Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 68 " Jangan tinggalin Sa"


__ADS_3

Sasa menatap tubuh renta yang terbaring tak berdaya itu di atas brankar.


" Nek ... hikkss... " Sasa menggenggam tangan nenek dan menciuminya.


Sasa Merasakan ada pergerakan dari tangan sang nenek, dengan cepat Sasa menengadahkan kepalanya yang tertunduk sambil menciumi punggung tangan sang nenek.


" Nenek.. Ini Sa nek.."


" Sa." Lirih suara nenek terdengar.


" Nek, maafin Sa"


" Nenek mau, kamu hidup bahagia Nak. Nenek tidak bisa menjaga Sa lagi."


" Nenek jangan tinggalin Sa. hikksss.."


" Ba -ra " Lirih nenek.


" Iya nek, Bara di sini."


" To-long jaga cu-cu ne-nek. Ba-ha-gi-a-kan dia."


" Iya Nek. Sekarang nenek harus sehat. Bara akan mempercepat pernikahan kami. Agar nenek bisa melihat Sasa menggunakan gaun pengantin. Seperti keinginan nenek."


Nenek tersenyum. " Ne-nek se-nang, Ke-bena-ran sud-dah terung-kap. Sa-sa buk-kan an-nak dar-ri Na-pi."


" Iyaa nek. Sasa juga sudah di bebaskan, dan tidak bersalah nek. "


" Ne-nek bang-ga dan ber-teri-ma kasih ke-pada ke-luar-ga mu. Sa-lam ne-nek un-tuk me-reka."


" Iya nek. Nenek harus sembuh. Nenek harus kuat."


" Hiikkss.. Nek.. "


" Permisi, biarkan kami memeriksa pasien" Ujar perawat yang di panggil oleh Duda tadi.


Dokter memeriksa kondisi pasien. Dokter menatap satu persatu keluarga Nenek. Dari Sasa, Bara, Pakde, Bukde, dan Duda. Dokter mengisyaratkan dengan gelengan pelan.


" Nenek.. hikkss.. "


Pakde langsung mendekat kearah nenek, dan mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir.


Tiiiiiiitttt....


Suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring di satu nada lurus.


" Neneeekkk" Pecah tangis Sasa saat dokter mengumumkan kematian sang nenek.


Bara memeluk tubuh Sasa yang menangis histeris. Duda juga ikut meneteskan air matanya. Seakan ikut merasakan kehilangan yang begitu berat. Cobaan terus datang menghampiri Sasa, seakan tidak berhenti.


" Huaa.... Neneeeekkk.... Neneeekk jangan tinggalin Sa... Hiiikkssss... "


Bara masih memeluk Sasa dengan air mata yang ikut mengalir. Sekali-kali Bara mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Sasa.


Pemakaman nenek di lakukan hari itu juga. Sasa sudah termenung dengan air mata yang mengalir deras. Para tetangga berdatangan dan sesekali mereka juga meminta maaf karena sudah menghujat Sasa saat mendapatkan kabar tentang Sasa. Sasa hanya diam bagaikan patung bernyawa.


Bara dan Duda ikut turun ke dalam liang lahat untuk menyambut jenazah nenek. Perlahan tanah mulai di turunkan untuk menutupi jenazah nenek.


" Gak.. Gak boleh.. Jangan.. Jangan kubur nenek... Nenek Masih hidup.. Jangan.. Jangaaan... Huaaa... Nenek gak boleh pergi.. Nenek jangan tinggalin Sa.. Jangan kubur nenek.." Teriak Sasa. Bara langsung memeluk Sasa yang tadinya menahan para penggali. kubur untuk menurunkan tanah kuburan.


" Mungil, tenang mungil.. Kamu harus iklhas."


" Lepasin.. Aku mau ikut nenek.. Nenekk.. Hiikss.. "

__ADS_1


" Mungil, sadar mungil, Kamu begini akan membuat nenek semakin sedih."


Bara semakin mempererat pelukannya. Tenaga Sasa sangat kuat untuk memberontak. Bara terpaksa membekap tubuh Sasa kedalam pelukannya. Hingga Bara merasakan Sasa mulai tenang, dan tangannya jatuh terkulai.


" Mungil.." Panggil Bara saat melihat mata Sasa terpejam dengan tubuh yang terkulai lemas.


Dengan sekali gerakan Bara menggendong Sasa dan membawanya ke bale-bale yang berada di pinggir kuburan.


" Mungil, sadar mungil" Bara memangku kepala Sasa, sambil menepuk pelan pipi Sasa.


Bukde memberikan minyak angin di hidung Sasa. Tak berapa lama Sasa mengernyit dan perlahan membuka matanya.


" Nenek.. " Terdengar lirih suara Sasa.


" Sasa, kamu harus iklas. Dan kamu harus sabar Sa, biar nenek tenang di sana."


" Hiikkss... Sa mau liat nenek.. Hikss.. untuk terakhir kali.. Hiikss.."


Bara memapah tubuh Sasa, sebenarnya Bara ingin menggendong Sasa, namun Sasa menolaknya. Sasa melihat prosesi pemakaman nenek. Sasa pun ikut menurunkan tanah dengan tangannya. Baju putih itu sudah kotor dengan tanah yang basah.


" Sa, kita pulang yaa" Ajak Bukde.


Setelah pembacaan doa dan penaburan bunga. Beberapa pelayat pun sudah melangkahkan kakinya kembali pulang.


" Sa ingin yang terakhir kali pergi bukde. "


" Sa, tinggal kita aja ini. Ayo kita pulang. Hari sudah juga sudah mendung. Sebentar lagi hujan."


" Sa masih mau di sini bukde. Nenek pasti kedinginan, Sasa ingin memeluk nenek agar nenek hangat."


" Sa, kamu gak boleh gini. Nenek bakal sedih nanti Sa."


Bukde menoleh kepada Bara, meminta Bara membujuk Sasa.


Sasa menggeleng pelan.


" Mungil. "


" Mas, kenapa harus nenek yang meninggal, kenapa bukan aku?. Hiikss "


Bara langsung memeluk tubuh Sasa. "Kamu gak boleh ngomong gitu. "


" Aku tinggal sendiri Mas. Aku sendiri sekarang. Seharusnya aku bersama nenek, dan tidak meninggalkan dia untuk pergi ke kota. Aku cucu yang jahat Mas. Jahat.. hikkss.."


" Ada aku Sa, kamu gak sendiri. Ada aku. Pakde, Bukde , Mami, Daddy, Kesya, Vina. kami semua milik kamu. Kami keluarga kamu sekarang. Jangan pernah bilang kamu sendiri Sa, jangan pernah."


Tidak ada sahutan yang terdengar. " Sa."


Bara langsung membopong tubuh Sasa. Sasa kembali pingsan. Sepertinya ini adalah cobaan terberat untuk Sasa.


Sasa membuka matanya pelan, kepalanya terasa pusing dan berat.


" Sa.. kamu udah sadar?" Bukde memegang kening Sasa, sudah tidak sepanas tadi.


" Bukde, nenek.. hikkss.."


" Sa, jangan nangis lagi. nanti kamu pingsan dan harus di rawat di rumah sakit."


" Hiikkss.."


Daddy Roy, Arka, Vano, Leo, dan Papi Farel mendatangi rumah Sasa yang dikampung untuk melayat. Semua orang kampung terperanga melihat kedatangan mereka.


" Kamu udah sadar Sa?" Bara melihat Sasa keluar dari kamar bersama bukde. Sasa ingin ikut membacakan Yasin untuk nenek.

__ADS_1


" Hhmm"


Sasa mencium punggung tangan Daddy Roy dan Papi Farel. Leo menahan tangan Sasa, saat Sasa bersalaman dengan dirinya. Leo merasakan nadi Sasa lemah.


" Bukde, bisa minta air gula?. Hangat ya bukde" Pinta Leo dengan lembut.


Bukde pun kebelakang dan mengambil apa yang di minta oleh pria tampan itu.


" Gue gak Pa-pa" Sasa menepis pelan tangan Leo saat ingin memeriksa kening nya.


" Lo kenapa-napa Sa. Gue periksa Lo dulu"


Leo mengambil peralatannya yang di berikan oleh Duda.


" Tensi Lo rendah Sa. Lo mau gue infus?"


" Gak perlu, gue gak pa-pa"


Bukde memberikan air gula kepada Leo.


" Minum Sa"


" Gue gak pa-pa'


" Minum atau gue suruh Mas Bara yang meminumkannya kemulut Lo"


Beberapa pelayat lain terbatuk mendengar ucapan Leo yang terdengar ambigu. Sasa berdecak kesal dan terpaksa meminumnya. Sasa tau, jika dia menolak Bara akan benar-benar memasukkan air itu kedalam mulut sasa melalui mulutnya. Tidak peduli dengan keadaan sekitar.


Sasa meminum setengah gelas.


" Habisin Sa"


Sasa menggeleng. " Mungil"


Sasa langsung menghabiskan air gula tersebut.


" Pintar.. " Bara mengelus kepala Sasa.


Sasa ikut membaca surah Yasin. Sebenarnya Sasa sedari tadi sudah merasakan pusing, cuma di tahannya.


Leo membisikkan sesuatu kepada Duda, dan tak berapa lama Duda berdiri dan melaksanakan perintah Leo.


Benar saja dugaan Leo yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Sasa. Tiba-tiba saja Sasa kembali pingsan dan tak sadarkan diri. Bara langsung membopong tubuh Sasa masuk kedalam kamar. Leo dengan sigap memeriksa Sasa.


" Rendah banget tensi nya. Bisa bahaya ini Mas. Tapi Mas tenang aja, Gue udah suruh Duda beli obatnya. Semoga saja semuanya lengkap.


Tak berapa lama Duda datang dengan membawa peralatan medis yang di pesan oleh Leo tadi. Leo langsung memasang infus di tangan Sasa, dan menyuntikkan obat kedalam infus.


" Biar dia tidur dulu. Nanti setelah bangun, Suruh dia makan. Biar ada tenaga."


" Makasih Lee"


" Sama-sama Mas."


Warga merasa takjub dengan apa yang mereka lihat. Ternyata Sasa mendapatkan calon suami yang bukan dari kalangan biasa. Dan mereka juga baru tau jika Bara bukan polisi dengan pangkat yang biasa. Melainkan pangkat yang sudah tinggi walaupun di umurnya yang masih terlihat Muda.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..

__ADS_1


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2