
Rencana makan Mie balap yang hanya di hadiri oleh para gadis-gadis pun, akhirnya harus pupus. Karena Arka, Duda, Jodi, dan Bara meminta ikut untuk mencicipi kuliner malam.
" Cuma kita aja Ra yang gak punya pasangan" Bisik Ica. Pacar Ica sedang dinas di luar kota, jadi Ica beberapa Minggu belum berjumpa dengan pujaan hati.
" Sebelum janur kuning melengkung, masih milik bersama. Lagian Bang Jodi dan Bela kan belum jadian"
" Belum jadian tapi udah gandengan gitu. Kayak truk gandeng."
" Itu sih Kak Bela aja yang genit."
" Tapi bang Jodi juga gak nolak tuh. Kamu yakin masih mau perjuangin cinta kamu?"
" Seperti yang aku bilang tadi, sebelum cincin melingkar, dan janur kuning melengkung. Itu tandanya masih milik bersama."
" Hah, semoga ntar Move on nya gak susah yaa.." Ica menepuk punggung Ara.
" Tenang Mbak, mati satu, tumbuh seribu."
Jarak menuju jajanan Mie Balap tidak jauh dari toko Kesya. Lebih tepatnya hampir mendekati apartemen Sasa.
" Mungil, kenapa di bilang Mie balap?"
" Ooh, cara masaknya itu cepat-cepat loh Mas, kayak lagi balapan gitu." Bara lun ber-o ria.
" Ada juga loh namanya mie tek-tek"
" Hah? Apaan lagi itu mungil?"
" Cara masaknya, centong nya itu di ketok-ketok ke kuali, hingga mengeluarkan bunyi tek-tek. Makanya di bilang Mie tek-tek."
" Di dekat apartemen kamu juga?"
" Enggak, tapi di dekat taman."
"Lain kali kita kesana ya mungil. Penasaran loh aku."
" Hmm, lain kali yaa.."
Bara, Arka, dan Kesya sangat takjub dengan cara penjualnya memasak mie balap. Untuk mengaduk mie nya itu sungguh dengan kecepatan penuh. Pantas saja di bilang Mie balap.
" Ada aja ya kuliner Indonesia" Ujar Arka.
" Bos udah pernah dengan salak pliek?"ujar Sasa.
" Salak apa?" tanya Arka
" Salak Pliek u , Dari Aceh. Sempat terkenal juga di ajang mencari bakat memasak itu loh."
__ADS_1
" Ooh, aku pernah rasa. Rasanya aneh, tapi lama kelamaan jadi enak gitu." ujar Kesya.
" Iyaa, waktu aku kerja di Greenday cafe, aku di kasih itu sama temenku dari Aceh. Aku sempat gimana gitu saat dia mengatakan bahan dasarnya dari kelapa yang sengaja di busukkan dengan cara di jemur. Tapi saat aku coba, rasanya itu menggiurkan. Aku sampai nagih di buatnya."
" Iih, Mbak Sa. Aku sampai ngences dengernya. Jadi pingin kan." Ujar Kesya.
" Duh, lupa kalo ada bumil. He..he..he.. Nanti coba aku hubungi dia yaa. Soalnya dia udah pulang ke Medan, dapat suami orang sana katanya."
" Mbak Sa gak bisa buat?"
" Bisa sih, dia sempat ngajarinnya. Tapi bahan utamanya itu sulit di dapat."
" Nanti coba Mbak hubungi dia yaa. Aku jadi kepingin looh"
" Okey Bos cantik."
Pembicaraan mereka hanya di perhatikan DNA di dengar dengan seksama oleh Duda, Jodi, Ica, dan Bela. Sedangkan Ara sibuk memperhatikan wajah Jodi yang kebetulan duduk di hadapannya.
" Ini pesanannya Mbak, dan Masnya."
" Makasih" seru semuanya.
" Kurang pedes yaa mungil."
" Tambahi aja cabe nya. Tapi jangan terlalu banyak, nanti sakit perut"
" Iya mungil ku sayang" Bisik Bara yang masih di dengar oleh Arka dan Kesya.
" Ra, berani lawan aku makan pedas gak?" tantang Bela.
Semua mata langsung berpaling melihat Ara.
" Males Ah.."
" Yaah, gak seru dong.."
" Yang gak seru itu Lo Bel. Udah tau Ara gak tahan pedas, malah di tantangan dengan sesuatu yang sudah di nyatakan pasti dia kalah" Kesal Lena.
Terkadang Bela memang kelewatan dengan Ara. Sering kedapatan Bela mengerjai Ara, untungnya Lena dan Ica berbaik hati untuk memperingatkan Ara dan menasehati Ica.
" Bang Jodi, kalo misalnya nih yaa, kita lagi nyebrang. Trus ada motor lewa. Yang ada di sebelah kamu itu, cuma ada aku dan Ara, kamu nyelamatin siapa?" Tanya Bela dengan suara yang di buat semanja mungkin.
" Nyelamatin diri saya sendiri"
Bwaahahha... tawa langsung pecah mendengar jawaban Jodi. Bela langsung memanyunkan bibirnya.
" Iih, Bang Jodi nyebelin deh."
__ADS_1
" Ya lagian buat apa saya nyelamatin di antara kalian berdua, mending saya nyelamatin diri saya sendiri. Masa depan saya masih panjang, masih cerah."
Ara melongo melihat Jodi mengeluarkan banyak kalimat. Biasanya dia paling irit kalo bicara. Suara nya itu loh. Bagaikan durian runtuh, bisa dengan dia ucapin satunkata aja udah bahagia banget, gimana berentetan panjang kayak kereta api gitu, wadduuhh.. meleleh hati adek bang.
" Ra, lap tuh encesnya, biasa aja kali denger Jodi ngomong panjang gitu. Aku udah sering banget dengernya " Ujar Bela.
Jodi mengerutkan keningnya, kapan dia ngomong banyak sama Bela? Seingatnya dia juga irit bicara dengan Bela. Jodi sengaja meladenin Bela, agar Ara menjauh dari nya.
Acara makan pun selesai, Arka membayar semua makanan mereka.
" Makasih Big Bos. Makasih Nyonya Bos." Ujar Bela, Ica, Ara, Sasa, dan Lena berbarengan."
" Sama-sama. Seru loh makan sama kalian."
Lagi enak-enaknya ngobrol, tak berapa lama ada mobil yang melaju kencang kearah mereka. Tepatnya kearah Jodi, Ara, dan Bela.
" Awaas.. " Teriak orang-orang yang berada di sana.
Arka langsung menarik Kesya, Sasa menarik Ica, dan Bara memeluk Sasa yang otomatis juga ikut memeluk Ica. Duda Menarik Lena, dan..
Braakk...
Semua orang langsung berteriak.
" Araa..." teriak Kesya..
Mereka berlari menghampiri Ara, Jodi, dan Bela. Ara sudah berada dalam pelukan Jodi. Jodi menarik Ara hingga mereka terjatuh dengan posisi Jodi melindungi Ara. Sedangkan Bela sempat di tarik Ara, saat Jodi menariknya. Namun gapaian tangan Ara terlepas hingga Bela terjatuh sendiri.
Mereka bersyukur, karena sudah selesai makan. mobil tersebut menabrak warung dadakan Mie balap, Tepat di mana mereka duduk tadi. Dan pelayan mie balap yang menjadi sasaran.
Bara selaku polisi yang melihat kejadian itu langsung menahan si pengemudi. Ternyata pengemudi dalam keadaan mabuk. Bara menghubungi Tim nya, dan menahan si tersangka.
" Ara kamu gak pa-pa?"
Ara masih membeku menatap Jodi, karena saat Jodi menariknya, Jodi memeluknya erat, hingga Ara merasa jika Jodi mengecup pucuk kepalanya. Bela akhirnya tau, jika Jodi memiliki hati dengan Ara, namun dia sengaja menyembunyikan perasaannya. Bela gak tau alasannya apa, yang jelas pertanyaannya yang tadi, terjawab jelas saat ini.
Sasa menjauh bersama Kesya, Ara,Ica, Lena, dan Bela. Karena polisi sudah tiba untuk melakukan olah TKP.
" Mbak Sa,m gak pa-pa?" tanya Kesya.
" Hmm, " Wajah Sasa sudah pucat karena mendengar siriene mobil polisi. sebenarnya itu tidak terlalu terpengaruh, cuma karena terlalu dekat posisinya dengan Sasa, entah mengapa dia menjadi pusing, di tambah lagi ada mungkin sekitar 6 polisi yang menghampiri. Sasa tadi sempat melihatnya, makanya itu juga memicu pusing dan mualnya.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)