
Perjalanan ke Bali sungguh menyenangkan. Kesya dan Arka beserta Baby twins juga langsung pulang. Begitu pun dengan Bara, Sasa, Mami Shella, Daddy Roy, Mama Rosa, Ayah Nazar, Om Bram dan Mega. Sedangkan Leo dan Anggun mereka memilih untuk mampir ke apartemen Anggun, untuk menyiapkan perlengkapannya. Karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke Maldives.
Tok..tok..tok..
" Maasss...."
tok....tok...tok..
" Mas BARAAA..."
Pintu kamar Bara terus saja digedor oleh Vina. membuat Bara dan Sasa terbangun dari mimpi indahnya.
" Iyaaa..iyaaa... sebentaaaarr." Bara berteriak dari dalam kamarnya.
" kenapa mas?" tanya Sasa yang masih seteng membuka matanya. Bahkan Sasa belum memakai baju, karena mereka baru saja melakukan hal yang sangat di sukai Bara.
" Gak tau, kamu tunggu sini yaa.."
Bara turun dari tempat tidur, dan memakai bajunya.
Cekleekk..
Vina dengan wajah tak berdosanya menyengir di depan Bara.
" Ada apa?" Bara menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
" Lapeeerr .." ujar Vina manja..
Bara menaikkan alisnya sebelah. kalo Laper kenapa bilang dengan dirinya? mana Vano?.
" teruss, kenapa bilang sama Mas? Vano mana?"
" Pingin masakan Mas Bara.." Rengek Vina.
"Aphaaa?" Bara melirik kearah jam dinding, pukul dua dini hari.
" Minta masak sama Vano aja.. Mas ngantukk. "
" Hikksss..."
Bara menghela napasnya, ini nih.. susahnya berhadapan dengan bumil. Dulu Kesya yang memiliki permintaan aneh, sekarang Vina.. hadeeww, baiklah.. itung-itung belajar siaga saat mungilnya hamil nanti.
" Udah dong, jangan nangis lagi yaa.." Bara memeluk tubuh Vina..
" Hiikkss, pingin masakan Mas Bara.."
" Iyaa.. iyaa, mas masakin yaa.."
" Kenapa Mas?" Sasa keluar kamar karena mendengar tangisan Vina. Sasa takut terjadi sesuatu kepada Vina, maka dari itu Sasa dengan cepat memakai bajunya dan menyusul Bara.
" Vina minta mas masakin.."
" Oohh.." Sasa pun mengikuti Bara dan Vina ke dapur.
" Eeemmm, wanginya.."
" Vin.. sayang.. kamu di sini?" Vano datang dengan wajah paniknya, dan langsung memeluk Vina, hingga membuat sendok ditangan Vina yang siap masuk kedalam mulut terjatuh..
" Iiih... nyebeliinn... hikkss... mas Bara..." rengek Vina.
Bara menatap tajam kearah Vano. Vano menelan ludahnya kasar.
" Sa ambilin sendok lain yaa.."
Vina pun menganggukkan kepalanya, sambil menghapus air matanya.
" Vina kenapa?" Tanya Mami Shea yang terbangun karena kegaduhan.
" Gak tau nih Vano, kamu berantam dengan Vina?" tanya Bara sarat mengintimidasi.
Vano menggelengkan kepalanya. " Gak Mas."
" Lalu? kenapa tengah malam Vina gedor- gedor kemari minta makan?"
" Vano juga gak tau Mas, Mi. Saat Vano bangun, Vina sudah gak ada lagi di sebelah Vano, Vano panik dan mencari Vina. Kata satpam, kalo Vina kemari."
" Terus, siapa yang bukain pintu?"
__ADS_1
" Daddy yang bukain, "
" Kamu kenapa sayang?" Tanya Mami Shella sambil mengelus rambut Vina.
" Vina cuma pingin makan nasi goreng buatan Mas Bara Mi" Ujar Vina dengan mulut yang penuh..
" OOO, lagi ngidam toh.. ya udah, di lanjut makannya yaa.."
Sasa melihat guratan bahagia di wajah Vina, setiap kali dia menyuapkan nasi goreng buatan Bara. Sebahagia itukah jika hamil? Sasa berharap, jika dirinya segera hamil, dan merasakan ngidam seperti Vina.
.
.
" Mungil, kamu ikut aku yaa. aku mau tunjukin sesuatu sama kamu."
" Apa Mas?"
" Udah, siap-siap yaa.. aku tungguin."
" Iyaa sayang.."
" Aaahh, jadi malas pergi deh di panggil sayang.."
" Dasar lebaay" Sasa mendorong tubuh Bara yang mana tangannya mulai bergreliya di gunung kembar.
" Mau kemana?" Tanya Mami Shella saat melihat Sasa sudah rapi.
"Bara mau ajak Sasa ke suatu tempat Mi, mau tunjukkin sesuatu."
" Ooh, ya udah deh kalo gitu. oh yaa, kamu ke toko kue hari ini?"
" Gak Mi, Sa Off hari ini."
" Bagus deh, nanti temenin Mami arisan yaa.."
" Iyaa Mi."
Bara mengajak Sasa kesuatu tempat, saat dipertengahan jalan, Bara menutup mata Sasa.
" Mau kemana sih Mas?"
Tak berapa lama Sasa merasakan jika mobil yang di kendarai Bara berhenti. Bara menuntun Sasa untuk turun.
" Pelan-pelan Mungil.."
Bara memegang tangan Sasa, menuntunnya dalam setiap langkah.
" Kamu udah siap?"
" Siap apaan Mas? Aku penasaran nih.. kamu bawa aku ke mana?"
" Sabar yaa, sekarang kamu tutup mata kami yaa, aku buka penutup kainnya. Nanti saat aku hitung sampai 3, kamu buka ya.."
" Iya Mas.."
Bara memberi kode kepada karyawannya, setelah semuanya siap, Bara pun mulai menghitung 1, 2, 3.
Sasa membuka matanya perlahan. Sasa mengernyitkan saat membaca tulisan. ' SaBar Exspress.' dan ada juga tumpeng di atas meja, serta nasi kuning yang ada di prasmanan.
" Mas, ini maksudnya apa yaa?"
" Ini usaha aku. Saat kamu pergi, akunmembuat diri aku sibuk dengan bekerja. Lalu Arka mengusulkan untuk membuka usaha titipan kilat. Aku rasa itu bukan ide yang buruk, dan aku memulai semuanya dari nol. Walaupun ada campur tangan Arka."
Sasa masih setia mendengarkan penjelasan Bara.
" Kamu tau, SaBar itu singkatan dari Sasa dan Bara. Aku menggunakan gabungan nama kita untuk usaha ini. Aku berharap, jika aku dan kamu selali bersama, dan sabar menghadapi segala ujian kehidupan. Dan juga, agar kita selalu bersama, seperti tulisan itu, yang gak akan pernah terpisahkan. kecuali maut yang memisahkan."
" Hiikss.. Mas..."
Bara memeluk tubuh mungil Sasa, menenggelamkannya di dalam pelukan hangatnya.
" Semua ini untuk kamu mungil, untuk kita, untuk masa depan kita." Bara menjeda ucapannya. " Mulai sekarang, kamu yang kelola ini yaa.."
" Tapi Mas, aku.."
" Kita bersama. aku dan kamu.. kamu mau kan?"
__ADS_1
" Hikkss.. iyaa mas, asal itu bersama kamu, aku mau.."
" Baiklah kalo begitu." Bara menghapus air mata Sasa. " Sekarang, kamu potong tumpengnya yaa.."
Acara penyambutan untuk Sasa pun erjalan lancar, bahkan beberapa pegawai Bara adalah penggemar Sasa. Mereka sampai meminta foto dengan Sasa, seolah-olah Sasa adalah artis papan atas.
" Aku ada satu kejutan lagi buat kamu.."
" Apa itu Mas?"
Bara mengeluarkan satu amplop coklat besar, dan memberikannya kepada Sasa.
" Buka .."
Sasa pun membuka amplop itu.. " Mas.. ini?" Sasa tidak mampu menahan air matanya.
" Iya sayang, Mas daftarin kamu ke les komputer, akutansi, dan bahasa Inggris. "
" Tapii.. Apa aku sanggup Mas? aku hanya lulusan SD, tidak, bahkan aku tidak lulus SD Mas."
" Ada aku, aku yang akan membantu kamu."
" Tapi Maas..."
" Atau kamu mau Riko yang mengajari kamu?" Wajah Bara langsung cemberut.
" Bukan gitu Mas.. " Sasa menghela napasnya saat Bara memerengkan tubuhnya, karena sedang merajuk.
" Mas, aku gak maksud gitu. Maksud aku, apa aku mampu menangkap semua pelajaran ini?"
" Maas.." Sasa menarik tubuh Bara agar kembali menghadap kearahnya.
" Ada aku mungil, aku akan membantu kamu, di saat kamu gak mengerti nanti.."
" Kamu mau ngajarin aku? Emangnya kamu bisa mas?"
" Tentu mungil, kamu remehin aku?"
" Kalo kamu bisa, ngapain aku ikut les, kan ada kamu.." Sasa mengedip-ngedipkan matanya manja.
" Gemesin banget sih.. Kamu les, biar dapat ilmu.. Ntar kalo aku yang sepenuhnya ngajarin kamu, yang ada bukannya belajar, malah bikin anak kitanya.."
" Iih, nyebelin deh.. Aku serius Mas.."
" Aku juga mungil..."
Bara mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka bertemu.
" Maaf bos.."
Ciuman mereka pun terlepas karena salah satu karyawan mereka masuk.
" Kalo masuk tu ketuk pintu dulu.."
" Pintunya kan belum dipasang bis, gimana mau diketuk.."
Bara menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Karyawannya satu ini benat-benar lemot dalam berfikir, tetapi dia sangat rajin bekerja, dan juga cekatan.
.
.
Kabar hamilnya Anggun pun langsung tersebar cepat di keluarga.
" Waah, Top care juga Leo.. kamu kapan Bar nyusul?"
" Doakan saja Om, semoga di segerakan."
" Amiin..."
Ada rasa menusuk di hati Bara, saat mendengar Anggun sudah hamil. Bara terfikir akan Sasa, bagaimana perasaan Sasa jika mendengar kabar jika anggun sudah hamil, sedangkan dirinya belum. Selama ini Sasa selalu berharap jika dirinya cepat mengandung buah cinta mereka..
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Salam SaBar... (Sasa & Bara )