supir taksi online. Saya cuma bilang, sepanjang jalan pacar Mas menangis. Bahkan sampai tersedu-sedu. Maaf, kalo saya ikut campur. Namun saya gak tega aja dengarnya, karena pacar Mas berulang kali mengatakan Maaf.
Fatih membaca ulang pesan itu. Kemudian ia ia menggenggam ponselnya dengan kuat dan mengetuk-ngetuk kan nya ke kening.
Entah apa yang ada dalam fikiran Fatih saat ini. Baru saja ia mengadu kepada Allah untuk meminta menjaga hati nya dan sekarang Fatih merasa sakit saat membaca pesan dari Supir taksi online tersebut.
"Hah, Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan." Gumam Fatih.
*
Fatih melihat Tissa sudah selesai dengan makan nya. Cara makan Tissa dan Fatih sama, mereka akan menghabiskan ayam hingga sampai ke tulang-tulangnya. Maksudnya tulangnya di gigit dan dihisap sumsum nya.
"Gak sekalian Lo makan sterofoem nya?" Ujar Fatih yang sudah duduk di depan Tissa.
"Rencana gitu, cuma udah terlalu kenyang gue. Buat Lo aja nih." Tissa menyodorkan sterofoem bekas makan nya.
Fatih terkekeh dan melempar Tissa dengan tissu yang sudah di gumpal-gumpal oleh nya.
Di tempat lain, Raysa masih menangis sesenggukan mengingat betapa sakit nya hati Fatih saat ini.
"Ca, kamu harus kuat. Ini demi Fatih juga. Demi Fatih agar gak terlalu berharap lagi sama kamu." Monolog nya sendiri sambil sesenggukan.
"Hiks ... Sakit banget .... hikkss ..."
Raysa memukul-mukul dada nya, menghalau rasa sakit di dalam sana.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1